Jumat, 24 November 2017

Grey Sun Flower Part2

Grey Sun Flower
#Part2
  ****

  "Aku pasti merindukanmu." ucapku lirih. "Maafkan aku ais." jawabnya.
Dia terdiam, aku mendengar setiap detak yang ada di jantungnya.
Perasaan terkejut buru buru kubuang, aku ingin merasakan pelukannya. Kuletakkan kepalaku diatas bahunya, memeluknya seerat yang kubisa. Kuhirup aroma tubuhnya yang segar, supaya farfumnya melekat dalam ingatan. Dia mengusap punggungku dengan hangat. Aku tidak ingin melepaskannya. Apa dia tahu aku masih sangat menyayanginya dari dulu hingga sekarang? Aku ingin memeluknya terus sampai aku mati.
Tapi itu hanya mimpi. Baginya, ini hanya pelukan persahabatan. Tidak lebih. Aku yakin dia tidak punya perasaan apa apa untukku. Seandainya aku boleh meminta. Aku ingin bersamanya terus seperti ini selamanya. Hingga akhirnya dia melepas pelukannya dan mengucapkan salam perpisahan.
Gaun ini tidak akan pernah aku buang. Karena di gaun ini ada aroma tubuh janwar yang segar. Ini malam perpisahan yang begitu manis dalam hidupku.

*******

(Enam bulan kemudian)

****
"Alviah gue mau les bahasa inggris ditempat lo nih, ada kelaa baru? Bayarnya berapa? Mahal gak?" aku duduk dikursi taman kampus sambil minum air putih disamping alviah.
"Kalo gak salah sih ada, soal harga tergantung lo dapet level apa. Nanti sore gue ada jadwal les. Nanti kita bareng kesananya, gimana?". Tawarnya sambil melihat kertas ujiannya yang kebanyakan nilai C.
"Ini gue nya yang bego apa dosen yang sentimen sih? Kenapa nilai gue jelek semua? Waahh pasti dosennya yang salah ngasih materi nih." kesalnya.
"Hahaa kalo lemot ya lemot aja. Gausah nyari pembenaran. Hahaa yang sabar ya, mungkin udah takdir lo kaya gitu." godaku sembari menepuk nepuk pungguh alviah. "Kaya gue dong vi, mau jelek kek, mau kebaran kek, yang penting hapyy..". Ledekku lagi puas tertawa.
"Yaiyalah, lo enak ngomong gitu, orang nilai lo yang paling rendah B, buat gue sih udah syukur banget. Kayanya gue pengen terua kaya lo aja tiap hari." ujar alviah. Aku hanya nyengir mendengar pujian terselubung alviah. Nilai nilai itu aku dapatkan karena keinginanku yang besar untuk membahagiakan papah sama ibu dan obsesiku untuk melupakan janwar. Sudah enam bulan berpisah, tapi ingatanku masih memutar memori yang sama. Memori tentang janwar.
.
Aku tak menyangka akan sesulit ini untuk melupakannya, dulu kukira ini hanya cinta monyet yang akan bertahan sampai satu dua tahun, tapi ternyata tidak.
Wajahnya terua muncul dibenakku. Setiap detik, ingatanku akan dia sangat mengganggu. Dia dan harum tubuhnya meninggalkan lubang lubang kecil dihatiku. Lubang itu bertambah besar setiap hari, ketika aku meeindukannya.
"Ais, lo pulang sendiri gapapa kan? Gue mesti les nih. Udah telat." tanya alviah padaku setelah ia selesai mengantarku mendaftar. Aku mengangguk dan alviah langsung berlari kecil menuju kelasnya. Aku merapikan formulir dan arsip-arsip. Sambil berjalan keluar gedung aku asyik melihat gedung sekeliling. Bnyak anak SMA ditempat itu, melihat mereka membuatku teringat pada masa SMa yang sudah enam bulan aku tinggalkan. Untunglah anak kuliah juga banyak. Mereka tampak sibuk dengan urusannya masing masing.
*
Saat aku berjalan keluar pekarangan gedung, aku melihat seorang pria berkaus putih dengan celana jins hitam Turun dari mobil range rover. Penampilannya agak berantakan, namun wajahnya cukup tampan. Badannya tinggi, lebih tinggi daripada janwar. Kulitnya putih dengan dilapisi bulu bulu tipis dilengannya. Rambutnya hitam dan rahangnya yang tegak membuatku terpana. Matanya lembut, bibirnya tenang. Terkadang aku terkejut sendiri dan tertawa setelahnya. Kenapa aku melihat seorang pria, aku langsung membandingkannya dengan janwar. Saking terpananya aku tak memperhatikan jalan.
.
GUBRAAAKKK..... !!!
Wajahku memerah , aku menabrak tong sampah. Tak kusangka pria itu menghampiri dan membantuku berdiri. Tangannya yang kokoh dan hangat menggenggam tanganku. Siak sekali aku. Belum pernah aku semalu ini, tapi aku kagum ada pria tampan yang mau menolong setelah kejadian memalukan tadi. Samar samar aku mencium bau farfumnya. Sejenak aku merasa bau farfumnya sama dengan aroma janwar.
"Apa aku setampan itu, sampe kanu gak liat jalan?" tanya pria itu sambil membantuku merapikan formulir yang jatuh berserakan.
Aku langsung menatap matanya dan merasa syok. Rasa kagumku hilang seketika. Aku malu dan jengkel bukan main. Karena pria ini hanya ingin mengolokku. Tanpa berkata apa-apa aku bergegas pergi san meninggalkannya. "Woi. Ngucapin terimakasih kek, apa ke . dasar cewek gila! Udah syukur ditolongin." teriaknya.
.
Ternyata kesialanku masih berlanjut. Waktu les bahasa inggris, aku sekelas dengan pria menyebalkan itu. Aku kaget ketik melihat dia masuk ke kelasku dengan kaus berwarna biru dan celana jins hitam. Dia juga tampak terkejut namun kemudian tersenyum mengejek ke arahku. Aku langsung membuang muka. Sekilaa aku mendengar, dia berguman keaal ketika melihat sikapku.
Dari sesi perkenalan akhirnya aku tahu namanya. Agung Mardian. Yang membuatku lebih kaget, ternyata dia satu kampus denganku!!! Mahasiswa fakultas kedokteran. Pantas aku tidak pernah melihatnya. Aku mengambil bidang arsitektur. Ditambah aku tergolonh mahasiswa baru.
Dengan kelebihan fisiknya, aku yakin dia akan menjadi dokter yang sangat tampan. Aku berusaha tak melihat wajahnya, tapi mataku tetap saja mencuri pandang. Wajahnya begitu tenang.
Dia tampak sibuk dengan catatannya, wajahnya tampak lebih tampan ketika sedang berkonsentrasi, tangannya yg putih kontraa dengan bolpoin yang ia genggam.
Setelah les selesai , aku baru sadar bahwa dia benar benar menyita perhatianku selama dua jam ini. Selain janwar, baru kali ini ada orang yang mampu membuatku tidak bisa berkonsentrasi.
.
Aku keluar kelas dengan buru-buru. Malas sekali kalo harus berpapasan dengannya. Aku berjalan cepat menuju pintu keluar. Tapi tampaknya tuhan memang sedang menguji kesabaranku. Hujan turun dengan deras di sertai angin kencang. Sebenarnya aku suka mendung, aku suka hujan. Tapi aku kesal karena hari ini aku tidak membawa payung dan perutku sudah keroncongan . dari pagi aku hanya makan nasi goreng buatan ibu saat sarapan. Aku sempat berfikir untuk berlari saja. Jarak pintu dengan halte bus sangatlah jauh. Tubuhku pasti basah kuyup jika aku nekat berlari. Terpaksa aku menunggu hujan sampai reda.
Jam menunjukan 19.30 malam, aku meringis kedinginan dan kelaparan. Dirumah, tugas kuliah numpuk dan menunggu untuk diselesaikan. Aku mendesah. Seandainnya papah bisa jemput, tapi papah sedang ada kerjaan bersama rekannya.
Aku berjalan ke ruang tunggu yang tidak jauh dari pintu masuk. Kukeluarkan novel yang baru kubeli, untung saja aku bawa buku ini. Kalau tidak aku akan mati bosan menunggu hujan reda. Ketika aedang asyik membaca, suara yang tidak asyik membuyarkan konsentrasiku. Ternyata Agung sudah duduk di sebelahku .
"Rumah kamu dimana?" agung mengulangi pertanyaannya. Aku memandang sekelilingku, di ruang tunggu itu tidak ada orang lain yang duduk selain kami berdua. Aku meliriknya, dia memang berbicara. Tapi tidak melihat ke arahku. Tangannya sibuk dengan ponselnya. Jngan jangan dia sedang menelpon? Tapi ditelinganya tidak ada headset.
Sekali lagi aku pandangi di sekelilingku, tempat ini bahkan telah sepi karena hampir semua anak sudah di jemput dan pulang.
"Woooooyyy, gue ngomong sama lo, Aisyah Iskandarr! Budek ya..."
Mendengar namaku disebut aku langaung menoleh ke arahnya dan menatapnya bingung. Ada urusan apa dia brrbicara padaku dan menanyakan rumahku? "Lo ngomong sama gue?"
"Enggak mungkin kan gue ngomong sama pintu" jawabnya singkat tanpa ekspresi.
"Ada urusan apa lo nanya nanya rumah gue? Kenal aja enggak.."
Melihat wajahnya yng tampan, aku takut akan terpana lagi. Parfumnya yang segar tercium olehku. Rasanya aku ingin pingsan. Apalagi menatap matanya yang lembut.
"Siapa tau rumah lo searah sama rumah gue. Kalo iya, kita pulang bareng aja." dia masih sibuk dengan ponselnya. Aku terkejut mendengar ajakannya. Jarang sekali ada orang yang menawarkan tumpangan pada orang yang baru dikenal. Dia tampaknya membaca kebingunganku. Lalu ia beranjak dari tempat duduk dan berdiri dihadapanku sehingga aku harus mendongak melihat wajahnya.
"Hujan ini gak ada tanda mau berhenti deh. Kalo mau bareng ayo. Kalo gak mau, gue gak rugi kok." agung menjelaskan dengan santai. Seperti berusaha meyakinkan bahwa dengan pertolongannya aku bisa sampai dirumah tanpa kehujanan. Aku belum menjawab, aku masih berfikur, keputusan apa yang harus aku ambil. Ikut atau tidak?
Agung berjalan meninggalkanku yang masih kebingungan. Aku mengira dia akan langsung pulang, tapi tepat sebelum melangkah keluar dia menoleh lagi.
"Jadi ikut gak?"

NEXT


Tidak ada komentar: