Rabu, 18 Januari 2017
stay with me
Selamat Pagi, Semangat Hari Dan selamat Membaca Secangkir kata penaku. Semoga tersampaikan :) Be Have fun :)
Judul : Stay With Me
Di suatu sore, terlihat seorang gadis duduk sendirian di sebuah kafe dengan ditemani secangkir kopi hangat sambil menatap orang-
orang yang berlalu-lalang di depan kafe tersebut. Sambil menyeruput kopinya, gadis itu sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Kebiasaan!”
Gadis itu berucap dengan wajah kesalnya. Sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang. Sekali lagi dia melihat ke arah jam tangannya, sedetik kemudian dia mulai mengambil tasnya dan beranjak dari duduknya. Saat tiba-tiba, “hey maaf telat, ini
untukmu.” Orang yang ditunggupun akhirnya datang juga. Seorang lelaki yang sedikit lebih tinggi dari gadis itu berdiri di hadapannya dengan menyodorkan bunga di depan gadis
tersebut. “Ini untukmu, ambillah.” Sekali lagi lelaki itu meminta gadis tersebut menerima bunga darinya. Gadis itu pun hanya menatap
datar lelaki di hadapannya sambil melirik bunga yang dipegang lelaki tersebut.
“Sudah kukatakan berulang kali padamu, aku tidak suka bunga !” Gadis itu berucap pelan tapi dengan nada yang ditekankan seolah sedang menahan emosi dalam dirinya.
“Kamu ini aneh. Mengapa perempuan sepertimu tidak suka bunga?”
“Itu urusanku. Apa harus selalu ada alasan untuk tidak menyukai sesuatu?”
“Haha, kamu memang keras kepala. Bukankah kamu sendiri yang pernah bilang padaku bahwa sesuatu yang terjadi itu selalu ada alasannya.
Lalu bagaimana dengan ketidaksukaanmu itu?
Beralasankah?” Lelaki itu bertanya seolah meremehkan gadis
yang masih berdiri di depannya itu. Terlihat sekali dari tatapan matanya jika gadis itu terlihat sangat kesal dengan lelaki tersebut.
“Sepertinya kamu sangat emosi padaku. Haha, duduklah. Apa kamu tidak capek sedari tadi berdiri seperti itu?” Lelaki itu berucap dengan tersenyum seolah semua baik-baik saja. Gadis itu pun mulai duduk dan menatap lelaki itu dengan tajam.
“Ini bungamu” Lelaki itu masih tersenyum ramah tetapi gadis
itu masih terdiam. “Mengapa kamu selalu membuatku marah, Riyan?”
“Kamu cantik jika sedang marah, Triya!” Lelaki itu berucap masih dengan senyum. “Seperti itukah kamu memperlakukan pacarmu sendiri? Selalu membuatku marah jika kita
bertemu?”
“Aku senang melihatmu marah”
“Mengapa tidak kamu bunuh saja aku? Biar kamu lebih senang”
“Hey sayang, Apa kamu sudah gila? Mana mungkin aku membunuh orang yang aku cintai”
“Kamu mencintaiku?”
“Tentu saja!”
“Heuhhh” Triya hanya menyunggingkan senyum sinis.
“Oh iya, tumben sekali kamu mengajakku bertemu?” Tanya Riyan sambil meminum kopi milik Triya.
“Memangnya aneh jika aku ingin bertemu dengan pacarku sendiri?”
“Tentu saja tidak! Aku hanya heran, biasanya kan kamu tidak pernah ‘memulai’ jika tidak ada sesuatu.”
“Seperti itukah diriku?”
“I think so.”
“Oke baiklah. Ada yang ingin kukatakan padamu.” Triya mulai serius. “Katakanlah!” Riyan menatap Triya sambil melipatkan kedua tangannya di atas meja.
“Entah benar atau hanya perasaanku saja, kamu berubah”
“Berubah? Maksudmu di belakang
punggungku ada jubah seperti Spiderman? Atau badanku berubah warna menjadi hijau seperti Hulk? Haha.”
“Riyan, aku tidak bercanda!”
"Hahaaa iya maaf.” Riyan menahan tawanya.
“Jadi maksudmu aku berubah seperti apa, firli sayang?”
“Kamu sekarang mulai jarang menghubungiku, kamu jarang mengajakku jalan, bahkan untuk
kita sekedar bertemu saja kamu tidak ada waktu.” Jelas Triya.
“Seperti itukah? Ahh mungkin iya. Maafkan aku sayang, Tugas kuliahku banyak, tapi bukankah aku tetap menghubungimu walau tidak sesering dulu, jadi mengertilah.” Riyan menggenggam tangan Triya.
“Aku mengerti. Aku bahkan sangat mengerti dengan keadaanmu. Aku pun tidak ingin tugas kuliahmu terbengkalai. Aku juga tidak ingin
egois dengan memikirkan diriku sendiri, tapi aku rindu” Triya mulai mengeluarkan unek-uneknya.
“Rindu? Apa yang kamu rindukan?”
“Dirimu!”
“Diriku?” Riyan terlihat bingung.
“Ya, aku rindu kamu. Aku rindu kamu yang dulu. Aku rindu kamumu yang selalu ada untukku, aku rindu perhatianmu, aku rindu nasihatmu, aku rindu cerita-ceritamu, aku
rindu kekonyolamu, aku rindu kamu memarahiku, aku rindu kamu membantuku mengerjakan tugasku, aku rindu semuanya. Bahkan aku rindu saat kamu panggil aku ‘oon’. Aku mencintaimu Ryan”
Triya menggenggam erat tangan Riyan seakan tidak ingin kehilangan lelaki itu, terlihat sedikit senyum di bibirnya.
“Benarkah? Kamu rindu ? Aku kira kamu tidak peduli denganku.”
“Tidak peduli? Maksudmu?”
“Sikap cuekmu yang membuatku berfikir seperti itu.”
“Aku cuek? Kukira kita mempunyai sifat yang sama seperti itu.”
“Aku jarang menghubungimu karena aku ingin kamu yang menghubungiku terlebih dahulu. Selama kita pacaran, aku rasa, aku yang selalu memulai semuanya. Bahkan, kamu tidak pernah
menghubungiku jika tidak ada keperluan? Kenapa? Apa menurutmu aku tidak penting untukmu?” Riyan pun juga mulai mengeluarkan unek-uneknya.
“Aku… aku takut mengganggumu.” Dengan ragu Triya menjawab.
“Menggangguku? Aku bahkan senang saat kamu menggangguku. Bukankah dalam sebuah hubungan komunikasi sangatlah penting?”
“Ya benar.” Triya menunduk.
“Saat aku tidak menghubungimu, tahukah. kamu, aku sedang menunggumu. Aku sedang menunggu teleponmu, aku menunggu
kabarmu, aku menunggu perhatianmu, bahkan aku menahan rinduku padamu. Saat aku mulai lelah menunggu, akhirnya aku mengalah, dan aku yang selalu memulai
semuanya terlebih dahulu.”
Triya yang mendengarkan penjelasan Riyan masih menundukkan wajahnya seolah tidak berani menatap lelaki di depannya.
“Aku merasa terabaikan saat itu. Aku merasa kamu tidak peduli denganku. Aku merasa tidak dianggap ‘ada’ olehmu. Aku merasa hanya aku
yang mempertahankan hubungan ini. Sampai akhirnya, aku mencoba pergi darimu.”
“Pergi?” Triya mulai mendongakkan wajahnya. “Jadi selama ini kamu menjauhiku?” Tanya Triya seolah tidak percaya.
“Bukankah kamu juga seperti itu?”
Mendengar penjelasan Riyan, Triya hanya menggelengkan kepala pelan.
“Aku seperti ini karena aku ingin kamu sadar akan keberadaanku. Aku ingin diperhatikan lebih olehmu, aku ingin dianggap layaknya pacar yang sesungguhnya, bukan pelarian yang
hanya akan kamu datangi saat kamu bosan.” Riyan melihat wajah Triya yang sudah mulai meneteskan air mata. Triya tidak menjawab apa-apa. Dia hanya diam dan menangis mendengar penjelasan Riyan.
“Maaf, aku memang egois. Aku terlalu
menuntut perhatian darimu tanpa aku
memikirkan perasaanmu. Seharusnya aku pun bersikap layaknya pacarmu, bukan…”
“Sudahlah” Riyan mendekati Triya dan
memeluknya. “Seharusnya aku tau, sikapmu menjauhiku itu beralasan. Aku yang terlalu ingin diberi tanpa
aku memberi. Aku terlalu egois. Aku emang gak pantas buat kamu. Aku…” Triya terisak.
“Kamu pantas buat aku. Sudahlah, jangan menangis.” Riyan menghapus air mata Triya.
“Oke maaf, aku sadar aku salah. Jadi sekarang semua keputusan ada di dirimu. Aku terima jika kamu ingin memutuskan hubungan ini, aku memang tak pantas untuk kamu.”
“Jika aku ingin memutuskanmu, mungkin itu sudah kulakukan sejak dulu. Selama ini aku bertahan, karena aku menyayangimu tulus. Aku mencintaimu firli, sangat mencintaimu. Aku menjauhimu karena aku hanya ingin kamu sadar. Tapi percayalah, aku tidak bisa jauh darimu.” Riyan berkata sungguh-sungguh.
“Tapi aku sudah terlalu jahat padamu.”
“Kamu tidak jahat. Kamu hanya perlu ‘peka’ pada keadaan. Asal kau mau berubah, semua akan baik-baik saja.”
Riyan tersenyum, mencoba menenangkan hati Triya.
“Aku akan berubah. Janji. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi, aku akan selalu ada untukmu, aku akan menganggapmu layaknya
pacar yang sesungguhnya, bukan seseorang yang akan aku datangi ketika aku merasa bosan. Aku janji.”
“Kita akan memulai semuanya dari awal lagi.” Ucap Riyan yang membuat Triya tersenyum.
“Ada lagi yang ingin kukatakan padamu.”
“Apa sayang?” Tanya Riyan.
“Don’t leave me, again.” Triya berkata dengan sungguh-sungguh.
“Tidak akan!” Jawab Riyan.
#Iipok #SemangatBerkarya
By:
Siti Khopipah Aliskandar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar