RTHu"Aku pernah menunggu seseorang di sini. Bertahun-tahun lalu. Menyaksikan burung-burung camar yang pulang, kapal-kapal bersiluet, hingga akhirnya senja benar-benar saga, kemudian matahari terbenam."
"Kau patah hati?"
"Tidak. Untuk apa?"
"Seseorang yang kau tunggu tak pernah tiba membawa debar atau kabar, bukan?"
"Aku tidak patah hati untuk seorang pria."
"Lalu?"
"Aku hanya sedang terkenang."
"Apa bedanya? Kau tak pernah bisa lupa kan..?"
"Kenangan bukan seperti benang layang-layang. Saat kita merasa muak, kita bisa memotong benang tersebut, kemudian menyambung dengan rangkaian yang kita inginkan. Bagiku, Kenangan itu seperti jalinan tikar, saling anyam saling silang. Tak bisa kita memisah sebagiannya saja. Semuanya terhubung serta saling terkait dengan masa lalu dan masa depan."
"Untuk apa? Kau menunggu seseorang, bertahun-tahun, dan kau kesepian. Percayalah, aku selalu disini, selalu untukmu. Aku... Aku mencintaimu Ans😐"
Suara gemerisik kecil daun-daun kering menemani setiap langkahnya. Gadis itu terdiam. Ia hanya tak ingin melebih-lebihkan perasaan. Jika ia pernah bertemu seseorang, kemudian berpisah, dipisah atau terpisah, bukankah itu lumrah?
Kehidupan seperti angka delapan yang di atasnya kereta melaju membawa kita. Pada titik tertentu, kita akan selalu sampai ke tempat semula. Sebuah rumah, misalnya. Dengan lengan yang terentang di ambang pintu, menunggu kita mendekat dan memeluk.
_____
Kepada hatimu, aku perahu yang tertambat
Jika aku pulang, adakah aku telah terlambat?
_____
"Jatuh cintalah. Kita masih manusia. Kita butuh itu. Cinta tempat kita kembali dari lelah perjalanan. Cinta yang serupa rumah, kau bilang. Rumah yang tak pernah mengeluh meski kau bercerita tentang sakit kepala dan demam. Rumah yang merengkuh, rumah yang..."
"Apa?"
"Rumah yang menerimamu apa adanya."
"Aku tak pernah bertemu dengan rumah yang serupa."
"Mungkin ia rumah yang lapuk dimakan waktu, rumah yang dibakar matahari bertahun-tahun. Namun kau harus yakin , ia adalah rumah yang selalu menunggumu."
"Siapa?"
"Aku, penggemarmu." 😊. @Kopians
Senja turun dengan manis. Gradasinya menyentuh tubuh mereka dengan sinarnya yang hangat. Adakah yang lebih indah dari dua orang yang bertemu, bersama dan kemudian bersatu karena cinta? Betapa ajaibnya hati yang mampu menampung segala rasa seluas jumantara. Mengembalikan yang pernah hilang kembali pulang. Kita merindukan tempat-tempat, bukan? Entah kemudian kita singgah ke sana bersama kenangan atau seseorang yang baru.
_____
Kau adalah gelombang yang marah di lautan
Menghempas kapal-kapal
Memecah buih di karang
Namun aku percaya, suatu saat kau akan pulang
Mencariku sebagai pantai
Tempat kau melepas landai
Menjelma buih
Menyentuh tubuhku yang pasir.
_____
Tidak ada komentar:
Posting Komentar