Senin, 26 September 2016

pamit......

Aku melirik arloji hitam yang melekat erat di pergelangan tangan kananku, sudah lebih dari satu jam namun langit belum berhenti menangis. Bahkan tangisannya bertambah deras seiring waktu berjalan. Kilatan cahaya mulai terlihat di antara kelabunya langit sore itu, disusul oleh siulan petir yang seakan memperparah tangisan langit. Rasa kesal mulai menghampiriku mengingat hari mulai menjelang malam dan aku sama sekali belum mempersiapkan presentasi untuk ujian salah satu mata kuliahku besok. Ditambah raungan yang mulai terdengar dari dalam perutku. Uh, aku ingat belum makan siang. Halte tempatku berteduh mulai ramai dikunjungi mereka yang bernasib sama sepertiku. Terkurung hujan disaat banyak keperluan yang menuntut diselesaikan. Contohnya pria paruh baya yang berdiri di penghujung kanopi halte. Pria itu memakai kemeja biru bergaris dan celana bahan hitam, seorang pegawai yang merasa kesal dengan keadaan. Hal itu bisa dilihat dari raut wajahnya yang terlihat gusar, serta gerak-geriknya yang bolak-balik mengecek waktu di ponsel pintarnya. Berbeda halnya dengan gadis berseragam putih abu-abu dan pemuda berseragam sama di sebelahnya. Mereka berdiri berjarak dua orang dariku. Diam-diam si pemuda mendekatkan jari jemarinya ke arah punggung tangan milik gadis di sampingnya. Dan bisa ditebak apa yang selanjutnya terjadi. Aku tersenyum kecil melihatnya. Melemparku pada memori ketika aku berada di posisi mereka. Hari itu adalah hari yang bersejarah bagiku. Untuk kali pertama aku berani mengajaknya pulang bersama sepulang sekolah, walaupun pada kenyataannya rumah kami berbeda arah, tentu saja aku rela melakukan apapun untuknya. Ya, cinta remaja memang tidak rasional. Hujan yang turun tiba-tiba memaksa kami untuk mencari tempat berteduh. Pilihan kami jatuh pada warung kecil di pinggir jalan. Dia berdiri di sampingku sambil sesekali menggosok-gosokkan kedua tangannya. Hal kecil tersebut kuanggap sebagai jalan untuk menyentuh hatinya. Kulepas perlahan jaket yang sedang kukenakan kemudian kuletakkan dengan sangat hati hati di bahunya. Seketika ia memandangku malu-malu. Pipinya yang merona kemerahan dan senyumnya yang dikulum membawaku terbang ke angkasa. Membuat jantungku berdegup semakin cepat, memberi sensasi aneh di dadaku. Ah, cantiknya. Suasana yang hening semakin membuatku salah tingkah. Aku tak lagi tahan dengan situasi ini. Gemuruh dalam hatiku mulai meronta ingin berekspresi. Suka. Suka. Suka. Aku suka kamu. Sesederhana itu, namun tertahan di lidahku. Ya Tuhan. Mengapa begitu sulit mengutarakan cinta. “Aku sayang sama kamu, dek” Aku ingat dengan jelas jari jariku yang menggenggam erat kedua tangannya. Wajahku menunduk, tak berani menatap kedua bola mata yang telah membuatku jatuh hati sejak pertama kali bertemu pandang. Detak jantungku semakin cepat, sampai- sampai aku takut mengalami stroke. Beberapa detik kemudian dia memintaku untuk mengangkat wajah, kuturuti permintaanya namun tetap mengalihkan pandangan. Apa yang dilakukannya benar benar membuat tubuhku kaku tak bergerak, bahkan sulit rasanya untuk menghirup udara. Ya, gadis itu menyentuh pipiku dengan bibirnya yang mungil. Dan di antara rintik hujan sore itu, aku lah orang yang paling bahagia di dunia. Kilasan perjalanan cinta kami bergantian tayang di pikiranku. Semenjak saat itu aku selalu mengantarnya pulang ke rumah seusai sekolah. Menemaninya ke toko buku untuk membeli novel-novel karya pengarang favoritnya. Mengetuk pintu demi pintu, bersama sama mencari dana untuk program kerja dalam organisasinya. Memberikan kejutan kejutan manis untuknya di tanggal kami memulai hubungan. Bersepeda di pagi hari dan menghabiskan waktu bersamanya. Masih jelas dalam ingatanku betapa menggemaskannya wajah itu tiap kali ia bercerita tentang apa yang telah dilaluinya. Kedua matanya yang berbinar, membuatku tak ingin mengalihkan pandangan. Aku ingat bagaimana kami saling menguatkan satu sama lain di saat sulit. Bagaimana kami saling menahan ego dan mengalah, tak tahan berkelahi. Dan bagaimana aku dekat dengan kedua orangtua dan adik kecilnya yang manis. Seperti bunga yang layu ketika tiba waktunya mati. Seperti musim panas yang berakhir karena musim hujan telah tiba. Pada awalnya aku merasa bahwa hubungan kami akan terus berlanjut seperti kisah cinta di novel-novel romansa favoritnya. Berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Aku juga tidak tau mengapa dan siapa yang memulai. Tiba saatnya semua terasa hambar. Kami mulai jarang bertemu dan berkomunikasi. Entah aku yang mulai disibukkan dengan persiapan ujian nasional, atau rasa bosan yang diam-diam menyeruak di hatinya. Aku tidak pernah tau alasan kepergiannya sampai detik ini. Tiba-tiba saja dia menghilang. Menjauh dan tak lagi menganggapku ada. Hingga pada akhirnya sebuah nama asing terukir di bio media sosialnya dan orang lain pun datang menggantikan takhtanya di hatiku. Setelahnya aku mencoba memulai hubungan dengan yang lain. Namun tak lagi terasa sama seperti ketika aku bersamanya. Ya, masih ada harapanku untuk kembali bersamanya. Hujan yang telah membawaku kembali ke masa lalu berangsur angur mereda. Satu per satu orang-orang mulai bergegas meninggalkan halte dan kembali dengan urusan mereka masing-masing sebelum hari beranjak semakin malam. Aku sedang membereskan barang-barangku dan bersiap melanjutkan perjalanan ketika kedua mataku menangkap sesosok gadis yang telah mewarnai hari-hariku sewaktu di bangku SMA. Aku harap kalimat jodoh pasti bertemu berlaku padaku saat ini. Aku mulai memperhatikannya dari jauh, rupanya tak jauh berbeda dengan masa SMA dulu, hanya saja terlihat lebih dewasa. Aku terhanyut dengan suasana yang membawa kembali rindu. Ia sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Andai dia tau betapa aku merindukannya. Oh, aku sangat merindukannya. Rasanya seperti bumi berhenti berputar, dan waktu berhenti berlalu, bahkan semua hal di sekelilingku seakan bergerak lambat. Hanya ada aku dan dia di antara gerimis hujan. Di mataku, gadisku menjadi lebih muda. Rambut yang sebelumnya tergerai sebahu kini diikat satu. Kemeja kotak-kotak dan celana jenas yang membungkus tubuh mungilnya digantikan oleh seragam putih abu-abu. Dan halte tempat kami meneduh, berubah menjadi warung kecil di pinggir jalan menuju rumahnya. Aku mengenalnya dari awal masa orientasi siswa. Saat itu aku sedang bergurau bersama teman-temanku dan bertaruh perihal Ratu MOS yang akan diumumkan hari itu. Kedua mata kami berpapasan tanpa sengaja ketika aku tengah memperhatikan adik-adik baruku. Perawakannya yang mungil dan sifatnya yang sederhana, menuntun hatiku untuk jatuh kepadanya. Dia berbeda dengan setiap gadis yang kukenal sebelumnya. Pribadinya yang sederhana dan penuh semangat membawa kehangatan tersendiri kepadaku. Belum lagi kedua matanya yang berbinar cerah serta ukiran di bibirnya yang membuatku ingin selalu menjaganya agar tetap terukir indah. Gadis ini lah yang telah mengajariku banyak hal. Dia yang mengajariku untuk lebih serius dalam belajar, mengingat ujian nasional, SNMPTN dan SBMPTN yang menantiku di awal tahun. Dia yang membawaku ke dunia penuh cerita, memperkenalkanku pada buku-buku bacaan dan membantuku menemukan bakat terpendam. Dia yang membuatku tidak pernah merasakan keinginan untuk menyentuh dunia rok*k, minuman keras, bahkan tawuran dan balap motor. Dia yang membuatku belajar mencintai diri sendiri. Aku hanyalah seorang pemuda biasa pada awalnya, dan seorang yang berhasil mendapat beberapa kejuaraan menulis setelah mengenalnya. Aku mengingat kembali hubunganku dengan beberapa gadis setelah kepergiannya yang tanpa pamit. Semua terlihat kelabu dan layu. Hanya menjadi salah satu jalanku untuk menghibur diri. Aku sungguh merindukan kilau di kedua matanya. Aku rindu senyumnya yang selalu diiringi lesung pipi. Aku rindu suara tawa dan ucapan-ucapan semangatnya. Aku rindu cubitan-cubitan yang diberikannya ketika merasa kesal terhadapku. Aku rindu memeluknya, mendengar keluh kesahnya dan menemaninya di setiap waktu. Ya Tuhan. Masih ingatkah dia padaku? Mungkin saja aku bisa memulainya kembali. Di halte ini, di waktu hujan turun. Kuurungkan niatku ketika sebuah kendaraan beroda dua berhenti tepat di samping motor milikku. Kemudian si pengemudi melepas helm yang menutupi wajahnya. Melambaikan tangan memanggil nama gadis yang berdiri tak jauh di sampingku. “Kak Adit?” Suara itu. “Aku duluan ya, kak.” Ia menunduk sopan kemudian tersenyum. Lagi-lagi meninggalkanku, walau kini mengucap pamit. Semoga suka dengan cerpennya.. Ambil yang baik, buang yang buruk. :)

Tidak ada komentar: