“Ketika menerima cinta seseorang, aku tidak pernah menjanjikan apa-apa, bahkan kesetiaan. Itu kenapa aku juga tak menuntut apa pun. Mencintai, dicintai, pernikahan, itu sesuatu yang berbeda. Tetapi jika nasib kita baik, kita bisa menikmati kesemuanya itu dalam sebuah komitmen. Banyak, banyak sekali orang yang mencintai, tetapi tak bisa menjadi kekasih. Ada yang dicintai, tapi kehilangan rasa lapang dalam dadanya."
masih teringat dengan jelas, 8 Tahun lalu, Seorang penyair pernah menghadiahiku sebuah buku, buku puisi miliknya sendiri. Cukup menyentuh, cukup membuat hatiku bergetar ketika membacanya. Ia kerap menghubungiku untuk sekadar menceritakan aktivitasnya sebagai penulis. Cara bicaranya ketika berbincang, seperti seorang yang tengah membaca sajak di atas panggung. Lucu. Aku bilang, aku ingin percakapan yang normal, ia boleh tertawa, menangis, atau mengisahkan hal-hal gila tanpa harus mengikat tiap kalimatnya dengan rima.
Kalimat terakhir yang aku ucapkan, membuat tawanya pecah sekali lagi. Aku bilang "penyair memang jarang yang berwajah tampan. Jika tampan, mungkin telah dipilihnya menjadi seorang model dengan gaji pasti, ketimbang jadi penyair yang hanya kerap berteman kesepian dan kopi."
Tak terima, ia menyanggah apa yang aku katakan. penyair tidak lahir begitu saja atas keinginan semata. Penyair adalah panggilan jiwa, kumpulan dari keresahan, sebuah komplain, kabar yang ingin disampaikan, juga bagaimana seseorang menghargai apa yang dirasakan dengan menulisnya sebaik mungkin. Tidak semua orang yang mengklaim dirinya penyair, bisa benar-benar disebut penyair. Namun sebenarnya, setiap orang bisa menjadi penyair untuk dirinya sendiri." Jelasnya.
Hujan jatuh dipekarangan rumah, manis sekali. Seketika air mata jatuh dari pelupuk mata.
“Ia meninggal dunia 8 tahun yang lalu, kecelakaan. Aku sangat merasa kehilangan, karena memang kehadirannya telah mencuri banyak hal dari diriku. Aku menulis prosa untuknya sebagai penghormatan dan ucapan selamat tinggal. Semasa hidupnya, ia banyak menulis tentang cinta, sunyi, dan malam yang menemukan jalan pulang. Pada beberapa yang terbit di surat kabar, aku juga sempat membaca puisinya tentangku. Sebenarnya ia cukup romantis, entah jika hanya kata-kata."
Memang benar, Kematian adalah jalan pulang, aku pernah menulis demikian. Jalan yang kadang sekuat hati dihindari, tetapi percuma. Jalan yang terkadang, justru dicari-cari oleh beberapa orang yang kehilangan dan frustrasi. Kematian adalah jalan yang mengantar kita pada cerita selanjutnya, cerita yang kemudian ditulis orang lain setelah kita tiada. Kematian adalah sesuatu yang hangat, oleh jiwa-jiwa yang rindu bertemu Tuhan. Jiwa yang telah menabur banyak cinta, merawat dan membuatnya tumbuh berkembang di hari setiap orang.
Apakabar disana ?
Aku masih setia berdoa untuk mu.
I Miss you 🥺
Tidak ada komentar:
Posting Komentar