*GSF* part17
*
Dulu aku memang suka tempat ini, tapi sekarang tak lagi. Melihat rumah janwar hanya membuatku menangis lagi.
"Kok kesini sih?" tanyaku dengan ragu.
"Sorry ya ais, habisnya kalo gue ngomong dulu, lo pasti gak mau ikut. Gue nggak tega sama tante tiwi. Dia sudah puluhan kali hubungi handphone lo, tapi gak ada jawaban. Nelpon ke rumah tapi lo nya ngurung diri dikamar, akhirnya tante tiwi minta bantuan ke gue. Dia pengen ketemu sama lo."
Aku merasa bersalah karena sengaja tidak mengaktifkan ponselku dan menutup diri seakan akan hanya aku yang bersedih. Padahal tante tiwi juga sangat kehilangan janwar.
"Ayo kita masuk." ajak alviah.
Aku hanya mengangguk.
Tapi rumah itu tampak kosong, diketuk berkali kali juga tidak ada yang menyahut.
"Viah, kayanya kosong deh."
"Ahh masa sih. Tapi kata tante tiwi dia udah nunggu lo disini."
"Tapi buktinya?"
Alviah tetap ngotot dan akhirnya nekat membuka gagang pintu yang ternyata tidak dikunci.
"Lhooo kok gak dikunci ya? Masa iya mereka semua lagi tidur?"
"Iya yaa.. Aneh." aku memberanikan diri masuk kedalam.
Dan.... .
"SURPRISE!!!!!"
Tante tiwi dan keluarga janwar menyambutku dengan membawa kue tart cokelat. Aku tersenyum, aku terharu mereka ternyata menganggapku seperti keluarga.
Janwar benar. Dia tidak pergi tanpa meninggalkan sesuatu. Dia memberiku sebuah keluarga lagi yang bisa mengisi hari-hariku yang hanya aku jalani berdua dengan ibu.
"Tante masih punya sesuatu yang ingin tante tunjukkan ke kamu ais. Kamu ikut tante ya?" tante tiwi menggandeng tanganku dan menuntunku kesebuah kamar yang terletak di pojok ruang. Wajahnya terlihat sangat senang.
Kamar ini simple dan tidak terlalu besar, yang mengagumkan cet nya itu bewarna abu-abu. Warna yang elegan hingga membuat perasaan nyaman dan sejuk.
"Ini kamar janwar, ais."
"Oh ya? Bukannya kamar janwar yang waktu itu tempat dia di rawat, tante?"
"Bukan sayang, itu kamar kakaknya. Tante sengaja memakai kamar itu untuk perawatan janwar. Karena kamar itu lebih besar dan janwar sendiri yang memintanya."
Aku agak terkejut.
"Janwar punya kakak?" tanyaku bingung. Aku tak pernah tahu kalau janwar punya saudara. Selama ini aku kira dia sama denganku, anak tunggal.
Tante tiwi hanya tersenyum. Aku menunggu dia menjelaskan lebih lanjut. Tapi ternyata tente tiwi tidak berkata apa apa. Jadi, akupun berhenti bertanya.
Aku mengamati kamar itu. Kamar janwar rapi dan bersih. Disetiap jengkalnya aku seperti melihat wajah janwar sedang tersenyum padaku. Jadi disini dulu dia sering menghabiskan waktunya. Disudut dinding kamar terpajang fotoku dalam ukuran besar. Aku bahkan lupa kapan aku pernah di foto seperti itu.
"Dia tidak pernah bosan melihat fotomu yang itu." tante tiwi melihatku. Aku nampak bingung.
"Tapi yang terpenting, janwar punya hadiah untuk kamu didalam lemari hitam itu. Kamu buka sendiri saja ya ais. Kamu boleh melihat apapun dikamat ini. Anggap saja kamar ini milikmu. Tante keluar dulu ya.."
Setelah tante tiwi keluar. Aku menghampiri lemari hitam yang tadi ditunjuk olehnya. Lalu entah kenapa aku tertarik dengan lemari putih yang berdiri disebelahnya. Aku urungkan niatku untuk melihat lemari hitam itu dan beralih kelemari putih.
Kubuka pintunya dan kulihat ada lima belas kado tersimpan didalamnya. Kado itu masih terbungkus rapi. Semua kado itu adalah hadiah yang pernah kuberikan untuknya. Hadiah saat dia ulangtahun, hadiah saat dia juara lomba menulis, dan hadiah lainnya. Semuanya belum disentuh janwar.
Aku ingat betuk warna warna bungkus kado itu karena aku yang membungkusnya sendiri.
Kenapa dia tidak membuka hadiah dariku? Beribu pertanyaan dan prasangka memenuhi otakku. Aku beralih ke lemari hitam disebelahnya. Kubuka pintunya dan kulihat ada banyak kotak kado bewarna abu abu dengan pita perak dari ukuran yang paling kecil sampai ukuran paling besar tersusun rapi disana. Setelah kuhitung jumlahnya sama dengan hadiah yang kuberikan, lima belas.
Aku membukanya satu per satu dan semua kado itu isinya sama. Lampu dinding berbentuk bunga matahari dalam beragam ukuran. Ada sepucuk surat didalam kado terakhir. Kubaca surat itu.
"Nanti malam aku akan mengirimkan doa pertamaku untukmu, ais. "
Aku meraba tulisan tangan diatasnya. Rasanya seperti memegang tangan janwar walaupun aku tidak mengerti maksudnya. Bagaimana mungkin orang yang sudah tiada bisa mengirimkan doa?
Tiba tiba tante tiwi masuk ke kamar.
"Bagaimana ais? Kamu suka kadonya? Tante ikut membungkuskan lhoo.. Soalnya janwar kalo membungkuskan kado tidak pernah rapi." tante tiwi tertawa kecil.
"Sukaa tanteee, suka banget. Terimakasih banyak." aku memeluk tante tiwi dengan erat. Tak terasa airmataku mengalir.
"Tante tahu kamu sedih. Tante tahu kamu belum bisa menerima kenyataan ini. Tante pun mengalami hal yang sama. Tapi kamu harus jadi gadis yang kuat sayang."
Ia membelai rambutku.
"Walaupun akhirnya janwar meninggalkan kita. Kehadiran kamu tidak pernah sia sia. Kamu memberi warna diujung hidupnya, bagi tante kamu itu seperti malaikat yang dikirim janwar dari surga untuk menemani tante disini menggantikan dia. Jangan biarkan kepergian janwar membuatmu berhenti untuk hidup sayang. Kamu harus maju selangkah demi selangkah, walaupun itu berat.... "
"Iya tante... " aku memeluknya erat.
"Ais akan berusaha lebih keras. Tapi ais masih bingung, kenapa hadiah yang ais kasih untuk janwar tidak ada yang disentuh?"
"Ooh masalah itu. Dia memang tidak mau membukanya karena menurut dia hadiah dari kamu sangat berharga dari pita terluar sampai isi didalamnya. Jadi dia tidak tega merusaknya. Sedangkan hadiah ini, dia sebenarnya ingin sekali mengirimkannya untuk kamu, tapi begitulah janwar. Tante tidak berhasil mengajarinya untuk menjadi seorang pria yang pemberani."
Aku pulang dengan perasaan terharu dan terhibur karena kasih sayang dan dukungan yang diberikan keluarga janwar. Janwar pergi dengan meninggalkan jutaan cinta untukku.
Tapi, kata-kata disuratnya membuatku bingung. Apa yang dia maksud dengan doa yang akan dia kirim malam ini.?
"Hai ais, ini hadiah dari gue sama fahri untuk lo. Maaf ya telat.... "
Alviah tersenyum. Kubuka kado dari alviah yang ternyata adalah foto diriku yang sedang tertawa lepas terbingkai dengan cantik.
"Gue sama fahri pengen banget bisa bikin lo ketawa kaya gitu lagi ais. Lo harus berusaha ya...."
Aku memandangi foto itu lalu balas tersenyum. Sudah lama sekali rasanya tidak tertawa seperti itu.
"Akan gue coba."
Jawabku dengan yakin walaupun hatiku berkata lain.
****
Sampai dirumah aku menyalakan laptop Dan lihat foto foto janwar sambil bertanya apa maksud suratnya tadi.
Ternyata janwar tidak main-main. Saat aku masih dengan laptopku, tepat jam 12 malam ada email masuk. Aku terkejut. Kira kira siapa yang mengirim email tengah malam seperti ini. Setelah masuk ke inbox emailku, tertera nama janwar sebagai subjek pengirim. Dengan ragu dan sedikit takut aku membuka email tersebut...
Dan isinya....
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar