Sabtu, 09 Desember 2017

Grey Sun Flower part15

*GSF* #part15
*
Empat bulan belum cukup...
*
Ketika aku membuka mata, matahari pagi sudah masuk dari jendela kamar rumah sakit. Sesaat aku merasa seperti baru bangun dari mimpi. Dan semua yang membuatku sakit hilang begitu saja. Tapi itu tak bertahan lama. Ingatan itu datang kembali. Ingatan akan kepergian janwar semalam.
Dia pergi.......
    Luka dihatiku masih menganga. Aku bisa merasakan sakitnya sampai kedalam rusuk. Merusak semua organ tubuhku.
"Ais......" aku langsung melirik ke sumber suara. Ternyata kak agung disampingku. Wajahnya terlihat teduh dan tenang. Walau terlihat sekali ada lingkaran hitan dibawah matanya.
Bukan hanya dia yang setia menemaniku. Fahri dan alviah juga ada disini untuk memberiku kekuatan.
Aku mengangguk pelan. Tanpa berpikir panjang dan berbicara apa-apa, aku menekan tombol untuk memanggil suster. Kak agung tampak bingung dengan apa yang kulakukan.
"Kamu mau apa? Bilang aja sama kakak, biar kakak yang bantu." kak agung berdiri dari tempat duduknya.
Aku tidak menjawab hingga akhirnya seorang suster muda datang ke kamarku.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster itu dengan sopan.
"Sus tolong buka aja infusnya sekarang sus. Saya mau pulang." aku memandangi kebiruan disekitar kulitku.
"Tapi kamu belum boleh pulang, semalam kamu kehilangan banyak darah. Jadi kamu harus dirawat sehari lagi untuk memulihkan kekuatan kamu." wajah suster iru berubah menjadi prihatin.
"Kamu istirahat dulu disini, ais. Sampai energi kamu membaik."
"Tapi saya mau pulang sus.. Atau saya cabut sendiri saja infusnya."
Suaraku masih lemah dan bergetar. Tapi tanganku siap mencabut jarum yang bersarang dilipatan sikuku.
Suster itu suster yang selama kni merawat janwar. Dia tahu perasaanku terhadap janwar. Setelah menimbang-nimbang akhirnya suster itu bersedia mencabut infusku.
"Makasih banya ya sus." aku memberikan senyum semanis mungkin untuknya. Suster itu membalas senyumku dengan pandangan khawatir.
"Saya tahu kamu sedih. Semua orang akan merasa sedih jika ada diposisi kamu. Begitu juga saya, tapi hidup kamu masih panjang. Semua yang bernyawa itu akan mengalami kematian." suster itu menggenggam tanganku dengan lembut lalu keluar dari ruangan.
   Aku langsung turun dari tempat tidur dengan sisa kekuatan yang kupunya. Kak agung menuntunku keluar dari rumah sakit. Fahri dan alviah mengikuti dari belakang. Kami berpisah ditempat parkir. Sepanjang perjalanan kerumahku. Didalam mobil aku hanya diam, aku merasa hampa. Yang  ada dikepalaku sekarang hanya janwar.
   Beberapa kali kusadari kak agung menoleh ke arahku. Seperti ingin mengajakku bicara. Tapi dia mengurungkan niatnya untuk kesekian kali.
Semuanya masih terasa mimpi karena begitu tibatiba. Otakku masih belum bisa mencerna kejadian semalam sepenuhnya.
Apakah yang semalam kulihat itu benar?  Sungguh terjadi? Jadi pelukan sebelumnya itu adalah pelukan yang terakhir? Inikah alasan janwar menyuruhku untuk bersiap-siap? Karena rasanya memang sangat sakit sekali. Apakah kalau aku bersiap siap rasanya tidak akan sesakit ini? Apakah mulai hari ini aku tidak akan bisa melihat wajahnya lagi? Mendengar suaranya. Tertawa bersamanya. Apakah semuanya benar-benar hilang mulai hari ini? Dan apakah aku bisa hidup tanpanya? Sekarang umurku baru 20  tahun. Kalau tuhan memberi aku kesempatan untuk hidup sampai umur 70 tahun, apakah aku mampu menjalani 50 tahun tanpa dia disampingku.
Bagaimana caranya?  Bagaimana aku bisa? Aku tidak tahu bagaimana caranya hidup tanpa bisa melihat punggung dan senyumnya. Bagaimana bisa aku berjalan jika aku sadar dia sudah tiada. Pria yang sangat aku cintai sudah pergi.
Bagaimana bisa aku menjalani hidup yang seperti itu?
     Aku turun dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun.. Aku berjalan linglung kedalam rumah. aku bisa mendengar mobil kak agung sudah melesat jauh.
Ibu langsung memelukku. Ia langsung khawatir begitu melihatku. Ibu pasti sudah tahu apa yang terjadi semalam. Ia mengelus rambutku.
"Jangan sedih sayang.... Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama ibu. Dulu kita juga pernah mengalaminya kan? Ketika papa kandungmu meninggal? Tapi kita bisa melaluinya. Begitu juga kali ini. Ibu akan selalu disampingmu. Menemani kamu menerima semua ini."
Seketika aku menangis. Aku jatuh tersimpuh dilantai. Ibu berlutut didepanku dan kembali memelukku. Aku menempelkan wajahku dibahu ibu. Aku menangis sejadinya dipelukan ibu. Aku tahu ibu pasti mengertibyang kurasakan sekarang. Bagaimana sakitnya ditinggalkan seseorang yang sangat kita cintai. Sama seperti ibu kehilangan papa dulu.
"Kamu harus kuat sayang... Kamu harus bisa menerima kenyataan dengan hati besar. Semua yang terjadi didunia ini bukan suatu kebetulan. Semuanya sudah pada tempatnya. Dan semuanya mempunyai tujuan yang baik pada akhirnya."
Aku mengangguk pelan. Ternyata menangis membuatku lelah.
Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Setelah selesai, aku ambil baju dan selendang abu abu yang kupunya dari lemari. Janwar pasti suka melihatku memakai baju ini. Aku memandangi diriku dicermin. Aku terlihat kuyu.
Kuambil sisir dan bedak. Aku harus tampil cantik didepan pacarku. Karena hari ini adalah hari terakhir aku melihat raganya.
Setelah selesai aku keluar dari kamar. Ternyata ibu juga sudah siap dengan baju hitamnya. Ia sudah menunggu didepan teras.
Ibu tersenyum padaku
"kamu cantik sekali nak,  ayo kita berangkat sekarang." ajaknya.
Aku mengikuti ibu masuk ke mobil dan menuju rumah janwar.
*****
Kulihat ada bendera kuning berkibar didepan rumah.  Ketika memasuki rumahnya, kurasakan airmataku mulai mengalir lagi. Kulihat dirinya terbaring berselimutkan kain putih. Tubuhnya tinggi dan berwibawa didalam keranda.
Aku tidak pernah membayangkan didalamnya terbaring seorang pria tampan, baik,  dan pria yang sangat aku cintai. Yang demi apapun untuknya aku rela memberikan hidupku.
"Janwar.. Aku disini. Aku bisa melihatmu disini. Apakah kamu bisa merasakan?  Lihat., aku mengenakan baju abu abu warna kesukaanmu. Aku cantik kan? " bisikku dalam hati. Dan membuat airmataku tumpah sejadinya.
Tuhan, apakah sekarang dia sedang diduduk disampingMu? Apakah dia sedang tertawa bersamamu sekarang? Aku pasti akan merindukannya.
Kejadian ini tak pernah muncul sekalipun dalam mimpiku. Ketika kulihat mata itu tertutup, semua kebahagiaan dan semangatku ikut pergi bersamanya dia pergi tanpa meninggalkan sesuatu untuk kukenang. Bagaimana ini? Aku takut suatu saat nanti aku kan lupa wajahnya, lupa senyumnya, lupa suaranya,. Janwar aku ingin bertemu......
     Kututup mataku, mata ini sudah sangat lelah karena menangis. Aku tak tahu bagaimana aku bisa bertahan tanpa janwar disampingku.

NEXT

Tidak ada komentar: