Rumahnya cukup luas. Namun aku tak melihat seorangpun disana. "Orangtua kakak dimana? Kakak tinggal sendiri ya? ".
"Di malang, mrmang kakak prrnah cerita ya? "
"Enggak. Terus kita kesini mau ngapain? "
"Kan kakak mau nembak itu cewek nanti malem. Tugas kamu, bantuin kakak pilih baju. " kak agung kemudian menarik tanganku masuk kerumahnya. Disana sudah ada tiga helai kaus bewarna hitam, biru dan abu-abu. "Yang mana yang bagus buat kakak? " tanyanya antusias. Aku terperangah. "Kakak mau nrmbak cewek pake kaus santai kaya gini? Pake kemeja kek, atau apa gitu yang agak formal. "
"Ah ngapain. Cewek itu orangnya jutek banget. Yang ada kakak malah diketawain kalo pake pakaian yang formal. Kayanya dia lebih suka kakak yang santai. Udah gak usah banyak protes, milihin doang susah amat. "
"Ih ya ini orang, yaudah yang abu-abu aja. Aku suka warna itu soalnya. "
Dia tersenyum lalu mencubit pipiku. "Oke sip. "
Kak agung mengambil baju itu lalu langsung masuk ke kamarnya. Kukira dia hanya ingin mengganti baju, tapi ternyata dia mandi. Akupun duduk diruang tengah sambil menonton tv.
Setengah jam kemudian dia keluar, sudah mengenakan kaus abu abu dan celana jins serta lengannya di liliti jam tangan simple. Kak agung terlihat tampan. Aroma tubuhnya menyegarkan. Gara gara penampilan menawannya niat protes karena lama menunggu kubatalkan.
"Rambut kakak bagusnya diapain ya? " tanyanya sambil mematut didepan cermin.
"Waduuuuh, niat bener. Bikin penasaran aja aja sama tuh cewek. Aku memperhatikannya "mmmm... Diginiin aja" aku mengacak acak rambutnya. "Gaya berantakan lebih bagus. "
"Oke juga. Sekarang kamu ikut kakak lagi. " dia menarik tanganku. Dia mengambil kue itu.
Mau kemana lagi ini? Pikirku. Kami menuju kesebuah gedung. Lalu masuk lift naik kelantai paling atas. Dari situ kami menaiki beberapa anak tangga.
"Kak, gpp nih kita naik ke atas gini? Ntar dimarahin satpam gimana? " tanyaku waswas.
"Gabakalan. Kakak udah minta izin. " jawabnya.
*******
Kubuka pintu atap gedung itu, angin kencang langsung menerpa tubuhku. Gedung ini tinggi sekali. Pemandangan dari atas ternyata sangat cantik. Lampu gedung jakarta terlihat sangat indah. Langit yang luas tampak seperti payung. Beberapa bintang redup terlihat disana. Tak ada bulan malam ini. Angin berembus semakin kencang. Sepertinya akan turun hujan. Aku suka suasana seperti ini, aku suka mendung. Aku suka angin dan aku suka lampu warna warni yang sekarang tampak jelas didepanku.
Disudut atap gedung aku melihat bangku kayu tua yang panjangnya sekitar 1,5 meter. Meskipun begitu, penampilannya masih bagus. Didepannya ada meja kecil persegi panjang yang tampak sama tuanya dengan bangku itu. Warna keduanya yang gelap dan terbuat dari kayu utuh memberi kesan elegan.
****
Kak agung berjalan ke arah bangku dan duduk disana. Aku mengikutinya dan duduk disebelahnya. Mataku terpejam dan kuhirup udara sedalam dalamnya.
Aku ingin merasakan sedikit angin jakarta yang berembus. Rasanya tenang sekali.
Selagi aku menikmati suasana, tiba tiba bayangan janwar melintas dalam pikiranku. Semua perasaan nyamanku hilang. Kucoba mengembalikan rasa nyamanku. Tapi tidak berhasil. Aku justru semakin gelisah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Seperti firasat buruk. Rasanya ingin menangis, hatiku sakit. Tapi aku tak tahu karena apa.....
Kak agung, meletakkan kue yang tadi dia pesan diatas meja. Aku baru sadar bahwa kak agung juga membawa sebuah kantong plastik hitam dan aku tak tahu apa isinya.
"Rencana kakak mau nembak cewek itu disini. Bagus gak tempatnya? "
"Hmmm keren banget kak. Beruntung banget deh itu cewek. " jawabku sedikit tercekat. Tiba-tiba aku seperti salah tingkah. Aku merasakan hal yang aneh. Kenapa aku tidak suka kak agung melakukan hal seromantis ini kepada cewek lain. Aku seperi tidak rela.
"Ais, tolong buka kue nya. "
Aku terperanjat "lhooo,, kata kakak kue ini buat cewek itu. Kok malah aku yang suruh buka sih? Kalo rusak gimana? " tanyaku bingung.
"Justru itu, kakak mau minta pendapat kamu dulu sebelum kakak kasih ke orangnya. Kakak ingin mendengar pendapat dari seorang cewek. Kalo menurut kamu gak bagus, kan bisa kakak ganti. Terus tangan cewek kan lebih hati hati, makanya kakak minta tolong kamu yang bukain. "
Kak agung memasang tampang memohon.
Karena tidak tega. Aku membuka bungkus kue itu. Butuh waktu sekitar lima menit untuk membukanya dengan sempurna dan rapi. Kak agung dengan sabar menunggu. Aku sangat terkejut begitu melihat apa yang ada didalam kotak secantik itu....
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar