Kamis, 08 Desember 2016
dibawah langit senja
Lulus Moderasi 28 November 2016
DI BAWAH LANGIT SENJA
Di bawah langit senja aku berdiri. Sebentar lagi
keindahan cakrawala kembali hadir. Tak berapa
lama, semburat warna jingga mulai
menerpaku. Ku pejamkan mataku erat. Ku
sampaikan pesanku kepada langit bertabur
warna jingga.
“Dan aku tak akan pernah lelah untuk
menunggu kebahagiaan yang akan
menyapaku nanti. Bersama langit senja, aku
mampu berdiri. Mewujudkan impianku dan
membahagiakan Ayah yang sedang
menatapku di atas sana,” bisikku kepada senja.
“Hei, apa yang kamu lakukan di sini?” aku
menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berdiri
dengan melipatkan tangan di depan dadanya
membuatku sedikit kaget.
“Aku Muhammad fachri Rainaldy putera, panggil
saja fachri,” dia mengulurkan tangan ke arahku.
“Sedang apa kau di sini?” ulangnya.
“Oh, hai, aku Jingga Permata Putri, panggil saja
Jingga,” ku balas uluran tangannya.
“Menikmati senja,” jawabku kemudian ku
alihkan pandanganku menuju gelombang
ombak bergulung-gulung di laut biru sana.
“Aku tinggal di kampung sebelah. Sekolah di
mana?” kemudian langkahnya mulai
menjajariku. Lalu kita duduk di atas pasir putih
ditemani deru angin yang meraung.
“Aku tinggal di kampung ini. Di SMA Wijaya,”
jawabku yang membuatnya sedikit terkejut. “SMA
Wijaya? Aku alumni sekolah itu. Sekarang aku
melanjutkan studiku di Taiwan,” jawabnya
sembari tersenyum.
Langit mulai gelap. Hingga aku memutuskan
untuk kembali ke rumah. Ku rebahkan tubuhku
di atas ranjang. Sesekali wajah tampannya
kembali memenuhi otakku. Mengingat wajah
tampan Kak fachri membuatku merasa aneh. Ada
rasa menggelitik yang aku sendiri tak tahu apa
itu. Segera ku tepis bayangannya. Rasa kantuk
mulai menyambar. Sehingga membuatku terlelap
bersama
bayangannya.
Sebulan ku habiskan waktuku
bersama Kak fachri. Setiap sore kita berdua
menikmati indahnya senja. Tak jarang pula kita
jalan bareng. Kedekatan ini mengusikku. Setiap
kali bersamanya, ada perasaan aneh yang
membuat degupku tak karuan. Ada rasa hangat
yang menyambar. Ada rasa nyaman
yang teramat sangat. Aku tak tahu apa yang
terjadi pada diriku. Yang ku tahu, aku hanya
merasa bahagia saat bersamanya.
“Hampir setahun aku tak bisa menikmati
indahnya senja di Taiwan. Pada dasarnya, senja
terindah adalah di sini,” kemudian dia
menyesap kopi yang sempat dia bawa.
“Kapan mau balik ke sana Kak?” tanyaku
sembari memeluk kedua lututku. Entahlah,
sore ini angin lebih kencang dari biasanya.
Sehingga rasa dingin menusuk kulitku.
“Mungkin seminggu lagi dek,” jawabnya
kemudian menoleh ke arahku. “Ini pakailah,
daripada masuk angin,” ia melepas jaket abu-
abunya kemudian memakaikannya untukku.
Perlakuannya ini membuat rona merah pada
pipiku.
“Yah, seminggu lagi? Lantas, siapa yang
menemaniku menghabiskan waktu bersama
senja?” raut kecewa terlihat jelas dalam wajahku.
Sejujurnya, aku tak ingin jauh darinya.
“Hei, ada apa denganmu? Aku tak akan ke
mana-mana. Aku akan selalu ada untukmu,”
kemudian dia mengusap rambutku layaknya anak
kecil. Degupku semakin tak karuan. Lalu, dia
mencubit pipiku yang membuatku
cemberut. “Kalau cemberut gini, kamu makin
cantik deh,” kemudian tertawa renyah. Aku
memalingkan wajahku. Berusaha
menyembunyikan rona merah pada pipiku.
Mentari menyapaku dari ufuk timur. Disambut
oleh burung-burung yang berterbangan
bernyanyi gembira. Embun yang membasahi
dedaunan membuat hawa cukup sejuk. Ditambah
angin pagi yang berlalu lalang menambah
ketenteraman di pagi ini.
Hari ini, Kak fachri akan kembali ke Taiwan. Aku
akan mengantarkannya ke bandara. Ada rasa
sedih dan kecewa. Tapi mau bagaimana lagi? Di
dalam perjalanan, aku hanya diam. Ku lihat
ternyata Kak fachri mencuri pandang ke arahku.
Linda, adik Kak fachri hanya mengamati
kediaman kami berdua.
“Kalian bertengkar? Tak seperti biasanya,”
ucap Linda yang membuatku cukup gugup.
“Adek, jangan sok tahu ya,” jawab Kak fachri
kemudian mengacak-acak rambut Linda yang
membuatku tersenyum.
“Jaga diri baik-baik di sana, jangan nakal,”
ucap mama Kak fachri. Kak fachri
menganggukkan kepala kemudian memeluk
wanita itu.
“Adek, jangan nakal ya. Jaga Mama baik baik.
Titip kak Jingga ya buat Kak fachri,” ucapnya.
kemudian memeluk adik semata wayangnya itu.
“Baik-baik di sana Kak, jaga kesehatan,”
ucapku kepadanya kemudian aku
mengulurkan sebuah kotak berwarna jingga
kepadanya.
“Kamu juga ya, aku akan merindukanmu
Jingga,” kemudian langkahnya menjauh dari
kami. Sebulan sudah dia meninggalkanku di sini.
Seminggu terakhir ini dia tak menghubungiku
lagi. Ada rasa rindu yang menyeruak dalam dada.
tenggelam dalam lautan asmara yang tak bertepi.
Di sinilah aku. Duduk di atas pasir menunggu
kembali datangnya senja. Lambaian
pohon kelapa yang diterpa deru angin menjadi
saksi kehampaan hatiku saat ini.
“Kak Jingga, Linda boleh duduk?” suara Linda
mengagetkanku. Kemudian dia duduk di
sebelahku.
“Kak fachri apa kabar?” tanyaku memecah
keheningan. “Baik katanya,” jawabnya yang
singkat membuatku sedikit bingung. “Apa yang
kamu
pikirkan?” lanjutku.
“Kak fachri beberapa bulan lagi akan pulang,”
jawabannya membuatku semakin bingung.
“Bukannya kamu senang kalau Kakakmu
pulang?” tanyaku menyelidik.
“Dia pulang dan membawa calon tunangannya
yang kebetulan sekampus dengannya. Dia anak
Surabaya. Dan aku selalu berharap kalau pada
akhirnya Kak fachri bisa jadian sama Kak Jingga,”
rasanya aku mendapat tamparan yang
sangat keras. Ada rasa sakit yang menjalar
dalam tubuhku. Lebih tepatnya dalam hatiku.
Tunangan? Secepat itukah dia melupakanku?
Sesakit inikah yang ku peroleh? Setelah
memendam rasa yang pada akhirnya hati ini tak
akan berlabuh kepada pemiliknya?
“Kak Jingga sayang kan sama Kak fachri? Kak
jingga cinta kan sama kak fachri” aku
hanya terdiam. “Jawab Kak!” lanjutnya.
Sepatah kata pun tak bisa ke luar dari
mulutku. Aku hanya tertunduk lesu. Di bawah
langit senja, aku kembali mengadu. Memarahi
diriku sendiri yang pada akhirnya cintaku
bertepuk sebelah tangan. Linda terdiam. Dia
menangis sesenggukan. Hening. Hanya suara
gelombang ombak yang ramai. “Aku sangat
menyayangi Kakakmu Linda,aku sangat
mencintainya!” Sontakku. hanya itu yang
dapat terlontar dari bibirku ketika semburat
cahaya jingga menerpaku. Semenjak kejadian itu,
tak ada komunikasi antara aku dengan Kak Fachri
maupun Linda. Sekarang, hanya kekosongan
yang menyelimutiku. Tak ada rasa bahagia yang
menyapaku.
“Kamu kenapa sayang?” sapaan dari bundaku
cukup membuatku terkejut. “Apa yang sedang
kamu pikirkan?” tanyanya kemudian membelai
rambutku dengan lembut.
“Tak apa Bun, hanya sedikit lelah,” jawabku
tersenyum pahit. “Kamu tidak bisa bohongi
Bunda sayang. Mata kamu berbicara lain. Kalau
tidak mau cerita ke Bunda, tidak apa-apa. Gini ya,
yang namanya hidup pasti ada cobaannya.
Bahagia dan sedih itu satu paket. Karena mereka
tak bisa dipisahkan. Yang namanya hidup tidak
mungkin lurus-lurus saja. Pasti ada saja halangan.
Bagai hitam di atas putih. Jadi semua tergantung
bagaimana kamu menghadapinya,” aku tertegun
apa yang
dibicarakan bunda. “Sudah malam sayang, ayo
tidur,” kemudian ibu membiarkanku sendiri
dalam lautan kebimbangan.
Anganku sering mendekap ragamu. Melepas
semua rindu yang kian menumpuk. Apabila
dihitung, sudah sebanyak rinai hujan yang turun
sesudah mendung. Anganku sering mendekap
erat ragamu. Sesering aku memimpikan untuk
kembali bertemu denganmu. Selama udara ada
untuk bernapas. Selama air yang terus mengalir
hingga sampai ke muaranya. Dan selama itu aku
menunggumu pulang. Kembali menyempurnakan
jiwa dan ragaku. Aku menyayangimu dengan
cara yang sederhana. Karena kau mampu
membuatku sadar bahwa kau sempurna.
Mentari kembali menyapaku
dari ufuk timur. Diiringi nyanyian burung-
burung yang berterbangan. Riuhnya angin
pagi membuat suasana lebih sejuk. Terlihat,
orang-orang sudah mulai sibuk dengan
aktivitasnya.
“Allah, biarkan aku bahagia di hari ini,” ucapku
penuh harap. Tak semestinya aku berlarut-larut
dalam kesedihan yang tiada arti. Aku berdiri di
depan cermin. Ku rapikan rambutku yang sedikit
kusut. Kemudian aku ke luar menuju
taman belakang rumah. Puluhan warna-warni
bunga menyambutku.
“Mau ke mana, Nak?” Tanya bunda ketika
melihatku terburu-buru. “Ke pantai, Bun. Mau
menatap senja,” jawabku
lalu ku cium tangan yang mulai keriput itu
kemudian aku berlari. Sedangkan bunda hanya
menggeleng-gelengkan kepala saja melihat
tingkahku seperti itu. Suara ombak
menemaniku. Seperti biasa, ku tunggu senja
beralaskan pasir. Angin berlalu-lalang yang
sesekali menusuk kulitku.
“Dan mungkin, aku adalah senja, yang
mendamba untuk memelukku fajarku,
mungkinkah?” aku bergumam kepada deru
ombak.
“Bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak
mungkin?” ku toleh sumber suara. “Kak fachri?”
aku terkejut. Apakah hanya sebuah imajinasi
belaka? Ini angan? Ataukah hanya bayang?
“Apa kabar kamu?” kemudian dia duduk
disampingku.
“Aku baik, kamu?” rasa canggung
menyelimutiku. Jantungku berdetak lebih
cepat. “Maafkan aku, aku terlalu ceroboh
meninggalkanmu,” ujarnya sambil memandang
langit yang mulai gelap.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan,” jawabku
tanpa menoleh ke arahnya. “Ada,” pandangannya
beralih kepadaku.
“Siapa?” ku pandangi dia. Orang yang ku
rindukan selama ini sekarang ada di
sampingku.
“Aku,” jawabnya. Matanya menatapku. Dan aku
tak bisa mengalihkan matanya yang indah itu.
“Hidup adalah pilihan. Itu pilihanmu. Aku
menghargai pilihanmu untuk menjauh dariku.
Jadi, jangan merasa bersalah seperti itu,”
Jawabku. Ku alihkan pandanganku kepada ombak
yang bergulung-gulung di dalam birunya laut.
“Lalu denganmu? Apa pilihanmu?”
pertanyaannya membuatku menghembuskan
napas panjang. Aku menoleh kembali ke arahnya
yang masih memandangiku. “Tinggal,” jawabku
singkat. “Dengan kata lain?” tanyanya
menggebu.
“Tetap tinggal, menunggumu bersama senja,”
jawabku. Kemudian semburat cahaya berwarna
jingga membuatku terpesona. Cahaya jingga
menerpa wajahku. Kak fachri tersenyum.
“Bernapas di sampingmu membuat jingga sore ini
lebih indah. Aku selalu menitipkan harapan
kepada angin sore, harapan agar selalu bisa
bersamamu, aku mencintaimu jingga” ucapnya di
tengah terpaan cahaya jingga.
“Maaf, aku telah membuatmu sedih. Aku lebih
memilih bersamamu dan pergi meninggalkan dia.
Karena kamu beda. Dan aku menyayangimu
Jingga, tolong beri aku kesempatan” ucapnya
membuatku
speechless. Hingga akhirnya aku menangis.
Menangis bahagia tentunya. Aku mentapnya lirih,
perasaan ini, cinta ini tak bisa dibohongi.
“Akupun begitu kak fachri. Jadi tetaplah di
sampingku. Jangan pernah pergi lagi,” jawabku
tersenyum.
“Apakah kamu siap kita berhubungan jarak
jauh?” tanyanya ragu. “Jarak dan waktu tak ada
artinya buatku. Karena pada cinta yang tulus,
akan mengerti bahwa pada akhirnya, rindu akan
menemukan
jalan pulang,” jawabku tulus. Ku lihat dia
tersenyum puas ke arahku.
“Please, be my girlfriend,” ucapnya kemudian
memberikan setangkai mawar putih entah dari
mana dia mendapatkannya. “You are the reason
why I’m in here,” jawabku
sambil ku pandangi sosok spesial di hatiku.
“I Love you Jingga Permata Putri,” teriaknya
ditengah deru ombak yang bergulung.
“I Love you too Muhammad fachri Rainaldy,”
jawabku tak mau kalah.
“Hanya setahun lagi sayang, setelahnya aku akan
tetap di Indonesia bersamamu,” di bawah langit
senja aku mendapatkan kembali semua cinta
yang hampir hilang. Ditemani deru ombak yang
meraung, sebuah perasaan yang ku pendam
akhirnya terbalaskan. Fachri,
membuat senja sore lebih indah. Dan membuat
Jingga merasakan kembali indahnya cinta.
sampai jumpa november penuh kabut, selamat
datng bulan baru, semoga lebih berkah
Selamat membaca Cerpen akhir bulan para
perasa selamat malam, semoga
tersampaikan..
#Iipok #CintaAntaraFiksiDanNyata #IZ #JCDD
#SpyInLove #Cerpenku #MyStory
By:
Siti khopipah Aliskandar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar