
Dear Mama, ini hitungan ke 365. Mama sedang apa? Rintik pertama hari ini tepat mengenai pipiku. Pipi yang sama pada 365 hari yang lalu. Aku mulai menikmati hujan walau sendiri. Hari ini kutemui bapak penjual dawet itu lagi. Dia menanyakan mama. Lalu kujawab dengan senyum termanisku. Tenang saja, aku sudah belajar untuk tersenyum ikhlas. Oiya mama, laki-laki itu menemaniku lagi. Dia menggandeng tanganku mesra. Dia juga membelikan satu tangkai mawar untuk mama. Nanti aku berikan ya. Mama tunggu aku datang. Mungkin nanti aku sedikit terlambat. Karena hari ini hari pertamaku mengajar di sekolah itu. Sekolah yang selalu mama tunjuk-tunjuk itu. Mama senang kan? Bukankah ini impian mama? Aku jadi guru termuda disana. Sekarang sudah lebih banyak anak yang belajar disana mama. Dan mereka sangat lucu. Seperti yang mama katakan. Sudah dulu ya ma. Nanti kita bertemu. I love you. — Hari ini adalah hari paling menyenangkan untuknya. Siti Khopipah Aiskandar, gadis kuat yang lebih suka dipanggil Ais, gadis 18 tahun yang menjadi tetanggaku selama 18 tahun. Dan selama itu pula kami belum pernah berkenalan secara langsung. Aku hanya dapat mengamatinya dari balik jendela rumahku. Oh ya kenalkan namaku imal. Imal Muzammil .. Dan pagi tadi pukul 08.00 WIB, kulihat mobil sedan parkir di halaman rumah ratna. Mobil yang sama, pasti supir yang sama, dia agung. Selama tiga bulan terakhir ini aku sering melihat dia mengunjungi Ais . Mereka juga sering pergi berdua dan pulang larut malam. Selama tiga bulan itu juga Ais tak pernah berhenti tersenyum. Sekali-kali kudengar obrolan mereka berdua yang duduk di teras. Ais bahagia, menceritakan kisahnya dan kisah tentang mamanya. Agung pula yang membangkitkan gairah bahagia Ais. Setahun kemarin, orang-orang di komplek menganggap Ais menjadi frustasi. Dia pemurung, pendiam, dan pemarah. Tiap orang yang mengenalnya hampir selalu dia marahi tanpa sebab, termasuk aku. Tapi kedatangan Agung merubah semuanya. Ais menjadi periang kembali, seperti dulu. Pertama kali Ratna sembuh dari kegilaannya, dia langsung mengecat rumahnya dengan warna biru langit. “Ini warna kesukaan mama,” katanya padaku. Dan kubalas dengan senyum. Aku juga ikut membantu mengecat pagar rumahnya dengan warna hijau pupus. Dia berkata lagi, “Kalau itu kesukaan Agung. Perpaduan yang bagus bukan?” Lalu tak terasa sudah tiga bulan berlalu semenjak ais memperbarui warna rumahnya. Kulihat Ais menuju mobil yang dibawa agung. Kuikuti mereka dengan meggunakan motor kesayanganku. Hari ini aus terlihat lebih manis dari hari-hari kemarin. Lesung pipitnya serasa menggodaku untuk mencubitnya, tapi aku tahu dan cukup yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa melakukan itu. Mobil itu tiba-tiba berhenti di pekarangan sebuah yayasan pendidikan. Kulihat Ais turun dari mobil dan masuk ke sebuah ruangan. Disana dia disambut banyak anak. Ais mulai tersenyum bahagia. Hari ini pukul 09.00 WIB, dia mulai menjadi guru bagi anak-anak di yayasan itu. Dia mulai menyanyikan sebuah lagu yang samar-samar kudengar. Lalu dia mulai mengajarkan matematika dasar pada anak didiknya. Matahari mulai tergelincir. Kutunggu dia di warung depan yayasan itu. Tiba-tiba, ais sudah duduk manis di sebelahku. Aku gugup dan salah tingkah, aku takut ais tahu bahwa aku mengikutinya. “Hai! Kebetulan ya kita bisa bertemu disini”, katanya sambil memegang bahuku. “Eeh… hehe. Iya nih kebetulan,” jawabku malu-malu. “Kita sering kebetulan bertemu ya. Aku sendiri heran. Dan secara kebetulan juga kita bertetangga,” dia tersenyum manis, manis sekali. “aku permisi dulu ya.” Mobil sedan yang tadi sudah bertengger di depan gerbang. Dengan senyum, Ratna menghampiri mobil itu. Mereka kembali pergi tepat pada pukul 12.08 WIB. Kembali kubuntuti mobil itu. Ini adalah pekerjaanku sehari-hari. Mobil itu menuju jalan besar yang lumayan ramai pada siang ini, dan membuatku menjadi sedikit susah mengikuti laju mobil sedan itu.
Entah mereka akan kemana. Yang jelas lumayan lama kuikuti mereka. Hingga terik matahari mulai menggerogoti kulitku. Hampir dua jam kuikuti mereka. Dan akhirnya mereka berhenti di sebuah bukit yang terdapat restoran sekaligus
pemandangan yang indah.
—
Dear Mama
Mama, andai saja mama ikut denganku. Aku sedang memandang langit biru dengan awan putihnya. Ini kesukaan mama. Aku sedang bersandar pada bahu laki-laki yang
sama. Kami berdua memesan es sekoteng dan duduk di atas bukit.
Tadi aku mengajarkan anak-anak yang amat lucu itu bernyanyi dan berhitung. Mama tahu, lagu apa yang aku ajarkan pada mereka? Mama pasti tahu, itu lho ma lagu yang biasa mama nyanyikan untukku. "Ambilkan Bulan Bu." Mama
tidak lupa kan?
Ma, tadi juga sudah kupajang foto mama di jajaran foto pengajar disana. Foto mama terletak di samping foto Ibu Eti Suketi, guru yang paling besar di sekolah itu. Anak-anak mengatakan bahwa mama sangat cantik. Aku
jadi senang mendengarnya. Mama juga pasti senang. Andai kita dapat mengajar bersama.
Aku lupa ma. Hari ini aku akan lebih terlambat lagi. Maaf mama, hari ini aku akan ke taman di tengah danau itu. Yang ditumbuhi bunga warna-warni. Yang mama sebut bunga itu
bunga kertas. Tidak apa-apa kan? Tunggu aku sedikit lebih lama ya.
Sudah dulu mama. I love you.
—
Dia bersandar lagi di bahu Agung dengan laptop ditangannya. Sudah pasti dia sedang menulis catatan untuk mamanya. Entah apa yang dia
pikirkan sampai dia tidak pernah berhenti menuliskan semua kisah itu, yang ia tujukan untuk mamanya. Aku tahu, agung seperti merasa kurang senang pada kebiasaan aneh Ratna. Dia hanya berpura-pura menyukai tulisan-tulisan itu. Aku melihat dari raut muka tidak
senangnya, jika ia melihat ais menyalakan laptop dan mulai menulis.
Gerimis tiba-tiba datang. Awan berganti warna menjadi abu-abu. Ratna dan agung mulai beranjak dari tempat itu. Memasuki restoran yang mulai ramai didatangi orang yang kehujanan. Aku duduk memata-matai Ratna. Kupesan coklat hangat. Kuamati dia yang sedang mengobrol dengan agung. Tapi tak sedikitpun dapat kumaknai gerak mulutnya itu.
Hujan turun mulai ramai. Suaranya
bergemuruh mendatangankan dingin yang kian lama menyergap tubuh. Agung mulai membalut tubuh ais dengan peluk. Iri aku melihat mereka. Lebih tepatnya sakit. Sesak. Ais juga tampak nyaman dalam dekapan agung, hingga tak sedikitpun
senyum beranjak dari bibir tipisnya.
Setengah jam aku duduk tanpa mendapat informasi apapun. Kuputuskan untuk duduk lebih dekat dengan meraka. Pelan-pelan
kudekati mereka. Dan duduk tepat di meja belakang ais. Mulai kupasang kuping dengan seksama.
“Mama pasti akan bahagia mendengar kabar ini. Aku perlu menulis catatan lagi untuknya,”
kata Ais gembira. Agung mengusap rambut hitam Ratna,
“tidak usah, toh kalau nanti kita sudah menikah kamu tidak perlu menulis catatan-catatan itu untuk mama. Siapa yang akan membacanya. Itu terlihat aneh. Orang-
orang yang tahu kebiasaanmu ini juga pasti akan menganggap kamu orang aneh,”
katanya.
Ais sedikit kecewa, tapi tetap saja dia tersenyum. Sudah kukatakan agung memang tidak pernah suka melihat kebiasaan ais. Tapi ais tetap saja memandang bahwa agung itu benar-benar mencintainya, bukan sekadar jatuh cinta.
Hujan mulai reda seiring berhentinya lamunan di benakku. Kulihat punggung ais mulai menjauhi pandanganku. Akan pergi kemana
lagi gerangan. Kulihat jam ditangan, pukul 14.35 WIB. Ekor mata agung melirik ke arahku. Pura-pura kubetulkan ikatan tali sepatuku untuk menghindari pandangan matanya yang mulai mencurigai keberadaanku.
Agung merangkul Ais dengan lembut, dan mereka berjalan agak tergesa menuju mobil. Masih ada gerimis malu-malu,
tapi mereka tetap saja pergi. Dengan berat hati harus aku ikuti walau dingin masih menyelimuti.
Jalanan sedikit legang sore ini, membuat pekerjaanku lebih mudah. Kuikuti mobil sedan yang melaju cepat itu. Mereka berhenti di sebuah danau yang luas. Ais buru-buru turun dari mobil dan berlari menuju taman di
tengah danau itu. Dia terlihat amat senang.
Sesekali dia menjerit sedikit tertahan
meluapkan kebahagiaannya.
“Mama… Andai mama disini bersamaku. Lihatlah danau ini mama. Bunga kertas sedang bermekaran,”
teriaknya.
—
Dear Mama
Aku berada di taman bunga kertas sore ini. Ini kedatanganku pertama kali bersama laki-laki itu. Dia menggantikan posisi mama sekarang.
Hujan tadi membuat udara disini menjadi segar mama. Harum tanah basah menyambut datangku. Kulihat bunga kertas disini bermekaran. Ada titik-titik air bekas hujan di
tiap kelopaknya. Di pojok taman sudah ada kedai baru yang menjual kopi dan sosis bakar. Aku ingin mencoba kopi disana, bersama laki-laki itu. Pasti enak merasakan ekspresso hangat saat udara sedang dingin seperti ini. Andai kita dapat minum kopi ini bersama. Tapi aku sudah tahu jawaban mama, “jangan terlalu banyak,
kasihan lambungmu.” Selalu saja begitu. Oiya ma, aku duduk di bangku yang sama. Bangku tempat kita selalu menghabiskan waktu bersama. Bangku yang paling dekat dengan kumpulan bunga-bunga kertas
berwarna merah dan biru. Tapi sekarang sudah ada laki-laki itu yang menggantikan mama. Aku amat senang hari ini. Aku dapat mengulang
kebahagiaan kita selama dua puluh tahun kemarin. Berkat laki-laki yang menawarkan cinta semanis madu itu.
Tapi maaf mama. Mungkin esok aku sudah tidak dapat menuliskan semua ceritaku lagi. Mama tak perlu merindukan catatan-catatanku. Akan aku curahkan setiap akan tidur. Akan aku ceritakan hari-hariku lewat
curhatan dalam bisikan hatiku.
Aku sudah berjanji pada laki-laki itu, bahwa aku akan berhenti menulis catatan ‘aneh’ untuk mama. Karena satu bulan lagi kami akan
menikah. Aku akan menjadi seorang
pengantin. Seorang yang akan didandani layaknya putri. Seperti kata mama. Jika mama ingin melihatku menjadi putri. Datanglah diam-diam dalam tiap hembusan angin.
Aku akan merindukan saat-saat menuliskan semua yang aku rasakan. Aku akan amat merindukanmu mama.
Sampai jumpa nanti. I love you.
—
“Sudah aku katakan, berhentilah menulis dan berkhayal mama akan membacanya. Kamu sudah cukup dewasa untuk menyadari tulisan
konyol ini.” Dengan berat hati kulihat Ais menutup laptopnya. Jika aku menjadi agung akan kubiarkan dia tetap menulis. Karena aku tahu dia sangat menyayangi orang yang dia panggil mama. Tapi siapalah aku. Hanya penguntit yang selalu ingin tahu apa yang ais lakukan. Ais sedikit tertunduk dengan wajah murung. Tapi semenit kemudian dia sudah kembali tersenyum dan mencubit pipi agung.
“Ayo pergi.
Mama pasti sudah menunggu kita datang. Mama juga pasti tidak sabar untuk bertemu dengan kamu,”
kata ais sambil beranjak dari duduknya dan menarik tangan agung untuk
bangkit.
“Mau kemana lagi mereka. Hari ini cukup melelahkan untukku,” bisikku dalam hati.
Pukul 16.48 WIB. Mereka pergi dari danau dan pergi dengan laju mobil dengan cukup kencang. Hari ini baru beranjak sore, tapi mereka sudah mengunjungi banyak tempat.
Bensinku hampir habis dan aku mulai was-was jika motorku mogok di tengah misiku mengikuti ais. Tapi beruntunglah aku karena mobil sedan itu akhirnya berhenti. Di sebuah tempat yang cukup aneh. PEMAKAMAN
Mereka menuju satu gundukan tanah yang tertulis disana sebuah nama yang indah."(Elisa Marwati)". Nama yang tidak asing bagiku.
“Bisakah aku menuliskan catatan lagi untuk mama? Aku ingin mengakhiri catatanku untuk mama. Tidak apa-apa ‘kan?”, kata ais. Agung
sedikit bergumam, tapi akhirnya mengiyakan permintaan ais, walau dengan berat hati. Ais benar-benar aneh. Dia tetap tersenyum melihat tampang agung yang tidak mengenakan itu. Apa dia belum sadar bahwa agung hanya jatuh cinta padanya, bukan mencintai dirinya.
—
Dear Mama, pada sore yang amat indah ini., lihatlah mama. aku telah sampai. Kubawakan bunga mawar hadiah dari laki-laki itu. Lalu kubawakan hadiah spesial untuk
mama, baju rajutan ini. Yang belum sempat mama selesaikan. Aku belajar merajut. Awalnya sangat sulit, hingga jariku selalu saja tertusuk jarum. Tapi hari-hari berikutnya menjadi sangat
mudah. Menurut mama apakah ini terlihat bagus?
Maaf mama aku harus datang sesore ini. Aku ingat setahun yang lalu mama meninggalkan aku dalam kehampaan. Aku hampir bunuh diri saat itu tapi ada seorang yang menahanku.
Mama ingat tetangga kita yang bertingkah aneh itu? Dia yang menyadarkan aku. Walaupun akhirnya dia kumarahi habis-habisan. Akhir-akhir ini aku sering bertemu dia
secara kebetulan. Dan dia…
—
Dengan tiba-tiba agung menutup paksa laptop Ratna. Dan wajahnya sudah menunjukkan raut kemarahan.
“Sudahkah menulisnya? Aku
bukan patung yang harus menungguimu menulis! Mamamu itu sudah meninggal. Sudah tidak ada lagi. Lihatlah! Kita duduk di pusaran kuburanya! Aku ingin kamu sadar. Kamu tidak perlu menulis catatan-catatan aneh ini lagi! Tidak penting. Seperti orang gila!”. Berkali-kali agung membentak Ais.
Kudengar Ais mulai menangis. Isaknya sedikit tertahan. Aku tahu saat itu dia tidak ingin menangis.
“Kamu menangis? Cengeng! Sebentar lagi kita akan menikah, dan kamu belum bersikap dewasa!”, lanjut agung
membentak ais.
Aku tak tega melihat pemandangan tak enak itu. Di depan kuburan orang yang paling ais sayangi mereka bertengkar. Mungkin lebih tepatnya, Ais dibentak-bentak oleh laki-laki
yang menemaninya selama tiga bulan terakhir ini. Tiba-tiba kulihat tangan Ais digeret dengan kasar menjauh dari kuburan itu. Tak kuat aku melihat perlakuan agung itu. Lalu aku
tidak sadar aku sudah ada di hadapan mereka berdua.
“Imal, ada apa?”, ais menyapaku dan menghapus sedikit air mata itu. Dan tiba-tiba aku bertindak,
“apakah ini cinta? Apa anehnya jika menuliskan catatan untuk mama, untuk orang yang paling ais sayangi? Jika kamu
benar mencintai dia, ini tidak akan aneh untukmu. Kamu hanya jatuh cinta padanya, bukan mencintainya! Kamu biarkan dia menangis di depan kuburan mamanya. Harusnya kamu
hapus air mata itu. Air mata itu sempat turun setahun yang lalu. Saat pemakaman mamanya. Lalu sekarang saat setahun berlalu, di hadapan kuburan mamanya dia harus kembali menangis? Apa kamu tidak sadar?”
kataku dengan geram. Entah setan apa yang merasukiku hingga aku berani muncul di hadapan mereka.
Agung tampak keheranan melihatku. Ais semakin menjadi dengan tangisnya.
“Aku sebenarnya sudah tahu, bahwa orang ini sering mengikuti kita. Aku tahu dia menyukaimu,”
kata agung sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajahku,
"tapi sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan! Mampus!” Kulihat matanya
yang mulai melotot, dan tangan ais
digenggam erat. Aku tahu ais mulai
kesakitan dan ketakutan. Kuputuskan untuk menarik tangannya. Setelah berhasil, kubawa Ais menjauh dari agung. Tapi tidak segampang itu. Dari belakang agung menarik kaos
yang aku pakai, dan tiba-tiba memukul
wajahku. Ada sedikit darah menetes di ujung bibir bawahku. Ais menjerit. Ingin rasanya kubalas pukulan keras di wajahku itu. Tapi tidak akan pernah kulakukan. Aku takut ais
makin histeris. Kupeluk tubuhnya dan kugiring dia menuju motorku. Agung hanya berdiri terpaku disana.
Senja mengiringi kepergian kami. Kutanya Ratna yang masih terisak,
“kamu ingin pulang? Atau kamu ingin mengunjungi suatu tempat?”
Dia hanya terdiam., namun beberapa menit kemudian dia berkata, “ke Jalan Gading.” Aku sedikit tersentak. Disana adalah tempat orang yang amat ais sayangi meninggal. Setahun yang lalu ada kecelakaan beruntun yang
menewaskan tiga orang, yang salah satunya adalah mamanya. “Baiklah”, kuturuti dia dengan ragu.
Setibanya di Jalan Gading, di tempat yang sama ketika mamanya menghilang dari keadaan nyatanya. Aisberdiri disana. Tiba-tiba butir air mata sudah turun membentuk
garis lurus di pipi mulusnya. Dan hujan mulai turun mengiringi isaknya. Lalu kupeluk dia dari belakang, dan dia menyambut pelukku dengan tangis yang semakin deras layaknya hujan
yang turun.
"Mama, aku sudah salah menilai. Ternyata dia tidak mencintaiku, dia hanya jatuh cinta padaku. Hatiku sakit ma, andai mama ada disini, aku ingin memeluk mama untuk melepaskan rasa sakitnya. Tapi tanpa di minta, ada sosok pria yang ternyata sangat peduli padaku ma, tetanggaku, tetangga kita ma. Dia sangat menyayangiku. Namanya fachri. Dia tidak melarangku untuk menulis tentang mama, karena dia benar mencintaiku, bukan hanya jatuh cinta padaku. Ma, aku rindu mama :( Aku rindu dipeluk mama, aku lelah menangis. LOVE you ma :'(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar