*GSF* part46
Satu masa berlalu dalam diam.
Menghentak rasa yang sebenarnya tengah berjuang.
Menunggumu dalam keheningan.
Harummu masih dalam kenangan.
Semerbak rindu menyatakan kesyahduan.
Lantas haruskah ku lanjutkan rasaku?
Ketika luka lama juga tengah tengiang dalam jiwaku?
Pun begitu, ku anggap kau mawar bagiku.
Keharuman mu, menyandraku untuk tetap mengenangmu.
Cintaku seperti garis di tanganmu jan,
Abadi membekas dalam hatimu,
Kutuliskan surat berlantunkan do'a
Kuawali namaku, namamu
Dan sebuah mimpi yang kurangkai dengan sempurna...
****
Kali ini aku melihat janwar dipinggir sungai, aku menghampirinya, wajahnya tampak sedih. Aku lihat ada airmata dipipinya.
Aku duduk disebelahnya dan menyandarkan kepalaku dibahunya. Sesaat kami menangis bersama.
"Apa yang membuat kamu menangis? " aku bertanya padanya sembari melihat matahari yang hampir terbenam.
"Aku menangis karena kesedihan kamu. "
"Aku harus bagaimana, jan? Ayahku pergi meninggalkanku, lalu kamu. Sekarang kak agung juga tampaknya akan melakukan hal yang sama, lalu perasaan imal yang sudah kusakiti, seperti aku yang sudah menyakiti hati kak agung, yang ternyata sudah terlebih dahulu menyayangiku selama ini. Apa yang harus kulakukan sekarang, jan? "
Janwar merangkul bahuku dan mengelus rambutku.
"Kamu tidak boleh cengeng, jangan jadi cewek lemah. "
Aku menghela napas.
"Dari dulu kamu memintaku untuk selalu kuat dan semuanya kuturuti." volume suaraku meninggi.
"Semuanya aku ikuti tanpa terkecuali jan, tapi apa? Semua itu hanya membawaku kearah yang lebih menyakitkan. Dua kali lebih menyakitkan daripada kehilangan kamu dulu. Jadi tolong beritahu aku apa maksud semua ini? "
Ia hanya tersenyum. Senyum yang sulit kuartikan. Dari dulu ia selalu seperti ini, memberiku senyuman penuh misteri. Memberiku kebingungan dengan kebingungan lagi. Lalu ia memelukku dan saat itu juga, semua beban yang ada dalam hidupku hilang seketika. Yang tersisa sekarang hanya perasaan tenang dan damai.
"Apa boleh aku ikut denganmu, jan? "
Janwar tertawa kecil.
"Tentu saja tidak. Karena disini bukan tempatmu. Ada maksud dibalik ini semua, suatu hari kamu akan tahu, semuanya tidak sesulit yang kamu kira. Suatu hari kamu akan menemukan kebahagiaan itu ais. Dan suatu hari nanti kamu akan bersandar dipunggung imam yang akan membawamu ke surga. Kamu akan mendapat semua jawaban atas kebibgunganmu selama ini. Jawaban itu akan membuatmu selalu tersenyum sampai rambutmu memutih dimakan waktu. "
Aku tersenyum mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulutnya. Membuatku tertidur dibahunya dan aku kembali kedunia nyata.
****
Sinar matahari menyapu semua sudut dikamarku. Aku pergi kedapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa batu es di freezer. Aku kompres mataku karena menangis semalaman. Setelah mimpi itu, aku tahu aku seperti dibangkitkan kembali.
Sekarang aku duduk disini tidak bisa melakukan apa-apa. Sementara orang yang kusayangi sedang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Kemarahan dan kekecewaan tidak bisa membuatku untuk tidak mempedulikan kak agung. Bagaimanapun, ini bukan murni kesalahannya. Ini juga salahku yang terlalu lemah dan bodoh. Kak agung sudah mengorbankan perasaannya hanya untuk melihatku bahagia.
Aku membawa mobilku ke rumah sakit. Ternyata kak agung sudah tidak ada. Kata suster jaga, kak agung pergi sejak tadi subuh.
"Sebetulnya dokter agung belum boleh pulang, dan saya tahu kondisinya masih sangat lemah. Semalam dia mengeluh karena tidak bisa tidur. Tadi saya sudah menahannya tadi dia tetal bersikeras pergi. Dia bilang, dia mau menemui kamu. "
Jelas dokter fajrul.
"Menemui saya? Tapi dia tidak kerumah saya pagi ini dok. Kira-kira kemana dia sekarang? Apa dokter tahu kemana biasanya dia pergi? "
Ketika aku hendak beranjak dari ruangan dokter fajrul, dokter muda itu berujar.
"Saya pernah melihatnya berjalan sendirian dipinggir ladang bunga matahari. "
Yaampuuun, kenapa aku tidak berpikir kesana? Bodoh!! Tapi memasuki musim dingin seperti ini sedikit sekali bunga yang tumbuh. Apa yang mau dia lihat diladang itu?
Setelah aku mencari kesana, ternyata kak agung tidak ada. Aku duduk didalam mobilku, aku berpikir keras, mencoba menebak dimana kira-kira kak agung sekarang. Tapi pikiranku sudah buntu, aku tidak tahu dimana dia sekarang. Aku tidak tahu lagi apa kesukaannya selain bunga matahari.
Aku menjalankan mobilku. Aku tidak tahu, tapi yang sekarang terbersit dihatiku, aku ingin pergi ke mesjid kecil yang cukup jauh dari ladang dan satu-satunya ada di Amsterdam. memang benar, tuhan membawaku ke tempat yang benar. Ia selalu punya cara untuk mempertemukan dua insan dengan indah. Setelah berwudu akupun masuk dan Ketika aku masuk ke dalamnya, kumelihat seorang pria yang sedang duduk pasrah diatas sejadah. Kulihat dia sedang berdoa.
Sebisa mungkin aku tidak bersuara. Aku duduk dibelakangnya.
"Aku rela pergi ke tempat-Mu ya rabb, aku rela jika engkau mengambilku. Tapi hamba mohon, berikanlah kebahagiaan untuk aisyah. Hamba sangat menyayangi dia. "
Suaranya bergetar hebat, dapat kurasakan airmatanya mengalir.
"Ya allah, hamba hanya ingin semua orang yang hamba sayangi selalu bahagia. "
Kak agung bersujud dan pasrah. Ia menangis dengan bersujud diatas sejadah.
Aku berdiri dan melangkah ke arahnya. Dia tampak tidak menyadari kehadiranku. Aku duduk disampingnya.
Lalu ia tersenyum.
Setelah kami berdoa.
Ia pergi keluar tanpa berbicara sepatah katapun padaku.
Dia pergi mengendari mobilnya. Kuikuti dia hingga akhirnya ia berhenti diladang itu.
Ia turun dan duduk ditengah-tengah ladang sambil menatap jauh.
"Kaaaaak... "
Aku memanggilnya pelan.
Ia menatapku.
"Aku mencintaimu aisyah... "
Dia mengatakannya dengan lemah, bisa kudengar napasnya yang berat.
Tapi perlahan kepalanya terkulai kebelakang dan jatuh dipundak kananku.
Aku melihat banyak darah keluar dari hidungnya.
"Kaaaaakk... Kaaaaak... "
Aku meamnggil namanya berulang kali, tapi tak ada jawaban. Aku mulai panik dan menepuk pipinya. Tapi tetap tak ada reaksi. Aku mulai menangis karena takut, aku mencoba mendengarkan napasnya. Masih ada tapi sangat lemah.
Wajahnya pucat sekali, tubuhnya dingin. Aku membaringkannya dipangkuanku. Aku berteriak minta tolong dan dengan segera beberapa pekerja bangunan menghampiri untuk menolong janwar dan aku memanggil ambulans...
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar