Sabtu, 25 November 2017

Grey Sun Flower Part4




Pertanyaan yang belum sempat di jawab......
.
Hari itu, sehabis les. Aku menunggu agung keluar dari toilet. "Lama bener sih kak!" kesalku.
"Sabar dong, udah nebeng pulang, bawel lagi." protesnya. "Kumat lagi songongnya, yaudah aku pulang sendiri"
"Eee...eeeehh mau kemana, gitu aja ngambek." tangannya menarik tanganku. "Pokonya, apapun yang terjadi kakak gak akan biarin kamu sendiri."
"Nah gitu dong"
Aku nyengir melihat tingkah lakunya.
Tiba tiba ada yang menusuk hatiku. Wajah janwar seketika muncul dipikiranku. Membuat nafasku sesak dan kepalaku pusing. Ada apa ini?
Aku rasa aku telah kehilangan dia. Sejak janwar memelukku hari itu, dia seperti menghilang dari hidupku. Aku mau melakukan apapun hanya untuk melihat senyumnya sekali lagi. Apakah dia sehat atau tidak, aku tak tahu. Dia tidak datang ketika acara kumpul angkatan. Aku sudah tanya beberapa teman janwar dan ternyata bukan hanya aku yang tidak tahu kemana dia pergi. Begitupun fahri, tidak kabar tentang janwar yang berumbus ke telingaku. Pada saat seperti ini aku baru sadar betapa aku menyayangi janwar. Betapa aku merindukan dia. Betapa hidupku seperti bola tanpa udara yang tak bisa bergerak kemana mana karena tidak ada dia.
Sekilas aku tampak sudah melupakan dia karena kesibukan kuliahku. Tapi ternyata bohong besar. Pernah aku datang ke kampusnya dan mencari info di bagian administrasi. Saat itu aku sempat berpikir, jangan-jangan aku sudah gila karena melakukan hal yang konyol. Tapi ingatan akan senyumnya memperkuat tekadku.
Bagian administrasi mengatakan tidak pernah ada nama janwar yang terdaftar sebagai mahasiswa disana. Aku bingung. Aku coba datang ke rumahnya. Lagi lagi aku tidak menemukan janwar. Rumahnya kosong. Informasi dari tetangganya, keluarganya sudah pindah lima bulan yang lalu. Itu berarti tepat setelah kami lulus SMA.
*****
Kemana janwar? Mengapa dia menghilang begitu saja? Takdir seolah mempermainkanku. Aku mencoba meyakinkan diri janwar pasti baik baik saja di suatu tempat. Dia pasti sehat, kuliahnya lancar dan hidupnya menyenangkan. Mungkin sekarang dia sedang serius belajar menjadi sutradara. Dia pernah berkata padaku, dia ingin menjadi sutradara terkenal. Atau mungkin sekarang dia sedang bersama pacarnya yang cantik , makan eskrim, atau sekedar duduk mengobrol di sebuah taman.
**** "Woooooii" agung berteriak ditelingaku, aku terkejut.
"Mardiaaaaaaaan... Kenapa sih ngeselin banget jadi orang" aku sedikit marah padanya. "Lagian budek banget jadi orang, dipanggik daritadi bengooong terus"
"Ya tapi bisakan gausah rese" ketusku.
"Iya iyaa maaf deh.. Kenapa sih? Lagi ada masalah apa Ais?" tanyanya lembut.
"Mmmmmm aku gak apa-apa. Lagi kepikiran sesuatu aja"
Aku mencoba menginbangi langkahnya yang panjang. Tapi sepertinya dia tidak terlalu mendengarkan katakataku. Dia sibuk dengan ponselnya. Saat aku berusaha mengintip, dia cepat memasukkan ponselnya ke saku.
"Ais, kalo hari ini gak langsung pulang gimana? Kakak mau minta tolong nih"
"Tolong apa?"
"Ada deh, ya bantuin ya? Itung itung balas budi deh, jangan bisanya cuman nyusahin doang " jelasnya dengan tertawa puas.
"Ih pamrih bener sii jadi orang , kemarin rangkul rangkul, sekarang minta tolong gak jelas, besok apa?"
"Ya apa kek, terserah doong, sekali kali pamrih untuk menyambung hidup." cengengesnya.
"Emangnya kita mau kemana?"
"Bawel deh, udah ikut aja."
Mukaku memerah karena kesal. Aku masih belum tahu mau dibawa kemana. Sampai akhirnya dia menghentikan motornya di toko kue.
Mataku langsung melotot, masalahnya aku pernah membeli kue disini, dan harganya mahal mahal. Apalagi saat ini aku hanya mengantongi uang selembar dua puluh ribu dan tiga lembar seribuan. "Buset, kakak mau beli kue? Aduuh jangan disini deh, kuenya mahal mahal. Kita ketempat lain aja gimana?"
"Udah kamu jangan bawel, sekarang kamu turun dan masuk kedalem." perintahnya. Wajahku langaung pucat. "Terus kamu bilang sama pelayang yang ada di dalem klo kamu mau ngambil kue pesenan Agung Mardian, tenang aja udah kakak bayar kok" lanjutnya. Penjelasan kak agung membuatku bernapas lega. Aku langsung turun. Interior toko kue ini bernuansa warna kayu yang lembut. Aku melihat beberapa sepasang kekasih sedang menikmati kue bersama. Manis sekali, pikirku.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" suara seorang pelayan cantik membuyarkan perhatianku. Wajahku pasti terlihat kebingungan.
"Hah? Mmmm." aku berusaha mengembalikan pikiranku.
"Ooh, tunggu sebentar." kata pelayan itu. Ia lalu langsung mengambil sesuatu dari dapur. Apa yang dilakukan pelayan itu? Aku kan belum mengatakan maksud dan tujuanku datang kesini. Apa pelayan tadi bisa membaca pikiran seseorang!!!!
Aku menunggu sambil melihat kue kue yang terpajang disana. Cantik sekali, jadi lapar.
Beberapa menit kemudian si pelayan kembali dengan kotak kue berukuran sekitar 20 x 20 cm. Kotak itu berwarna abu-abu dan dihiasi pita cantik.
"Ini pesanan mas agung, mbak." kata pelayan itu.
"Kok mbak tahu kalo saya mau mengambil pesanan dia?"
Tanyaku bingung.
Pelayan itu hanya tersenyum . dan membuatku bertambah bingung ketika dia bilang. "Mbak beruntung ya..".
"Hah? Maksudnya?" aku bertanya dengan muka tolol. Tapi pelayan itu tidak menjawab kebingunganku. "Maaf mbak, pelayan yang lain sudah mengantre terimakasih."
Aku menoleh kebelakang dan benar saja, ada tiga orang yang menunggu. Wajah mereka mulai terlihat tidak sabar. Tidak ingin dipelototi aku memutuskan segera kembali. Walaupun aku masih bingung dengan pernyataan pelayan tadi. Mungkin kak agung pelanggan setia, jadi dia tahu. Tapi maksudnya aku beruntung apa?
Masih dengan alis berkerut, aku membawa kotak kue dengan hati-hati. Aku juga penasaran dengan kue itu. Untuk apa dia membeli kue yang tergolong spesial ini? Hari ini kan bukan ulang tahunnya kak agung ataupun aku. Aku ingat benar ulangtahunku sama dengannya . tanggal 4 september, kebetulan yang sangat tidak disangka dan 4 september masih 3 bulan lagi.
"Sudah, pegang yang bener ya!!"
"Iya bawel" alisnya mengkerut..
"Eeh kok mbak yang didalam tahu kalo aku mau ambil pesenan kakak? Aneh deh. Terus dia bilang aku orang yang beruntung. Maksudnya apa coba?" jelasku bingung.
"Mana kakak tahu" jawabnya dengan cuek. "Mbaknya bisa baca pikiran orang kali. Mungkin dia juga kecapean makanya ngomongnya ngelantur. Udah gausah dipikirin, yang penting kuenya udah diambil."
"Terus kue ini buat apa? Kita kan gak ulang tahun." dia terdiam masih fokus mengendarai motor.
"Kaaaak"
"Apasih, bawel bangett.."
"Ini buat cewek kakak yaa? Bungkusnya bagus banget. Ehh emang kakak punya cewek?" aku terkekeh.
"Buat calon cewek kakak, mau kakak kasih nanti malam, pegang yang bener, awas jangan sampe lecet." kak agung menghentikan motornya disuatu taman.
"Cieeeee sekarang udah punya gebetan nih. Parah yaa.. Gak dikenalin ke aku." protesku dengan cemberut.
"Ngapain juga dikenalin ke kamu nanti kena pengaruh aneh lagi hahaaa." tawanya. "Kita duduk dulu disini, kakak lagi pengen nikmati suasana sore sama cewek, biar nanti malem gak deg degan."
Aku mengernyit.. "Eiitttss tapi inget, jangan kegeeran.." jelasnya sambil menepak jidatku.
" jih, ngapain juga harus geer, terus yang kakak maksud bantuin kk itu, cuma suruh bawain kue ini doang? Sialan."
"Ya enggak lah, masih banyak yang harus kamu kerjain."
"Oooooh, sekarang kita mau kemana lagi?" tanyaku penasaran.
"Kerumah kakak."
"Ngapain? Waaahh mau macem macem yaa.. Gak ada gak ada.." protesku.
"Apaan sih. Ngaco deh.. Udah ikut aja, jangan banyak ngomong. Kepala sakit nih denger kamu ngomong terus."
Aku cemberut "kok seweot sih."
Kak agung terdiam seketika wajahnya terlihat tegang. Setelah sekitar lima belas menit kami duduk tanpa mengobrol. Ya tuhaan rumahnya jauh sekali denganku. "Lhooo katanya rumah kakak deket sama rumahku?" kak agung hanya nyengir. "Menurut kakak sih ini deket."
Aku menghela napas, dia pasti sudah gila. Dasar orang gak punya kerjaan, jelas jelas rumahnya berlawanan arah dengan rumahku...

NEXT

Tidak ada komentar: