Barangkali, rindu memang seperti lagu. Tak pernah selesai ditulis pun ditangis. Lalu hari ini kita berpura-pura membuat perdiangan, menghangatkan sepotong sepi agar tak dingin oleh kenangan. Kita kunjungi rumah-rumah puisi, kita sapu debu di rak-rak buku, lembar kisah yang menamping buram ngilu di masa lalu.
.
Aku bertemu dengan seseorang. ialah Muzam, Seorang pria tampan berkacamata. Ia berjalan menjauh dengan senyum yang mengembang disuatu petang. Kemudian kembali, namun tak sendiri.
Aisyah : "Aku senang bertemu denganmu dan bagiku ini kejutan dari tuhan. "
Muzam : "Tuhan itu baik Ais.... Akupun begitu, lalu Apa yang kau rasakan sekarang aisyah.?"
Aisyah : "Aku seperti kembali bertemu dengan seseorang. Seseorang yang pernah kucintai.. "
Muzam : "Siapa...? "
Aisyah : "kau tidak perlu tahu, karena bagiku bertemu denganmu saja adalah kebahagiaan yang tak bisa kuungkapkan. "
Muzam : "Mmmm. Aku akan coba mengerti. "
Lalu kami berjalan berdampingan, menelusuri taman yang beralaskan aspal. Ada rasa dingin yang tak terbantahkan, kucoba menelaah, lalu kurasakan ada kehangatan yang menggenggam jemariku. Sebuah genggaman yang sangat kurindukan dan aku seperti kembali ke masa lalu..
Empat tahun lalu..
Ditempat yang berbeda aku pernah merasakan hal yang sama, sebuah kehangatan yang melekat dan menyatu dalam ingatan.
Seorang pria, cukup tampan dan dewasa. Dia baik dan sopan, dia pria dewasa yang selalu menganggapku anak kecil kala itu.
Sebelum pergi, ia pernah bilang "Dek, jaga-jaga diri baik-baik ya.. Sekolah yang rajin, jangan terlalu percaya dengan kata-kata lelaki. Mereka semuanya sama."
Hanya itu yang kuingat dan setelah itu ia pergi untuk selamanya.
.
Muzam : "Aisyaaaah... " panggilnya.
Aku tersentak dari lamunanku, kuperbaiki posisi jalanku, namun tangan itu masih menggenggam tanganku.
Muzam : "Apa yang sedang kau lamunkan? "
Matanya menatapku.
Aku mencoba tenang dan terus memandang ke depan..
Aisyah : "Aku.. Aku baik-baik saja zam.. Tak usah khawatir.. Aku hanya ingat sesuatu.. "
Seketika ada yang mengalir dari mataku. Entahlah.. Ada rasa sesak yang menyerang paruku. Tiba-tiba langkahnya terhenti.
Muzam : "Kenapa kau menangis..? Apa salahku..? Kumohon jangan membuatku bingung.. "
Aisyah : "boleh aku memelukmu..? "
Tanpa jawaban, muzam langsung memelukku. Erat sekali, ada ketenangan yang tak terelakan. Tak kupungkiri, aku sangat bahagia berada disampingnya. Aku takut kehilangan seseorang untuk yang kedua kalinya.
Keesokan harinya, Cuaca mulai cerah karena musim sebentar lagi berubah. Bunga-bunga menunggu mekar, pada summer juga harapan yang telah lama terpendar.
Cintaku yang disurga, Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menganggap muzam seperti seharusnya, aku terlalu merindukanmu sampai aku lupa bahwa kau sudah pergi. Dan aku masih saja menganggap muzam adalah kamu. bisikku dalam hati.
.
Pukul 16.50. Aku dan muzam berada dalam satu ruang. Seperti membicarakan jalan yang panjang. Sebuah lorong waktu yang akan mengembalikan semuanya seperti semula.
Aku ingin bicarakan ini sejak awal padanya, tapi seakan semuanya terkunci. Aku seperti membohongi beberapa hati. Hatiku, hati muzam dan hati seseorang yang telah pergi.
Aisyah : "Zam... Apa kau tahu? Selama ini yang kita jalani adalah kesalahan besar bagiju. Aku seperti sedang membawamu dalam kebohongan.. "
Ia terdiam. Seperti bingung dengan apa yang kukatakan.
Muzam : "Kebohongan apa? Siapa yang berbohong.? Aku merasa tidak pernah dibohongi oleh siapapun. "
Aisyah : "Zaaam.. Apa kau sadar..? Selama ini Kita hanya bersama, tapi tak pernah tahu untuk apa. Kita berlari, lalu bertemu dan bersembunyi. Kita tidak saling menemukan, Muzam. Kita hanya melarikan diri. Maafkan aku, karena aku belum bisa menganggapmu sebagaimana harusnya. Kamu adalah kamu, dia adalah dia. Kalian adalah dua orang yang tak bisa saling menggantikan meskipun memiliki banyak kesamaan."
Muzam : "Dia siapa..? Maksudmu seseorang yang sudah mati..? "
Aisyah : "zam kau tahu.. Dia adalah cinta pertamaku dan selama ini aku berada di sampingku hanya semata-mata aku menganggapmu adalah dia. Tidak lebih.. "
.
Muzam tertunduk. Ada rasa kecewa dari sudut matanya. Seketika airmataku kembali terjatuh. Dilihat dari sudut pandang manapun aku benar. Semua ini memang benar. Aku dan muzam hanya bersembunyi. Mencoba menjadi orang lain dalam persembunyian namun itu tak membuat bahagia.
Muzam : "Ais... Kau boleh menganggapku sebagai apapun. Aku rela, aku ikhlas. Asal jangan kau memintaku untuk meninggalkanmu.. Karena saat ini, aku seperti merasakan kebahagiaan yang pernah kurasakan dulu.. "
Aisyah : "Zam,, kumohon.. ini sedikit sakit. Semuanya sudah selesai, ia sudah pergi dan aku tak ingin berdusta lagi."
.
Lalu aku beranjak dan pergi meninggalkannya.
#WhenDuskFallsInYourEyes
Tidak ada komentar:
Posting Komentar