Rabu, 20 Desember 2017

Grey SunFlower part24

*GSF* part24
*
Keesokan harinya aku kembali ke ladang bunga matahari. Aku masih penasaran dengan apa yang kulihat kemarin. Mungkinkah aku akan melihatnya lagi hari ini?
Dan benar saja sore itu aku kembali melihat janwar diantara bunga matahari yang besar. Kali ini aku tak mau kehilangan dia. Aku berlari kearahnya. Dia tidak bergerak.
Aku hanya berjarak dua langkah darinya, dia membelakangiku. Ketika dia membalikan badan, jantungku seakan berhenti.
Wajah ituu.... Wajah janwar... Begitu nyata dihadapanku. Meskipun berkacamata tapi kuyakin tatapan ini milik janwar. Raut wajahnya tampak bingung dan terkejut melihat wajahku. Dan dalam sekejap semuanya berubah gelap. Aku merasakan kepalaku pusing dan kakiku lemas dan tak mampu menopang tubuhku.
Aku tak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Yang kuingat hanya rasa sakit dikepala.
***

Aku melihat langit-langit kamar yang terasa  asing bagiku. Aku siuman. Saat menoleh ke samping, kulihat janwar duduk disebelahku.
Aku bangun perlahan, masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Janwar sebaliknya,  Dia tampak tenang dan menatap teduh wajahku. Setiap senti wajahnya tak terlewatkan olehku. Matanya, alisnya, rahangnya, hidungnya, bibirnya semuanya benar-benar nyata. Kusentuh wajahnya untuk memastikan bahwa ini bukan ilusi semata. Dan aku sedang tidak bermimpi. Secara tak sadar aku langsung memeluknya.
Tubuhnya sangat hangat dan aku hafal sekali aroma yang familier dihidungku ini. Itu aroma janwar yang kucintai.
Akhirnya dia berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya.
"Aku bukan janwar, Ais. Aku imal." katanya dengan lembut sambik menatao wajahku.
Aku tertawa kecil.
"Hahaa imal.. Hey jan, meskipun kamu berkecamata seperti ini aku tetap hafal wajahmu sayang.... "
"Aku imal Ais. Imal muzammil senja."
"Kamu bukan janwar? Imal? Kalau kamu bukan janwar, bagaimana kamu mengetahui namaku? Lalu sekarang aku ada dimana?" tanyaku tak percaya.
Dia menarik tanganku dengan lembut.
"Kamu dirumahku, ais. Sini, kamu harus lihat ini."

Aku bingung, dia bilang dia bukan janwar, tapi gayanya seperti sudah mengenalku lama. Aku masih belum bisa mencerna apa yang terjadi sekarang ini. Aku tidak mau ikut dengannya, hingga akhirnya dia menarik tanganku.
"Kalau kamu butuh jawaban untuk semua pertanyaan kamu, kamu harus ikut denganku."

Pria itu menggandengku. Aku mengikutinya menuruni tangga rumahnya yang terbuat dari kayu cokelat tua yang tampak mengkilat dan licin. Suara langkah kami teredam oleh kayu itu. Rumah ini juga memliki jendela besar. Dari balik jendela dapat kulihat taman kecil mengitari rumah yang bernuansa putih ini. Rumah yang sangat minimalis dan rapi.

Pria yang mengaku bernama imal ini menunjukkan foto janwar yang terpampang dimeja belajarnya dan di dinding rumahnya. Difoto itu janwar tidak sendiri, tapi ada dua janwar disana. Aku semakin bingung.
"Kenapa janwar ada dua? Lelucon apalagi ini?"
Tanyaku sedikit berteriak.
Imal memasukkan tangannya ke saku dan memandang keluar jendela. Yatuhaan.... Dia sangat mirip dengan janwar. Janwar seakan hidup kembali.
"Ini bukan lelucon ais. Aku saudara kembar janwar. Aku kakaknya janwar. Itulah kenapa kami begitu mirip. Usia kami terpaut sepuluh menit."
Aku teringat ucapan tante tiwi  dulu. Jadi imal adalah kakak sekaligus saudara kembar janwar?  Wajahku mereka memang sangat mirip. Meskipun imal berkecamata sedangkan janwar tidak. Hampir tidak ada bedanya. Postur badannya sama. Hanya cara berpenampilannya saja yang sedikit berbeda. Imal terlihat rapi sedangkan janwar selalu tampak cuek dengan kaus dan celana jinsnya. Dari tubuhnya tercium aroma segar. Aroma yang sama dengan janwar. Rambutnya juga sama dengan janwar. Kulitnya putih dan matanya setajam janwar. Dia memiliki senyum yang sempurnanya sama dengan janwar.

"Tapi kenapa janwar tidak pernah cerita soal kamu?"
"Dia sengaja. " jawab imal sambil berjalan ke dapur. Sementara aku masih sibuk mengamati foto-foto mereka berdua.
"Karena janwar ingin kita bertemu dengan sendirinya. Dan ternyata akhirnya aku memang bertemu dengan kamu, ais."
"Maksudnya? Aku belum mengerti. Kenapa tante tiwi juga tidak pernah cerita tentang kamu?"
Imal hanya tertawa kecil lalu menyodorkan segelas susu kearahku.
"Tadi kamu pingsan. Dan kamu tahu sekarang sudah jam berapa? Jam 7 malam. Jadi sekarang lebih baik aku antar kamu pulang. Aku yakin sekali oma opa kamu sudah cemas menunggu kamu dirumah. Jadi pertanyaannya aku jawab kapan-kapan saja ya."
Jelas imal sambil mengambil kunci mobil dan beranjak keluar rumah.
*****

