Gemuruh angin kembali menelaah, mencoba menyusup ke sela jemari tanganku yang tengah digenggamnya.
" Oh ya, Burung-burung yang terbang meninggalkan sarang itu, lalu ke mana mereka pulang ya zam?"
"Mungkin, Pada yang disayang."
"Mereka pengelana, sedang angkasa adalah jagat yang sangat jumawa."
"Cinta tidak pernah salah arah, bukan?"
Aku diam untuk beberapa waktu. Burung-burung yang kulihat tadi sudah jauh meninggi hanya tertinggal noktah kecil. Kami berjalan sedikit lambat, kupikir kita memang tidak buru-buru, biar saja menikmati pemandangan dulu. Aku senang berada di perjalanan, sebab selalu ada cerita di dalamnya yang dapat ku tulis seperti sekarang. Atau justru, dalam waktu singkat itu, kita menemukan banyak hal yang tidak kita temukan di waktu yang lain.
"Muzamm, menurutmu apa Burung juga punya cinta?"
Dia tertawa mendengar pertanyaanku yang makin tidak karuan. Pertanyaan bodoh yang sengaja kulontarkan untuk mengetahui seberapa jauh dia memahami cinta dan menjelaskannya. Aku pernah jatuh cinta, beberapa kali. Namun semua berakhir jadi mantan, bukan manten. Memang benar Kegagalan adalah jembatan yang akan mengantarmu pada pintu baru, begitu kata orang bijak, yang mungkin juga tengah patah hati ketika mengatakan itu.
"Semua yang hidup punya cinta, kopians"
"Aku tidak punya."
"Kalau begitu kau tidak hidup."
"Aku hidup Muzam..., dengar, aku bicara padamu."
"Jadi kau tidak tahu cinta itu letaknya di mana? Di sini, Labu."
Dia meletakkan telapak tangan di dada--hati--jiwa, begitu mungkin yang ingin dia sebut sembari menatapku dengan senyum lembut.
"Dengar ya Ans, Robot juga bergerak, dan kita menyebutnya hidup. Tapi dia tidak punya cinta. Dingin, beku, tanpa perasaan. Pembuatnya tidak bisa memasukkan cinta dalam tubuhnya sebagai penyempurna. Robot hanya hidup dan bergerak mengikuti arahan pembuatnya, sama seperti ketika kau menyalakan atau mematikan televisi."
Dia menambahkan lagi, kali ini dengan tersenyum terkembang.Jalanan selalu sepi sepanjang kebun-kebun sawit milik perusahaan ... entah aku lupa namanya. Agro Bukit, kalau tidak salah.
"Senang sepertinya menjadi robot ya zam?"
"Tapi dikendalikan bukanlah kesenanganmu. Kenapa tidak menjadi diri sendiri saja?"
"Kau pikir aku menjadi orang lain sekarang?"
Tak ada jawaban, kecuali suara musik yang mulai mengalun setelah dia memutarnya dengan volume sedikit keras. Welcome to My Paradise, lagu yang membuatnya ikut bersenandung dan mengacuhkanku beberapa waktu.
"Seperti apa rasanya jatuh cinta?"
Aku tanyakan setelah mengecilkan volume lagu, aku tidak suka berbincang-bincang dengan iringan musik kencang.
"Apa, kopians Aliskandar ?"
"Bagaimana rasanya jatuh cinta?"
Aku ulangi. Meski ku tahu dia bukan tidak mendengar atau kurang jelas dengan pertanyaanku barusan.
"Kau pernah patah hati?"
"Ya. Patah sekali malah."
"Seperti itu rasanya jatuh cinta. Jika kau sangat patah hati saat kehilangan seseorang yang kau sayang."
"Begitu?"
"Ans, hanya orang yang paling dekat dengan kita yang mampu melukai kita sangat dalam."
Aku tarik napas. Susah juga bicara dengan pria setengah baya sepertinya. Aku malah pengalaman, kalah teori dan praktik. Apalagi tentang cinta. Yang datang dan pergi seolah itu hanya persinggahan lalu, bukan benar-benar cinta. Yang kutangisi dalam kesedihan, itu juga sepertinya bukan cinta. Kebodohan! Berkali-kali jatuh cinta dan gagal, bukankah artinya telah berkali-kali pula aku salah memilih hati? Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali.
"Hmmm.. Aku tidak ingin membenarkan ucapanmu, zam."
"Hahaha. Tidak apa. Kau memang begitu sejak dulu. Keras kepala. Kebenaran tidak pernah diakui oleh bibirmu, meski hatimu sudah luluh sejak tadi."
"Aku suka dengan kepalaku yang batu. Itu membuatku sulit dipecahkan. Meski juga akan terlihat bodoh."
"Cobalah, Ans. Logika dan hatimu itu ajak bekerjasama agar sejalan. Sesuatu yang selaras akan terasa lebih nyaman."
"Kalau aku memejamkan mata sambil mendengar ucapanmu itu, aku pasti mengira diucapkan oleh pria berusia 70 tahun."
Dia tertawa lagi--lebih keras. Dalam beberapa hal dia mirip dengan ayah. Sikap bijaksananya selalu mengajarkanku pada kebaikan. Dia pandai menyampaikan nasihat dengan lembut, namun tajam mengena dan teringat seterusnya. Dia pembidik yang andal, tahu benar bagian mana dalam diriku yang harus diluluhkan. Seperti keras kepala dan sifat egois yang dia sebutkan tadi.
"Terimakasih telah menyamakanku dengan ayahmu. Itu artinya, aku sudah jauh sangat bijaksana, bukan?"
"Kalau itu membuatmu senang, akan kuiyakan."
Aku meraih novel di ranselku. hadiah dari kawan lama yang belum tuntas saya baca. Perjalanan masih kita nikmati. Aku tidak berniat menyambung percakapan. Mungkin aku akan membaca, bab terakhir dalam novel itu telah menunggu.
"Apa judulnya ?"
"Ini novel klasik tentang seorang penulis dunia."
"Siapa?"
"Hemingway. Ernest Hemingway. Kehidupannya menarik untuk diulas. Sejak ia masih muda, menjadi tentara, ikut berperang, selamat dari tembakan, serta banyak lagi. Ini novel biography zam..."
"Dia pasti pernah jatuh cinta dan patah hati."
"Kamu Tahu dari mana?"
"Penulis besar selalu memulai cerita dari kehidupannya sendiri. Siapa nama kekasih yang membuatnya terluka?"
"Agnes von Kurowsky. Seorang perawat yang dicintainya, yang berniat ia nikahi sepulang dari perang. Namun terlambat karena Kurowsky telah lebih dulu menikah dengan pria lain."
"Bagian setelahnya adalah pergolakan batin. Iya, 'kan?"
"Hemingway seorang pecandu narkoba. Namun pada akhirnya dia menikah dengan Hadley Richardson beberapa tahun setelahnya. Meski pernikahannya berakhir perceraian."
"Ia selalu memikirkan cinta pertamanya, kurasa begitu. Siapa memangnya yang bisa melupakan cinta pertama?"
Aku buka acak halaman novel, kemudian berhenti ketika menemukan penggalan puisi yang ditulis Hemingway. Pada karya-karyanya, Hemingway lebih sering menulis cerpen atau karya ilmiah seperti essay. Hanya beberapa puisi yang pernah ditulisnya.
SAMUDERA MENGOMBAK DENGAN CINTA
MELANDA, MEMBELAI
MENGGOYANG-GOYANGKAN PERUTNYA YANG PENUH KASIH
"Hemingway memilih jalannya sendiri di akhir hayat. Menarik pelatuk pistol kesayangannya, menembus kepala. Ia bunuh diri pada tahun 1961."
Aku tutup novel tersebut. Merenung sejenak. Beberapa orang kesulitan menemukan jalan pulang, hingga kemudian memilih jalannya sendiri. Bahkan pria sehebat Hemingway? Tak kuasa menolaknya. Karena cinta, kah?
-
.
@Kopians
Tidak ada komentar:
Posting Komentar