-
gelombang ini, masih sama seperti dulu. Seperti saat kau bercerita tentang camar dan perahu-perahu. Warnanya masih biru, seperti langit yang kau tunjuk dengan jarimu. Kecuali ingatan yang kuputar ulang, tak ada yang sumbang. Karang di ujung sana, masih berkilat diguyur ombak. Begitu tabahnya ia, meski diperciki asin ribuan kali. Lalu kukira. Aku dan karang itu sama, sama-sama menunggu. Entah ia kepada kekasih, entah aku kepada yang pergi.
-
Fai, aku berdiri di sini, hari ini, sebagai buku yang tak rapuh menulis namamu. Sebagai halaman yang berharap di sana kemudian kau pulang. Di batas tanah yang pernah mekar oleh bunga-bunga, jalan setapak dan rimbun semak, kisah kita menguning di ufuk barat.
-
"Aku suka tempat ini, fai. Bahkan sekalipun saat memejamkan mata."
"Kalau begitu tinggallah."
"Bersamamu?"
"Tentu Bersamaku."
-
Kucemburui angin yang membelai wajahmu fai ketika itu, juga pada helai rambutmu yang meriap lembut.
"Ini senja terbaik yang pernah kulihat fai. Seperti dua pejalan yang menemukan rumah."
"Senja memang kepulangan, Sayang. Meski terkadang juga kehilangan."
"Andai ia tak kembali...."
"Kadang ia tak ingin kembali."
"Jika aku yang pergi, aku akan kembali."
"Untuk senja?"
"Untuk yang masih menunggu."
Kuminta kau menetap lebih lama dalam ingatanku yang menua. Agar ketika kulukis parasmu, senyum manis itu yang kusentuh. Sepanjang Siring dan lesehan yang menjual jagung bakar, kau ingat? Sejauh itu kembara kita di pasir pantai. Gelombang kecil yang mengecup kakimu, kemudian kering oleh jejak tawa berlarian. Betapa harumnya kenangan fai. Seperti langit yang menyanding senja. Seperti hari itu. Seperti bulan dan minggu yang menunggu.
-
"Aku ingin duduk lagi di sini, satu tahun kemudian. Sama seperti sekarang, jemarimu yang kugenggam."
"Itu pasti lama."
"Jarak kita hanya sejauh jantung dan dada sayang"
Pantai adalah jembatan. Tempat kembali kutapaki wangi rambutmu. Dari tajam batu-batu, dari depa yang teramat jauh.
"Kupinjam senja milikmu, fai. Di sana hanya ada langit yang pucat. Sunset seperti ini tak pernah nampak."
"Kenapa?"
"Hilang ditelan gedung-gedung dan Aku juga takut kau ikut hilang "
kuterka-terka, seramai apa tempat kau tinggal? Riuh stasiun atau terminal? Gemerlap lampu-lampunya semoga tak membuatmu lupa.
-
Senja hampir datang, Tiba di mana perjalananmu? Adakah kereta yang mengantar berpaling arah? Sedang padamu segalaku tak pernah goyah. Satu tahun berganti, seperti apa warna matamu kini? Aku menunggu senja yang kau bawa dulu. Seperti katamu, debur gelombang ialah alasan untuk kau kembali padaku. Kau tahu, fai? Satu tahun kesepian ini, serupa ia dinginnya batu. Sayup sedalam ombak menelan gelap, tak jua menutup bayangmu di ambang mataku.
Fai, tiba di mana perjalananmu? Satu tahun berganti, seperti apa warna matamu kini? Sedang rinduku, telah begitu jauh berembus.
-
@Kopians -,Perempuan Januari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar