Rabu, 18 Januari 2017

karenamu aku mencinta_Nya

Foto Siti Khopipah Aliskandar.


Selamat malam, semoga selalu diberikan keberkahan :) Judul: Karenamu aku mencintai_Nya Oleh : Siti Khopipah Aliskandar Ya Allah, Andai masanya belum tiba, Jangan izinkan aku untuk jatuh cinta, Aku memohon agar Kau tunjukkan jalan, Agar Kau tunjukkan aku tuntutun yang perlu aku lakukan, Jauhkanlah aku daripada kemaksiatan, Jauhkanlah aku daripada perkara yang tidak dapat memberi manfaat, Dan jauhkan aku daripada perkara yang Engkau murkai, Agar aku dapat menjaga diri. Ya Allah, Jika aku jatuh cinta, Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, Jadikanlah aku yang mencintainya kerana agama yang ada padanya, Jika dia hilangkan agama yang ada dalam dirinya, Maka hilanglah cintaku padanya, Sesungguhnya, cinta yang suci itu tidak buta. Ya Allah, Dan jika dia mencintai aku, Biarkanlah dia mencintai aku kerana agama itu juga, Asalkan dia tidak lebihkan cinta kepadaku melebihi cinta kepadaMu, Supaya cinta itu bersemi di lembayung keredhaan-Mu, Kerna dari situ lahirlah rahmah dan mawaddah dalam rumahtangga. Ya Allah, Jika ini bukan masanya, Jika ini belum saatnya, Dan jika Kau tahu kami belum bersedia, Selamatkan kami, Jarakkan kami, Pisahkan kami, Agar kami jauh dari khilaf yang merosak izzah dan iffah, Agar kami tak mengundang murka-MU, Agar kami dapat lebih menjaga hati, Agar hati menjadi yang diredhai ilahi. Ya Allah, Andai dia bukan untuk ku, Andai dia bukan jodohku, Maka berilah ganti yang lebih baik buatnya, Berikanlah dia insan yang benar benar terbaik buat kehidupannya, Insan yang benar-benar mampu memimpinnya ke syurga-Mu, Dan bantulah aku untuk memperbaiki diriku, Agar aku kukuh dalam mencari cinta-Mu. Amiin.. Mulai muncul di gulungan awan putih teriknya sungguh sangat menyilaukan. Membuat lengkungan merah mulai mengering. Perkenalkan aku Aisyah, aku baru saja lulus SMP. Kini aku mengendarai motor bersama ayahku menuju sekolah baruku. Aku terkadang malu akan keadaanku, namun aku berusaha dan selalu berusaha menguatkan tekadku. Aku harus melebihi hari ini, aku ingin menjadi anak yang berbakti pada kedua orangtuaku. Sambil memeluk ayahku dengan tangan kananku, tangan kiriku mulai sibuk merapikan jilbabku. Tak berselang berapa lamapun gerbang sekolah telah menyapa, aku turun dan menghiraukan orang di sekelilingku sembari mengatakan dalam hati “Kenapa? Apa yang mereka lihat? Ayahku? Kenapa ayahku? Penampilannya? kenapa memang? Setidaknya ayahku menyempatkan waktunya untuk mengantarku, menjagaku, apa masalah bagi mereka?”. Aku pun kembali meredam amarah dan membangkitkan senyuman yang hampir saja padam dari tatanan wajahku. Aku memasuki sekolahku dengan langkah kaki kecil yang tertata, setiap kali mataku berpaling terlihat megahnya arsitektur sekolah ini. Aku bersyukur meski diriku dari keluarga sederhana setidaknya aku bisa masuk ke sekolah yang bisa dikatakan kelas berat ini. Tiba-tiba. duk dukk . Buku berserakan di lantai. “afwan akhwat.” Suara itu datang dari sebelahku, aku tidak mengerti bahasa apa itu, aku hanya mencoba mengangguk, dan mengambil beberapa bukunya. “Kamu siswi baru ya? pantas saja aku baru lihat. perkenalkan namaku fachri, fachri Rainaldy tepatnya. aku baru saja naik kelas 11. Afwan akhwat atas yang tadi, aku benar-benar tak sengaja.” Lirihnya mulai melangkah mundur. “kalau namaku Aisyah kak, panggil saja ais.” Aku mengulurkan tanganku. Dia hanya tersenyum, sembari menjawab “Aisyah muslim kan?, sebagai muslimah yang taat Ais harus tau, dilarang loh bersentuhan dengan lawan jenis, Ais mau jadi muslimah sejati kan?’” jawabannya membuatku tersipu malu, aku tidak mengetahui hal itu. Aku hanya mengangguk pelan dengan menundukkan pandanganku “Kalau begitu aku pergi dulu, assalamualaikum Aisyah” dia berjalan perlahan menjahuiku. Sungguh tak salah aku masuk sekolah ini dalam bidang akademik mungkin aku juga bisa menambah pengetahuan agamaku selain yang kumengerti hanya yang wajib saja. Sekolah yang luar biasa dalam sekejap deretan wajah-wajah baru telah menjadi temanku. Ya Allah semoga teman baruku itu bisa menjadi sahabatku, inilah permintaan pertamaku di sekolah ini. Aku berjalan melintasi kooridor kelas yang mulai ditemani angin. Terkadang menengok isi ruang kelas. Tanpa sadar aku melihat kak Fachri sendiri membaca buku. Aku mengetuk pintu “assalamualaikum kak”. Aku mulai membuka pintu “jangan, aku hanya sendiri, tunggu sampai yang lainnya datang. Nanti jika hanya kita berdua akan menimbulkan fitnah Ais.” Aku menutupnya kembali. Beberapa saat kemudian ada sekelompok siswa yang muncul, bukan hanya siswa tapi siswi juga. Dengan pakaian mereka Masyaallah luar biasa. “nah Ais, ayo masuk” suara itu menyapaku pelan dari balik pintu, suara kak fachri “Ais, ini adalah komunitas kami Remaja mesjid, kami-kamilah yang biasanya mengurus mesjid sekolah. Jadi saat pulang sekolah seperti ini kami diskusi dulu, diskusi semacam ilmu agama, nah kalau sudah ashar kita sholat dimesjid selanjutnyaa ada sesi membersihkan mesjid.” Jelas kak fachri. Aku mulai berfikir, aku sangat tertarik. Tapi aku juga memikirkan baagaimana dengan kerja tugasku dan waktuku membantu ibu. Aku mulai melirik kak fachri. Dia menunduk dan tersenyum “Tenanglah aisyah, kami juga dahulunya berfikir bahwa ini terlalu membuang waktu, tapi coba pikirkan kapan lagi kita bisa lebih dekat sama pencipta kita, kapan lagi kita bisa belajar, itu juga pernah ada dalam benak kami semua. Makanya kami terkadang harus berkorban, dalam hijrah seorang hamba memang seperti ini, kami terkadang membuang waktu istirahat kami guna langsung mengerjakan tugas ataupun belajar, tatkala teman bermain kita malah serius-seriusnya. Ya tidak menjadi masalah bagi kita, asalkan diridhoi Allah” Aku berfikir kembali, dan aku bertanya “Kak boleh aku bergabung?” “ya jelas bolehlah, kami disini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih baik agama islam”. Aku tersenyum malu menatap wajah kak fachri, dia begitu baik, parasnyapun sesuai dengan sikapnya, dihari pertama aku mengenal orang ini aku sudah menganguminya dan ingin menjadi sepertinya .. Waktu kian berlalu aku sudah 6 bulan berada di sekolah ini, yang berarti sudah 6 bulan juga menjadi anggota remaja mesjid, yang Alhamdulillah makin banyak saja yang kuketahui tentang agamaku ini. Hari ini juga sudah pembagian raport. Alhamdulillah aku setidaknya memasuki sepuluh besar di urutan ke 8. Namun hari ini berarti keseharianku disekolah dan keseharianku sepulang sekolah akan terhenti selama dua minggu. Aku pulang dengan perasaan yang lumayan hampa, aku sama sekali tidak memiliki nomor teman-teman remaja mesjid dan kak fachri. Aku menghampiri kasurku ditemani alisku yang mulai mengkerut karena gelisah. Lalu mengutak-atik ponselku. Kini mulai membuka facebook ku yang sudah lama belum kubuka. Aku mengutak-atik isinya. Pemberitahuanku mulai menggunung, pesan dari teman lamaku juga. Tapi aku masih bosan juga. Kini kucoba mencari nama kak fachri. Aku menemukannya, aku merasa senang. Aku menambahkannya sebagai temanku, dia langsung mengkonfirmasi permintaan pertemananku. Aku senang sekali, bahkan rasanya ingin meloncat dari kasurku ini, Aku mengirimakannya pesan, aku terlihat cukup berani “Assalamualaikum kakak, apa kabar ?” Kata itu mengawali percakapan yang sangat panjang Aku mulai dekat dengan kak fachri dihitung-hitung ini tahun terakhir, kak fachri di sekolah ini, maksudnya dia itu sudah kelas XII. Teman-temanku pun terkadang menyindirku, apa salahnya sih? Kan aku juga tidak memiliki perasaan seperti itu. Dan aku memang belum pernah seperti itu. Lagi pula aku dan kak fachri dekat bagaimana coba? Kan cuma chat di Facebook, kalau berpapasan cuma senyum saja, ya cuma biasa-biasa saja. Lagipula aku dan kak fachri tau bahwa banyak perbuatan yang mendekati zina, makanya bicaranya hanya melalui via tulisan aja. Kak fachri juga tidak peka ya, atau memang tidak sadar temannya mulai menggosipinya? Entahlah Aku ingin menenangkan diri di mesjid dengan sholat dhuha. aku berfikir apa langkahku sudah benar ya, apa hijab syar’i kaos kaki ini kupakai dengan sepenuh hati, kenapa rasanya aku semakin gelisah? Aku pun bertemu kak Nisa di mesjid, dia ini juga makhluk yang temasuk orang yang kukagumi seperti kak fachri. Yang Masyaallah remaja mesjid tulen. Aku bertanya akan masalahku. Dia bercerita, ya cerita agama yang menginspirasi diriku tantunya. Setiap pertanyaanku dijawabnya dengan nada yang betul-betul lembut, aku kembali berpikir dan mengkhayal. Mungkin saja jika aku ini kaum Adam, maka aku akan menyukai kak Nisa. Mulailah syarafku terhubung, terpintas di pikiranku “Kalau kak fachri kira-kira suka dengan kak Nisa ya?” astagfirullah, kenapa aku jadi makin aneh saja. Mulailah aku bertanya masalah remaja, aku sih bingung mau bertanya apa. Aku tidak menyukai kak fachri tapi aku sepertinya sangat ingin jika suatu saat nanti orang seperti dialah yang menjadi pendampingku “Kak bagaimana jika aku mengidolakan seseorang, ya maksudnya begini kak. Aku mengangumi sifat lawan jenisku. Dan mulai memperhatikannya?” Kak nisa tertawa kecil. Dia mulai menjelaskan tentang kewajaran seorang manusia memiliki perasaan seperti itu, itu namanya fitrah. Malah kak nisa juga sempat menggodaku “Benar Cuma mengagumi? Kita tidak tau akan menjadi apa perasaan itu nantinya. Memangnya siapa Pria yang kamu kagumi Aisyah, ayo beritahu kakak?”. Aku tersipu malu, perkataan itu bagai rasa asin pada makananku, yang benar-benar kurasakan. “kak fachri, kak” ucapku tertunduk. Kak nisa mulai tertawa melihatku. Diapun menasehatiku bagaimana caranya menjadi seorang muslimah yang taat. Bagaimana caranya merantai nafsuku. Dan memberi tahuku bahwa jangan sampai menimbulkan syahwat bagi lawan jenisku. “Ais, dengar ya , karena seorang muslimah itu, bukanlah sebuah bunga yang bisa dijamah oleh lebah, melainkan sebuah mutiara di dasar laut yang paling dalam dan dilindungi oleh kulit tiram yang keras.” Perkataan itu mematungkanku Perkataannya satu persatu kusimpan. Terlingaku bagai perekam yang handal. Aku memeluk kak nisa “syukron kak, semoga kakak selalu istiqomah di jalannya” Aku mulai mendengar pekataan kak nisa, akhir-akhir ini aku bahkan tidak chat dengan kak fachri. Tapi aku dilanda kebingunan lagi hari ini ulang tahunnya kak fachri. Ulang tahun terakhirnya di sekolah ini. Aku bimbang, akupun juga merasa ketakutan. Aku sebenarnya sangat ingin memberi hadiah tapi aku juga takut akan perkataan kak nisa agar jangan sampai menimbulkan syahwat pada lawan jenis. Oh tidak, rasanya sulit sekali memutuskannya. Akupun mulai mengutak-atik lemariku. Aku mendapatkan buku yang baru kubeli beberapa minggu lalu dan masih belum pernah kubaca. Aku memeluk buku itu, dan akhirnya memutuskan untuk memberinya hadiah sekali ini saja. Aku mengambil kertas kado dan kertas origami. Kertas origami kutulis pesanku “yaumul milad Kak, tetap istiqomah ya, makasih ilmunya” kubentuk menjadi burung dan kuselipkan pada sisi bukunya. Lalu kubungkuslah dengan kertas kado. Aku bertemu dengannya di gerbang sekolah “Assalamualaikum kak.” Sapaku pelan. “waalaikum salam ais, ada apa?” dia menatapku dengan senyuman. Aku menunduk “kak boleh aku pinjam tas kakak?” dia langsung memberikannya tanpa bertanya. Aku berlari lumayan jauh. Kak fachri pun mengejarku. Setelah jarakku mulai jauh, aku menaruh hadiahku di tasnya. “kamu kenapa ais, kenapa lari?” tanyanya terengah-engah. Aku langsung pergi saja dan melempar tasnya Kupikir dia telah melihat apa maksudku, semoga dia menyukainya. Kali ini aku ON facebook. Memastikan bahwa dia menyukainya. Aku mengiriminya pesan. Dia tidak kunjung membalasnya padahal tanda hijau masih menyala. Aku mengiriminya lagi hingga 5 kali. Dan akhirnya dia membalas “Afwan adik” balasan pertamanya menggetarkanku. Tidak biasanya dia memanggilku dengan adik, yang biasa itu dengan namaku. “kenapa kak? kakak sakit?” Aku membalas kirimannya “tidak, hanya adik harus tau, tidak ada perayaan pertambahan umur di islam dan ini sudah berlebihan, afwan akhwat” setelah pesan itu kubaca. Tanda hijaunya sudah tidak menyala. Apa ini artinya kak fachri marah? Aku mencoba mengiriminya pesan Sudah seminggu kak fachri masih begitu saja, saat berpapasan pun aku tidak disenyumi lagi. Pesanku hanya dibaca dan tidak dibalas, sunggu pedihnya hati ini. Kak fachri yang biasanya sangat aktif mulai tidak aktif. Saat aku melihatnya dia melempar pandangan. Hatiku begitu sakit ya Allah. Aku selalu berdoa setiap sholat fardu dan sunnah untuk menenangkan hati. Mungkin benar yang dikatakan kak Nisa aku tidak mengagumi, aku menyukai. Dan nafsuku pada hari itu telah menguasai diriku, sungguh aku sangat menyesal mengitu nafsuku. Sekarang bahkan untuk menyambung silaturahmi dengan kak fachri begitu sulit. Padahal jika kak fachri ingin seperti dulu lagi, aku berjanji akan memendam sedalam-dalamnya perasaanku dan hanya mengingat Allah semata. Kak fachri juga sudah tidak lama di sekolah ini, kenapa persaudaraan ini hancur disaat seperti ini? Bagaimana caraku memperbaikinya? Aku benar-benar sangat menyesalinya.. 4 tahun kemudian.... Aku mulai pekerjaan baruku hari ini sebagai asisten dosen, Alhamdulillah sungguh aku sangat senang dengan hasilku seperti ini. Sekarang aku menuju ke ruangan dosen yang akan kudampingi. “assalamualaikum.” “waalaikum salam” badan tegap itu berbalik. “Kamu?” kami berdua sontak kaget. Bagaimana tidak? Dia kak fachri, meski wajahnya sudah lumayan berbeda tapi aku masih mengenalinya. Orang yang pernah mengubah hidupku. Kami pun memutuskan ke tempat lebih terbuka untuk bercerita. Takut menimbulkan fitnah. Dia masih sama saja seperti kak fachri yang dulu. Mataku mulai mencuri waktu untuk melihatnya. Kami bercerita tentang pengalaman kami. Dia masih tertawa dan sempat memujiku “Masyaalah hijabmu makin istiqomah saja.” Aku tertawa “iya pak, aku memutuskan berhijab seperti ini setelah menduduki bangku kuliah.” Dia juga muai tertawa “ais, kita ini rekan sekerja, lagipula perbedaan umur kita cuman 1 tahun, sekarang panggil aku fachri saja.” Aku kaget, ya meski hati ini memanggilnya kak fachri, tapi ada perasaan tidak enak juga “afwan pak, tapi tidak sopan nantinya. Aku takut berbuat salah lagi seperti 4 tahun yang lalu” seketika semua menjadi hening. "Maafkan aku ais..." Fachri tersenyum. "Sudahlah... Tak usah dibahas" kataku... “Ais, nanti pulang aku yang antar ya.” Ucap kak fachri. Aku hanya bisa mengangguk Sesampainya di depan rumahku, kak fachri bertanya “Orangtuamu ada?” aku mengangguk pelan. Kak fachri beniat masuk katanya ada yang ingin dia bicarakan. Jadi aku mempersilahkannya masuk “Maaf pak, rumah ais memang sempit.” Kak fachri hanya tersenyum Orangtuaku pun beranjak ke ruang tamu “maaf saja pak, jikalau saya mengganggu istirahat bapak” ucap kak fachri kepada ayahku “tidak apa nak, ada urusan apa ya?” “Begini pak saya fachri, anak bapak adalah asisten saya. Jadi, kedatangan saya kesini untuk melamar putri bapak yang cantik ini.” Perkataan itu keluar begitu cepat, seakan bagai angin yang tak kupercaya adanya “Apa bapak tidak salah?eemm.. Maksudku apa kak fachri serius?” ucapku duduk di samping ayah. “bukannya 4 tahun lalu kak fachri pernah menjahui aku, dan kenapa hari ini aku dan kak fachri baru bertemu dan kak fachri langsung saja melamarku.” Ucapku menitihkan air mata. Dia menghela nafas “afwan aisyah, 4 tahun itu kak fachri tidak berdaya. Kita masih SMA ais. Jujur saja ais kak fachri sudah menyukai ais sejak pertama kali Ais masuk remaja mesjid, semangat ais benar-benar membuat kak fachri kagum. Dan saat ais mengirim pesan “assalamualaikum kakak” kepada kak fachri, kak fachri sangat senang. Tanpa kak fachri sadari semakin hari semakin kak fachri selalu pikirkan ais. Kita chat setiap hari dan tentang agama. Tapi pada saat ais memberi hadiah ke kak fachri hari itu. Kak FAchri sadar kita sudah terlewat batasnya, kak fachri takut buat ais dosa, kita masih belum halal, karena ternyata saat kak fachri memikirkan ais. Ternyata saat itu juga dosa ais mengalir. Kak fachri lupa menjaga kesucian ais, kak fachri hampir saja terbujuk nafsu dan mengajak ais pacaran. Sebab hari itulah kak facri sadar, dan menjahui ais. Hari itu kak fachri berfikir akan menunggu semuanya sampai halal, dan kalau memang bukan ais jodoh kak fachri tidak apa, asalkan setidaknya kak fachri pernah mencoba menjaga ais. Namun setelah hari ini kita bertemu, kak fachri paham ini rencana Allah, apa yang. Kak fachri tunggu-tunggu telah datang, dan kak fachri tidak akan menyianyikannya. Menjadikan nafsu ini sebuah berkah” kak fachri mulai menitihkan air mata Ayahku mulai menatapku seakan menandakan, “Jawablah pertanyaannya” “baiklah ais, apa ais ingin menikah dengan kak fachri?” pertanyaan itu menghujani ku lagi, aku senang tapi air mataku keluar. Jujr saja perasaan kepada kak fachri masih tersimpan dengan rapi dihatiku “InsyaAllah kak, aisyah mau.” aku menjawabnya malu Kak fachri menampilkan mukanya yang tersenyum, sangat bahagia. Dia juga menyuruhku mengulurkan tanganku lalu diberikannya 2 origami burung, satu itu dariku saat ulang tahunnya, dan satu lagi jawabnnya yang tertulis “syukron aisyah, insyaAllah kak fachri akan istiqomah dijalannya, setelah itu kak fachri akan datang untuk menjadikan ais bidadari ilmunya.” Aku memeluk ayahku. Ayahku ikut mengelusku. “Jadi istri yang baik ya nak.” Sugguh aku tak sadar akan apa yang dijalankan Allah. Aku sangat bersyukur atas hari ini. Benar juga andai hari itu terus berlanjut, mungkin aku dan kak fachri akan terjerumus ke maksiat. Dan tidak bisa berjodoh seperti ini. Untung saja hari itu kami tak mengikuti nafsu itu, Nafsu yang pasti ada di seluruh makhluk dimuka bumi ini. Aku sangat bersyukur, Alhamdulillah ya Allah, kau jaga langkahku, kau bimbing diriku menjauh dari api nerakamu. Aku mengerti, aku sangat mengerti sekarang. Bahwa manusia hanya bisa berusaha, dan Allah yang menentukan takdir. Sugguh mulia diri-Nya Sang pencipta, Allah SWT. Ya Allah karena-Mu aku mencintainya #SepakatIpok #MyStory




Tidak ada komentar: