Rabu, 27 Desember 2017

Grey SunFlower part44

*GSF* part44

"Kamu adik sepupunya kan?"
Aku terkesiap.
"Iya dok. Kenapa dok? "
"Apa kamu kenal dengan gadis yang bernama ais? "
Aku terenyak.
"Ais? "
"Iyaa Aisyah Aliskandar. Saya sampai hafal namanya. Hampir setiap hari dokter Agung membicarakannya.. Saya rasa selain karena semangat  hidup dokter agung yang kuat, gadis itu juga salah satu alasan ia bertahan sampai sekarang. Dari cara dokter agung membicarakan gadis itu, saya tahu dokter agung sangat menyayangi gadis itu. Saya harap kalau kamu tahu gadis itu berada, kamu bisa mengabarkan keadaannya pada gadis itu. Mungkin kalau dia hadir disini. Dokter agung bisa bertahan lebih lama."
Aku terdiam sejenak. Kaget dengan apa yang baru saja kudengar.
"Dia sering membicarakannya, Dok? " aku terduduk dilantai sambil menangis.
Dokter fajrul terkejut dan langsung jongkok dihadapanku.
"Kamu tidak apa-apa? "
"Saya Ais Dok, saya Aisyah aliskandar yang dokter maksud. "
Ucapku lirih. Kenapa aku baru sadar? Aku memang bodoh. Kenapa aku baru menyadari sekarang bahwa aku memang sangat tidak ingin kehilangan dia. Aku benar-benar takut, aku sangat menyayanginya. Aku menyesal karena sudah menyia-nyiakannya.

"Dok, ambil ginjal saya saja dok, ambil ginjal saya! "
Aku memohon.
"Tidak bisa Aisyah,  tidak bisa semudah ini. Dalam hal ini. Yang bisa mendonorkan ginjal kepada Dokter Agung yaitu orangtua atau saudara kandungnya. Sekarang begini saja, kalau memang kamu ingin melakukan sesuatu untuk dia, sekarang kamu berdiri. "
Dokter fajrul mrmbantuku berdiri.
"Kamu duduk disamping dia, ajak dia bicara, kamu temani dia. Kamu berdoa. Saya yakin itu akan menjadi kekuatan untuk dia. "
Aku mengangguk dan kembali ke ruang ICU. Aku memandangi kak agung yang terbaring lemah.
"Kamu kenapa kak? Kenapa bisa seperti ini?  Kenapa kamu tidak cerita kalau kamu punya penyakit seserius ini, kumohon kaaak.. Bangun! "
Ucapku dengan suara bergetar.

Berpuluh-puluh kali aku memintanya untuk bangun, tapi dia tetap tidak bereaksi. Akupun teringat kejadian tadi siang. Saat dia menangis dan masih menyayangiku, lalu menepati janjinya yang sudah sekian lama. Kejadian itu membuatnya semakin terluka.

Aku tidak bisa melakukan apapun selain berdoa dan memberinya bisikan semangat. Kenapa aku selalu tak berdaya menolong orang yang kusayangi?

Aku juga teringat kejadian dirumah imal. Diponsel mungkin sudah ada puluhan telpon masuk dari imal yang tidak kuangkat. Aku masih tidak ingin bicara dengannya. Apa benar kak agung kakak kandungnya imal? Untuk apa mereka merahasiakan ini semua dariku. Apa karena alasan itu kak agung menghilang dan tidak mau berbicara denganku selama tiga tahun?  Kalau memang dia kakaknya imal, berarti dia sudah mengetahui hubunganku dengan imal sejak lama. Dan itu berarti aku menyakitinya sudah jauh lebih lama dari yang ku tahu.
****

Keesokan harinya aku dibangunkan oleh  seseorang yang membelai rambutku. Kubuka mataku Dan kulihat Kak Agung sudah sadar, wajahnya masih pucat.
"Kamu pulang sana, istirahat. "
Suaranya terdengar lemah. 
Aku tidak percaya, disaat seperti ini dia masih memikirkanku.
"Kamu sudah membaik? Apa yang kamu rasakan sekarang? " aku memegang keningnya.
"Aku baik-baik saja aisyah, aku hanya butuh tidur. Setelah ini aku bisa pergi dari sini. Jadi lebih baik kamu pulang, istirahat yang banyak. Aku tidak ingin kamu sakit. "
Aku menepis tangannya yang menyentuh kepalaku.
"Tampaknya kamu sudah punya banyak tenaga untuk bicara denganku, aku akan pulang, tapi kamu harus jelaskan semuanya, tanpa terkecuali. "
"Jelaskan apa? " wajahnya terlihat sangat lelah.
"Semuanya tanpa terkecuali. "
"Tentang penyakitku?  Aku yakin kamu sudah tahu dari dokter fajrul, kan? Aku mau kasih tau kamu, tapi aku sudah keburu ambruk. Maaf ya... "
Ia berpura-pura tegar dan tertawa kecil.
"Selain itu?" tuntutku.
"Apalagi? Aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu ais. "
"Tidak usah berbohong. Apa yang bisa kamu jelaskan tentang semua email yang kamu kirim ke imal sejak lima tahun yang lalu.? Kebohongan apalagi ini mardian? "
Ia hanya terdiam dan kaget mendengar semua pertanyaanku.
"Kebohongan apalagi ini kak?  Kumohon.. " tanyaku lemah sambil terisak.
"Kamu tahu dari mana? "
"Dari Adik kamu..  " suaraku mulai terdengar keras.
Ia kembali terdiam, ia tak berani menatapku.

"Maksud kalian apa merahasiakan ini semua? " aku semakin emosi.
"Aku tidak mengerti seperti apa jalan pikiranmu. "
"Imal kasih tahu kamu? "
"Dia tidak bicara apapun. Aku melihat semuanya di komputernya. Sepintar-pintarnya kalian simpan rahasia ini, akhirnya akupun akan tahu kak.. "
"Terus kamu mau penjelasn seperti apa lagi? Sedangkan kamu sudah tahu semuanya. "
"Kamu! " aku mencoba menahan emosiku.
"Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Seakan hal ini hanya masalah sepele. Kalau kamu tidak dalam keadaan sakit, akan kubuat babak belur kamu sekarang juga. "
"Lalu kamu mau apa aisyah?  Aku memang membohongi kamu. Kamu marah kan?  Kamu boleh membunuhku sekarang juga, atau kamu mau pergi, silakan. Aku tidak akan menahan kamu. " kak agung berusaha duduk ditempat tidurnya dengan tenang. Wajahnya yang tengil membuatku geram.
Aku bergeming tak sudi membantunya. Hatiku semakin panas karena merasa dipermainkan.

"Enak saja. Memangnya kamu pikir, kamu bisa lari dari masalah dengan sesimpel itu. Kamu pikir dengan membunuhmu atau meninggalkan kamu semua masalah akan selesai? Tidak Kak. Aku akan tetap menunggu penjelasan kamu. " jelaskan tegas.
Aku membuang muka.
"Disini aku merasa dipermainkan... " celetukku.
Dia menarik napas panjang.
Lalu tertawa kecil.
"Dipermainkan?  Kamu tahu arti  dipermainkan itu seperti apa?"
Aku terdiam, lalu menatapnya.
"Seharusnya aku yang bicara seperti itu.
Seharusnya aku yang marah, seharusnya aku yang meminta penjelasan padamu. Kenapa kamu mempermainkanku selama tiga tahun ini. Kamu bersikap seolah mencintaiku, seolah tidak ingin aku pergi, seolah hatimu memang untukku. Tapi pada akhirnya kamu selalu menyakiti hatiku lebih dalam dan dalam lagi. Apa kamu tidak sadar? Apa kamu bodoh?  Aku selalu sabar dengan sikapmu aisyah, karena memang ada cinta dalam jiwaku yang tidak pernah hilang. Aku mencintaimu dan aku tidak peduli dengan semua kebohongan yang kamu ciptakan. "
Aku menangis sejadi-jadinya.
Aku memang jahat, manusia terjahat didunia ini.
Ia menghapus airmataku.
"Maafkan aku aisyah,, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku hanya ingin kamu tahu... "

Aku menggeleng.
"Maafkan aku..... " ucapku lirih.

Kak agung menutup matanya untuk sesaat.
""Aku adalah orang yang pertama mencintai kamu, jauh sebelum kamu menyukai janwar. "
"Maa... Maksud kamu? "
Tanyaku bingung. Saat kak agung membuka mata.  matanya terlihat merah. Seperti menahan tangis. Dia menunduk dan memegang perutnya yang kesakitan.

"Sebelum kamu menyukai janwar, aku sudah terlebih dahulu menyayangi kamu. Tapi kamu tidak tahu, kan? "
Airmatanya mulai mengalir.
Aku jadi teringat dengan kata-kata pelayan ditoko kuenya.
Jadi gadis yang dimaksud itu adalah aku?

"Dulu ibuku tante tiwi, hamil diluar nikah, lalu lahirlah aku. Entah dia malu atau memang tidak sudi untuk merawatku, dia menyerahkanku pada kakak perempuannya yang tidak bisa mempunyai anak. "
Ia menghapus airmatanya.
"Selama 18 tahun aku hidup dalam kebohongan, hingga akhirnya aku mengetahui dan memutuskan pindah ke jakarta. Aku masih belum bisa menerima keadaan saat itu, jadi lebih baik aku hidup sendiri. Saat itu aku merasa seperti anak yang terbuang. Anak yang dilantarkan ibuku sendiri. Aku bahkan tidak tahu siapa ayah kandungku. Itulah alasan kenapa aku benci ulangtahunku."
Ia menarik napas panjang.
"Dulu waktu SD kita pernah satu sekolah. Kamu pasti tidak ingat kan?  Jelas. Dari dulu yang kamu perhatikan hanya janwar. Sejak kamu kelas 3  dan aku kelas 5 SD aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku. Aku sangat sedih keketika orangtua angkatku mengajakku pindah ke malang. Yang beberapa tahun lalu kuketahui alasannya, karena agar aku jauh dari ibu kandungku. "

Aku langsung teringat pada masa SD-ku. Ya tuhan... Ini dia. Kenapa aku merasa sangat mengenal wajah kak agung. Tentu saja!  Dulu aku sering memergoki dia sedang memandangiku. Dia kakak kelasku. Memang aku tidak mengenalnya, tapi aku masih ingat betul kalau dia ini kakak kelasku dulu.
Ya allah kenapa semuanya begitu sulit untuk diterima?

"Saat janwar pergi, aku harap suatu hari kamu bisa jatuh cinta padaku. Tapi ternyata tuhan tidak mengabulkan doaku. Janwar mengantarkanmu pada imal. Dan penyakit ini mengambil semua kekuatanku untuk berjuang mengejar cintamu. Aku sudah tahu tentang penyakitku sejak janwar meninggal. Waktu itu aku iseng-iseng memeriksa kesehatan. Berasumsi adikku sakit, siapa tahu aku juga sakit.
Dan ternyata asumsiku benar, kalau bukan karena penyakitku ini, aku tidak akan mau membantumu untuk meraih beasiswa di sini. Tapi penyakitku menghambat semuanya. "
Akhirnya ia menatapku.

"Aisyah... Aku tidak bisa membayangkan seandainya aku tidak bisa mengantar jemput kamu. Mengajakmu ketempat yang indah, memberimu ribuan kejutan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku tidak bisa lagi melakukan itu semua untukmu. Aku tidak akan tahan sehari saja tidak membuatmu bahagia. Itu akan membuatku seribu kali lebih menderita dibanding melihatmu berjalan bersama yang lain. Lalu aku berpikir, satu-satunya cara adalah aku harus membuatmu pergi jauh dariku. Aku sangat bersyukur kamu bertemu dengan imal Adikku. Aku bisa tenang, dia bisa melakukan semua yang tidak bisa aku lakukan untuk kamu. Walaupun aku membenci ibu kandungku, tapi aku sangat menyayangi adik-adikku. "
Aku hanya bisa menangis dan terus menangis...

NEXT

Tidak ada komentar: