Selasa, 25 Juni 2019

Lima menit yang abadi

Tak ada yang meletup sebagai tawa, melebihi hening yang mulai terbiasa pada kecintaannya dan dingin yang dipermainkan.
Malam masih sama, selain hitam, sebagian membelah jalan dengan air hujan yang berjatuhan. Teras rumah masih sendirian, masih bisu, sepi tanpa kata. Rumput-rumput saling memeluk, mencoba menghalau embun yang mulai turun. Bukankah kita tak pernah tahu, mungkin saja daun tak pernah mencintai embun, ia hanya lembar yang tak bisa memilih, mencinta atau melepas.
"Pulanglah. Udara malam terlalu pandai menipu, ia tak pernah benar-benar menjadi sahabat yang baik." saranku. Suasana menghening seketika.
'Sebentar lagi saja. Aku masih merindukan angin malam tentunya merindukan kebersamaan kita' ucapmu lirih. Aku terdiam . 'lima menit saja, kumohon... Lima menit yang abadi'. Aku tersenyum.
Kau menyusuri jalan berbatu sepanjang tentang kenangan yang pernah datang, menetap sebentar, kemudian pergi dan hambar😨
Selamat memejam sayabg, jangan lupa berdoa untuk menghangatkan mimpi yang kita rangkai malam ini💞

Tidak ada komentar: