Selasa, 01 Oktober 2019

Kepingan Mimpi Bersama Ibu

Kepingan mimpi bersama Ibu

Umi……….

Kita hidup dalam satu darah, satu detak jantung dan dalam satu hati yang utuh.

Kebahagiaan dan pahitnya hidup kita lewati bersama.
Rasa lelah, letih, tenang dan senang itu adalah bumbu kehidupan.
Mi, ketahuilah! Airmataku mengalir pada dinding hatimu.
Lelahku menyatu dengan keringatmu.
Dan cintaku menempel pada jiwamu.

Mi, Dulu kita sempat menyusun mimpi yang tinggi, tinggi sekali.
“belajar yang rajin agar mimpi tinggi kita bias kau gapai”
Sepatah kata dari hatimu yang memacuku untuk hidup.
Namun apa yang terjadi????? Tuhan lebih menyayangimu Mi.
Tuhan mengajakmu pergi tanpa izin padaku.
Tuhan mengajakmu pergi jauh dan takkan kembali.
Lantas, harus aku apakan mimpi yang telah kita rancang selama ini?
Semuanya hancur, runtuh, menjadi beribu-ribu keping, semakin kecil dan lenyap.

Mi, Aku tak bisa menjaga cinta kita seorang diri.
Siapa yang akan menghapus airmataku tatkala cinta kita terluka.
Siapa yang akan menggengggam hatiku tatkala cinta kita retak.
Siapa yang akan menopang tubuhku tatkala kau tiada.
Mi, Seharusnya ‘Bukan Kita’ yang merasakan ini semua.
Seharusnya ‘bukan Kita’ yang terpisah jarak antara dunia dan syurga.
Seharusnya ‘Bukan Kita’ yang terlebih dahulu merasakan dahsyatnya perpisahan.

Mi, Aku membutuhkanmu layaknya membutuhkan udara.
Aku merindukanmu layaknya merindukan syurga.




Tidak ada komentar: