Selasa, 03 April 2018

Surat Terakhir Untuk Senja

Aku kunang-kunang dan dia senja.
Aku terang, dia gelap.
Aku hangat, dia dingin.
Aku terlena, dia mempesona.
Aku diam, dia bisu.
Aku tanda tanya, dia jawabnya.

Ini suratku yang entah ke berapa. Dengan tololnya aku menyelipkan surat ini, mengendap-ngendap berjalan menuju meja kerjanya. Tersenyum kecil walau hati menyimpan banyak tangis. Aku bergetar dan mimisan lalu berlari menuju kamar mandi sambil menahan rasa sakitnya.
     Dia sebut saja senja. Senja yang gelap dingin dan mempesona. Aku mencintainya lebih dari cinta romeo yang menjadikannya tersakiti lalu mati. Ini gila, diluar logika, tapi aku suka. Sudah lama aku menyimpannya, tapi dengan kenyataan yang sama aku tak pernah berani mengungkapkannya. Aku memilih diam dan memandangnya dari sini. Dari jarak dan tempat yang tak pernah dia pedulikan. Apakah perasaan cinta harus ditunjukkan..?
Apakah persaan yang telah lama kusimpan ini harus meluap dan menggenang..? Mungkin untuk sekedar Menghujani hadirnya yang selalu membuatnya kemarau..?  Atau hanya untuk membanjiri perasaannya yang kering...?

Aaaahh... Aku bisa apa.. Pak., kau tahu.?  Rambutku semakin rontok. Aku tak mampu lagi menelan makanan bahkan berbicara sekalipun terasa sulit. Jari-jariku melemah. Kakiku tak mampu lagi berjalan...
Tuhan.. Ini suratku yang terakhir untuk senja.
Tolong sampaikan pada senja, bahwa ada kunang-kunang yang ingin menerangi gelapnya. Sampaikan pada senja, bahwa ada kunang-kunang yang terlena akan pesonanya. Sampaikan pada senja, bahwa hingga terangnya meredup tadi dia masih ingin menjadi sesuatu yang akan senja suka, senja tahu dan senja cinta...
Tuhan. Terimakasih karena telah mencintaiku sejak aku tercipta sampai aku kembali kepangkuan_Mu. Aku bisa merasakan peluk dan kasih_Mu.
Dan untukmu senja.. Aku bisa memperhatikanmu dari sini, di tempat ini. Bahkan aku tahu, ketika kau membaca suratku yang terakhir, kau menjatuhkan bulir-bulir air mata dan kau tahu..? Itu pertama kali ku melihatmu menangis..
Senja...
Bisakah kau tidak menangisiku..? Kumohon..!!
Walau kita tak lagi saling bersentuhan, tapi aku masih bisa mencintaimu dengan jarak yang tak pernah kau bayangkan. Sekarang terbukti, bahwa aku benar-benar mencintaimu sampai mati  wahai senja yang gelap.
Ketika kau berhenti membaca surat ini, aku telah pergi bersama nafasmu yang berhembus..

Nymzm @Kopians

Leuwisadeng, Selasa 3 April 2018
    

Tidak ada komentar: