Selasa, 01 Mei 2018

Mei, aku rindu seseorang..!!

Suatu ketika, kau bercerita tentang sungai, perahu, dan seseorang yang rindu. Selalu setelahnya adalah kesepian yang kelam—yang dihantar riak dengan sedikit gelombang. Kehidupan seperti parafin tersulut sumbu, setelah dinyalakan, ia terbakar, kemudian meleleh dan padam. Kita menamainya kehilangan. Kata yang paling sering ditulis dalam romansa usang. Bahkan ketika ia tak tahu kenapa ia sendirian, Pada satu musim di sebuah desa yang membuatnya mengenang banyak sekali cerita lama.
Kau tahu? Kenapa aku begitu menyukai biru? Karena ia begitu berani. Bukan merah yang diceritakan tentang darah, atau hitam yang adalah ketakutan pada ruang tanpa cahaya
Seperti langit yang tabah, yang tak pernah murung perihal cerah atau mendung. Tempat burung-burung belajar terbang, sebelum kembali melepas lelah pada sarang. Dari tanah lapang, kita melihat seseorang menerbangkan layang-layang, seolah bertaruh takdir pada angin dan sehelai benang. Di sanalah biru, yang begitu luas dan tinggi. Tentang harapan, cita-cita, dan juga mimpi.
Seperti laut yang dalam, tak pernah ia mengeluh perihal ombak yang marah, kapal-kapal berlayar di tubuhnya tanpa arah setelah ditinggalkan nahkoda yang bimbang langkah. Di sanalah biru, kita melihatnya begitu tangguh. Tentang ucapan selamat jalan yang selalu didengarnya dari sebuah pelabuhan. Terkadang, dua orang berpisah bahkan tanpa pelukan.
Mei di sini.  dingin terminal, dan derit bus tua yang mengantarku dalam sebuah perjalanan. Aku menulis surat ini di kursi nomor lima, di dekat seorang pria paruh baya yang mengenakan kaca mata. Ia mirip denganmu. Sesekali tersenyum, tak ada percakapan—sejak kita tahu yang bersama pun terkadang hanya kekosongan belaka. Tanpa basa basi atau kelakar kecil dari pertanyaan ‘akan ke mana’. Meski bukan kesepian daun-daun basah, sebab di luar sana hujan mungkin sedang menggumam.
Apa kabarmu? Masih kah berada di antara gelondongan kayu? Kulihat kau di sana—dulu. Berdiri, berjalan, berlari mengejar sesuatu. Cinta, kah? Atau meminjam sinar dari sebuah pagi yang malam pernah membuat buta. Barangkali saja, kau menyebut nama seseorang yang dari tangannya harapan itu merembaka. Lalu rindu diam-diam mengusik dan tak pernah lelap dalam buku-buku yang kau tulisi sajak.
Mei di sini. Barisan pohon-pohon getah, secangkir teh dan perempuan yang gugup ketika menulis sepucuk surat. Semoga kau tak membacanya sebagai huruf-huruf pucat
(suatu hari kita bercerita tentang bintang dan perempuan yang menunggu malam

@Kopians -, AM

Tidak ada komentar: