Hujan sudah pergi, retakan tanah sudah tertutup rapi, suara jangkrik mulai menghiasi heningnya suasana taman ini, dan jingganya senja membuat betapa indahnya pemandangan sore ini. Tuhan luar biasa. Bersyukurlah....!
:)
Hei, selamat sore teman, selamat menikmati sore yang nyaman, selamat membaca Sepakat(Sepatah Kata)Ipok dan semoga tersampaikan
:)
Judul : Kepingan Bidadariku
kepingan Bidadariku..
Misalnya, apa yang pernah dia lakukan?!
Hmmm, tak perlu kamu tanya tentang ‘misalnya’, tentu saja jibunan contoh dapat kusuguhkan. Dan akhirnya kamu pun akan turut mengaguminya!
Bayangkanlah! Dengan orang lain saja dia baik sekali apalagi dengan keluarganya sendiri. Bahkan karena
kebaikan yang selalu dia taburkan, orang lainpun jadi sangat menyayangi dan menghormatinya. Dan wanita itu sanggup mengurusi empat orang anak yang keras kepala. Bak bidadari penenang kalbu dia mampu membelai lembut jiwa-jiwa yang rapuh dan sayup. Pula seperti pijaran cahaya dalam gulita, dia mengispirasi hati yang terlumuri karat. Pun serupa hadiah terindah yang siapapun jika mendapatkannya akan tersenyum senang. Ya, dia mampu membuat orang-orang di sekitarnya bahagia.
Hmmm, tak perlu kamu tanya tentang ‘misalnya’, tentu saja jibunan contoh dapat kusuguhkan. Dan akhirnya kamu pun akan turut mengaguminya!
Bayangkanlah! Dengan orang lain saja dia baik sekali apalagi dengan keluarganya sendiri. Bahkan karena
kebaikan yang selalu dia taburkan, orang lainpun jadi sangat menyayangi dan menghormatinya. Dan wanita itu sanggup mengurusi empat orang anak yang keras kepala. Bak bidadari penenang kalbu dia mampu membelai lembut jiwa-jiwa yang rapuh dan sayup. Pula seperti pijaran cahaya dalam gulita, dia mengispirasi hati yang terlumuri karat. Pun serupa hadiah terindah yang siapapun jika mendapatkannya akan tersenyum senang. Ya, dia mampu membuat orang-orang di sekitarnya bahagia.
Kamu tahu?!
Dia juga yang selalu menyemangatiku, tatkala aku gundah dan sendu.
Misalnya, ketika momen perpindahan statusku dari SMA ke Perguruan Tinggi, saat-saat labilku itu dia selalu mengoarkan motivasi dosis tinggi,
membimbingku seakan dia pernah mengalami masa itu dan hasilnya, kamu bisa lihat aku kan
sekarang?! Alhamdulillah, aku lulus kuliah tepat waktu dengan predikat cumlaude.
Kamu tahu?! Dia yang selalu menyairkan doa-doa agar
keberuntungan berpihak padaku, tanpa kuminta!
Kamu tahu?! Dan lagi-lagi selalu dia yang menampung ‘sampah’ dariku, membantuku waktu ‘badai’
menerpa, menolongku saat pilu merajam— tanpa pamrih!
Kamu sudah tahu kan kesimpulannya?
Ya! Dia wanita yang cantik luar dalam.
Ah, ingin sekali bisa saperti dia.
—
“Ngelamunin apa hayo?!” Ah, dia membuatku kaget saja.
“Ngelamunin apa?” Apa aku harus jujur bahwa sesungguhnya aku
tengah memikirkannya? Aku rasa tak perlu! Dia kan tidak suka dipuji.
“Mikirin apa?!”
“Ah, ini! Lagi…” aku terkelu.
Aih, dia tersenyum, cantik sekali.
Cantik?! Ya, walau dia telah berusia hampir setengah abad namun, gigi-giginya masih tertata apik, guratan di wajahnya pun tersamarkan senyum
yang selalu mengembang, kulit kuning
langsatnya masih terlihat cerah dan kenyal. Dandanannya sangat anggun dengan jilbab lebar yang terjuntai menutupi punggung. Aku
paling suka melihat senyumnya,
menentramkan hingga ke relung. Ah, ingin sekali bisa saperti dia.
Siapa dia?!
Dia?! Tentu saja dia seseorang wanita mulia. Wanita penginspirasi yang selalu membawa kesejukan
serupa tetes embun. Wanita tangguh yang selalu menyembunyikan luka di balik senyum.
Dia pahlawan sejati dalam hidupku yang telah mensejarah, yang tengah berjalan di masa depan.
Dia manusia berhati malaikat yang memiliki kesabaran seluas altar samudra. Ah, tidak, lebih pantasnya dia ibuku yang kesabaran dan
kasih sayangnya sepanjang zaman —tak terbatas!
Dia bidadari dunia, yang selalu mencintaiku dan merengkuhku dengan hangat —yang tak
memandang apapun dan bagaimanapun aku.
Dan dia! Tentu saja dia yang telah melahirkanku ke dunia bersama tetes-tetes airmata dan darah
kesakitan. Yang secara takdir menstatuskanku menjadi anak sulung dari empat bersaudara.
Semua aku dapatkan. Ah, apa aku jujur saja, bahwa sesungguhnya
aku tengah memikirkannya? Aku rasa perlu! Agar dia merekahkan senyum lebarnya.
“Aku memikirkanmu!!”
“Aku mencintaimu Mak!”
Dia juga yang selalu menyemangatiku, tatkala aku gundah dan sendu.
Misalnya, ketika momen perpindahan statusku dari SMA ke Perguruan Tinggi, saat-saat labilku itu dia selalu mengoarkan motivasi dosis tinggi,
membimbingku seakan dia pernah mengalami masa itu dan hasilnya, kamu bisa lihat aku kan
sekarang?! Alhamdulillah, aku lulus kuliah tepat waktu dengan predikat cumlaude.
Kamu tahu?! Dia yang selalu menyairkan doa-doa agar
keberuntungan berpihak padaku, tanpa kuminta!
Kamu tahu?! Dan lagi-lagi selalu dia yang menampung ‘sampah’ dariku, membantuku waktu ‘badai’
menerpa, menolongku saat pilu merajam— tanpa pamrih!
Kamu sudah tahu kan kesimpulannya?
Ya! Dia wanita yang cantik luar dalam.
Ah, ingin sekali bisa saperti dia.
—
“Ngelamunin apa hayo?!” Ah, dia membuatku kaget saja.
“Ngelamunin apa?” Apa aku harus jujur bahwa sesungguhnya aku
tengah memikirkannya? Aku rasa tak perlu! Dia kan tidak suka dipuji.
“Mikirin apa?!”
“Ah, ini! Lagi…” aku terkelu.
Aih, dia tersenyum, cantik sekali.
Cantik?! Ya, walau dia telah berusia hampir setengah abad namun, gigi-giginya masih tertata apik, guratan di wajahnya pun tersamarkan senyum
yang selalu mengembang, kulit kuning
langsatnya masih terlihat cerah dan kenyal. Dandanannya sangat anggun dengan jilbab lebar yang terjuntai menutupi punggung. Aku
paling suka melihat senyumnya,
menentramkan hingga ke relung. Ah, ingin sekali bisa saperti dia.
Siapa dia?!
Dia?! Tentu saja dia seseorang wanita mulia. Wanita penginspirasi yang selalu membawa kesejukan
serupa tetes embun. Wanita tangguh yang selalu menyembunyikan luka di balik senyum.
Dia pahlawan sejati dalam hidupku yang telah mensejarah, yang tengah berjalan di masa depan.
Dia manusia berhati malaikat yang memiliki kesabaran seluas altar samudra. Ah, tidak, lebih pantasnya dia ibuku yang kesabaran dan
kasih sayangnya sepanjang zaman —tak terbatas!
Dia bidadari dunia, yang selalu mencintaiku dan merengkuhku dengan hangat —yang tak
memandang apapun dan bagaimanapun aku.
Dan dia! Tentu saja dia yang telah melahirkanku ke dunia bersama tetes-tetes airmata dan darah
kesakitan. Yang secara takdir menstatuskanku menjadi anak sulung dari empat bersaudara.
Semua aku dapatkan. Ah, apa aku jujur saja, bahwa sesungguhnya
aku tengah memikirkannya? Aku rasa perlu! Agar dia merekahkan senyum lebarnya.
“Aku memikirkanmu!!”
“Aku mencintaimu Mak!”
By:
Siti khopipah Aliskandar
Siti khopipah Aliskandar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar