Mi, Rinduku menempel pada jemari tangan kananmu, saat kucium tanganmu dan hendak pergi untuk kembali lalu membawa rasa bangga untukmu. Airmataku menetes disana, melihat keringat panas dingin yang kau keluarkan untuk kami. Untuk aku, dan saudaraku.
Tahukah mi? Semalam bantalku basah banjir dengan airmata yang penuh dosa. Aku teringat dengan kesalahan yang kulakukan, aku teringat dengan apa yang telah kau korbankan. Semuanya kontras. Disepertiga malam, aku melihat wajahmu diatas sajadahku, lagi dan lagi sejadahku basah mi. Hanya suara jangkrik yang menemani menetesnya airmataku. Aku menginggat jelas setiap sudut wajahmu bahkan sedikitpun aku tidak pernah lupa.
Mi, kesabaranmu tak pernah retak dan semoga tak akan pernah retak meski nanti kau menggenggam bara berupa ketidaksadaran kami.
Maaf anakmu yang tidak tahu terimakasih