GSF* part33
**
Saat sampai dirumah imal. Kulihat dia sedang bersandar diberanda kamarnya. Mungkin sedang menikmati angin malam. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Dia sedikit kaget..
"Boseeeeen. " rengekku manja.
"Kamu ini kalau bosen telepon saja. Kan aku bisa jemput. "
"Biarin. Masa tiap hari kamu yang jemput aku kan masih punya kaki dan tangan untuk bawa mobil sendiri. "
Imal tertawa kecil.
"Kamu nyalakan tv saja, aku tadi beli kaset baru. Kayanya bagus. Aku buatkan susu dulu buat kamu. "
Dia memang selalu membuatku susu untukku. Dia bilang agar tulangku kuat. Agar aku bisa berjalan sampai tua bersamanya. Kalau bisa berlari.
Aku lalu duduk di sofa ruang tamu. Imal penggila DVD. Jadi kami tidak perlu mengeluarkan uang untuk nonton di bioskop. Dirumahnya hampir semua film tersedia.
Aku mulai menonton film action, imal menghampiriku dengan segelas susu dan memberikannya padaku. Ia dusuk disampingku dan aku meneguk susu itu.
Lima belas menit berlalu, tiba tiba rasa sakit menyerang kepalaku. Kurasakan cairan hangat mengalir dari hidungku. Aku raba perlahan. Aku tahu itu darah.
Akhir akhir ini aku sering mimisan. Tapi baru kali ini disertai dengan sakit kepala yang tak tertahankan.
Aku cepat-cepat mengambil tisu dari kantong celanaku dan melap darah yang semakin banyak keluar. Imal sedang serius menonton. Aku tidak mau dia melihatku seperti ini. Dia pasti marah. Aku berdiri dari samping imal dan pergi ke kamar mandi.
"Kamu mau kemana? " tanya imal heran.
"Mau ke kamar mandi sebentar. Ingusku meler. "Jawabku cepat. Saat aku hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba imal menarik tanganku. Aku hampir terjatuh karena sakit dikepalaku membuatku kehilangan keseimbangan.
Aku terus menutup hidungku dengan tisu. Tapi percuma, darahnya sudah merembas kesemua bagian tisu.
"Sejak kapan ingus warnanya merah? " tanyanya galak. Aku hanya menatapnya takut karena dia pasti marah kalau tahu aku sakit. Aku memang bekerja terlalu keras.
"Coba lihat hidung kamu. "
Perlahan aku mengangkat tanganku. Betapa terkejutnya imal saat melihat darah yang terus mengalir dari hidungku.
"Menurut kamu ini lucu ya, menyembunyikan hal kaya gini? " bentaknya.
Aku baru akan menjawab, tapi rasa dikepalaku sudah tak tertahankan. Dan semuanya berubah gelap.
Ketika sadar, hari sudah pagi dan aku masih di urumah imal. Aku segera duduk saat imal menghampiriku.
"Kamu tahu kalau kamu demam tinggi semalam? Pasti kamu kecapean. Kapan terakhir kali kamu minum susu? "
Aku menundukan wajahku.
"Lima hari yang lalu... "
"Ooh pantas saja... " imal duduk disampingku dan terlihat marah melihat keadaanku.
Beberapa hari belakangan ini aku memang jarang istirahat karena sedang mengerjakan konsep gedung yang akan kubangun sebentar lagi. Ini proyek besar. Jadi wajar saja kalau aku mengerahkan semua tenagaku untuk proyek ini.
"Kamu tuh kenapa sih susah banget disuruh minum susu? Aku tahu kamu berusaha keras untuk proyek kamu. Aku tidak melarang kamu untuk bekerja lebih keras daripada biasanya. Karena aku rahu itu impian kamu. Tapi tolong jaga kesehatan kamu aisyah. Susu itu penting buat sumber energi kamu. "
Aku mencium tangannya
"Iya sayang..." Aku tersenyum agar dia tidak marah lagi.
"Sudah, nggak perlu senyum-senyum kayak gitu. Aku gak akan luluh. Mendingan sekarang kamu makan bubur, terus minum susunya. Gak boleh protes. Trus kita langsung ke dokter. "
"Ke dokter? Gak mau. Orang aku hanya kecapean sedikit kok. Jangan lebay deh. Ngapain juga harus ke dokter? Berlebihan tahu. "
"Apa berlebihan? Kamu tahu gak? Butuh waktu setengah jam buat bersihin darah dari hidung kamu. Dan sekarang menurut kamu pergi ke dokter itu berlebihan?. "
"Terus kamu gak kerja? "
"Ya enggak lah. Kalo aku kerja siapa yang mau antar kamu. "
"Gini aja deh. Aku akan pergi ke dokter. Tapi kamu harus kerja hari ini. Aku bisa ke dokter sendiri. Nanti hasilnya aku kasih tahu kamu."
"Enggak, pokonya kamu aku antar kerumah sakit. "
"Kalo kamu ngotot, mending aku gak usah ke dokter deh. Aku cuma gak mau ngerepotin kamu sayang. Aku gak mau ganggu jadwal kerja kamu. terserah. Pilih yang mana. Kamu ke kantor atau aku pulang kerumah dan gak ke dokter. "
Wajah imal tampak kesal. Lalu dia pergi ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian dia sudah berpakaian rapi dan mengambil tasnya.
"Puas? " kata imal yang berdiri dihadapanku.
Aku berdiri untuk merapikan rambut dan dasinya.
"Duuh.. Pacarku ganteng sekali. " aku tersenyum karena akhirnya imal percaya padaku.
"Sudah berangkat sana, aku janji hari ini aku pasti ke dokter. Nanti aku kabari kamu lagi. Oke! "
Imal masuk kedalam mobil tanpa berkata apapun. Aku cepat-cepat menghabiskan sarapanku. Setelah merapikan rumah imal yang berantakan, aku pulang ke rumah dan segera berangkat kerumah sakit terdekat.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar