Hari ini, sore ini , langit leuwiliang mendung penuh awan hitam seperti kerudung belasungkawa. Yang bertanda sore ini akan hujan. Kebetulan sore ini aku menjalankan aktivitas rutinku untuk latihan bendera. Hujan.ya Aku yakin sebentar lagi hujan. Dan benar saja hujanpun turun. Turun dengan derasnya. Kamu tahu apa yg aku pikirkan saat itu ??? Kamu tuan. Aku mengkhawatirkanmu, sedang apa dan dimana kamu waktu itu ? Apa kamu kedinginan sepertiku, apa kamu kecipratan air hujan menjengkelkan sepertiku pula. Knapa kamu tak kunjung datang ? Datang untuk melihat perkembangan latihan kami.khususnya untuk melihatku.. Kamu kemana ? Saat aku cek BBM yang ada di handphoneku. Aku mengecek aktivitasmu , aku harap kamu ada disitu. Dan ya, kamu ada. Setidaknya rasa khawatirku berkurang. Walaupun hanya sedikit. Hujanpun berlalu, latihan pun dimulai kembali. Latihan ya latihan. Tapi pikiranku bercabang. Kenapa ? Karena aku menginginkan kamu ada di depan sana . Melihat dan memperhatikan senyumku yang sumringah.
Tanahpun mulai membecek, air mulai berkubang karena kondisi lapangan yang tak rata. Namun latihan tetap berlanjut, semenit, dua menit berlalu dan satu jam kemudian kamupun tiba. Saat itu, kamu tau apa yg aku rasakan ? Hatiku bergetar tuan, tanganku semakin mendingin , lebih dingin dari air hujan yang mengguyurku. Aku memperhatikanmu, dari awal, semenjak kamu mengendarai motor sederhanamu sampai kamu turun ke lapangan untuk melihat kami. Kamu tersenyum, dan itulah kamu. Kamu dengan senyum ramahmu yang telah berhasil menghidupkan ruang yang bernama hatiku. Aku berharap saat itu, berharap sekali senyum itu murni tertuju padaku. Sayangnya khayalku terlalu tinggi. Itu tak mungkin terjadi gadis bodoh! Iya aku memang bodoh. Konyol..
Tapi yasudahlah, yang terpenting dia sudah ada, dia sudah datang. Ya di depanku. Tepat dalam tatapanku. Aku tak ingin mengalihkan pandanganku. Aku menyukaimu tuan, aku menyukai semua caramu. Caramu mengundang tawa dalam banyak hal. Hujan terus menderras, kita membiarkan segerumunan air itu menyerang kita. Kita tak peduli apa yang akan terjadi setelah latihan ini berakhir. Dan akupun tak peduli dengan diriku sendiri. Tapi yang aku khawatirkan kamu sayang. Aku takut melihatmu sakit, aku takut ada beban yang kamu rangkul. Aku takut kejanggalan terjadi dengan kamu. Jika boleh jujur, aku ingin saat itu juga, melindungimu dari airhujan dengan payung atau apapun itu asalkan kamu terlindungi. Aku ingin mendekapmu, aku tak ingin kamu kedinginan. Aku terus menatapmu. Dan apa kamu tak bisa membaca isi tatapanku ini tuan ?? Kenapa ?? Tatapan, perhatian, kasih sayang semua itu . Apa kamu tak merasakannya ? Maafkan aku, maafkan aku jika aku seperti mengekangmu untuk mengaku jika kamu menyukaimu pula. Tapi itu yang aku rasakan. Berlebihankah ? Mungkin iya. Apalah daya perempuan yang sedang tertimpa perasaan serba salah. Hanya harapan yang terus mencuak dalam dirinya. Iya harapan kosong yang tak ada makna.
Latihanpun berakhir, saat hendak berkumpul untuk sekedar membaca do'a. Kamu mengumumkan untuk latihan esok dan selanjutnya. Aku terus memperhatikanmu, aku tak ingin hari ini berakhir. Ingin tak ingin, ya kamu membubarkan kami untuk pulang. Berbaris, berjejer, untuk bersalaman. Itulah kebiasaan yang sering dilakukan setiap kali sudah latihan. Aku degdegan tuan. Tangan yang dingin semakin mendingin. Ohya knapa aku selalu berada diposisi terakhir saat hendak bersalaman denganmu ? Karena aku ingin saat kita bersalaman kita dapat berbincang sedikit lebih lama tanpa harus ada yang menunggu. Aku ingin, pegangan tanganmu lebih lama. Ketika tangan mungilku terbungkus oleh jemarimu ada rasa yang begitu hebat. Hebat sekali.. Aku tak ingin melepaskanmu tuan. Apapun itu. Dan sayangnya sore itu tak seperti yang ku inginkan. Ada seorang temanku yang mengajak ku mengobrol dan apa yg terjadi ? Kamu marah. Marah sekali. Ya tuhaaaaaann... Apa yang harus kulakukan :( baru pertama kali aku melihatnya marah dan kemarahan itu tertuju padaku. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku terus meminta maaf, tapi kamu seakan tak mendengarnya. Kamu bilang, iya kamu memaafkanku asal aku tak mengulanginya lagi. Tapi dari raut wajahmu ada hal aneh yang tak kupahami. Aku tak kuasa melihat kemarahanmu kali ini tuan. Pertama kalinya kamu acuh tanpa alasan. Aku resah, aku takut kedekatan kita tak seperti biasanya. Akupun pulang dengan rasa sesal yang tak kupahami. Dalam hati aku selalu berkata "maafkan aku sayang, tiada maksud aku mengusik kemarahanmu. Tolong jangan acuh seperti ini, aku menyayangimu" . Aku berjalan, menelusuri jalan raya yang diguyur hujan. Sepi, saat ku tengok kiri dan kananku. Aku berharap saat aku hendak pulang, ada ucapan "Hati-hati ya dijalan" yang biasanya kamu lontarkan untukku. Tapi waktu itu, tidak sama sekali. Ada rasa sesak yang tak dapat aku ungkapkan. Aku harus bagaimana ? Aku harus berbuat apa ? Waktu kita bersama semakin sedikit. Puncak tugasku bersamamu sebentar lagi berakhir. Seharusnya diwaktu yg singkat itu aku bisa mengendalikan perasaanku. Aku ingin kamu tau, apa yang kurasakan sekarang. Aku takut, takut sekali. Rasa yang telah hilang, muncul lagi dengan tema baru yaitu "kamu". Aku tak ingin melewatinya. Maafkan aku tuan. Maafkan aku. Aku butuh perhatian yang walaupun hanya sekedar perhatian yang selalu kamu ucapkan untukku. Maafkan aku, aku yang sudah terlanjur manyayangimu terlalu jauh tanpa sadar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar