*GSF* part10
.
Tante Tiwi tersenyum. "Dia selalu cerita tentang kamu, dia bilang kamu itu baik dan manis, kalau didekat kamu dia selalu seperti menghirup harum bunga dipagi hari. Kamu memberinya semangat untuk hidup. Terdengar berlebihan memang tapi memang begitu adanya. Janwar bilang sama tante bahwa kamu itu napas malaikat yang selalu menyertai dia. Kalau dia bicara dengan kamu, seolah isi seluruh tubuhnya berguncang. Begitu menggetarkan dan menenangkan jiwa. Dia bilang, kamu mempunyai mata yang akan ikut tersenyum kalau kamu tertawa. Dan jika kamu menangis, dia seperti melihat jutaan anak kecil menangis bersamamu." tante tiwi kembali memberikan senyumnya. Aku melihat senyum janwar diwajahnya.
"Dia suka cara kamu berjalan, caramu tersenyum, caramu berbicara hingga tertawa, caramu menulis dan caramu menatap. Dia suka semua yang ada pada diri kamu. Masih banyak yang belum tante ceritakan, karena tante berharap janwar bisa mengatakannya sendiri padamu. Apa ais tidak pernah merasa kalo janwar seringkali memperhatikan ais?" tanya tante tiwi padaku yang sedari tadi begitu fokus mendengarkan.
Aku menggelengkan kepala. "Tapi tante, ais benar-benar belum mengerti mengapa ais tidak mengetahui semua itu? Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu kepada tante sedangkan dia dan ais tidak terlalu dekat? Dan waktu itu dia pernah bilang......... "
"Iya ais, mengenai hal itu tante harap janwar bisa menyampaikan apa yang belum dan ingin dia sampaikan sama ais." tante tiwi memotong perkataanku. "Semoga nanti cerita dia bisa menjawab semua pertanyaan yang ada dikepala kamu."
"Sekarang lebih baik kamu masuk, janwar sudah sadar kok. Kamu bisa jaga dia sebentar? Tante bekum mandi nih, mau pulang dulu, bisa?"tanyanya lembut.
Aku mengiyakan dan masuk bersama tante tiwi yang langsung pamit pada janwar.
Dengan ragu-ragu aku menghampiri tempat tidur janwar. Jantungku berdegup kencang. Ini pertama kalinya aku akan bicara dengan janwar setelah sekian lama dia terlihat lemah.
"Apakabar Ais?" tanyanya lirih dengan tersenyum. "Ba.. Baik jan. Kamu apakabar?" tanyaku gugup. "Aku baik.. Kok canggung sih?" halisnya mengernyit. "Mmmm enggak kok. Kepalanya masih sakit?" tanyaku dengan sangat hati-hati untuk mencairkan suasana. Aku tidak mau terlalu bersemangat karena sudah lama tidak berbicara dengannya. Janwar hanya tersenyum kecil. "Udah gak ada yang sakit kok. Semuanya membaik, tapi......" janwar mengangkat tangan keatas dadanya. Wajahnya mengernyit seperti menahan sakit. Aku agak panik. "Kenapa? Dada kamu sakit?"
"Yang sakit bukan dada, tapi hati." suara janwar tidak terdengar jelas karena ia memakai alat bantu pernapasan. Akupun mendekatkan telingaku.
"Sorry, bisa ulangi sekali lagi?" tanyaku hati hati.
"Yang sakit hati aku ais.." katanya dengan suara lemah.
"Sakit kenapa jan? Siapa yang sudah membuat hati kamu sakit?"
"Kamu.. Kamu yang udah bikin hati aku sakit."
Aku terkejut.. "Lhooo kok gitu, maksudnya gimana? Kapan aku bikin hati kamu sakit dan karena apa?" aku langsung menjauhkan telingaku dan menatapnya bingung. Janwar tertawa agak kencang sekarang.
"Enggak, aku hanya becanda. Gampang amat sih dibohongin. Hahaaa.."
Wajahku langsung memerah karena malu, tapi sekaligus merasa lega karena dia hanya becanda. Janwar lalu berusaha untuk duduk. Aku ingin membantunya tapi ternyata janwar sudah bisa sendiri tanpa perlu bantuan. Dengan cepat dan cuek ia melepas alat bantu pernapasannya.
"Kamu udah baikan, ya? Kok hebat bisa sendiri?" tanyaku girang karena melihat keadaanya yang jauh lebih baik dari kemarin.
Janwar hanya tertawa kecil. "Agung mana, Ais? Kok gak diajak?"
"Hah? Kok kamu tahu kak agung?" wajahku berubah drastis. "Semalam dia gendong kamu pulang, kan?" tanyanya.
"Iyaa. Tapi kok kamu tahu namanya sih? Memangnya kamu kenal dia dimana? Terus, kalo kamu liat aku digendong, berarti semalam kamu sudah dalam keadaan sadar dong?" tanyaku menyelidik.
Janwar kembali tersenyum. "Aku kemarin gak sadar sebelum kamu datang dan nemenin aku disini. Kalau agung aku cuma tau namanya doang, tadi pagi aku tanya mama, tapi ya aku gak tahu dia itu siapa." janwar lalu menatapku curiga. "Agung itu pacar kamu, ya? Baik banget sampai rela nungguin dan mau antar kamu pulang."
Aku tertawa kecil. "Enggaklah, dia hanya temen aku." jawabku setenang mungkin.
"Aku sama sekali belum pernah pacaran, parah banget ya? Hahaaa." aku menertawai diriku sendiri. Andai saja janwar tahu bahwa semua ini karena dia. Karena dia aku menolak menjalin hubungan dengan pria manapun.
"Kak agung itu tadinya temen les aku, terus sekarang dia jadi temen deket aku." aku tertawa lagi karena teringat kejadian konyol saat pertama bertemu kak agung.
******
Janwar mendengarkanku dengan serius. Kemudian tibatiba dia menggerakkan kakinya dan berusaha turun dari tempat tidur. Aku buru buru membantunya agar dia tidak jatuh. Aku lalu mengambil kursi roda, membantu janwar berdiri.
"Kamu mau kemana jan? Kamu kan belum sembuh, memangnya sudah boleh jalan-jalan?" tanyaku sambil membantunya duduk dengan posisi yang benar.
"Aku gak jalan kok, aku jelas jelas hanya duduk dengan nyaman. Yang jalan itu kamu." jawabnya dengan terkekeh. Aku kagum pada kondisi seperti ini, ternyata dia masih humoris. "Aku pengen keluar, suntuk disini terus." lanjutnya.
Aku menuruti permintaanya, setelah meminta izin pada suster kamipun pergi menuju taman rumah sakit. Ditaman yang cukup besar itu banyak anak kecil yang sedang bermain. Aku duduk dibangku taman sementara janwar ada disebelahku.
"Ais, kamu tahu? Aku suka sekali sama anak-anak." matanya tampak berbinar.
"Oh ya? Aku baru tahu."
"Kamu tahu kenapa aku suka anak anak?" aku hanya menggeleng.
"karena mereka? mengingatkanku pada seseorang." jawabnya singkat.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Seseorang yang sangat aku sayangi, tapi dia tidak tahu kalau aku begitu menyayanginya." jawabnya pelan. Hatiku langsung mencelos dan kecewa ketika mengetahui sudah ada orang yang ia sayangi selama ini
"Kenapa gak tahu? Memangnya kamu tidak memberitahu dia tentang perasaan kamu?" aku pura-pura bersemangat dan penasaran.
Janwar hanya menggeleng.
"Kenapa kamu gak ngasih tahu?"
"Karena aku tidak bisa.." jawabnya tidak bersemangat. Wajahnya memelas.
"Kenapa tidak bisa? memang kalian jarang bertemu".
Janwar hanya tersenyum simpul.
"Dulu dia dekat sekali dengan aku, hampir setiap hari aku melihatnya." janwar lalu menoleh kearahku, menatapku dengan teduh.
"Terus kenapa kamu tidak ungkapkan saja srmua perasaan kamu?" desakku dan aku sangat penasaran.
"Karena senyum perempuan itu seperti senyum anak kecil ini, seperti malaikat kecil." janwar menunjuk anak kecil yang sedang bermain ria didepannya. Aku bingung mendengar jawabannya.
"Terus apa hubungannya dengan senyum perempuan itu dengan kamu yang mau mengungkapkan semua perasaan kamu? Bukannya setiap perempuan pasti senang kalau tahu ada orang yang sangat menyayangi dia."
"Karena aku gak akan sanggup kehilangan senyumnya, kalau dia menangis, aku seperti melihat anak anak didepanku ini ikut juga menangis. "Janwar menjawab lalu menunduk ketanah. Wajahnya terlihat sedih. Aku sempat teringat pada cerita tante tiwi tadi. Tapi aku tidak mau berharap bahwa orang yang dimaksud janwar adalah diriku. Aku takut jika nanti kenyataannya berbeda, aku tidak mampu mengobati rasa sakitnya.
"Lhoo apa hubungannya sama dia nangis? Memangnya kalau kamu kasih tahu dia tentang perasaan kamu dia bakalan nangis, menurut aku dia bakalan bahagia banget deh kayanya." timpalku polos.
"Aku sakit, ais.... Dan aku tidak akan pernah bisa jadi apa-apa untuk kamu.... " jawabnya lirih sambil terus menatap ke bawah.
Aku tertegun mendengar pernyataanya. Ternyata memang aku yang dimaksud. Air mataku hampir mengalir.
Aku terdiam beberapa menit, mencoba mencerna kata-katanya. Setelah muncul keberanian, akhirnya aku menjawab.
"Kamu mungkin gak bisa jadi apapa buat aku jan, tapi setidaknya kasih aku kesempatan untuk menjadi sesuatu buat kamu..."
Janwar langsung menoleh mendengar katakata apa yang kuucapkan.
"Selama ini aku hanya ingin mempunyai arti lebih buat kamu jan, gak lebih."
Airmataku jatuh. Tapi aku tak berani melihat kearah janwar. Aku hanya menatap kearah anak anak yang sedang bermain.
Kutarik napas dalam dalam.
"Akupun tidak tahu jan, kenapa kamu begitu menarik dimataku. Bagiku tidak ada yang lebih menarik didunia ini selain kamu. Semenjak kelas 4 SD aku menyimpan semua perasaanku. Kelas 4 SD jan,, bayangkan dari kelas 4 SD aku sudah menyayangimu. Tapi kamu pernah bilang kalau kamu tidak menyukaiku. Dan ironisnya sekarang kamu bilang bahwa kita mempunyai perasaan yang sama. Setelah sekian lama aku menderita karena hanya berani memandang punggungmu dari kejauhan.... "
Aku memalingkan wajahku padanya. Kulihat dimatanya ada rasa penyesalan.
"Tapi aku masih sangat menyayangimu, perasaanku belum berubah dan tidak akan pernah berubah. Aku masih Aisyah Aliskandar yang menyayangi kamu." airmataku terus mengalir.
"Aku disini jan, jangan pernah merasa sendirian, ais yang sama masih disebelah kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu hanya karena kamu sakit." ucapku terbata-bata. "Sekarang apa yang bisa kulakukan? Apa kamu akan meninggalkan aku sebentar lagi?"
Janwar langsung memelukku erat sekali. "Kenapa waktu yang kamu berikan padaku hanya sedikit jan. Kenapa?" suaraku terputus-putus karena tersendak oleh tangisan. Ia terus memelukku.
"Maaf.. " ucapnya lirih.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar