Minggu, 13 Oktober 2019

30Th๐Ÿƒ

Selamat ulang tahun yang ke-30 zam...
Tidak ada yang bisa kulakukan selain berdoa untuk segala kebaikanmu. Semoga selalu sehat dan tetap rendah hati. Tetap mencintai keluarga dan siapapun yang kau cintai. Bahagia selalu ❤❤❤

Selasa, 01 Oktober 2019

Penggemarmu nomor satu

Tidak lelah, tapi aku sedikit gamang.
Tidak mudah menyelesaikan tulisan dengan perasaan berantakan seperti saat ini.
Helaan nafasku sebenarnya sederhana, hanya untuk menguatkan diri agar luka ditinggalkanmu tidak terasa begitu sakit. Kau membuatku sedikit demi sedikit meredam keegoisanku, biasanya aku menuntut seseorang yang aku cintai untuk membalas pesanku hanya dalam hitungan detik. Tapi denganmu rasanya aku mulai bisa menerima kesibukan manusia. Aku jatuh cinta dengan pada setiap gerak-gerikmu, aku jatuh cinta pada rambut rapimu yang selalu basah, aku jatuh cinta pada mata yang selalu kau sembunyikan dibalik kacamatamu.
Aku jatuh cinta dengan gaya bicaramu, aku jatuh cinta pada saat kau berkomunikasi dengan orang, aku jatuh cinta zam. Sangat jatuh cinta, Sayangnya kau tidak. Kau berhasil mememnjarakanku pada bayang-bayang yang kubuat sendiri. ini bukan salahmu, ini tentu salahku. Aku tak bisa mengendalikan diri untuk tidak mencintaimu. kau terlau gemerlap untukku yang gelap. sinarmu terlalu terang untukku yang gamang.
Aku tak berharap lebih, harapanku sebenarnya hanya ingin waktu melihatmu sedikit lebih lama, rasanya sehari aku tak melihatmu aku seperti menjalani hidup tanpa jiwaku didalamnya.
Aku masih beraharap bisa menceritakan banyak hal tentangmu, membicarakan hari-harimu yang kurasa sangat menyenangkan. Maaf jika ini berlebihan.

Beri aku kesempatan untuk memelukmu dan di bawah langit leuwiliang untuk sekali lagi meyakinkanmu--bahwa aku adalah penggemarmu nomor satu :)

Oktober disini








Seperti langit yang tabah, yang tak pernah murung perihal mendung atau cerah
Tempat burung-burung belajar terbang, sebelum melepas lelah pada sarang
Seperti laut yang dalam, tak pernah mengeluh perihal ombak yang marah
Kapal-kapal berlayar ditubuhnya tak tentu arah, sebelum ditinggalkan nahkoda yang bimbang langkah
Oktober disini....
Dingin balkon sekolah dan desah angin yang mengantarku dalam sebuah lamunan perjalanan
Aku menulis puisi ini dengan hati yang penuh
Dengan sesekali tersenyum, lalu hilang
Oktober disini...
Barisan meja dan kursi yang menunggu penunggunya datang
Sepucuk surat dan perempuan yang gugup ketika menulis puisi pucat.
Oktober disini....
dimana kedatanganmu adalah kebahagiaan paling sungguh yang kunantikan
aku ingin pulang, pada pelukmu yang kian lama kian hilang

Kepingan Mimpi Bersama Ibu

Kepingan mimpi bersama Ibu

Umi……….

Kita hidup dalam satu darah, satu detak jantung dan dalam satu hati yang utuh.

Kebahagiaan dan pahitnya hidup kita lewati bersama.
Rasa lelah, letih, tenang dan senang itu adalah bumbu kehidupan.
Mi, ketahuilah! Airmataku mengalir pada dinding hatimu.
Lelahku menyatu dengan keringatmu.
Dan cintaku menempel pada jiwamu.

Mi, Dulu kita sempat menyusun mimpi yang tinggi, tinggi sekali.
“belajar yang rajin agar mimpi tinggi kita bias kau gapai”
Sepatah kata dari hatimu yang memacuku untuk hidup.
Namun apa yang terjadi????? Tuhan lebih menyayangimu Mi.
Tuhan mengajakmu pergi tanpa izin padaku.
Tuhan mengajakmu pergi jauh dan takkan kembali.
Lantas, harus aku apakan mimpi yang telah kita rancang selama ini?
Semuanya hancur, runtuh, menjadi beribu-ribu keping, semakin kecil dan lenyap.

Mi, Aku tak bisa menjaga cinta kita seorang diri.
Siapa yang akan menghapus airmataku tatkala cinta kita terluka.
Siapa yang akan menggengggam hatiku tatkala cinta kita retak.
Siapa yang akan menopang tubuhku tatkala kau tiada.
Mi, Seharusnya ‘Bukan Kita’ yang merasakan ini semua.
Seharusnya ‘bukan Kita’ yang terpisah jarak antara dunia dan syurga.
Seharusnya ‘Bukan Kita’ yang terlebih dahulu merasakan dahsyatnya perpisahan.

Mi, Aku membutuhkanmu layaknya membutuhkan udara.
Aku merindukanmu layaknya merindukan syurga.




it's You - Ali Gatie

It's you, it's always you
If I'm ever gonna fall in love I know it's gon' be you
It's you, it's always you
Met a lot of people, but nobody feels like you
So, please, don't break my heart
Don't tear me apart
I know how it starts
Trust me, I've been broken before
Don't break me again
I am delicate
Please, don't break my heart
Trust me, I've been broken before
I've been broken, yeah
I know how it feels
To be open
And then find out your love isn't real
I'm still hurting, yeah
I'm hurting inside
I'm so scared to fall in love
But if it's you then I'll try
It's you, it's always you
If I'm ever gonna fall in love I know it's gon' be you
It's you, it's always you
Met a lot of people, but nobody feels like you
So, please, don't break my heart
Don't tear me apart
I know how it starts
Trust me, I've been broken before
Don't break me again
I am delicate
Please, don't break my heart
Trust me, I've been broken before
I know I'm not the best at choosing lovers
We both know my past speaks for itself
(For itself)
If you don't think that we're right for each other (Baby, no)
Then, please, don't let history repeat itself
'Cause I want you (yeah, yeah), I want you (yeah, yeah)
There's nothing else I want
'Cause I want you (yeah, yeah), I want you (yeah, yeah)
And you're the only thing I want
It's you, it's always you
If I'm ever gonna fall in love I know it's gon' be you
It's you, it's always you
Met a lot of people, but nobody feels like you
So, please, don't break my heart
Don't tear me apart
I know how it starts
Trust me, I've been broken before
Don't break me again
I am delicate
Please, don't break my heart
Trust me, I've been broken before
'Cause I want you, baby I want you
Baby, I want you, baby I want you
Baby, I want you, baby I want you
Baby, I want you, you, you
'Cause I want you, baby I want you
Baby, I want you, baby I want you
Baby, I want you, baby I want you
Baby, I want you, you, you

Source: LyricFind

Minggu, 29 September 2019

cinta yang kekal



Jika suatu ketika aku pergi dengan membawa separuh hatimu, apa kau kan mencariku..?
Aku menemukan jalan pulang pada tubuhmu yang serupa hutan rimba, meski tak ada siapapun pendaki disana, sebab aku satu-satunya pengembara yang tersesat disana.
apa kaupun akan mati? jika jantungku gugur disatu musim dingin dan kebekuan melumatnya.
Aku pernah menghabiskan tahun gigil dengan hampa yang kupeluk sendiri.
Aku sendirian, sangat sendirian. lalu sekali lagi, jika suatu ketika aku pergi membawa separuh hatimu apa kau akan mencariku..?

Semoga cinta kita dikekalkan zaman, sebagai apapun yang ketika sekali terjatuh akan terus tumbuh :)


Selasa, 25 Juni 2019

Lima menit yang abadi

Tak ada yang meletup sebagai tawa, melebihi hening yang mulai terbiasa pada kecintaannya dan dingin yang dipermainkan.
Malam masih sama, selain hitam, sebagian membelah jalan dengan air hujan yang berjatuhan. Teras rumah masih sendirian, masih bisu, sepi tanpa kata. Rumput-rumput saling memeluk, mencoba menghalau embun yang mulai turun. Bukankah kita tak pernah tahu, mungkin saja daun tak pernah mencintai embun, ia hanya lembar yang tak bisa memilih, mencinta atau melepas.
"Pulanglah. Udara malam terlalu pandai menipu, ia tak pernah benar-benar menjadi sahabat yang baik." saranku. Suasana menghening seketika.
'Sebentar lagi saja. Aku masih merindukan angin malam tentunya merindukan kebersamaan kita' ucapmu lirih. Aku terdiam . 'lima menit saja, kumohon... Lima menit yang abadi'. Aku tersenyum.
Kau menyusuri jalan berbatu sepanjang tentang kenangan yang pernah datang, menetap sebentar, kemudian pergi dan hambar😨
Selamat memejam sayabg, jangan lupa berdoa untuk menghangatkan mimpi yang kita rangkai malam ini💞

Sabtu, 22 Juni 2019

Rekonsiliasi

Rekonsiliasi ini sama sekali bukan 'Happy Ending' seperti dalam sinetron dan drama korea. Pertemuan kembali ini mungkin akan jauh menyakitkan daripada kebersamaan yang dipenggal mendadak selama tiga tahun terakhir ini.
Akan ada banyak airmata yang jatuh, akan ada banyak sayatan hati yang sudah lama tidak utuh, akan ada letup emosi, akan ada luap amarah serta caci maki, dan akan teramat banyak luka yang menjadi sakit di hati😔
Karena begitu, seandainya aku bisa untuk meminta. Jika kebersamaan kita tidak berujung diikatan yang sah, Aku ingin benar-benar dijauhkan dari semua ini...

Minggu, 16 Juni 2019

Tips menulis๐Ÿ˜Š

Kesepian itu bahkan harus dialami bukan hanya secara rohani, tapi juga secara badani. Namun kesepian ini bukan berarti isolasi. Kesepian itu lebih merupakan semacam keberadaan diri yang sadar, yang justru terus bergulat untuk menemukan kontak tapi juga menolak kontak.

Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya. Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya. Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya. Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya. Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah.  Penulis itu bagaikan binatang, yang berseru di kala malam. Penulis itu tiba-tiba merasakan hidup ini vulgar, dan ia tidak bisa menghaluskannya, sebelum ia ikut dan terbenam dalam kevulgaran itu.

Jelas, orang yang tidak berani sepi, dia tak mungkin jadi penulis yang baik. Tapi kesepian itu bukan romantisme kesendirian. Kesepian itu adalah suasana, yang menantang kita untuk berani bergulat dengan seluruh realitas, yang ternyata tidak mudah kita taklukan. Tak jarang orang menyerah dalam pergulatan itu, karena ia merasa tidak kuat dan tidak mampu. Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga, suatu kebertapaan di tengah keramaian.

#tipsmenulis

-'Kopians

Sabtu, 25 Mei 2019

Cerita tentangmu ❤

Suatu kali, kamu pernah berujar “tuliskan
cerita tentangku!!!”. Maka detik ini kuputuskan
bercerita tentangmu. Tetapi, bolehkah aku
menyisipkan namaku disela-sela cerita
tentangmu? Karena bukankah dalam cerita
tentangmu yang aku ketahui, selalu ada aku
yang kemudian -meski tak berapa lama- pernah
menjadi ‘kita’?
Suatu kali, aku pernah menulis sebuah
cerita cinta nan mengharukan, lalu kamu
memaksaku untuk memasukkan namamu dalam
cerita itu. Kubilang “cerita ini tak pantas untuk
kauperankan. Lain waktu, akan kubuatkan cerita
tentangmu, dan akan kujadikan kamu tokoh
utamanya”. Hari ini kutepati janjiku. Kujadikan
kamu tokoh utama dalam cerita ini, karena
bukankah sudah pernah kukatakan padamu,
sekali aku berjanji, maka pantang untuk
kuingkari.
Tentu kamu masih ingat awal kali kita
bertemu di sebuah senja yang memesona. Kala
itu, aku tak berani menyapamu. Kupikir kamu
adalah pribadi jutek dan mengerikan. Nyatanya,
hari-hari berikutnya saat semesta
mempertemukan kita lagi, baru kutahu, kamu
adalah pribadi paling menyenangkan. Kabar
baiknya, sikapmu yang menyenangkan itu
kutemukan setiap hari. Ya, setiap hari, karena
Tuhan berbaik hati mempertemukan kita setiap
hari.
Ah iya, masihkah kamu ingat saat
semakin hari kita semakin akrab saja?
Menghabiskan banyak waktu berdua. Berdua? Ah
tidak juga sih. Kita menghabiskan banyak waktu
bersama teman-teman yang lain juga. Tetapi
bagiku, asalkan ada kamu di dalamnya, maka
sempurnalah momen kita berdua, tak peduli
berapa pun banyaknya orang di sekitar kita.
Tetapi jangan salah, kita pernah memiliki momen
yang hanya kita lewati berdua, bukan? Berkeliling
kota dengan sepeda motor sederhana misalnya,
atau duduk berdua di taman sambil bercerita
ngalor-ngidul diiringi tawa renyahmu, dan aku
dengan takzimnya mendengar celotehmu yang
nyaring cenderung cempreng itu.
Iya. Aku kerap kali mengomentari
suaramu yang menggema  itu. Aku meledekmu,
hingga rahangmu terlihat menarik. Tetapi mungkin
saja pipimu akan lebih bersemu merah andainya
kamu tahu, bahwa dibalik ejekanku atas
suaramu, sebenarnya aku selalu merindukan
suaramu itu, meski aku tak pernah
mengatakannya terang-terangan. Kuputar
berkali-kali voice note yang kaukirimkan di
smartphone milikkku, hanya agar rasa kangen
akan suaramu berkurang. Aku tatap berkali-kali
fotomu yg tersampir senyum tipis, hanya agar
terobati rindu lantaran dua-tiga hari tak bertemu.
Aku selalu menanti senyummu, tatapmu, tawa
renyahmu, bahkan teriakan jenakamu yang
kadangkala mengagetkanku. Bagaimana
mungkin aku tidak mencintai senyummu itu,
matamu itu. Semuanya. Bagaimana mungkin aku
bisa lupa, hari-hari terbaik yang telah kujalani
bersamamu.
Sayangnya, saat menulis ini aku sudah
tak pernah lagi bertemu denganmu. Ya, kamu
memang harus secepatnya pergi. Tidak hanya
pergi dariku, tetapi juga pergi dari semua
kenangan-kenangan kita. Kenangan yang telah
terukir manis dan tersimpan dalam entah berapa
gigabyte besarnya di otak kita masing-masing.
Apalagi penyebabnya kalau bukan karena dia. Dia
yang akhirnya kau pilih, ah maksudku dia yang
akhirnya memilihmu, dan lantas kau
menerimanya tanpa bertanya dahulu padaku
dengan pertanyaan semisal ; apakah aku akan
baik-baik saja jika akhirnya kamu menerima dia?
Atau pertanyaan lain, apakah aku tidak terluka
dengan keputusan yang kamu ambil. Tetapi kau
selalu benar. Apa pentingnya meminta
pendapatku. Memangnya aku ini siapa? Pacarmu?
Tentu saja bukan, kan? Karena setiap kali kita
jalan berdua dan setiap kali pula temanmu
bertanya, “ini siapa?” kau lantang menjawab,
“hanya adik”. Lagi-lagi kau selalu benar. Aku
memang hanya seorang adik perempuan  untukmu. Jika
aku menginginkan lebih, bukankah aku harus
menyatakan cinta terlebih dahulu? Dan sialnya,
aku tak pernah sempat mengatakannya, hingga
akhirnya dia datang tiba-tiba, mengambil alih
semua perhatian dan waktumu. Sungguh aku
takkan sempat, takkan pernah sempat.
Apakah aku membencimu? Tentu saja
tidak. Bagaimana mungkin aku bisa
membencimu, sedangkan tulisan ini saja kubuat
untuk memenuhi janjiku; menulis cerita
tentangmu. Entah kenapa aku selalu ingin dan
selalu bahagia menepati janji kepadamu. Mungkin
saja, menepati janji padamu adalah salah satu
pekerjaan paling ringan yang bisa kulakukan
meskipun sebenarnya aku selalu menjanjikan hal
yang berat dan sulit untuk ditepati. Tetapi, saat
mengucapkannya padamu, aku selalu bisa
mewujudkannya. Walaupun kuakui, ada satu-dua
janji yang belum kutepati, tetapi bukan karena
aku tak bisa menepatinya. Lebih karena kau yang
tak lagi membutuhkannya ; janji tentang membeli kemeja biru misalnya.
Bagaimana mungkin aku membencimu
meskipun kau meninggalkanku sendirian? Karena
aku tahu, dan semoga dugaanku benar. Kau
masih sering mencari tahu tentangku, bukan?
Kau juga masih mengamati twitterku, facebook
maupun blogku. Jika memang demikian, maka itu
pula yang kulakukan. Diam-diam aku masih juga
sering mengamati facebook, twitter dan
instagrammu. Bahkan lebih dari itu, masih
kusebut namamu dalam satu-dua kalimat doa
yang kupanjatkan tiap malam.
Aku mengikhlaskan kepergianmu (jika
sekarang belum, setidaknya nanti pasti). Maka
tak usah khawatir berlebihan padaku. Bagiku,
kau tak ubahnya seperti tiket kereta api yang
hilang tepat saat kereta itu datang. Tak berapa
besar pengaruhnya bagiku, hanya sedikit
mengubah jadwal perjalanan hidupku. Perjalanan
hidup untuk menemukan jiwa indah yang dengan
bangga kusebut sebagai belahan jiwa.
Aku akan selalu menganggapmu spesial,
setidaknya sampai aku bertemu dengan
seseorang yang baru yang sama spesialnya
denganmu. Tetapi mungkinkah aku masih bisa
menemukannya? Pria dewasa berhati bening.
Kakak paling mengerti, sahabat paling peduli, kawan paling
menyenangkan dan calon suami paling ideal untuk
Wanita hebat manapun.
Kamu adalah pria tak lazim yang
pernah kukenal. Kamu dengan ketampanan yg
kaupunya, dengan segala kelebihan yang
kaumiliki, seharusnya kamu bisa bersikap seperti
Pria  lain, tebar pesona di mana-mana, memilih
bergaul dengan pria lain yang sama high
class-nya, atau wara-wiri ke tempat-tempat
mewah nan eksklusif. Tetapi kamu, malah
memilih tampil apa adanya, memilih tetap rendah
hati tanpa sesenti pun kesombongan, selalu
sederhana meski kesan pangeran terpancar jelas
pada dirimu. Tanpa memandang kaya-miskin,
tua-muda, asal-usul, Kamu mau bergaul dengan
siapa saja, termasuk aku. Kamu selalu mau kuajak
ke tempat antah-berantah sekalipun.

Katamu ❤

Kataku : 'kenapa kau selalu marah ketika aku membicarakan seorang perempuan yang mencintaimu? Sedangkan ketika kau membicarakan pria yang aku cintai kau begitu berantusias'
Pertanyaanku beberapa menit mengapung diudara, nafasmu berhembus begitu hangat. 'Terkadang, perkataan lidah tak selalu sama  dengan perasaan. Bukankah jika aku menanggapi pertanyaanmu tentang perempuan yang mencintaiku hatimu akan terluka. Sedangkan ketika kita membicarakan pria yang kau cintai kau akan bahagia'. Aku terdiam. Kau melanjutkan pembicaraanmu. 'Dengar, Aku tidak akan membiarkanmu terluka, biarkan aku saja yang demikian, kau tak perlu'. Aku menatap matamu, ada yang tergores didalamnya.

Jumat, 24 Mei 2019

Untukmu Zam.. ❤

Boleh aku mengingatkan sesuatu yang sering
sekali kau lupakan, zam? Jangan lupa sarapan pagi ini,
seseorang mungkin telah menyiapkannya di atas
meja. Aku tidak tahu apa kau masih menyukai
roti dengan selai coklat dan susu hangat seperti
dulu, atau mungkin seseorang itu, yang
bersamamu saat ini, telah mampu membuatmu
menyukai yang baru. Aku tidak peduli, aku hanya
ingin kau tidak lupa sarapan pagi ini.

Kamis, 23 Mei 2019

Rindu kamu yang dulu ๐Ÿ˜ข


Aku rindu kamu yang dulu.
Yang diam-diam maupun secara terang-terangan
mencari perhatianku. Tidak masalah, momen itu
justru yang selalu kutunggu. Ketika kamu
bertanya sedang apa? Sudah makan? Sibuk apa
hari ini? bisa ketemuan nggak? Adalah rentetan
pertanyaan basa-basi namun efeknya selalu
membuatku senang tak terbilang.
Aku rindu kamu yang dulu.
Kamu Yang kerap menemaniku berbincang apa
saja di waktu luang. Entah apa pun temanya,
mulai dari yang paling ringan seperti tentang
buku, film, kesibukan sehari-hari kita hingga yang
paling berat seperti politik dan sastra. Kita sering
berdebat, tentu saja, terutama tentang politik.
Tetapi tidak pernah menjadi masalah, karena
perdebatan itulah yang membuatku bisa
menemanimu berlama-lama. Kita bisa
menemukan momen menyenangkan di sana.
Aku juga masih sangat rindu, ketika dulu kamu
gemar mengucapkan, “selamat pagi, kamu!.
Udah bangun belum? Dasar gadis pintar”
yang setiap pagi terpampang di layar HPku.
Bersamaan dengan itu, maka ada perasaan
hangat di dalam dada kapan pun kamu menyapa.
Aku tahu, akan ada saatnya kamu bosan atau
lelah menyapaku setiap pagi. Akan ada saat di
mana perbincangan kita akan kehilangan momen
menyenangkannya. Aku tak bisa terus-menerus
membuatmu merasa nyaman berada di sisiku
untuk terus berbincang berdua, untuk terus
menemaniku bercerita, untuk terus bersama-
sama mengejar bahagia yang sederhana. Kadang
untuk terus bersama-sama, kita butuh sebuah
pemahaman yang sama, bahwa dalam setiap
kebersamaan yang kita rajut berdua, mestinya itu
adalah cinta yang nyata, walaupun dikatakan
atau tidak. Itu yang tidak kamu pahami, tentang
perasaanku yang menurut persepsimu; aku tidak
memedulikanmu lantaran tak terlalu sering
Memperhatikanku.
#SeandaiNyaBegitu . Namun sayangnya tidak -_-
Khayalan seorang gadis kecil yang tak pernah di anggap. PAHIT buka ? :(

Kamis, 16 Mei 2019

Kenangan bukan masa depan

Saat masih bersamamu, aku seperti
mengalami kejadian-kejadian yang ada di negeri
dongeng. Selalu merasa lebih bahagia dari siapa pun, hingga aku bertanya dalam hati, apa benar
ini dunia nyata? Tuhan mendesainnya indah
sekali. Entah karena kamunya yang menjadi sebab, atau hatiku yang terlalu bahagia menerima kehadiranmu.
Saat masih bersamamu, aku tidak bisa tidak
bahagia, termasuk ketika kamu dengan
cekatan menyapaku meski hanya dengan kata
"selamat pagi"., termasuk ketika kamu menyodorkan minuman dingin persis
di saat aku sedang merasakan haus yang
amat sangat. Termasuk juga ketika kamu
mengajakku ke tempat yg membuat kita nyaman. , lalu kita ciptakan momen-
momen menyenangkan di sana, ngobrol
berjam- jam di suatu taman  misalnya. Hanya hal-hal kecil, tetapi lebih dari cukup untuk membuatku merasakan senang tak terbilang.
Saat masih bersamamu, ada bahagia yang
tak terjelaskan di sana. Bagaimana tidak? kadang pembawaanmu yang ceria itu, bisa membuat langit mendung menjadi cerah lagi. Ah, atau hatiku saja yang selalu cerah meski dalam
kondisi langit mendung sekalipun, asal bersama
kamu tentu saja. Kamu banyak bercerita, lalu aku mendengarnya, kemudian tertawa. Lalu
gantian aku yang bercerita, dan kamu
mendengarnya, kemudian lagi-lagi tertawa. Kita bercerita banyak hal, menertawakan banyak hal, dan menikmati setiap sepermili detik momen-momen mengesankan bersamamu dan
menyimpannya untuk menjadi sebuah kenangan yang menyenangkan. Tetapi kenangan tetaplah
kenangan, tidak akan menjadi masa depan.
Hemm... semua itu indah sekali. Apakah
kamu masih menyimpannya? saat kita berjalan
pada suatu malam yang sangat gelap. Tubuhku
mengigil, kamu membungkus tangan
mungilku dengan jemari hangatMu, , dan
aku berusaha menenangkan jantung yg
berdegup kencang. . Aku ketakutan, untuk mencairkan suasana . Tetapi malah aku yang kemudian menakut-nakutimu, lalu kamu menjerit lucu sekali, dan setelah itu kita malah tertawa bersama-sama karena setelah itu teriakanmu didengar oleh orang sekitar. Hahahaa  Ini konyol, tetapi sangat menyenangkan. Hei.. lihat, begitu cara kita mengusir takut. Begitu cara kita menikmati momen apa saja menjadi terasa
menyenangkan. Dan karena satu dan lain hal, sebahagia apapun kita, seberapa pun menyenangkannya, Tuhan tidak menakdirkan kita untuk hidup bersama. Tidak masalah. Hanya jika memang Tuhan telah menyiapkan seseorang setelah kamu untukku,
aku harap dia adalah sosok sepertimu;
keriangannya, perhatiannya, kepeduliannya,
sikap bersahajanya, persis seperti kamu. Ya
tuhaaan.. , aku baru ingat, tidak ada manusia yang 100% identik, bukan? Tetapi jika aku
berkesempatan bernegosiasi dengan Tuhan, aku hanya butuh 77% saja seseorangku di masa depan itu seperti kamu. Itu sudah cukup, lebih dari cukup.
Semoga saja..

Minggu, 28 April 2019

B I S A S A J A

Aku bisa saja terus mengucapkan selamat pagi
kepadamu setiap hari sampai kamu bosan. Tetapi
terus kulakukan hingga kemudian kamu terbiasa
dan mulai menerimanya.
Aku bisa saja terus meneleponmu setiap ada
kesempatan meskipun kamu enggan untuk
mengangkatnya. Tetapi pada suatu ketika kamu
bersedia bicara seadanya dan menjawab setiap
pertanyaanku dari seberang telepon. Tidak apa
jika kamu tidak balik bertanya. Bersedia
menjawab pertanyaan-pertanyaanku saja itu
sudah cukup.
Aku bisa saja terus mengirimimu pesan BBM yang
berisi kata-kata romantis hanya agar kamu
tersipu ketika membacanya. Tidak kamu balas
pun tak apa-apa. Asalkan kamu sempat
membacanya untuk kemudian entah sampai
kapan akan tiba waktunya, kamu  dengan senang
hati membalasnya.
Aku tentu saja bisa terus berusaha menemanimu
kapan saja, meskipun kamu terlihat tidak terlalu
menyukainya. Sampai kemudian entah di momen
yg ke berapa, kamu mulai merasa lebih baik
menerima kehadiranku.
Aku... tentu saja bisa dengan setia terus
memupuk perasaan cinta kepadamu, meski aku
tidak pernah tahu apakah kamu akan menjadi
sinar mentari yang mampu menghangatkan
setiap jengkal perasaanku agar tak pernah layu.
Aku bisa saja terus memperjuangkanmu sampai
tidak ada lagi kata menyerah yang bisa
kuucapkan..
Tetapi.. Aku tak bisa terus melakukannya, karena
setahuku cinta memang tak bisa dipaksa sekeras
apa pun aku mengusahakannya
Ya sudahlah.. tetapi jika pada suatu saat nanti
kamu berubah pikiran setelah aku benar-benar
pergi, lalu kamu datang dan memohon, aku akan
tetap berlalu.
Ya. Sebab.... sudah kutemukan yang lebih baik
darimu. Lebih baik? Iya. Dia yang menghargai
setiap jengkal usahaku, setiap jengkal
perasaanku. Dan dia yang sama berkorbannya
dengan yang kulakukan. Karena dua orang yg
mencintai adalah dua orang yang saling
berkorban. Jika hanya aku saja atau kamu saja
yang berkorban, itu bukan cinta. Itu adalah nama
lain dari perusak jiwa
                             ******
Dan untukmu kawan, yang masih berkutat
dengan seseorang yang tidak pernah
menganggapmu. Tegaslah dalam mencintai. Ada
7 Milyar penduduk di muka bumi, bukan?
Mengapa  kamu masih terdiam di situ saja?
Bukankah selalu ada kemungkinan bahagia di
tempat lain? Juga untukmu yang masih sanggup
untuk mengabaikan seseorang yang
mencintaimu. Tegaslah untuk pergi secara baik-
baik atau belajar menerima kehadirannya dengan
lapang. Sebelum kamu menyadari bahwa dia
terlalu berharga untuk disia-siakan.

By :
Siti Khopipah Aliskandar
ipok2524.blogspot.com

J a r a k

Tidak peduli perihal siapa yang lebih dulu mengunjungi, jarak ini sudah menghukumku terlalu lebih. Hingga rakus dan lancang aku bilang sayang. Lipat saja puisi yang sudah panjang jadi jembatan, kita dua orang yang menyebrang dan memilih rindu dipertemuan.

Jika nanti

Jika suatu hari kita bertemu lagi, aku ingin mengenalkan mu pada seseorang yang datang dikemudian hari. Seseorang yang dengan keras menenangkanku, menerima kekanak-kanakan ku, menghapus tangisku yang disebabkan kamu dulu. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang yang mengerti bahwa ketakutanku hanya butuh ditenangkan, bukan langkah demi langkah yang kemudian pergi lalu hilang..

Minggu, 21 April 2019

Rindu yang dibawa musim

Kita sibuk mendamaikan gemuruh musim hujan, sebab jemari yg dibawa angin meniupkan ribuan dingin hingga ke tulang sum-sum. Hingga gugur daun-daun oleh pergantian tahun. Kita seperti kapas, yang tak tahu kemana akan terempas.
 
Sayang, membuka satu puisi didekatmu, diantara rindu harum cengkih dan pohon Nipah. Pernah lahir seseorang yg sama sepertimu, seseorang yang kukenang sebagai hitam, sebagai sel-sel yang mendiami tubuhku...

Senin, 25 Maret 2019

Dear, my first love

Musim kemarau.....
Selalu ada kesengsaraan yg senantiasa kurasakan saat butir uap air itu menjauh dari daerah ini. Ketika hawa jalanan mulai berubah panas, ketika gerutuan mulai terdengar dari berbagai mulut, ketika jajanan es marak dipinggir jalan, juga ketika sengat matahari kian memenetrasi tepat diujung kepala.

Setiap musim ini datang,,,,,, saat retakan retakan keputusasaan berarak dikepingan tanah, saat tanaman tanaman mulai melayu mengemis untuk kehidupan . dan juga saat segerombolan awan yg sibuk bergosip atas perubahan musim ini.. Akan selalu ada ingatan tentang kamu, aku, dan juga ketidakberdayaan perasaanku. Kau tau itu tuan....

    Saat aku kembali ke tempat ini, aku seakan terperangkap dalam masalalu. Dibangku panjang itu aku seakan melihat diriku yang masih teramat polos. Yang sedang duduk diam sambil sesekali memperhatikanmu.
Meskipun setahun sudah berlalu, entah kenapa takdir tak pernah memihak padaku. Aku  seakan berdiam di tempat. Tidak mendekat juga tidak pula menjauh....
   Butuh banyak waktu untuk menyadarkanku, bahwa ternyata aku terlalu menyembunyikan kotak rahasiaku dari segala bentuk senyumanmu.
Butuh banyak waktu untuk menyadarkanku, bahwa ternyata aku juga menginginkan perhatian yg kamu ciptakan untukju.
Butuh banyak waktu untuk menyadarkan kotak rahasiaku yg beku bahwa ternyata ada sebongkah   sebongkah perasaan yg perlahan mencairkannya.
Tapi, ketika aku mulai menyadari semua itu, segala sesuatunya sudah terlambat. Seperti musim kemarau yang berlalu. Aku ingin melupakanmu. Terlebih kamu telah memutuskan kehidupanmu bersama wanita itu. Namun, ketika kembali kemusim ini... Aku tau, akan selalu  ada ruang disudut kotak rahasiaku untuk kamu dan bayanganmu meski itu tersembunyi.
Ketika aku melihat kursi panjang tempat duduk kita sewaktu dulu, melepas tawa dan menghapus duka. Ada banyak pertanyaan tak terucap yang ingin kuhembuskan melalui udara yg kering ini. Berharap kamu dapat mendengarnya. Apapun keajaibannya :'(
Aku ingiin ta, bagaimana kabarmu wahai pria dewasaku ? Apakah kamu bahagia bersama wanita itu ? Ataukah kamu kesepian tanpa ada orang yg mencintaimu dalam diam namun penuh keagungan ?
Maafkan aku. Atas perilaku teraneh yg pernah aku citrakan untukmu.

Aku tau, di dunia ini ada beberapa hal yg tak bisa dijangkau oleh penjabaran logika manusia. Seolah semua hal bergerak teratur mengikuti semua alur yg begitu apik. Tak ada kesalahan yg bernmakan kebetulan . selalu ada alasan untuk semua kjadian dalam hidup ini, begitulah kira kira aku memahaminya. Dan begitu pula dengan pertemuan awal aku dengannya.

Dia pria dewasa yang penuh tekai teki. Tapi disitulah titik puncak kekagumanku terhadapnya.
Awalnya aku tak peduli dgn apa yg kulihat selama ini. Aku selalu memperhatikannya. Dan pastinya hnya dalam diam aku melakukannya. Semenjak itu, ia mulai tau keberadaanku. Ia kembali memberi perhatian yg tentu saja membuat ku sanga tersanjung luar luarbiasa. Ia kadang bertanya padaku, tapi aku terlalu cuek untuk menutupi rasa sukaku.
Apakah hal ini sesuatu yang baik atau tidak ? Ah entahlah.
Aku bohong jika kukatakan, aku tak tersanjung dgn sikapnya yg seperti ini. Aku hnyalah gadis bodoh yg dihanyutkan takdir menuju dunia asing yg tak pernah kuketahui.
Apakah sesuatu ini hal yg bagus atau tidak ? Apalah dayaku. Aku mematut diriku didepan cermin kala pertanyaan itu muncul kembali dibenakku.
Aku adalah gadis berumur 16 tahun. Tidak terlaku cantik juga membenci pelajaran yg hafal menghafal seperti ips sejarah dan jajarannya. Aku masih memliki bnyak hal yg harus kupikirkan selain dentuman manis didadaku ini ; seperti sekolah, impian dan keluargaku.
Ketika aku memutuskan warna warna yg ia bawa dalam kehidupanku. Aku mulai belajar merasakan rasa sakit yg menjalari kotak rahasiaku.

Dirimu, dan segala sesuatu tentangmu terus membayang menjadi potongan kesejukan setiap musim kemarau. Seandainya aku punya sedikit keberanian untuk menggenggam jemarimu. Mungkin kita akan lebih dekat. . hanya saja, duniaku ini masih terlalu kecil untuk mampu menampung masalah rumit seperti cinta :)
Aku tau berbohong itu dosa. Hanya saja terkadang ada saat tertentu ketika aku harus berbohong demi hal lain. Anggap saja , semua perasaan yg ada dalam kotak rahasiaku ini tak pernah terjadi. Dgn begitu , aku bisa membuka lembaran kisah yg mungkin akan lebih baik dari ini .
Musim kemarau, panas mentari. Gerutuan manusia. Es krim. Dan kamu tuan.
Ketika musim berganti, aku tau ada beberapa hal kecil didunia ini yg terkadang justru tak dapat diganti. Seperti halnya perasaan yg prnah kurasakan untukmu.
Kamu berubah . kamu tau ? Kamu menjadi orang yg tak kukenal. Mungkin krna kamu yg saat ini adalah kamu yg telah mnemukan cinta sejatimu. Tentunya. Kamu akan memulai  lembaran kisah cinta yg sesungguhnya.
Sementara aku tetap berdiri teguh dalam lingkaran kenyamananku......
Sekolah, impian dan keluargaku dan membangun berikade besar disekelilingku. Aku tetap gadis kecil Yg takut untuk jatuh cinta. Aku selalu berpikir, mungkin ini bukanlah waktu yg tepat untukku merasakan hal semacam itu.
Selalu ada waktu yg tepat untuk mrsakan semuanya.  Mungkin aku hanya prlu bersabar untuk menunggu.
Setidaknya saat kembali kemusim ini, aku ingat bahwa aku pernah belajar akan sesuatu yg tak akan mungkin kudapatkan  dari pelajaran sekolah , teman teman  atau yg lain.
Aku pernah belajar untuk menikmati detakan dalam dadaku saat melihat senyum diwajahmu. Aku pernah blajar untuk tdk trsenyum saat mndapat perhatian darimu. Aku pernah belajar untuk menikmati rasa sakit dari sebuah pilihan.
Dan sekarang akhir dari penantian kisah ini. Mungkin tak berakhirr seperti drama romantis yg pernah kutonton. Tapi setidaknya takdir telah berbaik hati mempertemukan kita .
Aku berterima kasih untuk itu.

Dear, My First Love ..

By
Kopians
26 Maret 2019 00:29

Sabtu, 23 Maret 2019

Setitik cahaya

Coba kau lihat purnama. ingatlah akan sinarnya
yang lembut
Atau pernah kah terpikir, Berbaring diantara
bunga yang wangi
Coba lah berpikir!
“Aku rindu rona senyum indah walau aku
berada dalam ketiadaan”
Tak pernah ada yang tau tentang apa yang
harus kulakukan, karena aku tidak pernah tau
apa yang mereka inginkan. Hanya kata hati
yang berjelaga menerawang bagaikan aroma
mewangi yang menusuk kedalam pori-pori rasa
yang ada di seluruh jiwaku nan kosong
aku sendiri tidak pernah berpikir seberapa jauh
akan melakukan apa yang kurasakan karena
aku sendiri tidak pernah melakukan apa yang
benar-benar tumbuh dan berkembang dari
dalam hati yang terdalam, yang ku tau
hanyalah rasa yang menguasai apa yang aku
pikirkan. Andai saja aku adalah penyusun
waktu maka aku akan menuai kesenangan yang
paling egois di dunia ini. Mengapa aku harus
memikirkan sesuatu yang ada, yang ada sendiri
tidak pernah tau bahwa aku ada, yang ada
sendiri tidak peduli akan aku yang ada, entah
kapan keadaan menoleh ke arahku. Aku tidak
pernah menyesal dengan apa yang kulakukan
karena rasa memberiku tawa dan senyum
walaupun semua itu hanya semu tidak nyata
datang dari keadaan yang benar-benar
melihatku dalam keadaan yang seadanya dalam
menunjuk bintang yang berkelip di langit
impianku
Namun, aku harus memaksa keadaan untuk
tahu bahwa aku tahu tentang yang ada
Terpikirkah itu, aku yakin tidak karena tidak
mungkin ada yang biasa meraba hati dan
pikiranku kecuali Tuhan. Bukan aku tidak mau
berbagi dengan siapa pun, tetapi tidak banyak
yang tau tentang apa yang aku mau dan
inginkan . aku hanyalah deraian debu yang
tertiup angin dalam tikaian hati yang tidak
pernah usai. Kapan semua ini berakhir, kecuali
mati? Namun mati bukanlah jawaban dan
bukan akhir dari semuanya kematian hanyalah
kesimpulan dari episode yang terus berjalan
hingga kita sendiri tidak bisa melihat episode
berikutnya karena skenario itu tidak dapat kita
gubah
Aku sendiri tidak pernah bosan mencari setitik
warna di kubangan hitam nan kelam bagiku di
sanalah warna sejati dan di sanalah aku bisa
melihat bayangan, bayangan yang setia
menemaniku dalam posisi apapun dan dalam
bentuk apa punAku sendiri malas membahas keadaan, terlalu
muak dan membosankan sebab tidak ada
ujung, keadaan hanya bisa diubah lewat
keadaan akankah ada yang bisa menetapkan
keadaan.
sering kumenatap langit yang penuh dengan
uraian tangis, coba kurasakan, dan sering juga
aku menatap purnama yang menerangi malam,
coba ku nikmati. Tapi hanyalah khayal yang
datang
aku pesimis, mungkin aku harus mencari
dimana keadaan yang benar-benar tahu bahwa
aku ada. Tetapi timbul pertanyaan. "dimana?"
Ya, dimana?
Belum kutemukan jawaban, karena terlalu
berlebihan jika aku ingin sesuatu yang lebih
tetapi aku sendiri tidak berusaha lebih.
Terkadang aku sering melihat kilauan yang
membuat aku merasakan nyaman berada di
dalamnya tetapi aku jarang untuk menyadari
bahwa seluruh kulitku melepuh terkoyak dalam
tawa, begini yang terjadi suatu ketika aku
melihat sebuah lorong kecil dan gelap namun
ada kilauan yang hanya setitik, aku terpikir itu
hanyalah pantulan sinar mentari yang
menembus rongga tanah. Setelah kupikir lagi,
tidak mungkin. Aku pun memasuki lorong itu,
pengap penuh dengan kesesakan yang
mencakar setiap relung logikaku. Ingin
kumenyerah dan kembali kebelakang, tetapi
aku tidak ingin hanya menikmati rasa sesak
tanpa aku tahu apa sinar itu. Aku terus
bergerak dengan segala daya, tidak lagi ada
rasa di sekujur tubuhku entah luka, entah
tersobek tidak kurasakan yang kutahu hanyalah
rasa lembut sinar. Dengan susah payah
akhirnya aku pun dapat memeluk sinar itu,
ketika tubuhku terlihat, aku hanya bisa
menatap kaku. kulitku terkelupas itu pun di
bagian badanku. tanganku penuh dengan
sayatan tajam, yang lebih membuatku miris
kakiku entah dimana”
Ludahan itu ku unggap hanyalah serentetan
peluru-peluru pacu yang dapat membuat ku
maju dan terus menatap kedepan
Andai suatu ketika engkau singkah di teras
kediamanku, kumohon untuk tinggal walau
sejenak, karena aku tidak pernah menyediakan
sepotong roti dan segelas sirup nan segar tetapi
aku hanya menyediakan seteguk air tawar.
Namun, setelah engkau pergi, engkau akan
kembali. Tetapi engkau tidak akan pernah
menemukan jalan menuju kediamanku...

@kopians

Senin, 18 Februari 2019

Suatu hari nanti

Aku merindukan ketinggian berupa keinginan.
Untuk melayang jauh menuju tempat yang tak berada.
Dimana sebentuk cinta telah tersimpan, tersusun dan menunggu teramat lama.

Ketika kau bertumbukkan dengan tanah
Langit melukis wajahmu di angkasa.
Aku tersenyum, mengerti, meratapi.
Suatu hari kita akan bertemu kembali disana.

     -'Siti Khopipah Aliskandar-,

Menembus rindu



Mengawang, menerawang jauh. Barangkali hantu kamu ada disini, disekitarku. Seketika aku tersenyum, menatap, menembus kaca jendela. Menembus pagar, menembus waktu, menembus rindu :'(

              -, Siti Khopipah Aliskandar -,

Senin, 11 Februari 2019

Aku adalah rumah untukmu pulang zam

Aku pernah menunggu seseorang di sini. Bertahun-tahun lalu. Menyaksikan burung-burung camar yang pulang, kapal-kapal bersiluet, hingga akhirnya senja benar-benar saga, kemudian matahari terbenam."

"Kau patah hati?"

"Tidak. Untuk apa?"

"Seseorang yang kau tunggu tak pernah tiba membawa debar atau kabar, bukan?"

Gadis itu terdiam, sebentar. Kemudian melangkah ke depan pembatas jembatan. Raut wajahnya keruh. Serupa sungai-sungai lumpur selepas hujan. Ada gamang di sana, tergambar jelas.

"Aku tidak patah hati untuk seorang pria."

"Lalu?"

"Aku hanya sedang terkenang."

Kita tidak benar-benar merindukan seseorang. Kita hanya merindukan saat-saat bersamanya, itu saja, percayalah. Pada tempat-tempat pernah dikunjungi bersama, misalnya. Sebuah cafe yang menawarkan aroma arabika terbaik dengan sentuhan latte dan iringan musik yang mengalun lembut, di sana, bersama seseorang yang senyumnya kita ingat paling hangat. Kadang kita merindukan momen yang sama, di tempat yang sama, meski mungkin dengan orang yang berbeda.

"Apa bedanya? Kau tak pernah bisa lupa."

"Kenangan bukan seperti benang layang-layang. Saat kita merasa muak, kita bisa memotong benang tersebut, kemudian menyambung dengan rangkaian yang kita inginkan."

"Aku tidak paham. Kau sekarang bicara layaknya seorang pujangga."

"Kenangan itu seperti jalinan tikar, saling anyam saling silang. Tak bisa kita memisah sebagiannya saja. Semuanya terhubung serta saling terkait dengan masa lalu dan masa depan."

"Untuk apa? Kau menunggu seseorang, bertahun-tahun, dan kau kesepian. Seseorang yang kau tunggu entah di mana, juga barangkali dengan siapa."

Suara gemerisik kecil daun-daun kering yang terinjak kaki gadis itu ketika melangkah. Ia hanya tak ingin melebih-lebihkan perasaan. Jika ia pernah bertemu seseorang, kemudian berpisah, dipisah atau terpisah, bukankah itu lumrah?

Kehidupan seperti angka delapan yang di atasnya kereta melaju membawa kita. Pada titik tertentu, kita akan selalu sampai ke tempat semula. Sebuah rumah, misalnya. Dengan lengan yang terentang di ambang pintu, menunggu kita mendekat dan memeluk.

_____
Kepada hatimu, aku perahu yang tertambat

Jika aku pulang, adakah aku telah terlambat?

Selasa, 29 Januari 2019

Teruntuk magenta ๐Ÿ˜”

Magenta, apa kabar..? Semoga baik-baik saja.
Oh ya, di syurga lagi musim apa..? Hujan atau kemaraukah..? Pasti indah..

Gen, semenjak lo pergi, gue jadi males nulis lagi. Gue kaya kehabisan kata-kata. Banyak suka duka yang gue lewatin bareng lo gen.. dari titik awal, semenjak gue gatau dunia sastra sampe gue faham dimana letak kerennya seorang penulis.
Genta, asli gue terpukul banget. Lo pergi tiba², tanpa sebelumnya Lo cerita banyak hal sama gue. Lo hebat gen, Lo kuat. Lo bisa nahan sakit yg luar biasa sakit tanpa gue curiga sedikitpun.
Tapi satu hal yg gue sesali gen, gue kecewa sama diri gue sendiri. Sampe skrg, buku rilisan yg kita idam²kan sejak lama, belum juga tembus editor. Maafin gue ya gen, tapi lo harus tau, sekarang gue bener² lagi Spend time buat menyelesaikan buku kita. Meskipun sekarang gue lagi Tired position😥
Gen,  lo tau..? betapa semakin berantakannya kisah hidup gue skrg, di usia yg belasan ini. Jujur gue belum siap Nerima ini semua.
Gue dulu pernah ditinggal mati seseorang dan butuh tahunan untuk memulihkan semuanya, dan skrg gue ditinggal lo, and I don't know .. yg jelas gue gak tau bisa nemuin sahabat sehebat lagi atau enggak..
Genta, kalo lo ada disini, kalo lo denger cerita ini. Gue cuma pengen lo tau, gue lagi capek, dan gue kangen banget sama Lo😥

Minggu, 27 Januari 2019

LDR itu bukan pilihan fachri..!!

Selamat malam Fachri...

Sudah 33 bulan kita bersama, selama itu pula Aisyah selalu menjaga hati untuk Fachri. Semenjak pertemuan kita dulu, Aisyah tidak pernah mencintai lelaki manapun selain Fachri. Fachri pasti tau kan..
Fai, tapi sekarang Aisyah takut, takut sekali. Dari hari ke hari hubungan kita semakin menjauh. Fachri terlalu sibuk dengan dunia Fachri, sehingga Aisyah tidak yakin apakah Aisyah masih tersimpan rapi atau tidak di hati Fachri.
Fachri, Aisyah tahu, apa yang Fachri  kerjakan sekarang adalah untuk masadepan fachri. Tapi Aisyah takut, kalau Fachri pergi untuk waktu yg cukup lama. Aisyah takut Fachri  berubah, takut Fachri tidak mencintai  Asiyah lagi.
Aisyah sangat mencintai Fachri dari dulu hingga saat ini. Tapi Asiyah tidak tau, apakah Aisyah bisa bertahan kalau Fachri pergi.
Aisyah hanya takut Fachri😥
Aisyah takut untuk berbagai kemungkinan,
LDR bukan hal yg harus di pilih..😥

Jumat, 25 Januari 2019

Diskusi Srikandi

Banyak orang mempunyai sudut pandang/pemikiran bahkan sampai mengatakan kalo cewek yg hobby nya, petualang, hiking, naik gunung, nyurug barijeng Asruk-asrukan, main di hutan, atau apalah itu sebutannya, rata² gabisa ngurus diri, frontal, tomboy kasar, Daan cenderung cuek sama pasangan/lawan jenis, (Katanya) Cause dia lebih enjoy dengan dunia petualangannya sendiri.
Eeeyyy.. itu hoax ah.
Sini deh, yg jauh mendekat, yg dekat merapat. Kita Ulin bareng Yuuuk.. biar tau apapun hobby kita, tapi tetep jiwa kewanitaan kita pasti ada. Terutama dalam hal ingin selalu di lindungi dan diperhatikan (KodeKerasIni)..😂😂 Kita justru lebih romantis🤭
Keahlian masak juga bisa di adu deh, cuman bedanya kita lebih berani dan ga ngalay² manja😎
Inget, banyak type perempuan di dunia ini, tinggal kalian mau menilainya dari sudut pandang yg mana 😂😂 #DiskusiSrikandi🍃

Selasa, 15 Januari 2019

Tempatmu pulang

RTHu"Aku pernah menunggu seseorang di sini. Bertahun-tahun lalu. Menyaksikan burung-burung camar yang pulang, kapal-kapal bersiluet, hingga akhirnya senja benar-benar saga, kemudian matahari terbenam."

"Kau patah hati?"
"Tidak. Untuk apa?"

"Seseorang yang kau tunggu tak pernah tiba membawa debar atau kabar, bukan?"

"Aku tidak patah hati untuk seorang pria."

"Lalu?"

"Aku hanya sedang terkenang."

"Apa bedanya? Kau tak pernah bisa lupa kan..?"

"Kenangan bukan seperti benang layang-layang. Saat kita merasa muak, kita bisa memotong benang tersebut, kemudian menyambung dengan rangkaian yang kita inginkan. Bagiku, Kenangan itu seperti jalinan tikar, saling anyam saling silang. Tak bisa kita memisah sebagiannya saja. Semuanya terhubung serta saling terkait dengan masa lalu dan masa depan."

"Untuk apa? Kau menunggu seseorang, bertahun-tahun, dan kau kesepian. Percayalah, aku selalu disini, selalu untukmu. Aku... Aku mencintaimu Ans😐"

Suara gemerisik kecil daun-daun kering menemani setiap langkahnya. Gadis itu terdiam. Ia hanya tak ingin melebih-lebihkan perasaan. Jika ia pernah bertemu seseorang, kemudian berpisah, dipisah atau terpisah, bukankah itu lumrah?

Kehidupan seperti angka delapan yang di atasnya kereta melaju membawa kita. Pada titik tertentu, kita akan selalu sampai ke tempat semula. Sebuah rumah, misalnya. Dengan lengan yang terentang di ambang pintu, menunggu kita mendekat dan memeluk.

_____
Kepada hatimu, aku perahu yang tertambat

Jika aku pulang, adakah aku telah terlambat?
_____

"Jatuh cintalah. Kita masih manusia. Kita butuh itu. Cinta tempat kita kembali dari lelah perjalanan. Cinta yang serupa rumah, kau bilang.  Rumah yang tak pernah mengeluh meski kau bercerita tentang sakit kepala dan demam. Rumah yang merengkuh, rumah yang..."

"Apa?"

"Rumah yang menerimamu apa adanya."

"Aku tak pernah bertemu dengan rumah yang serupa."

"Mungkin ia rumah yang lapuk dimakan waktu, rumah yang dibakar matahari bertahun-tahun. Namun kau harus yakin , ia adalah rumah yang selalu menunggumu."

"Siapa?"

"Aku, penggemarmu." 😊.               @Kopians

Senja turun dengan manis. Gradasinya menyentuh tubuh mereka dengan sinarnya yang hangat. Adakah yang lebih indah dari dua orang yang bertemu, bersama dan kemudian bersatu karena cinta? Betapa ajaibnya hati yang mampu menampung segala rasa seluas jumantara. Mengembalikan yang pernah hilang kembali pulang. Kita merindukan tempat-tempat, bukan? Entah kemudian kita singgah ke sana bersama kenangan atau seseorang yang baru.

_____
Kau adalah gelombang yang marah di lautan

Menghempas kapal-kapal

Memecah buih di karang

Namun aku percaya, suatu saat kau akan pulang

Mencariku sebagai pantai

Tempat kau melepas landai

Menjelma buih

Menyentuh tubuhku yang pasir.
_____