*Bacakan aku satu puisi yang pernah kau tulis ketika merindukan seseorang.*
Ia terdiam, wajahnya bukan laut, namun terlihat surut. Andai ia pernah patah hati, lalu terluka dan dikenangnya begitu tajam. Ditariknya napas dalam-dalam, ia membuatku membayangkan banyak kejadian di dekat pelataran ini. Di bawah rumput-rumputnya, mungkin saja ia pernah menjadi kekasih yang terempas, yang mencinta tapi melepas. Lalu kehilangan terasa dilebih-lebihkan oleh puisi dan air mata.
----
Aku pernah....
menjadi rindu yang paling patah
ketika mencarimu
di antara sepinya Lembah Kahung
hingga hujan turun
dan luruh di tampuk sarunai
Aku pernah....
membelah jalan di kaki Segumbang
mencarimu hingga jauh
senyummu tenggelam di sana
di depa yang memecah Rumpiang
Sudahkah aku menjadi masa lalu?
cerita gerimis di Pantai Takisung
tentang kotamu
bersama kasturi dan musim banih
Kemudian di sinilah
tubuh lusuh ini kurebahkan
setelah kalah dihantam badai
sambil mengenang sisa hujan.
__
Seperti kudengar jantungnya berdetak lebih cepat. Memukul-mukul dadanya hingga menyuarakan gema yang nyaring. Tatapan sayu itu adalah keinginan yang rapuh. Seperti puisi yang dibacakannya di depanku, Sepanjang pelataran, sepanjang langkah yang menjatuh lusuh. Ia benar-benar patah.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar