Jumat, 22 Desember 2017

Grey SunFlower part37

*GSF* part37
*

Keesokan harinya aku tidak bisa  menahan diriku untuk tidak pergi kerumah sakit tempat kak agung bekerja. Aku ingin berbicara banyak dengannya. Rasa rinduku belum terbayar oleh pertemuan singkat kemarin.
Ingin aku menghabiskan waktu seharian untuk berbincang dengannya. Seperti yang aku lakukan dulu.
Berbicara, tertawa, makan eskrim, atau hanya duduk didalam mobil sambil berkeliling kota yang hampir sepi ketika malam yang semakin larut.
Saat aku sampai didepan pintu ruangannya,  ada perasaan aneh menjalar dalam tubuhku. Perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Jantungku berdegup lebih kencang. Apa mungkin karena sekarang dia sudah menjadi kak agung yang berbeda? Hubungan kami bukan lagi hubungan persahabatan yang seperti dulu. Ada yang berubah diantara kami.

"Kamu mau apa kesini? " tanyanya bingung.
Sambutannya terdengar sinis ditelingaku.
"Apa sahabat lama tidak bisa mengajak sahabatnya sendiri untuk makan siang? "
Ia menatapku dengan kening berkerut.
"Tidak ada yang bilang begitu. Tapi aku sedang tidak nafsu makan. "
Aku duduk dihadapannya.
"Apa kamu tidak sadar, badanmu sekarang kurus?  Sejak kapan kamu jadi gila kerja kak? "
"Sejak hari itu. " jawabnya singkat.
Aku menarik napas. Aku mengerti maksud jawabannya. Akupun mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut.
"Bagaimana kalau minum kopi? Apa kamu juga akan mengecewakanku kali ini? " sindirku.
Ia berdiri lalu mengambil mantelnya.
"Baiklah.. "

Kami berjalan ditengah ramainya orang dipinggir jalanraya. Rasanya menyenangkan sekali berjalan bersamanya. Disamping seseorang yang begitu kurindukan.
Mulanya aku ragu, tapi akhirnya aku beranikan diri untuk melakukannya. Aku menyelipkan tanganku disamping tangannya. Menggandeng tangannya pertama kali setelah tiga tahun berpisah. Dalam hati aku berdoa semoga dia tidak menepis tanganku karena aku tahu dia punya cukup alasan untuk melakukan itu.
Tapi ternyata tidak. Dia malah menggenggam tanganku. Tangan yang sudah sangat lama tidak aku sentuh. Tangan yang sejak dulu berusaha menyelamatkanku dari keterpurukan.
Aliran darah kebahagiaan mengalir saat dia mendekatkan tubuhnya. Aroma tubuhnya yang masih sama  seperti dulu, mengisi seluruh rongga paru-paruku. Rasanya jantungku berdebar begitu cepat, mungkindia bisa merasakannya juga.

Lalu tiba-tiba...
"Apakah yang kita lakukan sekarang ini adalah sesuatu yang benar? " katanya lirih tanpa melihat ke arahku.
Kulihat wajahnya dari samping. Matanya menunggu jawaban.

Aku tahu ini tidak benar. Tidak seharusnya aku melakukan ini. Tidak seharusnya aku membohongi diriku dan dirinya. Kalau memang pada akhirnya aku menyayanginya, aku terlanjur melakukan kesalahan. Dulu aku mencoba mengabaikan tangannya yang mencoba meraihku. Dan kini saat tangan itu tertutup, aku mencoba membuka dan menggenggamnya lagi. Aku tahu ini salah.

"Kamu tidak bisa menemukan jawabannya? " tanyanya cuek sambil terus berjalan.
Aku sadar sudah banyak kafe yang kami lewati. Tapi tampaknya tak ada yang mau berhenti diantara kami.
"Apa kamu mencintai imal? "
Tanyanya lembut dan tatatapannya tetal lurus kedepan.
"Iyaa.. Sayangnya iyaa. Aku mencintai dan menyayangi imal. "
"Sayangnya?  Mengapa begitu? Seharusnya kamu bahagia sekarang. Imal benar-benar bisa menggantikan posisi orang itu. "
Kak agung nampaknya enggan menyebutkan nama janwar didepanku. Mungkin dia takut luka itu terbuka lagi.
"Aku juga tidak bisa mnejelaskannya. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya padamu juga pada diri sendiri kak. "
Ia tersenyum mengejek.
"Tampaknya cintamu tidak sama seperti dulu. Kamu tidak melihat diri imal seperti seharusnya. Kamu melihatnya sebagai janwar. Kamu tidak mencintainya seperti kamu mencintai janwar.  Iya kan? "
Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran. Kak agung ternyata tidak berubah. Dia masih bisa membaca pikuranku dan mengerti apa yang kurasakan.
"Jadi? " ternyata kak agung belum puas dengan jawabanku.
Kugenggam tangannya lebih kuat.
"Tapi aku mencintainya, aku menyayanginya, bagaimanapun caraku memandangnya. Dari manapun aku memandang cinta itu, tetap saja kuputuskan aku mencintainya. Aku tidak mungkin mundur untuk meninggalkannya. "
Ia mengendurkan genggamanku.
"Lalu apa yang kamu lakukan sekarang? Apakah untuk menyakitiku lagi? "
Aku langsung melepaskan tangannya dan menghentikan langkahku. Kak agung berbalik lalu menatapku.
"Apa? " tanyanya menuntut.
"Apa kamu dendam padaku? " tanyaku takut.
Kak agung berbalik dan jalan perlahan.
Aku mencoba mensejajarkan langkahku.
Dia tertawa lelah..
"Dendam?  Mana mungkin aku bisa dendam padamu aisyah. "
"Lalu? "
"Dendam tidak akan membawaku sampai kesini, ais. "
"Lalu apa yang membawamu? "
"Mengapa kamu bersikap seperti orang bodoh dan idiot? "
Bentaknya lalu menatapku dalam sekali.
"Aku rasa dari semua orang di dunia ini kamu yang paling tahu jawaban dari pertanyaan kamu tadi. "
Ujarnya menusuk hatiku. Sekali lagi aku raih tangannya walaupun dia tidak membalas genggamanku. Aku tidak mau melepaskannya.

"Apakah uni artinya aku ditolak? " tanyaku.
"Ditolak? " nada bicaranya terdengar marah.
"Apa maksud kamu?  Apa kamu sudah gila. "
"Kumohon kak.. " aku hampir menangis.
"APA Aisyahh... " bentaknya.
"Apa yang kamu mohonkan?  Apanya yang ditolak? Siapa aku sehingga bisa menolakmu? Bukannya kamu yang menolakku dulu?  Dan sekarang kamu ingin aku melakukan apa?  Memohon dan mencintai kamu seperti dulu lagi? Iya? "
Aku terdiam. Aku terisak.
"Aku ingin melakukannya ais. Aku ingin melakukannya  lebih dari apapun. Tapi bagimana dengan imal?  Ini sama saja seperti membohongi diri kita sendiri aisyah.. "
"Kamu pikir aku tidak tersiksa dengan perasaanku selama ini? Bayangkan, 3 tahun aku menyimpan semua perasanku padamu. Tiga tahun aku menunggumu. Tiga tahun aku seperti orang gila yang tidak tahu harus melakukan apa. " tiba-tiba ada yang jatuh dari matanya. Aku semakin terisak.
Dia mengungkapkan semua yang ia rasakan. Dan itu membuat hatiku hancur.

"Maaf.. Maafkan aku kak.. " aku memeluknya..
"Aku minta maaf dengan apa yang kulakukan dulu. Aku tahu aku tidak bisa menebus kesalahanku. Kumohon maafkan aku. "
Ia terdiam..

Hari itu kami tidak jadi minum kopi. Dalam perjalanan pulang kak agung sama sekali tidak mau melihatku. Aku rasa dia sangat lelah. Aku tahu ada yang sesak dalam dadanya. Pembicaraan kami tadi melebihi apa yang kubayangkan. Tampaknya kami berdua bertemu ditempat dan waktu yang salah.
"Pulanglah ais. Imal pasti sudah menunggumu. Aku sudah muak denganmu.. "
"Kak kumohon. Maafkan... "
"Pulanglah... Maaf aku tidak bisa mengantarmu. "
Dia masuk begitu sasaja kedakam rumah sakit tanpa mengucapkan selamat tinggal dan melihat kearahku..

NEXT

Tidak ada komentar: