sudah seminggu terakhir ini kita tak bercengkrama, saling sapa pun tidak. Dan ternyata kau bilang "Aku merindukanmu, bolehkah aku mengeluh?" Ada yang tiba-tiba mengembang disudut bibirku. Lalu setelahnya kau bercerita, saat ini aku hanya ingin menjadi pendengar terbaik untukmu. Tanpa suara.
Kamu selalu senang bercerita tentang lautan. Seperti gulung gelombang, kamu menunggu seseorang yang kamu yakini akan pulang. Katamu, penantian itu lama, dan terkadang pecah jadi buih. Jadi pasir, jadi angan yang lebih.
Kedua tanganmu memeluk, erat, pada tubuhmu sendiri. Dadamu dingin, tak lagi diisi nama lain. Sepanjang hari, sepanjang tahun, kamu tetap di sana mengira-ngira, akan ada rindu yang datang membawa kabar, harapan, dan debar hatimu yang hilang.
Kamu kembali bercerita, menyebut langit adalah rumah. Kamu memejamkan mata, mengenang warna merah sebelum matahari terbenam, dan kamu masih menunggu seseorang hingga lautan pasang. Aku belum mengerti, siapa seseorang yang kamu rindukan sebenarnya?
Mungkinkah aku ?
Kopians Apr 22 | 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar