*GSF* part18
*
From : Janwar
To : My SunFlower
Sudah aku bilang kan. Kalau aku tidak akan benar benar pergi tanpa meninggalkan sesuatu. Ini doa pertamaku untukmu. Ingat kata-kataku Aisyah, aku ingin kamu menjadi gadis kuat yang mampu menerima setiap kenyataan yang ada dihadapan kamu. Hiduplah dengan baik, aku akan selalu melihatmu disini. I love you.
Aku tersenyum membacanya. Benar-benar aneh. Aku sedikit ngeri, apa mungkin janwar yang menulis ini? Bagaimana bisa? Atau ini yang namanya keajaiban? Aku sangat penasaran. Jadi kukirim balasan ke alamat yang sama.
From : your sunflower
To : janwar
Apa kamu benar-benar janwar? Apa aku boleh berharap kamu memang benar janwar? Apa yang harus kulakukan agar aku bisa menjadi gadis seperti yang kamu mau?
Aku menunggu balasannya. Tapi tidak ada balasan. Sampai aku tertidur malam itu.
******
Hari hari setelah kepergian janwar kulalui dengan menanti doa doa yang terus datang setiap harinya. Sejak kali pertama aku menerimanya, doa doa itu tak pernah absen datang. Doa itu seperti bayangan janwar yang memberiku semangat dan kekuatan. Aku tidak tahu siapa pengirimnya. Aku mencoba percaya bahwa itu adalah suatu keajaiban, tapi akal sehatku menyatakan hal sebaliknya. Semua balasan yang kukirim tidak ada yang ditanggapi.
Bukan hanya kiriman doa yang membuatku kuat seperti sekarang ini. Kak agung juga berjasa karena selalu menjadi sahabat setiaku selama setahun belakangan. Dia selalu memberikan semangat dan membuatku yakin bahwa hidup ini masih panjang. Dia memberi rasa pada hatiku yang hambar. Rasa aman dan damai, rasa disayangi, rasa dicintai, semuanya.
Sekarang aku sedang memfokuskan tekadku untuk mendapatkan beasiswa ke luarnegeri. Seperti kata janwar dalam doanya. Aku harus belajar dengan baik. Menjadi gadis sukses dan pintar. Janwar ingin aku mengambil kuliah arsitektur dibelanda. Dan kupikir belajar dinegeri orang bisa membuat pikiranku teralihkan. Tapi aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk melupakan janwar. Aku tak ingin kenangan tentang dia hilang dari ingatan.
Akan aku lakukan apapun itu, jika itu bisa membuatku belajar menghadapi kenyataan dengan baik. Janwar bilang aku adalah "SunFlower". Berarti aku harus kuat seperti bunga matahari.
Ternyata benar, dengan kekuatanku untuk terus berusaha dan pantang menyerah, aku berhasil mendapatkan beasiswa itu. Aku akan berangkat ke belanda besok. Aku merasa bangga pada diriku sendiri karena mampu maju dari keterpurukan. Aku mampu mengambil langkah besar.
Kupandangi koper koper yang sudar terisi penuh. Tiket sudah ada ditangan. Yang membuatku kesal, sudsh seminggu kak agung tidak menghubungiku. Berkali kali aku menelponnya tapi ponselnya tidak aktif. Aku ingin kerumahnya, tapi persiapan keberangkatanku cukup merepotkan. Aku memutuskan menelpon alviah, meminta pendapatnya.
"Halo alviah.... "
"Iya ais, cieee yang besok mau berangkat. Ada apa nih?"
"Ahhh lo bisa aja. Besok lo ikut anterin gue kan ke bandara?"
"Pasti dong... "
"Viah gue mau curhat nih. Kak agung seminggu ini tidak ada kabar. Gimana dong?"
Alviah mengehela nafas panjang.
"Ya iyah lah. Lo pikir aja gimana perasaannya ditinggal ke luar negeri. Seluruh dunia juga tau kak agung cinta mati sama lo."
Aku menggigit bibir.
"Terus gimana dong?"
"Lo kerumahnya aja sekarang."
"Yakin nih gak apa-apa?" tanyaku ragu.
"Enggak apa-apa atau lo mau besok lo pergi tanpa ketemu dia dulu?"
"Gak mau lah..."
"Yaudah sekarang lo kerumahnya."
Klik! Alviah menutup teleponnya.
"Mau kemana ais malam-malam begini?" tanya ibu yang melihatku terburu buru.
"Mau ke rumah kak agung bu, sebentar saja." jawabku sambil melihat jam.
****
Sesampainya disana. Kuketuk pintu rumahnya, tapi tidak ada tanggapan. Aku punya firasat kuat dia ada ditaman belakang rumahnya.
Benar dugaanku.
Ditempat itu kulihat banyak sekali bunga matahari. Kakiku sampai lemas melihatnya.
Dia dengan mudah kutemukan. Dia tengah duduk dibangku taman.
"Kaaaaaak.... "
Kusentuh bahunya.
Dia sedikit kaget.
"Ais.. Kok kamu disini? Kebetulan kamu disini, kamu suka dengan bunganya?"
"Untuk apa semua ini kak?" aku berjalan menuju kerumunan bunga matahari yang ia siapkan untukku. Tiba tiba kurasakan ia memelukku dari belakang. Ia melabuhkan wajahnya dibahu kananku. Bisa kudengar dia menangis sesenggukan. Aku menoleh kearahnya dan benar kak agung memang menangis. Melihatnya seperti ini hatiku serasa terluka. Apakah dia tak tahu, melihatnya sedih adalah hal yang sangat aku benci didunia ini? Tapi nampaknya aku memang selalu melakukan hal yang menyakiti hatinya.
"Apa sesakit ini yang kamu rasakan kak?" aku bertanya. Ia terdiam.
"Maafkan aku, aku seringkali menyakiti kakak."
Ia semakin erat memelukku. Sesaat membuatku sesak napas. Aku menurunkan tangannya dan berbalik badan lalu memeluknya seerat yang aku bisa.
"Apa tidak ada sedikit saja ruang dihati kamu untuk kakak ais? Sedikit saja... Selain sebagai seorang sahabat dan kakak. Apa benar-benar tidak ada?" suaranya bergetar.
Aku tak bisa menjawab pertanyaanya. Aku belum siap.
"Apa kamu tidak sedih akan meninggalkanku besok? Walau sedikit ais? Selama ini kakak mendukung kamu mati matian untuk mendapatkan beasiswa itu, kakak coba merelakan kamu pergi, tapi ternyata tidak bisa. Kakak tidak sanggup kalau kamu tidak ada disini. Disamping kakak. Selama inipun kakak sudah menjaga kamu sebisa kakak. Apa kakak beh pamrih kali ini ais? Agar kamu berubah pikiran dan tetap tinggal disini?"
Aku menangis. Kupeluk tubuhnya semakin erat.
"Kak kumohon, cobalah hilangkan perasaan itu ke aku kak." jawabku lembut.
"Aku ini bukan siapa-siapa dan tidak akan menjadi siapapun buat kamu. Kakak gak bisa mencintai aku seperti ini, karena aku tidak punya apapun untuk membalas semuanya. Aku tidak pantas menerimanya."
Jelasku terisak.
"Apa? Katamu sedikit? Aku sudah berusaha sekuat mungkin mengurangi rasa cinta kakak ke kamu ais. Kamu tidak mengerti? Apa begitu sulit menerima kenyataan bahwa janwar memang sudah tidak ada?"
Aku mengakui, sampai sekarang aku masih belum bisa menerima kenyataan itu. Janwar pergi membawa semua hatiku dan aku sangat sedih ketika tahu ada yang terluka karena kondisiku ini.
"Terimakasih kak. Makasih atas banyak hal. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya berterimakasih sama kamu. Tapi asal kakak tahu, kk salah satu orang yang bisa menguatkan aku sehingga aku bisa bertahan sampai sekarang. Aku bukannya tidak tahu bagaimana perasaan kakak ke aku. Aku bukannya buta dan tidak bisa melihat bagaimana sayangnya kakak ke aku. Aku bukannya tidak senang kalau ada disamping kk. Kk penting buat aku. Tapi maaf kak. Aku gak bisa. Maaf... Aku tahu kk sudah berusaha semampu kk untuk menunjukan rasa sayang kk. Tapi aku gak bisa bohong kak. Dihati ini masih ada janwar. Dia masih hadir dipikiran aku. Masih namanya yang aku tulis dibuku harianku. Aku gak mau kk sakit karena hal itu.. Maaf.... "
Kak agung memelukku semakin erat.
"Aku ini adalah kamu ais. Kamu yang dulu setia menunggu janwar. Aku gak tahu kapan jawaban itu akan datang. Berharap pun kk gak berani. Tapi sekali lagi kk tekankan, ais. Rasa ini tidak akan pernah habis. Sayang ini tidak akan berpindah. Kamu lihat bunga matahari itu? Seperti itu rasa sayang kk ke kamu. Kuat, kokoh dan tidak berduri. Selamanya tidak akan menyakiti kamu. Tapi sekuat apapun kk menahan kamu. Sebesar apapun kk mencintai kamu, kk tahu pada akhirnya kamu akan pergi meninggalkan kk."
Aku semakin terluka ketika dia mengatakan dirinya adalah Aku yang dulu. Aku yang menunggu janwar tanpa tahu jawaban apa yang akan aku dapatkan. Aku tahu betul bagaimana tak berdayanya, seperti orang yang terkurung dalam penjara. Tidak bisa melakukan apapun. Tidak tahu apa yang menunggu di luarsana. Sebesar apapun aku berusaha, aku tidak bisa keluar dari belenggu yang sudah aku ciptakan sendiri. Karena aku terlanjur mencintai janwar.
Aku tak mampu mengucapkan Apa apa. Aku hanya bisa mengusap punggungnya dengan lembut.
"Pergilah.. Pergi kemanapun yang kamu suka, ais. Aku menyerah. Aku berhenti sampai disini. Karena aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa."
Perlahan ia melepaskan pelukannya.
Seakan rela melepasku untuk pergi....
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar