Rabu, 18 Januari 2017
tak beujung denganmu
Lulus moderasi 6 desember 2016 Judul : Tak Berujung Denganmu
Jumlah kata : 1942
Spasi :10525
Selamat membaca, semoga tersampaikan :)
Tak berujung denganmu
Sejuk senyap embun pagi menemani hati dalam rindu. Perlahan angin berhembus menerbangkan dedaunan menuju titik perhentian. Seiring dengan itu riuhan kicauan burung mengisi ruang pendengaran. Aku
sudah lama menanti setiap pagi. Tidak ada yang berbeda, sunyinya hari-hariku sejak dia pergi. Hitam kelabu rindu menyelimuti kalbu. Aku menunggu untuk dibuai sendu. Kamu
yang selalu kunanti tak kunjung kembali.
Tepat 4 tahun 2 bulan kita tidak bertemu, perpisahan jarak antar benua membuatku tak pernah henti mengkhawatirkan keadaanmu.
Sudah 4 tahun kan? itu artinya dia pasti akan segera kembali ke Indonesia. Ohh sahabatku, tak sabar lagi aku ingin sekali menatap
wajahmu, merangkulmu, bercanda tawa denganmu, dan itu aku tidak sabar untuk membuka kotak kecil dibawah pohon di dekat taman SMA kita. Tapi, aku sedikit ragu dengan
sahabatku itu selama 4 tahun dia tidak pernah membalas E-mail dariku. Apakah kuliah di luar negeri itu sulit sekali? sampai dia tak menyempatkan waktu untuk membuka E-mail
dariku?
Hmmm. Namaku aisyah, hari ini hari pertama aku memulai pekerjaanku sebagai seorang perancang bangunan di sebuah perusahaan ternama. Lulus dengan fresh graduate membuatku mudah mendapatkan pekerjaan.
Meskipun aku harus pindah daerah dari kota asalku itu tidak masalah, setidaknya aku bisa sedikit melegakan hati yang terus dibuat rindu
akan penantian kembalinya sahabatku itu.
Di hari pertamaku, aku bertemu dengan seseorang yang tidak asing “ais? sedang apa disini?”, “Eh Mas irwan, aku pegawai baru disini Mas, Mas sendiri?” ,”Wahh bagus kalau
gitu selamat bergabung ya, Mas sudah bekerja lama disini dan sudah diangkat sebagai ketua tim perancangan, kamu bagian apa ais?”, Aku tercengang mendengar jawaban Mas irwan,
dulu Mas irwan ini seniorku di kampus dia juga pernah mengajakku berkencan tapi aku selalu menolak sekarang aku jadi awkward di
hadapan Mas irwan “Eh anu itu, ais bagian perancangan juga Mas”. “Hahaha bagus ya ais, ternyata bener kalau jodoh pasti ketemu”, ”Eh
maksud Mas irwan?” Jawabku bingun., “Enggak ais, yuk kita ke ruangan”. Tiba di ruangan Mas irwan
memperkenalkan aku di depan semua anggota tim, Mas irwan terlihat bahagia sekali, apa Mas irwan masih mempunyai perasaan terhadapku? Ya tuhaan... Apa yang aku pikirkan???
Jam sudah menunjukkan jam 8 malam kebetulan pekerjaan di kantor kuselesaikan dengan cepat dan aku bisa kembali ke apartmen, jam seginilah aku biasanya mengirim E-mail untuk sahabatku itu. Aku tidak peduli walaupun dia tidak membalas
satupun aku tidak pernah lelah untuk terus mengirimkannya sebuah email. Paling tidak ketika dia membuka E-mail nanti dia akan tau bahwa ada seorang wanita yang selalu setia mengirim tanpa mengharapkan balasan. Yaa…
sesimple itulah pemikiranku.
Kring kriing kring,
that’s my phone ringing. “hallo? dengan siapa ini?”, “ini Mas irwan ais”, “Ohh Mas irwan, ada apa?“, Mas irwan bercerita dia membutuhkan bantuanku untuk bekerjasama
menyelesaikan permintaan client yang rumit, aku pikir itu hanya modus Mas irwan saja. (Husshh kenapa jadi negative thinking gini sih,). Bisikku dalm hati.
Hari demi hari kulalui seperti biasanya
mengirim E-mail untuk sahabatku,dan bekerja, tapi ada yang berbeda 12 bulan sudah aku bekerja di perusahaan itu, Mas irwan selalu
mengajakku untuk membantunya dan aku semakin dekat dengan Mas irwan. Yang dulunya aku tidak pernah menerima ajakan makan malam sekarang hampir setiap malam aku makan bersama Mas irwan. Mas irwan
selalu memberiku kode-kode alam tapi aku pura-pura gak peka. Gak peka bukan berarti tak mendengar tapi lebih tepatnya tidak peduli. Mas irwan baik, tidak ada yang salah dengan Mas irwan hanya aku saja yang
terlalu lama sendiri. Entah kenapa yang ada di diriku beberapa tahun terakhir ini, semenjak aku putus dari pacarku dan perginya sahabatku itu aku jadi malas untuk berpacaran, aku mencintai sahabatku, aku masih ingin menunggunya, aku masih percaya dengan janjinya yang akan menemuiku kembali. Aku percaya bahwa dia akan kembali lagi ke sini, di sampingku.
Suatu hari aku dibuat terkejut oleh Mas irwan, dia berkata akan datang menemui orangtuaku untuk meminta izin. Meminta izin apa? aku sudah mengira dia akan datang untuk melamarku. Tapi bagaimana mungkin,
aku masih menanti seseorang yang belum kembali, aku masih tertegun dalam harap akankah dia kembali atau tidak? tidak ada kabar sama sekali. Apakah aku harus menerima
Mas irwan? aku benar-benar dilema. Seperti inikah ujung dari penantianku? yang kunanti tak kembali yang tidak kunanti hadir, bagaimana mungkin aku melepaskan orang yang ingin serius denganku hanya karena seseorang yang 4 tahun kunanti tanpa kabar
dan berita apapun. Tapi jujur aku masih sangat berharap untuk dapat bertemu dengannya. Aku ingin sekali mengetahui apakah perasaannya sama dengan perasaanku. Bagaimanapun ujungnya, aku tidak boleh egois
aku harus menghargai perasaan Mas irwan.
Jika memang Mas irwan yang terbaik
untukku aku berharap tidak akan bertemu lagi dengan sahabatku itu.
Orangtuaku setuju, semua sudah setuju aku dan Mas irwan bertunangan. Di hari pertunanganku dengan Mas irwan, tak sadar aku menjatuhkan gelas dalam genggaman
ketika mendengar seseorang berkata melihat Fachri membawa bunga di gerbang. Ya, fachri Rainaldy. Sahabatku sekaligus pria yang sangat aku cintai, pria yang selam 4 tahun ini aku tunggu kedatangannya. Aku pun
berlari tak menghiraukan apapun. Aku tak melihat ada fachri, dimana fachri? air mataku menetes. Seseorang yang selama ini kurindukan aku belum melihatnya tapi dia sudah pergi. Mas irwan datang menghampiriku
“aku tidak peduli seberapapun kamu mencintainya. Tapi disini aku sangat mencintaimu dan betapa bahagianya telah bertunangan denganmu hari ini,
jika kamu menangis aku akan menghapus air matamu, carilah dia yang kamu nantikan. Jika kamu tidak menemukannya, aku masih ada
dan siap menikahi kamu. Cukup melihatmu bahagia dan tidak menangis itulah cintaku yang nyata”.
Hari ini aku menangis tersedu-sedu
dihadapan mas irwan.
"Maafkan aku mas, aku belum bisa menjadi perempuan yang terbaik untuk kamu. Aku masih mencintainya, dari dulu dan sampai saat ini. Maafkan aku. Kamu mencintaiku, tapi perasaan memang tak bisa dipaksakan mas. Aku sudah berusahan untuk membuka hatiku untuk mas irwan, tapi tetap saja perasaanku masih sama, aku tak bisa. Maafkan aku". Jelasku sembari menangis tersedu-sedu. Aku menatap matanya, ada air yang jatuh dari ujung matanya. "Temuilah dia, jika itu akan membuatmu tenang. Jika dia tidak menerima cintamu. Hatiku masih terbuka dengan perasaan yang sama ais". Dia pergi membalikan badannya dengan rauut wajah yang kecewa.. Ada rasa sakit yang menyelinap dalam kotak rahasiaku.
Keesokan harinya, aku mencari fachri ke rumahnya tapi tak terlihat seorang pun. Aku mulai bingung harus mencari fachri kemana? apakah
benar fachri sudah kembali? tapi seharusnya dia memberitahuku lebih awal. Mataku menerawang ke sekeliling rumah fachri, aku melihat serangkaian bunga tergeletak di balik
semak. Aku pun meraihnya. ini bunga baru, ini artinya fachri benar-benar kembali. Sejenak terlintas di fikiranku tentang sebuah kotak kecil itu. Aku bergegas menuju taman dekat
sekolah. Tepat di bawah pohon yang sudah kami beri tanda aku masih sangat mengingat pohon itu walau tak diberi tanda. Aku melihat-melihat keberadaan fachri namun tak terlihat
juga. Akhirnya aku mendekati pohon itu aku menggali dan mengambil kotak itu, tapi sepertinya fachri sudah menggali tanah ini,
tunggu… Kenapa kotak ini tidak terkunci, fachri sudah membukanya aku tau karena kunci kotak ini di tangan fachri
Tidakk!! tidak mungkin, kenapa fachri mengosongkan kotak ini? dia hanya meninggalkan sebuah kunci. Sia-sia sudah aku tak akan bertemu lagi dengan fachri.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah E-mail masuk. “Aku tau kamu akan datang mencari kotak itu, aku memang pernah janji ketika kembali akan membuka kotak itu bersamamu.
Tapi malam itu aku tidak sabar ingin membaca apa yang kamu tulis, ("aku rindu kamu, dan aku sangat mencintaimu fachri. Kembalilah") aku sudah membalasnya malam itu. Dan kemarin aku melihat kamu bertunangan dengan pria itu. Kukira kamu benar-benar mencintaiku dan akan menungguku sampai kembali keisini. Tapi yasudahlah, aku tidak mau bertemu denganmu dan kamu jangan mau menjadi istriku. tapi tetaplah menjadi sahabatku selamanya. Aku akan datang di pesta pernikahanmu nanti. Umhh iya kamu tidak perlu khawatir kenapa aku tidak jadi menemuimu kemarin. Karena aku tau kamu sayang aku kan? mau jadi istriku
kan? hahahahaha ais… ais… I love you my best friend”.
Ya tuhaaaaaaann. Rasanya sakit sekali membaca setiap kata yang dikirimkannya. Bukan ini yang aku harapkan tuhan, bukan ini. Aku kira dia mempunyai perasaan yang sama, tapi nyatanya tidak sama sekali.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak membalasnya. Aku pergi meninggalkan tempat itu dengan berurai air mata. Dan aku putuskan bahwa aku akan menghilangkan perasaanku terhadap dia dan mencoba membuka hatiku untuk seseorang yang sangat mencintaiku. Ya Mas irwan. Pria yang memang harus aku perjuangkan.
Dikamar aku menatap langit dikamarku. Aku mencoba menenangkan hati dan pikiranku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. "Jangan dipikirkan, menikahlah dengan dia ais, pria itu sangat mencintaimu. Dan dia akan selalu menjagamu dan membuatmu bahagia. Aku ini bukan pria yang pantas untuk kamu. Maafkan aku jika selama 4 tahun ini telah membuatmu menunggu. Aku sudah mempunyai kekasih. Tetaplah menjadi sahabatku selamanya aisyah."
Aku tercengang, aku bingung harus menjawab apa. Setelah 15 menit diam akupun menjawab. "Aku tidak tahu selama 4 tahun ini kamu memikirkan perasaanku atau tidak. Terimakasih untuk banyak hal fachri. Maafkan aku yang sudah lancang menaruh harapan lebih diatas persahabatan kita". Balasku. Aku langsung mematikan handphonku dan membantingnya ke kasur. Hatiku hancur lebur. Ada yang terasa sesak. Sesak sekali..
Tok...tok..tok..
"Ais, kamu ada di dalam nak?" Panggil ibuku. "I...iiya bu, ada apa ?"
Aku membukakan pintu. "Lohh kamu kenapa? Kenapa menangis?" Tanya ibuku heran. "Tidak bu, aku tidak apa-apa. Oh ya bu kenapa panggil ais?" Jawabku mengalihkan pembicaraan. "Itu didepan ada mas fachri, cepat kamu temui dia". Aku terkejut. Kenapa dia kesini di saat keadaanku masih seperti ini. "I..iiya bu, aku cuci muka dulu".
Aku keluar dengan sedikit rasa canggung menemui mas fachri. Aku malu. "Mas fachri maaf menunggu lama" aku mencium tangannya. "Kamu kenapa menangis? Siapa yang membuatmu menangis?" Tanyanya khawatir sembari memegang pipiku. Aku terdiam. "Apa karena pria yang kamu nantikan selama ini?" Tanyanya. "Jawab ais..."
"Tadi pagi aku sudah menemuinya mas, dan aku putuskan bahwa aku akan melupakan perasaanku padanya." "Kenapa seperti itu ais? Bukankah kamu sangat mencintainya?" "Dia tidak mencintaiku mas, dan bodohnya aku yang sudah menyia-nyiakan mas fachri yang jelas-jelas sangat mencintaiku. Maafkan aku mas, jika selama ini aku masih menutup hatiku untuk mas. Maafkan atas kebodohanku. Dan sekarang perlahan aku akan mencoba untuk mencintai mas. Tuntun aku sampai aku bisa menjadi istri yang di indahkan oleh suaminya."
Lagi-lagi ada bulir yang jatuh dari matanya. "Mungkin ini yang dinamakan takdir indah. Kehendak tuhan memang selalu indah. Aku berjanji ais, aku akan menjaga kamu sampai nafasku berhenti berhembus. Kita akan berjalan bersama menuju jannah-nya. Aku mencintaimu" dia memelukku. Erat sekali. Aku merasakan getaran yang amat. Ya tuhan jika memang dia jodohku. Berikanlah kami kebahagiaan yang nyata. Tuntunlah kami menuju syurgamu.
Di hari pernikahanku dengan mas irwan , fachri benar-benar hadir disitulah aku kembali menatap wajahnya untuk yang pertama kali
setelah sekian lama tidak bertemu. Fachri tetap menjadi sahabatku dia bersikap nyaman sekali layaknya sahabat. "Selamat ya ais, atas pernikahan kalian, semoga berbahagia" ucapnya sembari tersenyum kepada ku dan mas fachri. Aku melihat kebahagiaan yang amat dalam wajahnya. Setelah itu fachri pun kembali ke Berlin untuk melanjutkan studinya, bekerja dan memulai lembaran baru di Berlin.
Dan aku juga membuka lembaran baru bersama Mas irwan.
Fachri sahabatku sejak kecil, dia pangeranku tapi tidak menjadi suamiku, sampai saat ini aku tidak tau apa jawaban fachri tentang
pertanyaanku. Terkadang kita pernah
mendengar “jika dia memang terlahir untukmu sejauh apapun kamu melempar dia akan tetap
menjadi milikmu”.
#Iipok #CintaAntaraFiksiDanNyata #SpyInLove #Cerpenku #MyStory #FR #FM
By:
Siti khopipah Aliskandar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar