Senin, 26 September 2016
IZ i love you
Aku memandangi wajahmu dengan rasa rindu
yang mungkin hanya aku dan Tuhan pahami.
Kamu yang sejak tadi kupandangi hanya
tersenyum jahil berharap pandanganku tidak lagi
mengarah padamu. Dalam hitungan jam, kita
sudah berbincang banyak hal, namun mengapa
aku masih belum bosan untuk mengalihkan
padanganku kepada yang lain?
Berhari-hari, aku tidak menatapmu, rasanya dua
hari saja tidak memandangimu cukup membuat
rasa rinduku menderas seperti hujan di langit
leuwisadeng sore
itu. Aku tidak bisa berbohong bahwa aku semakin
mencintaimu. Aku semakin jatuh cinta pada
caramu memandangiku, caramu merangkul
bahuku, caramu membisikan
kata-kata manis di telingaku, caramu
menggenggam jemariku, caramu memanggil
namaku, dan cara-cara lain yang kamulakukan--
yang selalu berhasil membuatku bahagia.
Aku tidak bisa berbohong bahwa hanya chat
darimulah yang aku tunggu. Kamu adalah
notifikasi favoritku. Kamu adalah suntikan
keajaiban yang membuatku selalu bahagia
menatap layar ponselku. Ketika namamu tertera
di sana, cepat-cepat aku membalas, dan
berharap balasan darimu juga segera masuk.
Hingga hari ini, hanyalah kamu yang kunanti, tapi
aku cukup sadar diri bahwa kebahagiaan ini
mungkin saja segera berakhir. Aku cukup sadar
diri bahwa kamu tidak akan mungkin bisa aku
miliki. Aku cukup tahu bahwa aku dan kamu bisa
saja segera berakhir, tanpa alasan dan
penjelasan, tanpa ucapan perpisahan.
Aku cukup paham bahwa kamu bukan seutuhnya
milikku karena keberasamaan kita memang
hanyalah kebahagiaan sesaat yang akan segera
hilang dengan pergantian musim atau bahkan
bulan. Aku tahu ini semua akan segera berakhir
bahkan sebelum kamu benar-benar mengerti
seberapa dalam perasaanku. Aku juga tahu
hubungan kita otomatis akan berakhir, bisa saja
berakhir kapan pun, karena aku tahu di mana
posisiku berdiri saat ini. Semua tentang akhir.
Mungkin, kebahagiaan tidak akan pernah jadi
milik kita dalam jangka panjang. Maka, kubiarkan
kamu memelukku dengan erat, sebelum kita
benar-benar berpisah. Kubiarkan kamu tetap
berbisik sambil memanggil namaku dengan
lembut karena mungkin ini bisa saja pertemuan
terakhir kita. Kamu juga tahu, hubungan kita
penuh banyak kejutan, kita tidak
akan pernah tahu kapan hadirnya perpisahan,
yang aku dan kamu tahu adalah bahwa kita
masih punya waktu untuk menikmati sisa-sisa
waktu yang kita berdua miliki. Seringkali, di
tengah-tengah pelukmu, kamu
menceritakan tentang kekasihmu.
Saat itu, mungkin kamu tidak memikirkan betapa
sesaknya dadaku, betapa sesaknya menerka
kenyataan bahwa mungkin aku hanyalah pelarian
untuk menghilangkan kebosanan. Ketika kamu
menceritakan tentang kekasihmu, aku memilih
mendengarkan dengan baik, sambil menatap
matamu dalam-dalam, berusaha mencari
kesungguhan dalam mata itu, berusaha
menjawab pertanyaan; adakah aku dalam mata
dan hatimu? Apa yang aku temukan? Aku juga
menemukan diriku dalam matamu. Aku
menemukan sosok bayanganmu dalam matamu.
Tapi, bayangan itu menghilang, memudar,
seakan sebuah isyarat bahwa kesalahan ini harus
segera kita akhiri.
Kamu selalu begitu. Membawa amarah, api, dan
tangismu, ke dalam bahuku. Kamu pasti begitu.
Melarikan segara marah dan kesalmu, mengarah
kan cerita sebalmu tentang kekasihmu, dan
menumpahkan segalanya padaku. Lalu, ketika
aku berhasil memandamkan apimu, kamu
akan dengan setia berbalik arah. Setelah aku
berhasil sembuhkan lukamu, kamu dengan cepat
pergi meninggalkanku. Jelas, ini sangat tidak adil
bagiku, bagi orang yang juga mencintaimu. Tidak
bisakah kamu tinggal lebih lama lagi dan
memelukku lebih hangat sekali lagi? Karena aku
bosan menunggu di beranda rumah, berharap
kamu pulang setelah lelah berperang, dan
mengingat bahwa masih ada orang yang
menunggumu datang masuk ke dalam peluknya.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan
sekarang. Apakah aku harus lari atau aku cukup
diam saja dan menganggap semua tidak pernah
terjadi? Apakah aku harus bersikap biasa saja,
tetap mencintaimu seperti kemarin-kemarin, dan
menganggap pelukmu serta ucapan cintamu
bukanlah bualan? Aku tahu ucapan cintamu tidak
pernah berbohong
Aku tahu betul, matamu tidak
akan berhasil membohongiku. Tapi, yang selalu
menjadi pertanyaanku adalah jika kamu
mencintaiku mengapa kamu tidak membiarkan
dirimu hanya dimiliki oleh satu hati?
Aku tidak tahu siapa pemilik hatimu yang
sesungguhnya. Yang aku tahu, kamu hanyalah
pria biasa, yang tidak mencintai sisi malaikat
dalam diriku, kamu mencintai cara berpikirku
yang berbeda dari yang lainnya, kamu mencintai
caraku melanggar
segala macam peraturan demi memperjuangkan
yang aku anggap benar, , kamu mencintaiku
dalam keremangan yang menghangatkan. Yang
aku suka darimu, kamu tidak sedang memaksa
aku untuk memiliki
sikap yang sangat malaikat, kamu justru
membisikan hal-hal menyejukan yang selalu
berhasil mendiamkan iblis jahat dalam diriku. Kita
sama-sama hadir dari kegelapan. Kita sama-
sama gelap. Dan, percayakah kamu bahwa
semua gelap akan menemukan terang di ujung
jalan?
Aku ingin ke ujung jalan. Bersamamu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar