*GSF* part47
Aku menggenggam tangannya selama perjalanan kerumah sakit. Kulihat wajahnya yang kurus, aku teringat, dulu dia yang selalu melindungiku, dia yang selalu menggendongku. Tapi sekarang dia terbaring lemah. Ya tuhaaan..Aku tak ingin kehilangannya, membayangkannya saja aku tidak sanggup.
"Maaf anda tidak bisa masuk, sebaiknya anda menunggu diluar, kami akan menanganinya. " suster menahanku untuk masuk.
Aku hanya bisa terus menangis dan berdoa hingga akhirnya kak agung dibawa keluar. Aku langsung menghampiri dan mengikutinya ke kamar rawat. Napasnya terdengar berat dan terputus-putus.
Kak agung membuka matanya. Saat itu aku menemaninya sudah hampir 5 jam. Dia mentatapku lalu tersenyum. Matanya sayu dan tampak lelah. Tapi aku masih bisa melihat garis ketampanan di wajahnya.
Ia menarik tanganku lalu aku berdiri dari tempat dudukku dan mendekat ke arahnya. Kutahu ia sangat lemah hingga bicarapun seperti kesulitan. Perlahan dia mengangkat wajahnya. Aku bisa mencium aroma obat yang begitu menyengat.
"Kamu sebaiknya pulang. .. "
Dia mengelus rambutku dengan lembut.
"Mana mungkin aku bisa pulang dengan keadaan seperti ini kak.. "
"Yasudah, begini saja. Kamu tidur dan istirahat. Akupun akan coba untuk beristirahat. Bagaimana? Adil kan? " tanyanya lembut.
"Aku akan pulang setelah aku tahu kamu bisa tidur. "
Dia mengangguk pelan. Lalu aku memeluknya berharap akan membuatnya sedikit lebih tenang. Lalu tanpa ku ketahui dia sudah menekan tombok untuk memanggil suster.
"Ada apa? " seorang suster muncul ke kamar kak agung.
"Saya minta obat penenang sus, saya tidak bisa tidur. Saya tidak tahan dengan sakitnya. " Jelas kak agung.
"Apa yang sakit? " tanyaku khawatir.
"Tidak ada. Aku hanya ingin kamu cepat pulang dan istirahat. "
Aku menatapnya sedih. Dia masih kak agung yang dulu, kak agung yang terlalu baik, perhatian dan selalu melindungiku. Selama ini, pria yang ada dihadapanku telah aku sia-siakan. Aku sakiti hatinya, setelah semua kebaikan yang telah ia berikan padaku.
Beberapa menit kemudian, suster itu kembali dengan membawa alat suntik. Dengan cekatan ia menyuntikan obat penenang ke tangan kak agung. Perlahan tapi pasti ia mulai mengantuk. Aku mengusap rambutnya dan akhirnya dia tertidur.
Aku berjalan lunglai di lorong rumah sakit menuju ruangan dokter fajrul. Aku mengetuk ruangan tiga kali sebelum akhirnya aku dipersilakan masuk.
Dia tampak sudah siap mengatakan kondisi kak agung saat ini.
"Mungkin hanya tinggal menunggu hari. Saya minta maaf, saya tidak bisa melakukan tindakan apapun. Hanya donor ginjal yang bisa menyelamatkannya beserta doa-doa dari orang sekitarnya. "
Aku menatap kosong. Hatiku seperti membeku setelah mendengar apa yang dikatakan dokter fajrul. Aku keluar dari ruangannya setelah mengucapkan terimakasih.
Sambil berjalan gontai aku menyusuri lorong rumah sakit yang dipenuhi banyak orang. Tatapanku kosong ke depan, kepalaku mulai berdenyut dan sakit luarbiasa.
Pandanganku mulai kabur. Bisa kurasakan sesuatu yang hangat mengalir dari hidungku. Keseimbangan tubuhku terganggu dan akhirnya aku terjatuh. Tapi bisa kudengar suara laki-laki yang ku kenal, ia menopang tubuhku dari belakang, suaranya terdengar sangat khawatir. Dan yang ku tahu setelah itu ia menggendongku entah kemana.
*******
Aku tak tahu sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat kubuka mataku, kepalaku semakin nyeri. Aku mencoba mengenali ruangan disekelikingku. Dan aku sangat familier dengan ruangan ini. Tempat yang sering kuhabiskan waktukku untuk sekedar tertawa dengan imal.
Aku melihat imal duduk di sampingku. Matanya terlihat sayup sedih dan khawatir. Aku belum pernah melihatnya sesedih ini.
"Aku merindukanmu ais.... "
Ia mengelus kepalaku.
Aku mencoba duduk tegap. Aku benamkan kepalaku dipundaknya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menghirup aroma parfumnya yang masih jelas di ingatanku.
"Maafkan aku mal, maafkan aku... Aku tidak bisa melakukan apapun untuk hubungan kita, semuanya semakin lama semakin buruk. "
"Aku tidak pernah marah padamu ais. Sedikitpun tidak. "
"Apa kamu tahu bahwa aku juga merindukan kamu? Tapi yang paling membuatku sedih sekarang ini, aku tidak bisa melakukan apapun untuk kakakmu mal. "
Air mataku mengalir deras.
"Kalau saja aku punya ginjal yang cocok dengannya, aku tidak hanya akan memberikannya satu, tapi aku akan berikan keduanya. Bahkan aku rela nyawaku ditukar untuk kesembuhannya. " ujarku sambil terisak.
Tiba-tiba imal ikut menangis. Ia membenamkan wajahnya dibahuku.
Aku menarik tubuhku agar bisa melihat wajahnya. Kucoba seka air matanya..
"Maafkan aku mal, kumohon jangan menangis. Itu membuatku semakin sedih, aku berharap aku bisa pergi dari kehidupan kalian. "
"Apa yang kamu bicarakan? Jika aku tidak bertemu kamu, itu akan menjadi penyesalan dalam hidupku. Aku menyayangimu ais. Apapun yang kamu lakukan aku mendukungmu, karena aku tak bisa menemukan kesalahan dalam diri kamu. Kecuali, kenapa kamu bisa mempunyai hati yang mampu membuatku sangat mencintai kamu. Kamu jangan menangis lagi, percayalah bahwa kak agung akan baik-baik saja. Dia tidak akan meninggalkan aku dan kamu. "
Lalu dia menarik tanganku dan membawaku ke teras depan rumahnya, sementara dia pergi ke garasi. Aku kira imal ingin mengambil mobilnya tapi ternyata tidak. Dia keluar sambil membawa sepeda. Ia memberikan isyarat padaku untuk naik.
Perlahan aku naik didepannya. Lalu ia mengayuh sepeda itu. Aku bisa menghirup udara amsterdam yang dingin sejuk. Udara yang berhasil mengusir sakit dikepalaku. Saat ini yang ada hanya warna abu-abu mendung dilangit. Juga tanah yang disiram air hujan. Aku sangat suka aroma ini, aku bisa merasakan hangatnya napas imal yang menenangkan wajahku. Aku menyandar kepalaku. Dia mengayuh semakin cepat.
"Apakah kamu tahu, bahwa aku sangat mencintaimu?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk pelan.
"Kita sebenarnya mau kemana, mal? "
"Kita akan jalan-jalan. Kamu suka jalan-jalan kan? Apalagi sekarang lagi mendung. Buang dulu kesedihanmu. Aku ingin membuatmu senang hari ini. Siapa tahu besok aku tidak ada disampingmu lagi. "
Aku tertegun mendengar perkataannya. Kutatap matanya yang terlihat sayup. Wajahnya menegang, imal tetap menatap lurus kedepan. Aku berpegangan erat sembari menikmati angin yang menerpa wajahku.
"Kenapa harus ngebut? Kita tidak sedang dikejar waktu kan? "
"Jalanan sepi ais.. "
"Aku tahu tapi tetap saja berbahaya. "
"Apa kamu takut kehilangan aku? "
Aku langsung mendongak melihat wajahnya, dia sama sekali tidak melihatku.
"Maksudmu? Tentu saja aku takut sayang.. "
"Kalau kamu harus memilih antara aku dan kakakku, siapa yang akan kamu pilih? "
Aku terdiam cukup lama. Aku mengakui aku mencintai keduanya. Dan aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa diammu berarti kamu memilih kakakku dibanding aku? " ia menambah kecepatan sepedanya.
"Jika harus kujawab... Aku lebih memilih untuk tidak masuk dalam kehidupan kalian. Agar aku tidak dihadapkan dalam keadaan seperti ini. Bagaimanapun aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian. Aku mau kamu, janwar dan kak agung disini, disampingku. "
Imal tersenyum sinis. Matanya tetap mengarah ke depan.
"Kamu egois aisyah.. Kamu harus memilih. "
"Kalau begitu, biar tuhan yang memilihkannya untukku. Aku rasa itu yang paling adil. Aku tidak punya hak sama sekali untuk memilih. "
Akhirnya dia menghentikan sepedanya. Kami menepi dipinggir sungai yang cantik. Ia menggenggam tanganku erat dan kami menuju sungai.
Kami duduk disana, diatas rumput hijau yang sedikit basah.
Ia menyandarkan kepalanha dibahuku,.
"Aisyah... Aku ingin kamu menjawab satu pertanyaanku. "
"Apa? " aku masih memandang sungai yang ada didepanku.
"Apa kamu pernah mencintai aku? "
Aku menjawab dengan cepat dan yakin.
"Aku mencintai kamu kemarin, hari ini dan esok."
"Apa cinta itu tulus? Atau hanya kamu merasa kasihan padaku karena aku sudah sangat menyayangimu? "
"Imal dengar. Aku tulus mencintaimu tanpa alasan apapun. "
"Lalu apa kamu pernah mencintaiku sebagai seorang Imal Muzammil?"
"Aku sadar betul, saat ini aku sedang mencintai seorang imal, bukan janwar. " jawabku mantap.
Entah mengapa airmataku mengalir. Imal mengangkat kepalanya dan memelukku erat. Membuatku merasa tenang dan merasa bahwa semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.
"Kata dokter, kita hanya tinggal menghitung hari..... " aku terisak saat mengatakannya.
Imal mengencangkan pelukannya.
"Kamu jangan menangis, yakinlah besok tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk kakakku. Ingat itu sayang. "
Salju pertama musim dingin turun. Namun sedikitpun kami tidak beranjak dari tempat itu. Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajahku. Tangannya memegang kedua pipiku, tangan itu terasa dingin.
"Kamu tahu betul bahwa aku sangat mencintai kamu. Jadi apapun yang kulakukan besok dan pada hari-hari nanti, itu demi membuatmu bahagia. Dan aku ingin kamu tidak membalas apapun yang telah kulakukan untuk kamu. "
Aku menatapnya heran. Aku bisa melihat matanya merah karena menahan tangis. Dia berusaha keras untuk membuat suaranya terdengar biasa.
Salju turun semakin banyak. Tapi ia belum juga melepaskan pelukannya meskipun kami mulai membeku.
"Imal, kita akan beku jika disini terus. Pulang yuk. "
"I love you.... " ucapnya ditelingaku.
Aku menarik napas panjang. Aku merasa tidak pantas dicintai oleh siapapun dari mereka bertiga. Aku tidak pernah bisa membuat mereka bahagia. Imal berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Kami bersepeda pulang dengan basah kuyup. Kepalaku sedikit sakit karena tidurku tidak pernah nyenyak..
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar