Angin malam menembus jantung dan paruku, aku masih saja disini, dengan rasa penasaran yang semakin lama semakin memuncak.
Aku masih mencerna atas pertanyaan yang kau tanyakan pada temanku, seakan semuanya mengapung di udara.
'kenapa dia bisa mencintai saya , apa yang dia lihat dari diri saya.' katamu...
Kau tahu...? Saat mendengar itu, Aku hanya tertawa kecil. Pertanyaan bodoh memang dan rasanya ingin aku menjawab semua pertanyaan basa-basi yang kau lontarkan itu.
Sepertinya memang kita harus bicara empat mata, untuk sekedar membicarakan kesalahpahaman yang konyol ini. Meskipun bagimu ini tidak penting, bahwa kau harus tahu, aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya pernah mencintai sosok pria yang serupa denganmu, dan kini pria itu telah pergi, hilang dan takkan kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar