Coba kau lihat purnama. ingatlah akan sinarnya
yang lembut
Atau pernah kah terpikir, Berbaring diantara
bunga yang wangi
Coba lah berpikir!
“Aku rindu rona senyum indah walau aku
berada dalam ketiadaan”
Tak pernah ada yang tau tentang apa yang
harus kulakukan, karena aku tidak pernah tau
apa yang mereka inginkan. Hanya kata hati
yang berjelaga menerawang bagaikan aroma
mewangi yang menusuk kedalam pori-pori rasa
yang ada di seluruh jiwaku nan kosong
aku sendiri tidak pernah berpikir seberapa jauh
akan melakukan apa yang kurasakan karena
aku sendiri tidak pernah melakukan apa yang
benar-benar tumbuh dan berkembang dari
dalam hati yang terdalam, yang ku tau
hanyalah rasa yang menguasai apa yang aku
pikirkan. Andai saja aku adalah penyusun
waktu maka aku akan menuai kesenangan yang
paling egois di dunia ini. Mengapa aku harus
memikirkan sesuatu yang ada, yang ada sendiri
tidak pernah tau bahwa aku ada, yang ada
sendiri tidak peduli akan aku yang ada, entah
kapan keadaan menoleh ke arahku. Aku tidak
pernah menyesal dengan apa yang kulakukan
karena rasa memberiku tawa dan senyum
walaupun semua itu hanya semu tidak nyata
datang dari keadaan yang benar-benar
melihatku dalam keadaan yang seadanya dalam
menunjuk bintang yang berkelip di langit
impianku
Namun, aku harus memaksa keadaan untuk
tahu bahwa aku tahu tentang yang ada
Terpikirkah itu, aku yakin tidak karena tidak
mungkin ada yang biasa meraba hati dan
pikiranku kecuali Tuhan. Bukan aku tidak mau
berbagi dengan siapa pun, tetapi tidak banyak
yang tau tentang apa yang aku mau dan
inginkan . aku hanyalah deraian debu yang
tertiup angin dalam tikaian hati yang tidak
pernah usai. Kapan semua ini berakhir, kecuali
mati? Namun mati bukanlah jawaban dan
bukan akhir dari semuanya kematian hanyalah
kesimpulan dari episode yang terus berjalan
hingga kita sendiri tidak bisa melihat episode
berikutnya karena skenario itu tidak dapat kita
gubah
Aku sendiri tidak pernah bosan mencari setitik
warna di kubangan hitam nan kelam bagiku di
sanalah warna sejati dan di sanalah aku bisa
melihat bayangan, bayangan yang setia
menemaniku dalam posisi apapun dan dalam
bentuk apa punAku sendiri malas membahas keadaan, terlalu
muak dan membosankan sebab tidak ada
ujung, keadaan hanya bisa diubah lewat
keadaan akankah ada yang bisa menetapkan
keadaan.
sering kumenatap langit yang penuh dengan
uraian tangis, coba kurasakan, dan sering juga
aku menatap purnama yang menerangi malam,
coba ku nikmati. Tapi hanyalah khayal yang
datang
aku pesimis, mungkin aku harus mencari
dimana keadaan yang benar-benar tahu bahwa
aku ada. Tetapi timbul pertanyaan. "dimana?"
Ya, dimana?
Belum kutemukan jawaban, karena terlalu
berlebihan jika aku ingin sesuatu yang lebih
tetapi aku sendiri tidak berusaha lebih.
Terkadang aku sering melihat kilauan yang
membuat aku merasakan nyaman berada di
dalamnya tetapi aku jarang untuk menyadari
bahwa seluruh kulitku melepuh terkoyak dalam
tawa, begini yang terjadi suatu ketika aku
melihat sebuah lorong kecil dan gelap namun
ada kilauan yang hanya setitik, aku terpikir itu
hanyalah pantulan sinar mentari yang
menembus rongga tanah. Setelah kupikir lagi,
tidak mungkin. Aku pun memasuki lorong itu,
pengap penuh dengan kesesakan yang
mencakar setiap relung logikaku. Ingin
kumenyerah dan kembali kebelakang, tetapi
aku tidak ingin hanya menikmati rasa sesak
tanpa aku tahu apa sinar itu. Aku terus
bergerak dengan segala daya, tidak lagi ada
rasa di sekujur tubuhku entah luka, entah
tersobek tidak kurasakan yang kutahu hanyalah
rasa lembut sinar. Dengan susah payah
akhirnya aku pun dapat memeluk sinar itu,
ketika tubuhku terlihat, aku hanya bisa
menatap kaku. kulitku terkelupas itu pun di
bagian badanku. tanganku penuh dengan
sayatan tajam, yang lebih membuatku miris
kakiku entah dimana”
Ludahan itu ku unggap hanyalah serentetan
peluru-peluru pacu yang dapat membuat ku
maju dan terus menatap kedepan
Andai suatu ketika engkau singkah di teras
kediamanku, kumohon untuk tinggal walau
sejenak, karena aku tidak pernah menyediakan
sepotong roti dan segelas sirup nan segar tetapi
aku hanya menyediakan seteguk air tawar.
Namun, setelah engkau pergi, engkau akan
kembali. Tetapi engkau tidak akan pernah
menemukan jalan menuju kediamanku...
@kopians
Tidak ada komentar:
Posting Komentar