Setelah enam bulan kepergianmu, aku
menyadari bahwa selama ini hari-hari yang
berjalan terlihat semakin menakutkan. Aku
sudah melupakan rasa sakit saat pertama
kali kamu tinggalkan, tapi setiap kali
mengingatmu— perlahan air mataku jatuh
tidak terkendali. Aku memaksa diriku untuk
berubah, untuk segera melupakanmu. Ya hanya itu keinginan terbesarku..
Ohh yaa ,, Selamat tahun baru untukmu. Dan, aku telah
jarang menulis tentangmu karena aku sedang
menyelesaikan buku kesepuluhku yang
berjudul Memeluk Masa Lalu. Satu-satunya
sarana untuk membuatku lupa padamu.
Tentu kamu tidak membayangkan, betapa sisa-
sisa dua ribu lima belas yang aku lewati
tanpa kehadiranmu adalah hari-hari
menyedihkan yang perihnya aku tahan
sendiri. Tidak ada orang yang mengerti
betapa kehilanganmu adalah ketakutan
terbesarku. Dan, kepergianmu yang tiba-tiba
bahkan masih menimbulkan tanya di dadaku.
Diam-diam, aku berkata dalam hati, "Apakah
memang aku tidak sepenting itu bagimu?"
Aku berusaha meyakinkan diriku untuk
membencimu di sisa-sisa dua ribu belas
milikku yang aku lewati setelah perpisahan
kita. Aku berusaha mencari semua
kesalahanmu untuk menghipnotis diriku
sendiri bahwa kamu adalah pria super jahat
yang senang mendepak perempuan yang tidak
bersalah dalam banyak hal. Aku berusaha
menyadari bahwa kamu akan mendapatkan karma
yang setimpal seperti yang telah kamu
lakukan padaku. Namun, saat malam
menjelang, dan wajahmu ada dalam ingatanku
saat itu-- nyatanya bagiku kamu tidak
sejahat itu.
Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan jahat
Padamu ..
Tahukah kamu tuan sayang ,, di sisa-sisa dua ribu
lima belas yang aku lewati tanpamu, adalah
masa-masa sulit bagiku untuk menerima bahwa
kita tidak lagi bersama. Bahwa tak akan ada
lagi pesan singkatmu. Bahwa tidak akan ada
lagi suaramu. Tidak ada pelukmu. Tidak ada
tawamu. Tidak ada hari-hari bersamamu. Aku
berjalan sendirian serta tertatih kesepian,
berusaha meraba-raba hari demi hari.
Berjalan dari satu ketakutan ke dalam
ketakutan lain. Mengingat betapa masa-masa
tanpamu adalah hal sulit yang belum bisa
aku lewati. Bahkan hingga detik ini. Aku
masih jadi perempuan yang ingin kamu cepat
pulang.
Kamu tidak tahu hari-hari yang aku lewati
dengan menatap ponsel setiap menit,
berharap ada pesanmu. Kamu tidak pernah
tahu, setiap ada pemberitahuan masuk, aku
berharap itu kamu. Kamu tidak tahu, setiap
ada panggilan berdering, aku berharap
kamulah yang ada di ujung telepon. Kamu
tidak tahu, aku tidak membalas semua pesan
pria yang lebih baik darimu hanya karena
aku ketakutan menjalani hubungan yang
nantinya akan berakhir seperti hubungan
kita. Kamu tidak tahu, berapa pria yang
berusaha masuk ke dalam hatiku, tapi sekuat
hati aku menutup diri karena dalam
bayanganku masih kamulah yang cocok
bertempat di sini-- di hatiku yang hanya
pantas kauhuni. Kamu tidak tahu sudah
berapa air mata yang kujatuhkan dalam
doaku, memohon Tuhan menghapus segala
ingatanku tentangmu, meminta aku terkena
Alzheimer, atau amnesia, asal aku lupa
waktu-waktu indah bersamamu dan yang aku
ingat hanyalah kebahagiaan-kebahagiaan
bersama sahabat dan keluargaku. Kamu tidak
tahu betapa sampai sekarang aku masih takut
jatuh cinta jika cinta berarti harus jatuh
dan kehilangan lagi untuk yang kedua kali.
Kamu tidak tahu betapa aku masih mengitung
hari. Sehari, tujuh hari, dua puluh hari,
lima puluh hari, seratus hari, seratus
sembilan puluh satu hari, untuk menunggumu
pulang. Aku tahu kamu tidak akan pulang.
Kamu pasti tidak akan menapaki lagi jalan
pulang menuju aku. Karena jalan pulangmu
tidak lagi mengarah kepadaku bulan ini
usiamu
telah dua puluh sembilan tahun dan 3 bulan setelah itu
aku berusia seumur hidup pada.
Lihatlah, ada banyak hal yang berbeda. Kita
semakin menua dan aku takut menerima
kenyataan bahwa mungkin aku akan menua
serta melanjutkan hidupku bersama orang
yang salah. Aku takut menerima kenyataan
bahwa mungkin aku tidak menghabiskan sisa
umurku bersamamu. Aku takut jika setahun ke
depan, dua tahun ke depan, hingga tahun-
tahun berikutnya diisi oleh penyesalan-
penyesalan bodoh karena telah melepaskanmu
pergi. Aku takut hari-hariku diisi hanya
dengan rasa bersalah karena sebagai wanita --
aku tidak mampu membahagiakanmu.
Aku takut jika aku menua tanpa rasa
bahagia. Aku takut selamanya hidupku hanya
diisi untuk melindungi kekasihku yang tidak
sepenuhnya aku cintai ini. Aku takut jika
duniaku masih penuh tentangmu sementara
dalam duniamu aku tak prrnah ada .
Seketika aku
memejamkan mata, seandainya kamu ada di
sini. Seandainya kamu ada di sini. Kubuka
sisa-sisa foto kita yang telah aku hapus
dari ponsel, namun diam-diam aku simpan di
laptopku.
Lihatlah matamu itu, sinar mata kesukaanku.
Lihatlah senyum kebahagiaan kita dulu,
betapa aku ingin memutar ulang waktu agar
bisa terus bersamamu. Lihatlah caramu
menatapku dengan tatapan mendalam itu, kamu
tahu betapa dulu aku sangat jatuh cinta.
Sekali lagi selamat malam untuk terakhir kalinya cry emotikon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar