GSF #Part3
******
"Jadi ikut gak?"
Aku menghela nafas, sepertinya aku harus melupakan kejadian kemarin. Aku harus sampai dirumah secepatnya. Kalaupun dia mau macam-macam, aku masih menyimpan semprotan lada di dalam tas. Cepat-cepat kususul dia yang tersenyum puas.
"Pakai ini biar gak kehujanan, kamu tunggu sini dulu.."
Agung melepaskan jaketnya dan menyodorkannya dengan tah acuh padaku. Lalu dia berlari kecil. Dan mengajakku pulang.
"Jadi rumahmu dimana ais?" tanyanya santai.
"Didaerah kemayoran". Jawabku lalu menjelaskan alamat rumah padanya secara detail. Sementara dia terus mengendarai mobil dengan kecepatan stabil.
"Kamu baru mulai kuliah tahun ini ya?" tanyanya masih dengan nada santai.
Aku mengangguk. "Iya, baru semester pertama. Kalo kamu?"
"Pantes aku gak kenal, aku udah semester lima." jawabnya singkat.
Obrolanpun mengalir, kami membicarakan kampus. Dari pertanyaan basa-basi hingga gosip terhangat yang sedang beredar di kampus. Tak disangka aku merasa nyaman mengobrol dengannya. Selera humornya tinggi juga, aku sampai sakit perut mendengar leluconnya. Aku merasa heran. Aku baru kenal agung dua hari. Tapi bersamanya aku bisa tertawa selepas ini. Ya meskipun penyakit over pedenya sesekali muncul.
**
Tanpa terasa kami sudah tiba didepan rumahku. Lampu rumah menyala itu artinya ibu ada dirumah.
"Makasih banyak ya, aku gak tahu gimana pulangnya kalo gak ada kakak."
"Hah kakak? Sejak kapan ? Hahaa." ledeknya..
"Tapi okelah, umur aku kan lebih dewasa. Meskipun hanya sedikit." jelasnya dengan masih tertawa.
Aku hanya mengernyit heran. "Sekali lagi makasih ya.."
Agung tersenyum. Bibirnya menekuk manis diwajahnya yang tampan. "Santai saja, lagian rumahku deket sini kok."
"Oh yaa?" tanyaku
"Kalau begitu, kapan kapan harus ajakin aku main ke rumah kakak, oke!"
"Iya gampang, sudah masuk sana."
Perintahnya dengan lembut.
Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi, aku langsung turun masuk kerumah dan langsung disambut aroma harum makan malam yang sudah ibu siapkan.
****
Semenjak hari itu. Aku dan agung bersahabat . setiap les, agung hampir tidak pernah absen untuk mengantarku pulang. Bukan hanya itu, agung juga tidak jarang menjemputku ke rumah. Kalau aku bertanya padanya "buat apa repot repot?". Dia selalu menjawab. "Daripada aku gak ada kerjaan".
Aku jadi bingung sendiri.
Anehnya lagi, dia tidak pernah mengajakku ke rumahnya. Selalu ada seribu satu alasan untuk membuatku mengurungkan niat pergi kesana. Teman teman di kampua banyak yang mengira kami berdua berpacaran. Alviah pun mengira seperti itu. Padahal kami berdua murni hanya berteman.
Tapi terkadang, aku akui aku sering mengajak agung jalan karena dia menarik. Menggandengnya seakan dia itu pacarku. Itu membuat teman temanku bertanya siapa kak agung sebenarnya? Apakah dia pacarku? Aku tidak pernah menjawab pertanyaan mereka. Tidak aku iyakan, tidak juga aku sangkal. Menurutku aku tidak berbohong. Tapi lama kelamaan, kak agung mulai bertingkah. Pernah qaktu itu, saat kami membeli buku. Dia melingkarkan tangannya dibahuku. Spontan ku tepis tangannya. "Agung Mardiaaaaaaan" teriakku.
Dia terkejut. "Jih kenapa?"
"Ngapain rangkul ragkul? Mau curi kesempatan?" aku menatapnya dengan wajah galak.
Tapi dia malah tertawa mengejek. "Salah sendiri. Kamu kan juga sering memanfaatkan ketampanan kakak. Bertingkah seolah-olah kakak ini pacar kamu. Ya kan? Kamu pikir kakak gak tau. Padahal kan kita cuman temenan. Jadi wajar kalo pamrih dikit hahaaa." ledeknya sambil nyengir menjengkelkan. Aku hanya mendengus. "Dasar tukang pamrih" gerutuku.
"Yaudah deh, tar kamu pulang sendiri aja."
Aku langsung terdiam mendengar ancamannya. Dia tahu aku paling benci pukang sendiri. Aku sudah terbiasa diantar jemput olehnya. Naik mobilnya yang nyaman. Sekarang aku jadi malas naik bus kota yang panas.
Dengan beberapa buku ditangan. Kak agung berjalan ke arah kasir. Aku bisa melihat dia menyunggingkan senyum kemenangan di wajahnya yang tampan.
"Nih" tiba tiba dia menyodorkan salah satu kantong plastik ditangannya. Ketika kuintip isinya aku terperanjat. Ternyata itu bukun impor yang sudah lama aku incar, tapi tidak kesampaian karena mahal.
"Kok kakak tahu aku mau buku ini? Perasaan aku gak pernah cerita". Tanyaku bingung.
***
Sejak berteman dengannya, aku lebih hati hati dalam mengatakan apa yang aku sukai atau apa yang ingin aku beli. Kak agung punya kebiasaan buruk. Dia terlalu royal terhadapku. Barang yang ingin aku beli, langsung dibelikan olehnya.
"Emang kamu lagi suka buku itu, ya?" kak agung memasang tampang bego. "Tadi aku asal milih aja, habis sampulnya bagus sih, jadi daripada uang kakak nganggur. Mending kakak sumbangin ke kamu."
Aku hanya menghela nafas. "Selalu kaya gitu."
Kami kemudian menuju ke tempat parkir. Dia selalu memakai alasan yang sama setiap kali membelikanku seauatu. Dan aku merasa dia sudah tidak mengharapkan ucapan terimakasih lagi dariku.
Sambil berjalan, dia merangkul bahuku dan tertawa. Suara tawanya terdengar begitu menyenangkan di telingaku. "Tenang saja, kakak gak pamrih kok untuk soal yang satu ini, hahaaa."
Aku hanya nyengir. "Lain kali, jangan beli apa apa lagi buat aku deh. Aku gak enak kak. Aku belum tentu bisa bales semua kebaikan kakak. Kalo aku mau sesuatu. Aku bakalan nabung sendiri. Jadi kk gausah repot repot."
Dia hanya tertawa dan mulai mengacak ngacak rambutku. "siapa juga yang minta di bales? Kan kakak udah bilang. Daripada uang kakak nganggur, mendingan kakak sumbangin ke kamu. Kan kan?". Dia kembali tertawa.
Aku tidak menganggap leluconnya utu lucu, jadi kusikut pinggangnya dengan keras.
"Aaawwww!! Sakit." pekiknya. "Kenapa disikut? Sakit tau."
"Biarin, orang nyeselin kaya kakak emang pantes digituin." secepat kilat aku merampok kunci mobilnya. Takut tidak diantar pulang.
Aku menghela nafas, sepertinya aku harus melupakan kejadian kemarin. Aku harus sampai dirumah secepatnya. Kalaupun dia mau macam-macam, aku masih menyimpan semprotan lada di dalam tas. Cepat-cepat kususul dia yang tersenyum puas.
"Pakai ini biar gak kehujanan, kamu tunggu sini dulu.."
Agung melepaskan jaketnya dan menyodorkannya dengan tah acuh padaku. Lalu dia berlari kecil. Dan mengajakku pulang.
"Jadi rumahmu dimana ais?" tanyanya santai.
"Didaerah kemayoran". Jawabku lalu menjelaskan alamat rumah padanya secara detail. Sementara dia terus mengendarai mobil dengan kecepatan stabil.
"Kamu baru mulai kuliah tahun ini ya?" tanyanya masih dengan nada santai.
Aku mengangguk. "Iya, baru semester pertama. Kalo kamu?"
"Pantes aku gak kenal, aku udah semester lima." jawabnya singkat.
Obrolanpun mengalir, kami membicarakan kampus. Dari pertanyaan basa-basi hingga gosip terhangat yang sedang beredar di kampus. Tak disangka aku merasa nyaman mengobrol dengannya. Selera humornya tinggi juga, aku sampai sakit perut mendengar leluconnya. Aku merasa heran. Aku baru kenal agung dua hari. Tapi bersamanya aku bisa tertawa selepas ini. Ya meskipun penyakit over pedenya sesekali muncul.
**
Tanpa terasa kami sudah tiba didepan rumahku. Lampu rumah menyala itu artinya ibu ada dirumah.
"Makasih banyak ya, aku gak tahu gimana pulangnya kalo gak ada kakak."
"Hah kakak? Sejak kapan ? Hahaa." ledeknya..
"Tapi okelah, umur aku kan lebih dewasa. Meskipun hanya sedikit." jelasnya dengan masih tertawa.
Aku hanya mengernyit heran. "Sekali lagi makasih ya.."
Agung tersenyum. Bibirnya menekuk manis diwajahnya yang tampan. "Santai saja, lagian rumahku deket sini kok."
"Oh yaa?" tanyaku
"Kalau begitu, kapan kapan harus ajakin aku main ke rumah kakak, oke!"
"Iya gampang, sudah masuk sana."
Perintahnya dengan lembut.
Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi, aku langsung turun masuk kerumah dan langsung disambut aroma harum makan malam yang sudah ibu siapkan.
****
Semenjak hari itu. Aku dan agung bersahabat . setiap les, agung hampir tidak pernah absen untuk mengantarku pulang. Bukan hanya itu, agung juga tidak jarang menjemputku ke rumah. Kalau aku bertanya padanya "buat apa repot repot?". Dia selalu menjawab. "Daripada aku gak ada kerjaan".
Aku jadi bingung sendiri.
Anehnya lagi, dia tidak pernah mengajakku ke rumahnya. Selalu ada seribu satu alasan untuk membuatku mengurungkan niat pergi kesana. Teman teman di kampua banyak yang mengira kami berdua berpacaran. Alviah pun mengira seperti itu. Padahal kami berdua murni hanya berteman.
Tapi terkadang, aku akui aku sering mengajak agung jalan karena dia menarik. Menggandengnya seakan dia itu pacarku. Itu membuat teman temanku bertanya siapa kak agung sebenarnya? Apakah dia pacarku? Aku tidak pernah menjawab pertanyaan mereka. Tidak aku iyakan, tidak juga aku sangkal. Menurutku aku tidak berbohong. Tapi lama kelamaan, kak agung mulai bertingkah. Pernah qaktu itu, saat kami membeli buku. Dia melingkarkan tangannya dibahuku. Spontan ku tepis tangannya. "Agung Mardiaaaaaaan" teriakku.
Dia terkejut. "Jih kenapa?"
"Ngapain rangkul ragkul? Mau curi kesempatan?" aku menatapnya dengan wajah galak.
Tapi dia malah tertawa mengejek. "Salah sendiri. Kamu kan juga sering memanfaatkan ketampanan kakak. Bertingkah seolah-olah kakak ini pacar kamu. Ya kan? Kamu pikir kakak gak tau. Padahal kan kita cuman temenan. Jadi wajar kalo pamrih dikit hahaaa." ledeknya sambil nyengir menjengkelkan. Aku hanya mendengus. "Dasar tukang pamrih" gerutuku.
"Yaudah deh, tar kamu pulang sendiri aja."
Aku langsung terdiam mendengar ancamannya. Dia tahu aku paling benci pukang sendiri. Aku sudah terbiasa diantar jemput olehnya. Naik mobilnya yang nyaman. Sekarang aku jadi malas naik bus kota yang panas.
Dengan beberapa buku ditangan. Kak agung berjalan ke arah kasir. Aku bisa melihat dia menyunggingkan senyum kemenangan di wajahnya yang tampan.
"Nih" tiba tiba dia menyodorkan salah satu kantong plastik ditangannya. Ketika kuintip isinya aku terperanjat. Ternyata itu bukun impor yang sudah lama aku incar, tapi tidak kesampaian karena mahal.
"Kok kakak tahu aku mau buku ini? Perasaan aku gak pernah cerita". Tanyaku bingung.
***
Sejak berteman dengannya, aku lebih hati hati dalam mengatakan apa yang aku sukai atau apa yang ingin aku beli. Kak agung punya kebiasaan buruk. Dia terlalu royal terhadapku. Barang yang ingin aku beli, langsung dibelikan olehnya.
"Emang kamu lagi suka buku itu, ya?" kak agung memasang tampang bego. "Tadi aku asal milih aja, habis sampulnya bagus sih, jadi daripada uang kakak nganggur. Mending kakak sumbangin ke kamu."
Aku hanya menghela nafas. "Selalu kaya gitu."
Kami kemudian menuju ke tempat parkir. Dia selalu memakai alasan yang sama setiap kali membelikanku seauatu. Dan aku merasa dia sudah tidak mengharapkan ucapan terimakasih lagi dariku.
Sambil berjalan, dia merangkul bahuku dan tertawa. Suara tawanya terdengar begitu menyenangkan di telingaku. "Tenang saja, kakak gak pamrih kok untuk soal yang satu ini, hahaaa."
Aku hanya nyengir. "Lain kali, jangan beli apa apa lagi buat aku deh. Aku gak enak kak. Aku belum tentu bisa bales semua kebaikan kakak. Kalo aku mau sesuatu. Aku bakalan nabung sendiri. Jadi kk gausah repot repot."
Dia hanya tertawa dan mulai mengacak ngacak rambutku. "siapa juga yang minta di bales? Kan kakak udah bilang. Daripada uang kakak nganggur, mendingan kakak sumbangin ke kamu. Kan kan?". Dia kembali tertawa.
Aku tidak menganggap leluconnya utu lucu, jadi kusikut pinggangnya dengan keras.
"Aaawwww!! Sakit." pekiknya. "Kenapa disikut? Sakit tau."
"Biarin, orang nyeselin kaya kakak emang pantes digituin." secepat kilat aku merampok kunci mobilnya. Takut tidak diantar pulang.
NEXT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar