Sabtu, 25 Mei 2019

Cerita tentangmu ❤

Suatu kali, kamu pernah berujar “tuliskan
cerita tentangku!!!”. Maka detik ini kuputuskan
bercerita tentangmu. Tetapi, bolehkah aku
menyisipkan namaku disela-sela cerita
tentangmu? Karena bukankah dalam cerita
tentangmu yang aku ketahui, selalu ada aku
yang kemudian -meski tak berapa lama- pernah
menjadi ‘kita’?
Suatu kali, aku pernah menulis sebuah
cerita cinta nan mengharukan, lalu kamu
memaksaku untuk memasukkan namamu dalam
cerita itu. Kubilang “cerita ini tak pantas untuk
kauperankan. Lain waktu, akan kubuatkan cerita
tentangmu, dan akan kujadikan kamu tokoh
utamanya”. Hari ini kutepati janjiku. Kujadikan
kamu tokoh utama dalam cerita ini, karena
bukankah sudah pernah kukatakan padamu,
sekali aku berjanji, maka pantang untuk
kuingkari.
Tentu kamu masih ingat awal kali kita
bertemu di sebuah senja yang memesona. Kala
itu, aku tak berani menyapamu. Kupikir kamu
adalah pribadi jutek dan mengerikan. Nyatanya,
hari-hari berikutnya saat semesta
mempertemukan kita lagi, baru kutahu, kamu
adalah pribadi paling menyenangkan. Kabar
baiknya, sikapmu yang menyenangkan itu
kutemukan setiap hari. Ya, setiap hari, karena
Tuhan berbaik hati mempertemukan kita setiap
hari.
Ah iya, masihkah kamu ingat saat
semakin hari kita semakin akrab saja?
Menghabiskan banyak waktu berdua. Berdua? Ah
tidak juga sih. Kita menghabiskan banyak waktu
bersama teman-teman yang lain juga. Tetapi
bagiku, asalkan ada kamu di dalamnya, maka
sempurnalah momen kita berdua, tak peduli
berapa pun banyaknya orang di sekitar kita.
Tetapi jangan salah, kita pernah memiliki momen
yang hanya kita lewati berdua, bukan? Berkeliling
kota dengan sepeda motor sederhana misalnya,
atau duduk berdua di taman sambil bercerita
ngalor-ngidul diiringi tawa renyahmu, dan aku
dengan takzimnya mendengar celotehmu yang
nyaring cenderung cempreng itu.
Iya. Aku kerap kali mengomentari
suaramu yang menggema  itu. Aku meledekmu,
hingga rahangmu terlihat menarik. Tetapi mungkin
saja pipimu akan lebih bersemu merah andainya
kamu tahu, bahwa dibalik ejekanku atas
suaramu, sebenarnya aku selalu merindukan
suaramu itu, meski aku tak pernah
mengatakannya terang-terangan. Kuputar
berkali-kali voice note yang kaukirimkan di
smartphone milikkku, hanya agar rasa kangen
akan suaramu berkurang. Aku tatap berkali-kali
fotomu yg tersampir senyum tipis, hanya agar
terobati rindu lantaran dua-tiga hari tak bertemu.
Aku selalu menanti senyummu, tatapmu, tawa
renyahmu, bahkan teriakan jenakamu yang
kadangkala mengagetkanku. Bagaimana
mungkin aku tidak mencintai senyummu itu,
matamu itu. Semuanya. Bagaimana mungkin aku
bisa lupa, hari-hari terbaik yang telah kujalani
bersamamu.
Sayangnya, saat menulis ini aku sudah
tak pernah lagi bertemu denganmu. Ya, kamu
memang harus secepatnya pergi. Tidak hanya
pergi dariku, tetapi juga pergi dari semua
kenangan-kenangan kita. Kenangan yang telah
terukir manis dan tersimpan dalam entah berapa
gigabyte besarnya di otak kita masing-masing.
Apalagi penyebabnya kalau bukan karena dia. Dia
yang akhirnya kau pilih, ah maksudku dia yang
akhirnya memilihmu, dan lantas kau
menerimanya tanpa bertanya dahulu padaku
dengan pertanyaan semisal ; apakah aku akan
baik-baik saja jika akhirnya kamu menerima dia?
Atau pertanyaan lain, apakah aku tidak terluka
dengan keputusan yang kamu ambil. Tetapi kau
selalu benar. Apa pentingnya meminta
pendapatku. Memangnya aku ini siapa? Pacarmu?
Tentu saja bukan, kan? Karena setiap kali kita
jalan berdua dan setiap kali pula temanmu
bertanya, “ini siapa?” kau lantang menjawab,
“hanya adik”. Lagi-lagi kau selalu benar. Aku
memang hanya seorang adik perempuan  untukmu. Jika
aku menginginkan lebih, bukankah aku harus
menyatakan cinta terlebih dahulu? Dan sialnya,
aku tak pernah sempat mengatakannya, hingga
akhirnya dia datang tiba-tiba, mengambil alih
semua perhatian dan waktumu. Sungguh aku
takkan sempat, takkan pernah sempat.
Apakah aku membencimu? Tentu saja
tidak. Bagaimana mungkin aku bisa
membencimu, sedangkan tulisan ini saja kubuat
untuk memenuhi janjiku; menulis cerita
tentangmu. Entah kenapa aku selalu ingin dan
selalu bahagia menepati janji kepadamu. Mungkin
saja, menepati janji padamu adalah salah satu
pekerjaan paling ringan yang bisa kulakukan
meskipun sebenarnya aku selalu menjanjikan hal
yang berat dan sulit untuk ditepati. Tetapi, saat
mengucapkannya padamu, aku selalu bisa
mewujudkannya. Walaupun kuakui, ada satu-dua
janji yang belum kutepati, tetapi bukan karena
aku tak bisa menepatinya. Lebih karena kau yang
tak lagi membutuhkannya ; janji tentang membeli kemeja biru misalnya.
Bagaimana mungkin aku membencimu
meskipun kau meninggalkanku sendirian? Karena
aku tahu, dan semoga dugaanku benar. Kau
masih sering mencari tahu tentangku, bukan?
Kau juga masih mengamati twitterku, facebook
maupun blogku. Jika memang demikian, maka itu
pula yang kulakukan. Diam-diam aku masih juga
sering mengamati facebook, twitter dan
instagrammu. Bahkan lebih dari itu, masih
kusebut namamu dalam satu-dua kalimat doa
yang kupanjatkan tiap malam.
Aku mengikhlaskan kepergianmu (jika
sekarang belum, setidaknya nanti pasti). Maka
tak usah khawatir berlebihan padaku. Bagiku,
kau tak ubahnya seperti tiket kereta api yang
hilang tepat saat kereta itu datang. Tak berapa
besar pengaruhnya bagiku, hanya sedikit
mengubah jadwal perjalanan hidupku. Perjalanan
hidup untuk menemukan jiwa indah yang dengan
bangga kusebut sebagai belahan jiwa.
Aku akan selalu menganggapmu spesial,
setidaknya sampai aku bertemu dengan
seseorang yang baru yang sama spesialnya
denganmu. Tetapi mungkinkah aku masih bisa
menemukannya? Pria dewasa berhati bening.
Kakak paling mengerti, sahabat paling peduli, kawan paling
menyenangkan dan calon suami paling ideal untuk
Wanita hebat manapun.
Kamu adalah pria tak lazim yang
pernah kukenal. Kamu dengan ketampanan yg
kaupunya, dengan segala kelebihan yang
kaumiliki, seharusnya kamu bisa bersikap seperti
Pria  lain, tebar pesona di mana-mana, memilih
bergaul dengan pria lain yang sama high
class-nya, atau wara-wiri ke tempat-tempat
mewah nan eksklusif. Tetapi kamu, malah
memilih tampil apa adanya, memilih tetap rendah
hati tanpa sesenti pun kesombongan, selalu
sederhana meski kesan pangeran terpancar jelas
pada dirimu. Tanpa memandang kaya-miskin,
tua-muda, asal-usul, Kamu mau bergaul dengan
siapa saja, termasuk aku. Kamu selalu mau kuajak
ke tempat antah-berantah sekalipun.

Tidak ada komentar: