
, selamat membaca. Semoga tersampaikan
:)
Judul : Cinta Ibrahim
Jumlah kata :741
Karakter : 4251
Jumlah kata :741
Karakter : 4251
Cinta ibrahim Jika dulu kamu pernah berkata “Aisyah, kamu
adalah orang yang menuntunku pada cahaya”, jangan kamu sangka Aisyahmu ini adalah cahaya yang tak pernah salah. Dulu pun kamu adalah Ibrahim bagiku, yang telah memecah berhala ketakberdayaanku pada takdir yang mengambil alih hidup ayah. Ayah memercayakanmu sebagai sandaran kedua bagiku setelah kepergiannya, apalagi saat kamu berkata akan menyempurnakan separuh agamamu dengan aku sebagai
pelengkap jiwa. Tapi, ternyata jembatan yang kita lalui bersama
dua tahun lamanya adalah jalan yang tak diridhai-Nya. Hubungan ini salah, dia tak berjalan sesuai
kompasNya, kita putus fachri."
adalah orang yang menuntunku pada cahaya”, jangan kamu sangka Aisyahmu ini adalah cahaya yang tak pernah salah. Dulu pun kamu adalah Ibrahim bagiku, yang telah memecah berhala ketakberdayaanku pada takdir yang mengambil alih hidup ayah. Ayah memercayakanmu sebagai sandaran kedua bagiku setelah kepergiannya, apalagi saat kamu berkata akan menyempurnakan separuh agamamu dengan aku sebagai
pelengkap jiwa. Tapi, ternyata jembatan yang kita lalui bersama
dua tahun lamanya adalah jalan yang tak diridhai-Nya. Hubungan ini salah, dia tak berjalan sesuai
kompasNya, kita putus fachri."
"Aku belum mengerti maksudmu Aisyah, sungguh aku tak pernah bermain kata saat mengatakan kamu akan menjadi pelengkap jiwa saat aku telah siap menyempurnakan separuh
agama, bukankah ayahmu memercayakanku sebagai sandaran kedua untukmu, apa kamu tak lagi memerlukan sandaran itu?, apa kamu
menjumpai Ibrahim yang lain selain diriku?"
agama, bukankah ayahmu memercayakanku sebagai sandaran kedua untukmu, apa kamu tak lagi memerlukan sandaran itu?, apa kamu
menjumpai Ibrahim yang lain selain diriku?"
"Fachri, tidaklah kujumpai Ibrahim yang lain, bukan pula tak ingin bersamamu menjalani biduk rumah tangga, aku hanya tak bisa
menunggu siapmu menyempurnakan separuh
agama, aku tak ingin kita terikat pada cinta yang salah, hubungan ini kita akhiri saja."
menunggu siapmu menyempurnakan separuh
agama, aku tak ingin kita terikat pada cinta yang salah, hubungan ini kita akhiri saja."
Betapa terheran-heran Dirga atas keputusan Aisyah mengakhiri hubungan dengannya, apa
yang sudah membuat perempuan ini tak lagi ingin menjadi cahaya di hati Ibrahimnya? Dua hari setelah pertemuan itu, fachri memutuskan mencari tahu, dia tidak akan
terima jika ada laki-laki lain yang berusaha menggantikan posisinya sebagai Ibrahim di hati Aisyah. Baginya, pasti ada sebab perempuan cerdas itu memutuskan statusnya. Cinta yang salah, tak bisa menunggu siap, apa maksudnya? Adakah yang mendahuluiku melamar Aisyah? Sebulan lebih fachri mencari tau, dia kini paham
mengapa Aisyah berubah. Tidak hanya dari pola pikirnya, tapi hampir seluruh sisi dari hidupnya,
cara berbicara, dia kini tak banyak bercanda, berbicara hanya yang
mendatangkan manfaat bagi sesama dan juga dirinya sendiri. Dari cara memandang, kini Aisyah
lebih banyak menundukkan pandangan, terlebih dari sisi berpakaian, fahcri tak lagi menemui jeans yang melingkar di betis Aisyah, kini berganti dengan baju yang seperti jubah, sempurna menutupi hingga mata kaki dan
bahkan menyentuh tanah. Dan kerudung, kini lebih lebar dari yang pernah dikenakan Aisyah
ketika masih bersama fachri, bahkan kerudung itu sampai menutupi paha. Kini betul-betul tak ada lagi postur tubuh yang nampak dari diri Aisyah. Dalam hati fachri mengakui “Aku tak
salah mencintaimu Aisyah”.
yang sudah membuat perempuan ini tak lagi ingin menjadi cahaya di hati Ibrahimnya? Dua hari setelah pertemuan itu, fachri memutuskan mencari tahu, dia tidak akan
terima jika ada laki-laki lain yang berusaha menggantikan posisinya sebagai Ibrahim di hati Aisyah. Baginya, pasti ada sebab perempuan cerdas itu memutuskan statusnya. Cinta yang salah, tak bisa menunggu siap, apa maksudnya? Adakah yang mendahuluiku melamar Aisyah? Sebulan lebih fachri mencari tau, dia kini paham
mengapa Aisyah berubah. Tidak hanya dari pola pikirnya, tapi hampir seluruh sisi dari hidupnya,
cara berbicara, dia kini tak banyak bercanda, berbicara hanya yang
mendatangkan manfaat bagi sesama dan juga dirinya sendiri. Dari cara memandang, kini Aisyah
lebih banyak menundukkan pandangan, terlebih dari sisi berpakaian, fahcri tak lagi menemui jeans yang melingkar di betis Aisyah, kini berganti dengan baju yang seperti jubah, sempurna menutupi hingga mata kaki dan
bahkan menyentuh tanah. Dan kerudung, kini lebih lebar dari yang pernah dikenakan Aisyah
ketika masih bersama fachri, bahkan kerudung itu sampai menutupi paha. Kini betul-betul tak ada lagi postur tubuh yang nampak dari diri Aisyah. Dalam hati fachri mengakui “Aku tak
salah mencintaimu Aisyah”.
Dua tahun berlalu, fachri begitu menikmati kesendiriannya, dan dari diri fachri selama dua tahun nyaris tak ada berubah, begitu juga dengan perasaannya pada Aisyah, kadang fachri dalam hati bertanya-tanya “bagaimana
keadaan Aisyahku sekarang?, dia pasti terlihat lebih cerdas dari sebelumnya”. Bukan karena fachri tak pernah melihat Aisyah, sebab
keduanya berada dalam satu kampus yang sama. Namun, fachri makin dipenuhi rasa kagum di dada untuk Aisyah, bagaimana tidak, perempuan cerdas itu sekarang bahkan menjadi pembicara di seminar-seminar keislaman kampus. Bangga, fachri makin yakin tak pernah salah jika selalu menyimpan cinta untuk Aisyah.
Hingga datang kabar yang begitu mengejutkan, seperti air laut yang tiba-tiba menguap, kesedihan Dirga seakan memenuhi rongga dada, sesak rasanya, empat tahun aku mencintainya, cinta yang kubiarkan tumbuh sejak SMA, kini harus pergi terbawa arus samudra, Aisyah akan menikah.
keadaan Aisyahku sekarang?, dia pasti terlihat lebih cerdas dari sebelumnya”. Bukan karena fachri tak pernah melihat Aisyah, sebab
keduanya berada dalam satu kampus yang sama. Namun, fachri makin dipenuhi rasa kagum di dada untuk Aisyah, bagaimana tidak, perempuan cerdas itu sekarang bahkan menjadi pembicara di seminar-seminar keislaman kampus. Bangga, fachri makin yakin tak pernah salah jika selalu menyimpan cinta untuk Aisyah.
Hingga datang kabar yang begitu mengejutkan, seperti air laut yang tiba-tiba menguap, kesedihan Dirga seakan memenuhi rongga dada, sesak rasanya, empat tahun aku mencintainya, cinta yang kubiarkan tumbuh sejak SMA, kini harus pergi terbawa arus samudra, Aisyah akan menikah.
“Hai fachri, ternyata mantanmu itu sudah mau nikah, kamu kapan nyusulnya? Gak bagus loh berlama-lama!, jangan tunggu sampai dapat kerja, jangan takut miskin setelah nikah, Allah
akan membuat kaya jika miskin, kamu keduluan sama Muhammad Ilyas, toga belum di kepala, dia
berani mengambil langkah
menikahi Aisyah”. Aku hanya diam di bungkam seribu tanya
mendengar Martin berbicara, Muhammad Ilyas, Laki-laki yang menggeser posisiku sebagai
Ibrahim bagi Aisyah. Aku baru sadar ya Allah, bertahun-tahun aku hanya menghabiskan waktu
mencintai wanita shalihah tanpa sibuk memperbaiki diri menjadi imam yang shalih pula,
aku tak pernah memperhatikan kalau kau pernah mengatakan:
akan membuat kaya jika miskin, kamu keduluan sama Muhammad Ilyas, toga belum di kepala, dia
berani mengambil langkah
menikahi Aisyah”. Aku hanya diam di bungkam seribu tanya
mendengar Martin berbicara, Muhammad Ilyas, Laki-laki yang menggeser posisiku sebagai
Ibrahim bagi Aisyah. Aku baru sadar ya Allah, bertahun-tahun aku hanya menghabiskan waktu
mencintai wanita shalihah tanpa sibuk memperbaiki diri menjadi imam yang shalih pula,
aku tak pernah memperhatikan kalau kau pernah mengatakan:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).
Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” [An-Nur:26]
Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu).
Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” [An-Nur:26]
Dan hatiku keji karena hanya berani mencintai tanpa berani menghalalkan, takut tak dapat
menafkahi padahal Kaulah yang Maha Pemberi, aku takut miskin, padahal aku adalah hamba
dari yang Maha Kaya.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [An-Nur:32]
menafkahi padahal Kaulah yang Maha Pemberi, aku takut miskin, padahal aku adalah hamba
dari yang Maha Kaya.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [An-Nur:32]
Kini aku sadar, bahwa Ibrahim ini memang tidak. dicipta untuk Aisyah… Muhammad lah yang pantas bersamanya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar