Kamis, 23 Juli 2020

menikmati Masa Tua bersamamu tentunya

Suatu kali kamu pernah bertanya seberapa lama aku akan bertahan mencintaimu? Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Tetapi jika kita diberi kesempatan untuk menua bersama, aku akan tetap di sini, menemanimu setiap kali.
Setiap hari. Meski dengan keriput di hampir seluruh kulitmu dan gigi yang tak lagi bersisa. Dengan rambutku yang mulai memutih dan aku
menuntunmu atau kamu yang menuntunku karena salah satu dari kita tak mampu lagi sempurna melangkahkan kaki. Kita akan tetap
berbahagia karena bisa meluangkan waktu seharian menikmati masa tua. Kita bisa mengisinya dengan ngobrol berdua, nonton tv, atau sekadar duduk-duduk sambil minum kopi
atau teh. Kamu mungkin tidak setampan dulu lagi. Tetapi bagiku, kamu masih tetap tampan  sesuai dengan usiamu. Kita mungkin sudah tidak akan sekuat dulu lagi, ketika kita masih bisa mengunjungi
banyak tempat. Ketika kita bisa menaklukkan ketinggian ribuan Mdpl berbagai puncak gunung karena kaki kita sudah tak lagi sehebat biasanya.
Tetapi waktu yang bisa kita habiskan di masa tua akan terasa lebih lama dibandingkan ketika usia kita masih dua puluh tiga. Karena kita akan menikmati waktu-waktu itu dengan percakapan- percakapan yang berisi tentang kenangan di masa muda. Kita akan tertawa membicarakan
masa lalu kita. Bukan, bukan masa lalu kita bersama orang lain. Tetapi tentang kita berdua tentu saja. Kita melakukan flashback dari pertama bertemu hingga sampai pada usia tua. Aku akan tertawa setiap kali mengingat momen-momen
konyol yang pernah terjadi di antara kita berdua. Tentang pertengkaran-pertengkarannya, kebodohan-kebodohan mempertahankan ego
masing-masing, tentang kecerewetanmu dan
kekeraskepalaanku, dan segala hal konyol lainnya yang membuat kita tak bisa berhenti mengenangnya. Tetapi meski dengan semua itu, dengan semua pertengkaran dan ego kita ketika masih muda dulu, kita masih bisa bertahan, sekarang dan nanti.
Lalu setelah itu, aku pasti bersyukur karena kita masih dibersamakan oleh Tuhan. Bahwa kita masih bertahan sampai raga kita menua. Egoku
besar, egomu jauh lebih besar. kamu keras kepala, aku jauh lebih keras kepala. Tetapi kamu selalu mau berubah meski harus lebih dahulu
marah-marah. Dan aku mau bersabar agar tidak lebih lama bertengkar atau membuat masalah itu menjadi lebih besar. Dan mungkin pada saat tua nanti, kamu akan mengatakan bahwa kamu pernah bertemu dengan orang lain yang lebih baik dari aku. aku
pun juga begitu. Tetapi kamu tetap memutuskan untuk menjatuhkan pilihan padaku dan aku tetap
memutuskan memilihmu. Mungkin pernah terlintas untuk pergi, namun tak pernah bisa beranjak walau sesenti. Mungkin pernah bosan dan merasa tidak lagi sama dan tidak lagi saling mengerti, tetapi kemudian memperbaikinya lagi hingga kita tetap memutuskan untuk tetap di
sini. Kita masih di sini sampai sekarang ini. Aku akan tetap berada di sini.
Mencintaimu lagi dan lagi ~ 

Selasa, 14 Juli 2020

Apa kabarmu ?


Halo, apa kabarmu?
Aku tak bermaksud menanyakan kabarmu, karena aku tahu kabarmu sudah jauh lebih baik sekarang. Benar, kan? Tentu saja. Karena jika tujuanmu pergi dariku agar kamu lebih bahagia, seharusnya kamu sudah bahagia sekarang. aku sudah melepaskanmu sekarang, bahkan sebelum benar-benar melepaskan, aku tidak benar-benar mengikatmu, bukan? 
Entah kenapa setelah kamu akhirnya pergi, aku bertambah lega sekarang. Jangan dulu salah paham, aku bahagia bersamamu sesungguhnya. Paling tidak, aku tak pernah merasa kesepian karena kamu bisa menyapaku kapan saja. kalau aku kerepotan, setidaknya kamu selalu ada. Tapi, yang membuatku lega adalah kamu bisa mengejar bahagiamu sekarang. Mencari bahagia yang tidak kamu dapat dariku. Kamu harus menemukan bahagiamu, Harus! Seperti aku yang
telah menemukan bahagiaku. 
aku sudah menemukannya. Kamu tahu sejak kapan? Tepatnya saat kamu memutuskan untuk tidak mencintaiku lagi. Inginnya, aku terus membuatmu tertawa. Merasa nyaman setiap kali kamu bercerita dan aku mendengarnya. Merasa tenang setiap kali aku datang. Dan ada senang yang tak terbilang, karena aku akan memberimu hadiah-hadiah sederhana namun penuh kejutan. Dan kamu selalu bahagia setiap kali menerimanya. Inginnya, kamu selalu menjagaku kapan saja. Tidak harus selalu bersisian. Tidak harus selalu satu jengkal di sampingmu, tapi cukup dengan mendengar suaramu saja dari seberang telepon, aku sudah merasakan kedamaian. Inginnya, aku bisa tetap membuatmu jatuh cinta setiap hari, setiap kali. Tanpa bosan, tanpa jeda. Lalu kamu akan merindukanku lagi dan lagi. Sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk menua bersama.

Inginnya, aku tetap bersamamu. Menghebat bersamamu seiring berjalannya waktu, dan kita akan benar-benar mewujudkannya jika tetap bersabar. Jika kita tetap memutuskan bersama.
Tetapi semua itu hanyalah inginku. Sedangkan inginmu harus segera kauwujudkan juga. Inginmu bahagia secepatnya. Inginmu mencari hati yang baru, yang menurut persepsimu, bisa
lebih membuatmu bahagia. 
Kamu hanya terburu-buru fai. Ingin semuanya berjalan cepat. Padahal bahagia itu selalu datang tepat waktu. Tapi ya sudah. Aku hanya bisa berlari semampuku, mengejar mimpiku satu demi satu. Mimpiku yang seandainya kamu tidak pergi akan menjadi mimpimu juga. Mimpi kita. Tetapi kamu sudah pergi sekarang. Aku tidak tahu apakah setelah kepergianmu, aku akan
menjadi lebih baik atau tidak. Menjadi lebih bahagia atau tidak. Tetapi kamu mengajarkanku banyak hal, tentang bagaimana seharusnya membahagiakan seseorang di masa depan.
Terimakasih ~

Minggu, 05 Juli 2020

secangkir kopi ~

Kain hangat ini, masih setia menunggu. Barangkali masih ada yang percaya keajaiban, sebagaimana seajaibnya malam ketika datang dan mengantar banyak sekali ingatan.

"Jangan takut untuk ditinggalkan, aku pasti kembali, untukmu, untuk kita."

Masih fasih kutirukan ungkapanmu itu. Seperti tahun-tahun tak pernah menua dalam kepalaku, selain sebuah kota yang perlahan ditinggalkan penghuninya. 
Kau pernah bercerita tentang secangkir kopi, kau suka menikmatinya dibawah air terjun yang mengalir deras. Katamu "aku selalu bermimpi. Suatu saat kita bisa menikmati kopi lagi disini, meski dengan gelas yang berbeda, dengan senyummu semua terasa indah."

Tapi bukan itu sayang, bukan. aku takut jatuh cinta saat semuanya tak dapat kembali, selain penyesalan dan semua tak berarti lagi ~