"Oh ya ais. Gimana kuliah kamu? Mereka baik kan sama kamu?"
Dia bertanya dengan nada enteng. Seperti sudah kenal denganku sejak lama.
"Lumayan. "
"Mamaku, mamamu, bagaimana kabar mereka?"
"Sehat. Tapi imal, maukah kamu memberi penjelasan padaku tentang semua ini? Kenapa tante tiwi juga seperti menyembunyikan perihal keberadaanmu?"
Imal membuka suara. Kukira dia akan menjawab tapi ternyata tidak.
"Kita sudah sampai. "
Imal tidak menggubris pertanyaanku. Dan aku bingung sekali kenapa dia bisa tahu rumahku. Padahal aku tidak memberitahunya selama perjalanan tadi.
"Kok kamu tahu? " belum sempat aku menyelesaikan kalimatku dia sudah turun dari mobil.
"Lebih baik aku antar kamu sampai kedalam. Biar aku yang jelaskan ke opa dan oma kenapa kamu pulang malam. Yuk turun, sebentar aku ambil sepeda kamu dibelakang.". Ujarnya tanpa melihat ke arahku.
Aku semakin kesal. Sebenarnya dia menganggaoku ada atau tidak sih?

"Yaampuuuun ais. Kamu kemana saja sayang? Kami pikir tadi terjadi sesuatu sama kamu. Takut kamu nyasar atau kecelakaan."
Oma langsung memegang wajahku dan memelukku.
"Tadi aku hanya..... "
Belum sempat selesai. Imal memotong pembicaraanku.
"Tadi dia pingsan.  Jadi aku bawa dia kerumahku. Mungkin dia hanya kecapean oma." jelasnya.
"Lhoo kamu siapa?"
"Dia temanku oma, baru kenal tadi sih. Tadi aku pingsan lalu dia yang menolongku." timpallku.
"Waahh kalo begitu terimakasih ya nak... Oh ya nama kamu siapa?" tanya opa sambil menjabat tangan imal.
"Imal opa. Iya sama-sama. Ohya, sekarang aku mau pulang yaa.. "
"Lhoo gak mau minum-minum dulu? Sebagai ucapan terimakasih kami?"ajak opa.
"Oh gak usah repot-repot opa. Sudah malam. Aku harus mengerjakan tugas kuliah. Permisi. "
Aku berjalan bersamanya ke depan rumah.
"Kamu belum menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tadi, " sahutku.
"Tenang ais kita masih punya banyak waktu untuk menjawab semua pertanyaan kamu itu. Aku pulang dulu ya.. "
Dengan refleks aku menarik lengannya cepat.
"Kenapa?" tanya imal lembut.
Aku hanya diam. Sebenarnya aku takut. Takut tidak bisa melihat wajahnya lagi. Bagaimanapun wajahnya adalah wajah yang aku Rindukan selama ini. Dan aku takut semua ini hanya mimpi yang sangat mirip dengan kenyataan. Aku tidak ingin cepat berakhir.
Seperti bisa membaca pikiranku, dia melepaskan tanganku perlahan. Dengan senyum manis yang begitu menenangkan ia berkata.
"Jangan takut ais. Kita akan segera bertemu kembali. Segara. Secepat mungkin kamu akan menemukan jawabannya."
Lalu dia berlalu dari hadapanku.

Aku masih belum percaya dengan apa yang aku alami. Walaupun dia bukan janwar tapi aku seperti melihat janwar hidup kembali. Setidaknya kehadirannya mampu mengobati rasa rinduku. Sekarang yang ada dikepalaku hanya pertanyaan pertanyaan.
Aku menghela napas. Sepertinya aku harus pasrah. Biar jawaban itu datang dengan sendirinya. Yang perlu aku siapkan adalah mata dan hati.
Aku kemudian masuk ke kamar. Tak berapa lama oma juga masuk dengan membawa sepiring keju dan segelas susu.
"Kamu sudah membaik? Kok kamu bisa pingsan? Kamu kecapean ya sayang? Mungkin kamu terlalu berusaha keras untuk menyesuaikan diri disini. Kamu minum ya susunya. "
Aku memperlihatkan sebuah foto dari dompetku ke oma.
"Lhooo tadi katanya kamu bilang baru kenal. Kok kamu sudah foto segini dekatnya dengan imal?"
Oma tampak terkejut melihat foto itu.
"Karena ini bukan imal oma. Ini janwar, kembarannya. Enam bulan lalu janwar meninggal dunia dan dia cinta pertamaku. Aku sangat menyayanginya. Tapi dia meninggalkankan ku tepat dihari ulagtahunku. Dia sakit oma, ada kanker di otaknya. Dan sampai sekarang aku belum bisa menerima kepergiannya. Keputusanku untuk melanjutkan studi disinipun semata mata untuk keluar dari semua kenangan tentang dia. "
Oma mengangguk setelah mendengar ceritaku
"Jadi, maksud kamu saat kamu berusaha melupakan janwar memulai hidup baru, tiba-tiba saja seorang pria datang dan mengaku dia kembaran janwar, begitu?"
Aku terdiam.
"Dia datang disaat aku sangat merindukan janwar. Dan aku tidak tahu apa maksud semua ini. Kenapa janwar dan ibunya tidak pernah cerita. "
Oma tersenyum mendengar kekalutanku.
"Mengapa kamu harus bingung mencari jawaban maksud semua ini? Mungkin imal ini akan menggantikan posisi janwar di hatimu. Mungkin imal akan menjawab semua pertanyaan dalam kepala kamu. Ya ini masih kemungkinan. Karena hidup itu punya banyak kejutan, sayang. Soal janwar dan mamanya seperti merahasiakan keberadaan imal, biar imal saja yang jawab. Semua pasti ada alasannya. "
Oma membelasi pipiku. Dan akhirnya aku bisa tersenyum lega malam itu.

NEXT

Tidak ada komentar: