*GSF* part45
Aku hanya bisa menangis mendengar semua penjelasnnya.
"Jangan menangis ais, semua yang kulakukan selama ini bukan untuk melihatmu menangis dihadapanku. Kebohongan demi kebohongan, rasa sakit yang aku tahan, itu semua untuk melihat kamu tersenyum dan bahagia. Aku hanya ingin kamu tahu, mungkin janwar adalah cinta pertama kamu dan kamu tidak bisa berhenti untuk mencintai dia. Tapi kamu juga bunga matahariku yang pertama dan terakhir. Sampai aku mati. "
Aku kembali menatapnya.
"Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa janwar, imal dan tante tiwi tidak ada yang memberitahu hal ini padaku. "
"Janwar tidak tahu kalau aku ini kakaknya. Ibu kandungku juga tidak. Aku sengaja meminta ibuku yang di malang tidak menagabarinya. Aku tidak ingin ibu kandungku menemuiku atau apapun itu. Rasa sakit dihatiku belum bisa kuhilangkan ais. Bagaimanapun dia sudah membuangku. Sedangkan imal, ini bukan salahnya, ini memang permintaanku. "
"Tapi kenapa kak?"
"Sudah kubilang, aku akan melakukan apapun demi melihatmu tersenyum dan kamu bahagia disaat disamping imal. "
"Kamu jahat kak, kamu orang paling jahat yang pernah kutemui didunia ini. "
Ucapku sambil terisak. Aku tidak bisa menormalkan suaraku karena airmataku tidak berhenti mengalir. Rasa marah, dan sedih bercampur.
"Maaf ya ais. Maaf... " suarnya terdengar sangat rapuh.
"Maaf tidak akan menyelesaikan semua ini. Kenapa kamu meninggalkanku? Setelah semua yang kamu lakukan selama ini untukku? Dan kamu harus tahu semua itu berhasil membuatku jatuh cinta padamu kak... "
Aku menunduk dan terus menghapus airmataku yang terus menerus mengalir. Aku melanjutkan kata-kataku dengan suara bergetar.
"Aku coba menghubungi kamu. Aku coba setiap hari. Aku tidak pernah berhenti mencari. Walaupun aku sudah bertemu imal, aku terus mencari kamu. Saat kamu jauh, aku sadar kak, aku sadar bahwa memang kakak yang aku harapkan. Setiap hari kepalaku selalu dipenuhi tentang kamu. Dengan ingatan saat kita bersama. Tawaku tidak pernah sama ketika kamu ada disampingku. Tapi sekarang aku jadi bertanya, sebenarnya aku yang meninggalkan kamu atau kamu yang meninggalkan aku? Siapa yang menyerah duluan? " aku menarik napas panjang.
"Kenapa semua orang yang kusayang meninggalkan aku? Kenapaaa? " teriakku.
"Ayaah kandungku,,, janwar dan sekarang kamu. Jadi sebenarnya tidak ada yang sayang padaku, kan? Semuanya meninggalkan.
Kaakk.. Kamu harus tahu, aku mencintaimu.. "
Hatiku meledak saat itu juga.
"Aisyaaah. " ia memanggil namaku dengan lembut.
Berusaha menenangkanku.
"Kalau memang kamu ingin aku bahagia dengan imal, kenapa kamu menyusulku ke Amsterdam? "
Aku melepaskan gelang yang pernah ia berikan padaku.
"Lebih baik aku pergi, karena nampaknya aku membawa sial semua orang yang aku sayangi. "
Aku menaruh gelang dan cincin pada tangannya.
"Kamu tidak menepati janjimu, dulu kamu bilang bahwa kamu yang akan pasang cincinnya. "
"Aiss.... " kak agung memanggilku.
"Ini tanda aku jatuh cinta sama kamu kak. Hari ini pertama kalinya aku melepas semua yang kamu berikan padaku. "
Lalu aku berjalan menuju pintu.
"Aku mau tanya satu hal lagi sama kamu, kalau dari awal kamu sudah merelakanku dengan imal, tapi kenapa kamu masih membeli cincin itu? "
"Karena aku berharap cincin ini bisa membuatku sedikit untuk bertahan hidup. " jawabnya lirih.
Aku keluar dari ruangan kak agung dengan isak tangis. Dan yang tak kurang menyakitkan, kulihat imal sudah berdiri bersandar di samping itu. Dia tampaknya telah mendengar semua pembicaraanku. Kutatap wajahnya yang menunduk sedari tadi. Kalau dia mendengarkan pembicaraanku tadi berarti lagi dan lagi aku sudah menyakiti hati orang lain.
BETAPA BODOHNYA AKU!!!
Imal mengulurkan tangan dan membuka telapak tangannya. Aku tahu apa yang dimaksud imal, lalu aku melepaskan cincin yang ia berikan dan meletakkannya ditelapak tangannya. Ia langsung memasukkan ke dalam saku celana.
Saat imal beranjak masuk ke dalam ruangan kak agung, aku menahan lengannya. Dia menatapku. lalu aku mengangkat tanganku dan menjatuhkan keras-keras ke pipi nya.
'Plaaaaaaaak' suara tamparan itu terdengar sangat jelas.
Ia hanya terdiam menerima tamparan dariku, lalu mengelus pipinya yang tampak merah.
"Cukup sampai disini kamu mencintaku, daripada nanti nasibmu sama seperti kakakmu yang ada didalam itu. Terimakasih untuk semuanya dan maaf. "
Berlari sambil menangis, semuanya hancur hari itu.
Aku sempat melihat mata imal yang merah. Apa mungkin tadi dia menangis? Aku tahu, tidak ada atupun diantara kami yang menginginkan akhir seperti ini.
Yang hanya bisa kulakukan saat sampai dirumah hanya menangis dipelukan oma. Mungkin pada akhirnya aku tidak pantas mendapatkan siapapun sebagai teman hidupku. Mungkin aku kehilangan mereka, semuanya akan pergi.
Kupejamkan mataku, aku harap dengan memejamkan mata bisa membantuku meringankan bebanku kali ini. Aku menarik napas panjang. Berharap bisa tertidur cepat. Berharap bisa bertemu janwar dalam mimpiku. Aku ingin memeluknya dan menceritakan semuanya....
NEXt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar