Rabu, 18 Januari 2017

mencintaimu dalam doa

Mencintaimu dalam do'a
Bahagia itu sederhana, saat kita bisa melepas rasa sakit dan menderita. Bahagia itu sederhana, saat kita mampu menerbangkan segala kesedihan. Merubahnya menjadi
senyum dan tawa. Bahagia itu sederhana saat melihat senyum manis yang sangat bahagia itu pun bahagia. Dan kebahagiaan itu sederhana, saat keyakinan kita akan sebuah cinta dan jadi alasan untuk bertahan. Bertahan untuk tersenyum, bertahan untuk menyimpan rasa dalam diam, dan bertahan untuk hidup.
Sejak dua puluh lima januari dua ribu lima belas, setelah satu tahun kita bersama. Kamu menyelinap dalam ruang hatiku. Menjadi sosok baru yang nampaknya menarik. Kamu menyukai apa yang aku suka. Tapi, kenapa
kamu tidak pernah menyadari semua
kenyataan bahwa kita mempunyai banyak kesamaan. Kita sudah saling tahu sejak satu tahun lalu. Pertemuan pertama kita terekam jelas di otakku. Aku sering memainkannya dalam gerak lambat. Mengingat mereka,
merasakan setiap helai gerakanmu.
Kita bertemu dalam sebuah ruangan kecil berwarna biru langit. Kamu ada di sana, aku ada di sana. Tidak saling mengenal. Dalam diam aku mengagumi dirimu. Dalam diam juga rasa kagum itu tumbuh menjadi
cinta. Cinta yang sederhana. Sesederhana hatiku memilih kamu, fachri. Sesederhana aku menyimpan rasa ini sendirian. Rasa yang tidak pernah hilang. Datang dan pergi sesuka hati. Yang dapat mendatangkan rindu.
Mencintaimu dalam diam… Bagaikan pungguk merindukan rembulan. Tapi bukankah cinta
tidak harus memiliki dan terikat. Fachri Rainaldy pria sederhana yang tampan sekaligus nama yang selalu mengisi setiap ruang kecil di dalam hatiku. Laki-laki baik dan menyebalkan. Laki-laki yang selalu membuatku tertawa dengan segala canda yang dia punya. Laki-laki yang selalu tersenyum untuk membuatku lega. Aku mencintainya, tapi sayang fachri mencintai maya. Perempuan yang sudah lama dia kenal, jauh sebelum aku dan dia
bertemu pada akhirnya.

Aku menatap jauh ke dalam ruangan berwarna kelabu. Dia ada di sana. Duduk di sebuah bangku urutan kedua. Ruangan itu tampak sepi. Gerak tangannya begitu lincah saat dia
memainkan ponsel berwarna hitam miliknya. Lalu, dia mengeluarkan headset berwarna putih miliknya. Mendengarkan sebuah lagu.
Tak lama, aku melihat mulutnya komat-kamit melapalkan lagu "a reason" lagu milik hobstank yang
merupakan lagu kesukaanku. Ah, fachri kita begitu sama. Tapi kenapa kamu masih tidak menyadari semua itu.
“Jadi, dia laki-laki yang sudah membuatmu seperti ini, li?” kata Lulu yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. “Eh, hei Lu. Sejak kapan kamu di situ?” tanyaku salah tingkah.
“Sejak kamu memperhatikan Fachri diam-diam.” Jawab Lulu datar. Aku tersenyum simpul dan mencoba sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang di dekat Lulu. Aku tidak Ingin orang lain tahu tentang perasaanku. Aku takut mereka menertawaiku, karena Fachri merupakan orang yang paling dibenci oleh teman-teman kelas. Oh ya, namaku firli meylani, perempuan sederhana yang tidak terlalu cantik yang hobinya membaca novel dan memperhatikan dalam diam.
“Kamu suka sama dia, firli?” Tanya Lulu. Aku hanya menggelengkan kepala. Perasaanku seketika tak menentu. “Kamu bohong, li!”
“Aku gak bohong, kok. Beneran..”
“Mata kamu gak bisa bohong, firliiiii. Aku sahabat kamu, aku udah kenal kamu lama, li.” tukas Lulu.
“Hhh I-iya deh aku jujur. A-aku suka sama Fachri, Lu.” Kataku gugup.
“Serius? Kok bisa sih kamu suka sama laki-laki individualis yang dingin itu? Semua orang di kelas benci sama dia. Tapi kamu, kamu malah suka sama dia.” Kata Lulu heran.
“Ya, terkadang jatuh cinta adalah hal yang paling tidak demokratis. Kita nggak bisa milih bahkan nolak untuk tidak menyayangi seseorang.” Kataku santai.
“Bener juga sih, li. Kalau gitu, kamu harus pertahankan rasa yang kamu punya buat dia. Kalau bisa sih kamu deketin dia. Siapa tahu dia punya rasa yang sama kayak kamu.” Kata Lulu
sumringah.
Aku tersenyum dan mematung. Memikirkan apa yang Lulu katakan. Bagaimana bisa aku mendekati Fachri. Laki-laki itu sangat dingin. Sudah satu tahun kita bersama, tapi kita tidak
pernah bertegur sapa. Kita seperti dua kapal yang berpapasan sewaktu badai. Kita telah bersilang jalan satu sama lain. Tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kita tidak punya apa pun
untuk dikatakan. Ditambah, aku tahu bahwa Fachri mempunyai rasa untuk maya, bukan untukku.
"Apa ada yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang paling kamu sayangi? Tentu saja ada. Ada yang lebih sakit daripada itu.
Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang selalu bertumbuh itu tidak pernah menyentuh dan menjamah. Seperti awan yang selalu bersama-sama dengan langit. Aku adalah awan dan Fachri adalah Langit. Meskipun kita
selalu bersama, tetap saja awan tidak akan pernah bisa menyentuh langit. Sangat menyakitkan. Tapi aku sangat bahagia dan bersyukur karena Tuhan selalu berbaik hati mempertemukan kita."
Seperti hari ini, guru mata pelajaran biologi ingin kita berkelompok.
Entah takdir atau sekedar kebetulan, aku dan Fachri ada pada kelompok yang sama. Tapi untukku, kebetulan itu tidak ada. Yang ada itu
takdir dan rencana Tuhan yang terkadang tidak kita sadari.
“Oh, ya jadi kapan kita akan kerja kelompok?” tanyaku memulai percakapan. “Gimana kalau hari minggu aja.” Jawab Alan, sahabat Farhan yang kebetulan satu kelompok
denganku.
“Oke aku setuju sama kamu, Lan. Tapi di mana?” tanyaku lagi.
“Di rumah kamu aja, firli.” Jawab Fachri. (Apa? Dia berbicara padaku) gumamku dalam hati. Aku mengangguk pelan tanda mengiyakan. Aku bahagia karena bisa mempunyai waktu lebih lama untuk bersama dengan Fachri. Meskipun hanya sekedar untuk belajar bersama yang
menurut orang lain tak seberapa. Namun untukku ini sangat luar biasa.
“Kamu mau membantuku kan, Lan?” Tanya Fachri sesampainya dia di rumahku. “Tergantung. Memangnya membantu apa?” Tanya Alan penasaran. Fachri terdiam sejenak saat dia tahu aku sedang memperhatikannya secara diam-diam.
“Maya..” ujar Fachri dengan tune suara yang pelan. Namun, aku masih mendengarnya.
“Maya? Kamu masih menyukainya, ri? Dia kan sudah punya pacar.” Ujar Alan.
“Iya aku tahu, Lan. Tapi setiap orang punya hak untuk mencintai seseorang, kan?” kata Fachri. Alan hanya terdiam lalu memandangi aku yang tidak fokus dengan apa yang aku kerjakan.
Mungkin Alan paham apa yang terjadi pada diriku. Sangat menyakitkan memang saat kita mendengar orang yang kita cintai membicarakan orang lain yang dia cintai.
“Udah seharusnya kamu membuka hati untuk yang lain, fachri. Siapa tahu di dekat kamu ada orang yang tulus mencintai kamu. kamu harus peka dengan dunia yang ada di sekitar kamu. Apa kamu sadar bahwa ada orang yang sangat dekat dengan kamu mencintai kamu dengan
tulus, ri?” ujar Alan. “Kamu tahu kan li siapa orang itu?” Tambahnya. Aku terkejut. Kenapa Alan bisa bertanya seperti itu padaku. Aku seperti tersudutkan. Apa mungkin dia tahu
bahwa aku sedang jatuh cinta pada
sahabatnya. Jatuh cinta sendirian.
“Aku gak tahu, Lan.” Kataku.
“Serius kamu gak tahu?” Tanya Alan lagi. Aku mengangguk mengiyakan. Kenapa Alan seperti menyudutkanku. Apa Lulu bercerita tentang
rasa yang ku punya pada Alan.
“Kalau misalnya ada yang tulus cinta sama aku, kenapa aku gak bisa tahu itu? Kenapa aku gak bisa lihat dia?” Tanya Fachri penasaran.
“Karena kamu menutup rapat hati kamu, ri.” Jawab Alan.
“Ya, aku memang menutup rapat hatiku, Lan. Kenapa aku gak bisa membukanya? Kenapa aku cuman bisa menyimpan satu nama di hati
aku? Kenapa, Lan?” Tanya Farhan lagi.
“Kamu gak usah tanya kenapa. Karena sejuta kata kenapa gak akan bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di hati kita. Dan sejuta
kenapa lama-kelamaan akan membuat kita mempertanyakan keputusan Tuhan. Bukankah sebaiknya kita selalu berprasangka baik sama Tuhan.” Ujarku, lalu memfokuskan diri pada
layar laptop di depanku.
“Nah! Aku setuju sama firli” Ujar Alan.
"Tuhan menyukai pribadi yang peduli terhadap seseorang yang menyayangi kita" tambahku lagi.
Farhan hanya diam. Dia tidak menghiraukan aku dan Alan. Dia benar-benar dingin dan datar. Seperti mati rasa. Aku benar-benar seperti tidak bermakna. Tak punyai arti apa-
apa. Seandainya dia tahu, kita mempunyai peran yang sama di panggung drama ini.
Sebagai orang yang tersakiti karena telah mencintai seseorang yang tidak pernah menganggap kita ada. Orang yang tersakiti karena kita memendam rasa ini sendirian. Tapi, bukankah cinta yang sebenarnya adalah cinta yang bermekaran di hati. Hanya kita yang
merasakannya.

Setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai. Memilih untuk diam,
memperhatikan dari jauh, atau mendoakan diam-diam. Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan
orang yang dia cinta. Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.
Setelah kerja kelompok selesai mereka pun bergegas untuk pulang. "Kita pulang dulu ya firli, makasih lhoo buat suguhannya. Hehee" ucap alan.
"Iya lan, sama-sama." "Fachri kok kamu diam saja? Cepat pamit , mau pulang kan ?" Suruh alan. "O...ooh iya, makasih ya firli." Kata fachri dengan nada datar tanpa senyuman.. Aku tersenyum. "Maaf ya kalau ucapanku tadi membuat mu tak nyaman". Ucapku.
Menyakitkan memang melihat raut wajahnya yang muram seperti itu. Aku merasa bersalah dengan apa yang aku katakan tadi. Mereka pergi, aku berharap fachri menengok lagi ke belakang meskipun hanya sekedar berpamitan lagi. Tapi nampaknya dia amat kecewa. Ya tuhaaaan,, aku menyayanginya. Aku sudah terlalu lelah jika harus terdiam dalam sakit yang berkelanjutan. Aku mencintainya..
Keesokan harinya di sekolah. Di kantin. Lulu menghampiriku.
“Firli, maafkan aku ya telah memberitahu perasaanmu pada Alan. Dia yang memaksaku, li.” kata Lulu yang sedang duduk manis di
sebelahku. “Gak apa-apa kok, Lu.”
“Beneran, li? sekali lagi maafkan aku ya, li.” ujar Lulu. Aku mengangguk pelan. Lalu memfokuskan diri pada novel yang baru saja aku beli kemarin.
“Oh, ya jadi sampai kapan kamu akan
memendam rasa yang kamu punya?” Tanya Lulu.
“Entahlah, Lu. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mencintainya. Itu saja.” Jawabku santai. “Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan berhenti mencintainya sebelum aku jatuh terlalu dalam,
Li. Karena untuk aku, bertahan mencintai orang yang tidak pernah mampu memcintai kita miliki itu seperti berdiri di bawah siraman hujan. Awalnya memang menyenangkan, tapi
lama-lama akan membuat kamu sakit. Kamu bahkan gak bisa berlari lagi karena kamu terlalu menggigil kedinginan.” Ujar Lulu panjang lebar.
“Lulu, jika kita benar-benar menginginkan cinta, maka cintalah yang pada akhirnya akan menunggu kita. Kamu percaya itu kan, Lu?
Dan, jika kita ingin melakukan sesuatu karena cinta, lakukanlah hal itu dengan sekuat tenaga yang kamu miliki, sabar, tulus dengan sepenuh
hati tanpa mengeluh. Kelak pada waktunya nanti, maka dia akan datang padaku.” Kataku.
“Kamu hebat, firli. Bisa bertahan mencintai seseorang yang tak pernah menyadari akan hadirnya cinta yang tulus itu. Aku salut sama kamu.”
"Aku mencintainya, dan untukku mendoakannya setiap haripun adalah bukti rasa cintaku yang nyata,". "Apa kamu tidak merasa tersakit li ?" Tanya lulu lagi. "Haha tersakiti ? Jujur rasa sakit itu selalu ada saat melihat dia lu. Tapi aku selalu tersenyum untuk mempertahankan rasa cintaku ini. Aku hanya bisa berdo'a semoga tuhan lambat laun akan membuka pintu hatinya bahwa ada seseorang yang diam-diam selalu menjaganya dalam do'a".
tersenyum. Sebenarnya bukan
keinginanku untuk terus memendam cinta. Bukan kemauanku untuk terus diam meskipun ada perasaan yang sangat dalam. Diamku, bisuku, dan rasa bertahan untuk tidak mengungkapkan itulah yang membuat cinta yang aku rasakan justru terlihat ada dan nyata. Lalu, dari jauh aku hanya bisa menatapnya, berharap dia bisa merasakan perasaanku tanpa
harus aku ungkapkan.
Setiap hari, aku hanya bisa mendoakannya, meyakini bahwa Tuhan akan selalu menyelimuti dia dengan kebahagiaan. Namun, sampai kapan aku bertahan untuk diam?
Jatuh cinta sendirian adalah jatuh yang
memberikan sejuta rasa. Rasa sakit karena harapan tidak sesuai kenyataan. Rasa khawatir saat dia tidak masuk sekolah atau terlihat
seperti yang sedang sakit. Juga rasa bahagia karena bisa melihatnya tertawa lepas. Meskipun kita sadar, alasan dia tertawa bukanlah kita. Jatuh cinta sendirian, dalam doa ku sapa dirimu. Semoga kamu akan mengetahuinya, fachri.
Seketika aku sedang asik ngobrol dengan lulu, tiba-tiba alan menghampiriku dan lulu. "Hey, lagi ngapain nih? Kayanya serius banget, kita ikut gabung yaa.." "Eh alan" dan
Ya tuhaaaan .. Didepanku. Ada pria yang sangat aku cintai. Kenapa fachri harus ada disini. Dia melihatku saat aku menatapnya. Rasanya malu sekali.. "Eey firli, kok bengong? Kita boleh ikut gabung kan?" Sontak alan lagi. "I...iya tentu saja boleh kok". Jawabku. Kami berbincang, membicarakan masalah kerja kelompok hasil kemarin. Tapi tetap saja aku merasa canggung jika di depanku ada fachri. Sungguh tuhaan,, aku sangat berharap jika setiap hari dia ada di sampingku. Tapi aku tak kenapa, perasaan ini selalu aneh. Aku suka melihatnya tersenyum, aku suka saat dia bicara dan aku suka dengan semua aktivitas yang dia lakukan..
"eh, aku masuk duluan ke kelas ya, mau beresin tugas dulu." Tiba-tiba fachri berbicara. "Lah kenapa ri, tumben? Santai dulu aja disini". Saran alan. "Gak apa-apa" katanya sambil tersenyum lalu pergi.
"Firli? Apa kamu akan tetap seperti ini?" tanya alan. "Seperti ini apa?" Tanyaku heran. "Ya kamu bertahan dalam diam, untuk mencintai seseorang yang tidak tahu apa yang kamu rasakan." Jelasnya. "Iya firli, bertahan dan menunggu seseorang yang tak taahu apa yg kita rasakan itu sakit. Aku pernah merasakannya dan aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi." Sambung lulu. Aku terdiam. Kenapa mereka seakan memojokanku untuk berhenti bertahan dan menghilangkan perasaan ini. "Tak apa, mungkin ini yang terbaik". Jawabku singkat. "Terbaik bagaimana. Setiap hari kamu melamun, tak ada gairah. Firlii,, aku tak ingin kamu tersakiti seperti ini terus." "Sudahlah... Jangan membahas ini lagi."
Tet....tet....tet.... Bel masukpun berbunyi. Kami kembali ke kelas karena pelajaran akan di mulai..
Sehari duahari seminggu hariku masih seperti biasa. Perasaanku pun masih sama. Aku masih selalu memperhatikannya dalam diam. Dan aku selalu mencari tahu, bagaimana perasaannya terhadap maya perempuan yang di cintainya itu. Aku
Mendengar dari alan, kalau fachri sudah tidak mencintai maya lagi. "Firli, aku mau ngasih tau kamu. Kalo sekarang fachri sudah tidak lagi mencari tau tentang maya lagi?" Kata alan. "Hah? kenapa begitu? Bukankah dia sangat mencintai maya?" Tanyaku kaget. "Aku tak tau, mungkin dia lelah dengan pengharapannya yang tak kunjung pasti. Atau mungkin juga dia sudah mau membuka hatinya untuk seseorang yang mencintainya, yaitu kamu" ucapnya. "Aahh kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin." Sangkalku dengan nada biasa saja.
Siang harinya, saat aku hendak ke perpustakaan. Aku sedang mencari buku cerita yang sering aku baca. Ketika aku hendak mengambil buku itu, ada seseorang yang mendahuluiku. Tangan kami bersentuhan. "Fachri...." Aku melihatnya.. "Firli..." Dia menatapku.. Setelah beberapa detik tangan kami bersentuhan, diapun melepaskannya. Ya tuhan,, tangannya hangat sekali. "Kamu mau baca buku itu?" Tanyanya. "I....iya.. Aku belum selesai membacanya. Kamu juga mau membacanya ya ?" "Iya.." "Oohh yasudah kamu dulu saja yang baca duluan." "Tak apa, kita baca bareng saja disini."
Apaaa?? Dia mengajakku baca buku bersama. Tuhan apa ini mimpi ? Aah aku aku tak mimpi kan ?
"Heeyy kok bengong, boleh kan?" "I..iya boleh". Jawabku gugup.
Kami duduk bersama di satu bangku perpustakaan.. Tanganku dingin. Jantungku berdebar. Aku takut dia mendengar bagaimana detakan jantungku sekarang. Kita membaca buku tadi, kepala kita berdekatan. Dan aku dapat merasakan bagaimana hembusan nafasnya. Aku ingin hal seperti ini terus terulang.
Kami ngobrol cukup lama sekali. Aku mulai merasa tenang. Rasa canggungku berkurang. "Ternyata kamu asik juga ya orangnya" fachri bicara. "Hmmm kamu ini bisa saja."
Sejak hari itu, aku dengan fachri mulai merasa dekat.. Dan setiap malampun kami selalu bertukar suara, sampai mataku terlelap. Dia menyenangkan. Aku semakin mencintainya. Semoga penantianku dalam diam selama ini berujung bahagia.
Kriing...kring nada dering teleponku berbunyi. Aku langsung mengangkatnya. Fachri...
"Hallo,, firli.." "Iya fachri, ada apa?" "Tidak, aku hanya ingin mengajakmu jogging besok di taman. Kamu mau kan?". "Hmm.. Iya aku mau fachri". "Yasudah, besok kita ketemu ditaman jam 8 pagi yaa.. Aku tunggu kamu" "iyaa aku akan kesitu".. "Yaudah,, selamat beristirahat ya firli meylani, mimpi indah untukku,, eeh maksudku untukmu.."Ungkapnya.. Dia langsung menutupnya..
Ya tuhaaaan apa yang dia bicarakan barusan. Apa dia juga merasakan perasaan yang sama? Apa dia juga mencintaiku? Aku tersenyum kegirangan. Malam ini kau tertidur dengan bunga-bunga yg ada di hatiku..
Keesokan harinya, kita bertemu di taman. Dia sudah ada menunggu ku disana. "Pagi fachri,, maaf ya menunggu lamu." Aku menepuk bahunya dan duduk tepat disampingnya. "Iyaa tak apa. Kamu sudah sarapan belum?" "Udah kok"..
Kita berjalan santai sambil menghirup udara segar. Suasana seakan membeku. Dia berusaha mencairkan suasana. "Firli, alan bilang padaku. Bahwa kamu sangat mencintai seseorang di kelas kita? Siapa itu?" Tanya nya mengagetkanku. "Hah? Aaahh tidak. Bukan siapa-siapa kok. Oh ya, gimana kamu dengan maya. Alan juga bilang kalo kamu sangat mencintai maya bukan?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Iya.." Jawabnya. Aku terdiam. Sakit rasanya mendengar jawaban singkatnya itu. Perasaanku hancur. Ternyata dia masih mencintai maya. "Tapi itu dulu firli.." . Dia berhenti berjalan. Menarik tanganku. Dia membalikan badanku dan menatapku dengan tajam sekali. Tangannya menggenggam kedua tanganku. *Deug* jantungku. Ya tuhaan apa ini. Apa yang dia lakukan.. "Dulu aku mencintai maya, dulu juga aku menutup hatiku untuk orang lain. Tanpa sadar bahwa ada orang yang sangat mencintaiku juga. Dulu, Aku tak pernah tau dan tak mau peduli
Dengan perasaan orang itu. Aku mencintai maya dalam diam, dan aku tau bagaimana rasa sakitnya memperhatikan seseorang yang kita cintai tanpa dia tau apa yang kita rasakan." Jelasnya. Aku terdiam. "Dan sekarang aku tak ingin hal itu terjadi pada seseorang yang mencintaiku. Aku. Tak ingin rasa sakit itu terjadi padamu firli.. " "Maksud kamu" tanya ku tertegun."Apakah kamu mencintaiku firli, seperti yang aku rasakan sekarang". Aku semakin beku. Mataku mulai berkaca-kaca. "Aku mencintaimu firli. Kamu telah mengubah perasaanku. Aku mencintaimu karena kesabaranmu dalam mencintaiku. Kamu istimewa, kamu lebih memilih tersakiti untuk membuatku bahagia meskipun itu sebabnya bukan kamu. Maka dari itu, aku ingin mengistimewakanmu dan menjagamu dengan nyata bukan hanya melalui do'a ". "Apa kamu bersedia, kita memulainya dari sekarang sampai kita dipisahkan oleh maut yang tuhan ciptakan." Tanyanya lagi. Aku mulai berbicara.
"Fachri... sejak pertama kali aku melihatmu. Aku mulai menyukaimu dan diam-diam rasa cinta itu mulai hadir. Setiap hari setiap melihatmu ada rasa senang yang memburu. Setiap malam aku selalu berdo'a untuk kebahagiaan kamu, dan sebelum aku tidur aku selalu berharap bahwa malam ini kita bisa bertemu meskipun hanya dalam mimpi. Saat aku tau bahwa kamu mencintai maya. Lukaku basah lagi fachri.. Tapi aku selalu tegar karena aku yakin tuhan selalu mendengar do'aku untuk kebahagiaanmu meskipun itu bukan denganku. Dan sekarang, tuhan telah mengabulkan semua do'aku. Aku mencintaimu fachri, sungguh. Dan aku ingin kita berjuang untuk membangun keluarga yang penuh rahmat." Jelasku. Ada butiran halus yang jatuh dari ujung matanya. Dia menangis. Tiba-tiba dia memelukku dengan erat sekali. "Aku akan menjagamu dengan nyata sayang, aku mencintaimu" ucapnya lirih saat memelukku. Ada perasaan yang sangat luar biasa. Ya tuhaaaan semua do'a itu. Terimakasih..
Hari ini aku menangis bahagia.
Sehari seminggu sebulan. Aku menjalin hubungan dengan pria yang sangat aku cintai.
Ada kebahagiaan yang luar biasa di hari-hari yang aku lewati bersamanya. Aku semakin mencintainya. Dan semakin takut untuk kehilangannya..
Di rumahku saat dia mengantarku sehabis pulang sekolah. "Aku tak ingin kehilanganmu fachri" "kenapa begitu?" "Karena aku mencintaimu. Dan tolong jangan tanyakan kenapa aku mencintaimu, karena yang aku tau semua itu adalah anugrah yang tuhan kasih untukku". Jelasku lirih sambil memeluknya. "Akupun begitu sayang, aku tak akan pergi dari kamu kecuali kamu dan tuhan yang memintanya.. " Jawabnya sembari mengelus rambutku. "Yasudah aku pulang ya, jangan sedih. Aku pasti datang lagi. AKU MENCINTAIMU" pertamakali nya dia mengecup keningku seperti ini.
Aku mengantarnya ke gerasi untuk pulang. Dia mengendarai motor. Aku terus melihatnya sebelum dia pergi pulang. Sesaat dia hendak menyebrangi jalan dengan motornya. *Braaaaaaaaakkkk sebuah truk melintas. Dia tertabrak dan terlempar sejauh 20 meter. "Faaaaaaaaccchrrrrriiiiii"... Aku berlari sambil berteriak dan menangis. Banyak orang berkerumunan. Motor nya hancur lebur. Aku langsung mengangkat kepalanya lalu menindihkannya dibahuku.. Dengan tangan gemetar dan berlumuran darah. "Fachri .. Fachri.. Fachrii.." Aku terus memanggilnya. Dia tidak sadarkan diri. Airmataku terus bercucuran. Tuhaaaaaaann kenapa semua ini harus terjadi. Tolong sadarkan dia. Jangan dulu kau ambil nyawanya. Aku masih ingin bersamanya. Kenapa....
"Fachrii.. Bangun.. Aku tak ingin kamu pergi. Aku ingin kamu tetap bersamaku." Tangisku sesenggukan. Tiba-tiba dia mengusap airmataku. Dengan lemah dia mengangkat tangannya.
"Ja...jangan me menangis sayang. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu secara nyata. Tolong jaga aku dalam do'a. Tuhan memintaku untuk pergi. Jaga diri baik-baik. Aku mencintaimu sayang." Ucapnya lemah. Dia mulai melepaskan tangannya. Matanya terlelap.. "Fachri.. Fachriii.... Jangan pergi, " tubuhku bergetar.
Yatuhaaaaaann kenapa kau menyuruhnya pergi secepat ini. Tangisku semakin pecah. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Perasaanku seakan hancur lebur.
aku melihat tanah merah yang menjadi rumahnya sekarang. "(Tuhan, jika denganmu dia lebih bahagia. Aku ikhlas, aku akan menjaganya melalui do'a seperti dulu yang selalu aku sampaikan padamu, jaga dia, berikanlah tempat terindah untuknya)"
Dia adalah ciptaanmu yang aku hargai kedatangannya. Meskipun singkat, tapi sungguh aku sangat mensyukurinya. Dan cinta ini, aku akan menjaga anugerah ini untuk seseorang yang akan kau hadirkan di kemudian hari.
Selamat jalan sayang, terlelaplah....
FR <3 FM
By:
Siti khopipah aliskandar

Tidak ada komentar: