Jumat, 24 November 2017

Grey Sun Flower Part1



Grey Sun Flower
Oleh : siti khopipah Aliskandar.
#Part1
.
         Janwar.... orang yang membuatku, sejak kelas 4 SD . berpikir tidak ada yang lebih menarik daripada dia. Warna hitam dimatanya adalah hitam paling sempurna yang pernah kulihat, tajam dan tegas; sanggup menyapu semua hal disekelilingnya dengan satu tatapan saja. Bibirnya sesempurna senyumnya, senyum yang jarang ia umbar ke orang lain. Tapi ketika ia tersenyum, aku nerasakan aliran darahku mengalir sepuluh kali lebih cepat dari dalam jantung hingga ke ujung jariku. Mengalirkan napas pendek penuh kebahagiaan.
Kalau ditanya apa yang ia suka, aku yakin seratus persen, menulis puisi jawabannya. Tangannya menari lincah diatas kertas. Kuku kuku jarinya yang putih bersih kemerahan. Tangan itu yang sejak dulu ingin aku genggam dan ajak berjalan. Badannya tegap, punggungnya begitu lapang, punggung yang sekarang sedang aku lihat jauh dari belakang. Aku tahu, ada banyak kehangatan dipunggung yang kokoh itu. Dia benar-benar pria yang menarik. Dimataku dia benar-benar menarik. Tapi bukan kesempurnaan fisik yang membuatku menyukainya sejak dulu. Aku senang melihat tingkah lakunya, senyum dan tawa kecilnya selalu ada diwajahku ketika aku melihat keisengan yang ia lakukan bersama temannya.
        Rasa kagum selalu timbul dalam diriku ketika aku melihat dia menulis di taman sekolah. Dan rasa bangga selalu muncul dihatiku ketika melihatnya tekun belajar dan mengerjakan semua tugas sekolah dengan rapi.
Tapi sekali lagi, ternya bukan hanya kepribadiaannya yang membuatku begitu menyayanginya. Kesempurnaannya, timbuk entah darimana. Yang pasti, aku menyukainya sejak dulu, aku melihat sebagai pria yang sempurna. Aku suka, aku sayang, aku cinta. Tidak ada alasan.

"Hayoo.... Mata kamu ke buku apa kemana?" aku terkesiap, seorang gadis cantik berambut tebal panjang serta berkulit putih membunyikan suaranya diatas volume normal. Aku tak menyadari kedatangannya karena terlalu sibuk mengamati janwar. Buru buru kubenarkan posisi duduk dan arah pandanganku ke buku catatan.
.
      Gadis itu bernama alviah, sahabat baikku. Hubungan persahabatan ini baru berjalan dua tahun. Tapi aku sudah menyayanginya seperti saudara sendiri, dia orang yang paling mengenalku setelah kedua orangtuaku. Dan mungkin sekarang hanya dia dan tuhan yang tahu apa yang sedang aku perhatikan.
Alviah, gadis yang lemot, tapi cukup pintar matematika. Meskipun dia hanya merasakan kasih sayang orangtua yang tidak luarbiasa. Nasibku tidak jauh berbeda. Aku tinggal bersama kedua orangtua yang hampir menua. Papaku berumur 53 tahun sedangkan ibuku 43 tahun. Papaku seorang pekeeja keras, sedangkan ibuku adalah sumber inspirasi bagiku, ia mampu membuatku menjadi gadis kuat dan mampu berdiri di dunia yang selalu mempermainkan hidup kami. Aku sayang pada mereka...
.
"Ihh alviaaaah, jangan keras-keras dong ngomongnya." mataku melirik kearah fachri dan melototi alviah setelahnya.
Alviah menyeringai. "Makanya Ais, kalo belajar tuh yang bener, bukannya malah ngeliatin yg aneh aneh." ujar viah, sengaja menekan sedikit intonasinya. Aku tahu apa-- atau lebih tepatnya pada siapa-, yang dia maksud. Senyum puaa terukir diwajahnya. Sedangkan wajahku? Aku tidak tahu sudah semerah apa sekarang.
Alviah mengaduh karena tangannya kucubit. Hal itu tak akan kulakukan, jika janwar tak melihat dengan heran ke arah kami. Atau jangan jangan dia sadar apa yang kami bicarakan sekarang adalah dirinya?
.
Satu hal, dia tahu tentang perasaanku padanya. Tahu darimana? Aku tak tahu pasti. Tapi memang hampir satu angkatan tahu tentang perasaanku padanya. Aku hampir yakin mereka tahu semua itu dari alviah.
"Lagian kamu, ngeliatin dia terus. Enggak bosen apa? Kamu suka dia dari kelas berapa? Kelas 4 SD kan? Sekarang kamu udah kelas 3 SMA. Apa gak jamuran tuh hati?."
Nyerocos alviah sambil melihat janwar dengan seksama.mungkin mencoba mencari penyebab kenapa aku 'Setia' mencintai janwar.
        Aku kembali melirik ke arah janwar. Dia susah sibuk kembali dengan buku catatannya.
"Habisnya dia menarik sih, jadi aku enggak bosen, mana dia ngikutin aku dari SD sampe SMA. Salah siapa dong?" tanggapku sesantai mungkin. Seolah sedang menyampaikan sebuah lelucon. Padahal perasaanku padanya sama sekali bukan lelucon.
"Yeee... Dia ganteng emang udah dari sononya Aisyah Aliskandar! Emang kamunya aja yg cinta mati sama dia. Jadi susah."
Alviah kemudian menertawaiku. Aku hanya membalasnya dengan memasang wajah cemberut.
"Ya biarin dong. Bentar lagi juga aku sama dia bakalan ke pisah kalau udah kuliah. Sekarang aku mau puasin liat muka dia. Kita kan tinggal beberapa hari lagi di sekolah. Hari ini aja kita ujian nasional terakhir. Jadi biar aku seneng dikit." protesku.
"Terseraaaaaaahh." balas alviah dengan senyum jailnya.
      Ulangan hari itu berjalan lancar. Aku hampir bisa menjawab semua soal. Alviah juga bisa menjawab semua pertanyaannya. Meskipun dia tadi sempat panik. Tapi aku yakin dia sudah belajar dengan serius di rumah.
Dengan berakhirnya ujian, berakhir pula masaku duduk di bangku sekolah. Aku tinggal menunggu hasil jerih payahku selama ini. Hari hariku di SMA bisa dihitung dengan jari sekarang. Begitu pula kesempatanku untuk melihat orang yang paling menarik dalam hidupku.
.
Sejak kecil, sejak pulang sekolah adalah saat yg paling berat bagiku. Karena berkurang sudah satu kesempatan untuk melihat janwar. Aku ingat, aku selalu berharap semoga masih ada hari esok agar aku bisa memandanginya lagi.
**
Aku duduk diberanda kamar sambil memikirkan langkah apa yg harus kuambil. Menimbang nimbang universitas mana yang akan kupilih. Kalau aku memilih universitas piluhan ibu, berarti aku berpisah dengan janwar. Sejujurnya aku tidak tahu jadinya kalau aku tidak melihat sosok janwar dalam waktu yg lama. Bagiju melihatnya saja sudah cukup. Aku benar tidak berani membayangkan bagaimana aku bisa bertahan tanpa dia dimataku.
Ibu sebenarnya tidak pernah memaksaku untuk masuk kuliah manapun, ia membebaskanku asal aku bertanggung jawab. Ibu selalu menghargai setiap keputusanku. Tapi aku bisa melihat kali ini ia sangat berharap aku mengikuti semua keinginannya.
Aku membenamkan kepalaku diantara lututku yang tertekuk. Aku yakin pilihan ibu baik untukku.
Hasil ujianku keluar dengan nilai yang memuaskan dan aku diterima di kampus pilihan ibu. Bahagia sekali ketika melihat ibu senang. Aku tahu, aku mengambil keputusan yang benar. Aku rela tidak melihat janwar lagi demi melihat ibu terasnyum seperti itu. Akhirnya aku memulai hidup baru.
Mulai hari ini aku sadar, aku tak bisa memandang janwar lagi. Aku bahkan tidak bisa melihat punggungnnya . semuanya akan berubah dan aku yakin aku akan menemukan sesuatu yang lebib. Entah itu dengan atau tanpa janwar dihadapanku.
****

Pesta perpisahan. Aku dan teman temanku mengenakan gaun pesta yang cantik dan indah. Sedangkan teman laki laki mengenakan jas terbaij mereka. Semuanya terlihat cantik dan tampan. Kami merayakannya disebuah gedung yang ditata sederhana namun elegan.
Aku senang, begitu banyak kebahagiaan sekaligus haru pada hari itu. Ketika kamu menyanyi bersama, mengobrol sebagai anak SMA yg terakhir kalinya. Setelah ini kami akan melangkah dijalan yang berbeda. Mengejar impian masing masing.
Setelah hari ini mungkin aku hanya bisa melihat janwar ketika ada acara reouni saja. Tapi itu juga kalau aku dan dia tidak sibuk karena tugas kuliah. Aku harus menerima kenyataan. Tempatnya sekarang hanyalah dihatiku.sesuatu yg tidak nyata. Hanya memori. Yang suatu saat bisa pudar dimakan waktu.
     Ketika acara selesai, kami semua berpelukan. Saling mengucapkan kata perpisahan. Saling mengucapkan doa untuk hidup masing masing.
Aku memeluk alviah erat. "Eh, ngapain aku meluk kamu. Kita kan satu kampus.."
Hahaaa kami merasa geli dan tertawa.
Disamping alviah ada fahri, berdiri gagah dengan setelan jas bewarna biru. Dia lalu memelukku. Fahri sahabat baik janwar. Dia juga thu bagaimana perasaanku pada janwar. Fahri juga teman baikku. Seperti alviah, fahri juga sering meluangkan waktu untuk mendengar cerita kecilku. Aku memeluk fahri dengan erat. "Semangat ya fai, jaga dia baik-baik." bisikku.
"Tenang saja ais, gue bakal jaga pria tercinta lo itu." aku terkekeh dan memukul lengannya. Fahri akan satu kampus dengan janwar.
     Tiba tiba alviah menyiku pinggangku. Aku mengaduh dan protes padanya. Rupanya dia memberi kode agar aku menoleh ke arah kanan. Aku tertegun. Janwar...hari ini dia tampan sekali, dengan jas abu, celana abu dan dasi yang bewarna sama. Kemejanya putih bersih. Aku tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin gaunku bisa berwarna sama dengannya? Bagiku abu abu adalah warna tercantik. Aku senang, jarena kami menyukai warna yang sama.
**
Dia berjalan dengan mantap, dan memasang senyum yang sangat manis sekali. Sesuatu yang sangat aku sukai. Hatiku bergetar. Ia berhenti dihadapanku. Tepat dimataku.
Fahri dan alviah langsung pergi meninggalkan kami, seolah mereka mengerti pada keadaan. Jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat. Daya tariknya jauh lebih luarbiasa dilihat dari jarak sedekat ini. Garis garis wajahnya terlihat begitu sempurna. Ia tersenyum. Saat itu pula seolah dunia ikut tersenyum padaku. Ia menjabat tanganku. Aliran kebahagiaan mengalir dari ujung jari sampai masuk kedalam jiwaku. Akhirnya aku bisa merasakan lengan yang sejak kelas 4 SD duku ingin ku genggam, ingin ku ajak makan es krim. Tangan orang yang ingin aku ajak jalan dan bergandengan.
"Sukses ya kuliahnya. Jadi arsitek yang pintar. Rancang gedung yang bagus" ia berbicara dengan lembut.
"I.....iya." sahutku tergagap.
Kami masih berjabat tangan, dan saat aku ingin melepaskan tangannya. Dia malah menarik tanganku hingga aku jatuh dalam pelukannya.
Bagaimana mungkin? Bisa melihatnya setiap hari saja sudah membuatku mengucapkan beribu ribu syukur. Apalagi memeluknya? Memimpikanpun rasanya aku tak berani.


NEXT

Tidak ada komentar: