"Begini zam, aku sering membaca sejarah tentang beberapa pria yang memilih hidup melajang hingga akhir hayat, aku membandingkan dengan pria yang bersamaku saat ini. Kemudian aku berpikir, apa yang membuat mereka melakukan hal tersebut? Aku bertanya kenapa ada manusia yang tidak percaya dengan cinta serta kekuatannya? Sedangkan mereka sendiri, terlahir dari sebuah jalinan cinta, bukan?
Kadang, atau barangkali begini, pernikahan adalah sebuah komitmen yang menghalangi langkah mereka melanjutkan visi dan misi.. bagaimana tanggapanmu, zam..?"
Ia menghela nafas panjang.
"Ans, tahun ini usiaku genap 29 tahun kan? Cukup lama dan panjang, jika aku mengukur sebuah perjalanan dari sana. Banyak yang sudah terjadi, mataku merekam beberapa kejadian mengejutkan, sangat jelas. aku mengingat, dan kembali merasakan, terasa menyakitkan. sebagian memudar, sisanya kusimpan sebagai kenangan, dan tak akan kuungkit lagi sampai kapanpun...."
Aku menoleh. Menatap matanya sembari tersenyum. Untuk ukuran pertemanan, dia teman yang baik. Dia selalu berpikir bagaimana menjaga perasaan orang-orang di dekatnya. Sikapnya tenang. Sebagai seorang pria dewasa yang sudah matang, dia memang sangat sopan. Entah dengan hatinya, imajinasinya, dan tiap per katanya.
"Luar biasa. Syukur alhamdulilah kamu sampai di usia itu. Ya, sesekali kita memang harus percaya. Kematian, keberuntungan, pernikahan, Tuhan mengatur dengan sangat rapi."
Mendengar aku mengatakan itu, dia tertawa. Apa yang lucu? Aku tidak sedang membicarakan dirinya yang barangkali memang tidak percaya dengan cinta. Aku mengatakan kebenaran, meski memang terdengar sangat klise.
"Jangan memberiku pertanyaan yang sama berulang-ulang, Ans."
"Aku belum bertanya apa-apa muzammil"
"Kau menyebut pernikahan. Itu seperti menandai namaku dengan tinta merah. Apa tidak menikah terlihat buruk?"
"APakah betul kau belum pernah menikah? Jangan membohongi takdir .."
Aku mencoba membenarkan posisi dudukku.
" Maksudmu..."
" Apakah dulu ada Seseorang mengecewakanmu di masa lalu? Sedalam apa lukanya? Hingga Kau ratapi perihnya hingga hari ini."
Dia kembali tertawa. Berjalan ke dekat laut yang mengantar ombak pelan. Kakinya menyentuh buih, basah, berkecipak. Aku tahu, muzaamil memiliki cerita yang mungkin atau belum pernah dia ceritakan pada siapa pun. Beberapa orang menyimpan rahasia mereka dengan sangat baik. Padahal, rencana Tuhan itu lebih indah dari apapun.
"Seseorang? Siapa, Ans?"
"Kekasihmu, atau mantan istrimu mungkin."
Dia kembali tertawa. Mencoba tenang dengan situasi yang memojokkannya.
"Aku tidak punya kekasih Ans Aliskandar. Apalagi mantan istri. Di masa lalu maupun masa kini."
"Kenapa?"
"Gibran, hingga akhir hayatnya tidak pernah menikah. Tidak ada yang mempermasalahkan itu. Dia menulis, berpuisi, bersastra. Dan dia bahagia."
"Kau yakin dia bahagia? Beberapa nama yang dia tulis dalam syair-syairnya itu, kau pikir tidak nyata? Marry Hasskel, May Ziadah, Wardah Al-Hani. Gibran juga jatuh cinta. Dan kukira dia juga patah hati."
Sebentar dia diam. Menggulung ujung celana panjangnya agar tak basah terkena ombak. Seketika ia menatap mataku, kali ini sorot matanya lebih tajam. Aku tidak akan menerka apa pun. Aku tahu dia akan mengatakan banyak hal setelah itu.
"Kita bicara pernikahan, bukan?"
Tanyanya hening...
Aku kembali mencari pembenaran.
"Bahkan pendongeng dunia seperti Hans Christian Andersen, dia juga pernah jatuh cinta dan patah hati, meski memang tak menikah hingga akhir hayatnya. Kau ingin meniru mereka?"
"Pernikahan bukan prioritas dalam hidupku, Ans. Yang kupedulikan sekarang hanya kebahagiaan dan kesehatan orangtuaku yang akhir-akhir ini sering jatuh sakit. Selebihnya aku tak pikirkan."
"Tapi, Pernikahan membuat seseorang tidak bersikap egois."
Jawabku meyakinkan.
"Aku tidak menyukai komitmen, kau tahu itu. Sedangkan wanita, selalu menuntut banyak setelah berada dalam lingkaran sebuah hubungan. Hidupku tidak bisa dipengaruhi oleh hal serupa. Aku bekerja, aku memikirkan banyak hal. Keluarga, masa depan. Namun tidak untuk wanita."
"Kukira itu sangat menyebalkan."
Sekali lagi dia tertawa. Meraup air laut, mencipratkan ke wajahku. Sialan! Aku benar-benar tidak bisa menyentuh perasaannya sedikit pun.
"Mari berpikir lebih relevan, Ans. Tentang sebuah prinsip dan pilihan. Kau menikah, dan kau bahagia. Namun tidak semua orang bisa merasakan seperti yang kau alami. Beberapa pasangan memilih berpisah, kemudian saling mencari pengganti. Sisanya memilih meratapi nasib buruk, atau justru berakhir dengan mengenaskan. Biksu dan biarawati, mereka tidak menikah, dan mereka bahagia. Tidak bisa kau mengukur batas kebahagiaan orang lain dengan batas bahagia yang kau miliki. Setiap orang hidup dengan pemikiran yang berbeda, Ans. Kau telah banyak membaca sejarah, kau tahu yang terjadi dengan dunia."
Aku terdiam. Mungkin dia benar, benar-benar salah. Mengetuk hatinya dengan kepercayaan tentang pernikahan, percuma. Nyaris 29 tahun telah dihabiskan waktunya dengan tetap sendiri. Aku tahu dia pernah jatuh cinta, dan mungkin sudah melewati biduk manis pahitnya rumah tangga. Aku tahu seseorang pernah tinggal di hatinya. Hanya saja, dia benar-benar sudah menguburnya.
"Aku tidak paham, zam."
"Kau pura-pura tidak paham."
Jawabnya singkat,
Aku mengernyitkan dahi.
"Kau bilang setiap orang hidup dengan pemikirannya masing-masing. Aku tidak tahu seperti apa jalan pikiranmu ."
"Kau berpikir aku tidak mengenal cinta, bukan? Omong kosong, Ans. Aku menghormati ibuku, kau tahu dia seorang perempuan, kuhargai dia di atas segalanya. Aku mencintai saudari-saudariku, memberi mereka kasih sayang, perhatian dan bentuk perlindungan. Bagaimana bisa kau berpikir hatiku seperti batu yang keras? Kau berharap cinta kuhadirkan serupa tetes hujan."
"Itu cinta dalam hubungan yang berbeda, muzammil."
"Ya, Ans. Aku memilih tidak terikat dengan perempuan dalam hubungan pernikahan. Tidak ada yang melukaiku, aku tidak takut dilukai. Itu pilihan dan itu sah sah saja kan...?"
Aku tak ingin meneruskan bertanya. Sudah cukup lama aku mencoba mencerna, dan aku tetap kesulitan untuk paham. Ya, itu pilihannya, Aku bisa apa? Dia benar satu hal. Bahagia, adalah ketika kita bisa menikmati hidup dengan tidak merisaukan pengaruh dari orang lain. Dia menemukan bahagia dengan cara yang dia pilih sendiri. Aku tidak ingin mempertanyakan lagi. Biar bagaimanapun, dia pria yang baik..
"Aku berharap kau selalu bahagia, zam."
"Itu juga yang kuharap terjadi padamu, Ans Kau gadis kecil yang menyenangkan. Seseorang tidak boleh membuatmu bersedih."
Ya, pada akhirnya, kita adalah dalang untuk diri kita sendiri yang wayang.
.
-Siti Khopipah Aliskandar- @Kopians
Tidak ada komentar:
Posting Komentar