Namaku aisyah .. Pagi yang cerah, cuaca yang cukup nyaman untuk dilewati. Aku bersiap siap berangkat sekolah. Semangat. Hari ini aku benar benar semangat. Karena hari ini, insya allah aku akan bertemu dengan sosok yang membuatku semangat setiap harinya.
Aku berangkat sekolah bersama teman temanku. Menelusuri jalan yg lebarnya kurang lebih 3 meter sembari menikmati udara pagi yang menyejukkan hati.
Aku berjalan, berbincang bincang penuh kegirangan. Tiba tiba saha temanku Lisa mengagetkanku dengan pertanyaannya ..
"Hey ais, bagaimana perasaanmu terhadap guru galak itu? Ataukah semakin menjadi jadi atau bagaimana?" tanyaNya.
"Iiisshh kamu ini. Maksudnya apa ? Ada ada saja ?" . jawabku sambil mempercepat langkahku, karena tak ingin ada pertanyaan pertanyaan aneh lagi yang membuatku gugup.
Aku berjalan, berbincang bincang penuh kegirangan. Tiba tiba saha temanku Lisa mengagetkanku dengan pertanyaannya ..
"Hey ais, bagaimana perasaanmu terhadap guru galak itu? Ataukah semakin menjadi jadi atau bagaimana?" tanyaNya.
"Iiisshh kamu ini. Maksudnya apa ? Ada ada saja ?" . jawabku sambil mempercepat langkahku, karena tak ingin ada pertanyaan pertanyaan aneh lagi yang membuatku gugup.
Sesampainya disekolah, aku langsung menuju ke kelas. Karena waktu sudah siang, rasanya sebentar lagi masuk. Dan kebetulan sekali hari itu, jam pelajaran pertam adalah dia. Ya, guru pujaanku. Guru yang kukagumi dan mungkin tanpa sadar guru yang telah kucintai. Dan yang membuatku senang, awal aku naik kelas XI ini dia menjadi walikelasku. Ya tuhaaaann...... Aku akan menemui dia setiap harinya. Aku senang.
Kring...kring....kring.... Bel masuk pun berbunyi. Semua teman sekelasku langsung duduk rapi. Karena mereka tahu yang akan masuk adalah guru tergalak disekolah ini. Aku menunggu kedatangannya. Mataku selalu terarah menuju pintu. Karena aku ingin menjadi orang pertama yang melihatnya sewaktu ia masuk kelas. Rasa senang, deg degan dan takut bercampur menghantui menjadi satu. Setelah lama menunggu, akhirnya diapun muncul dibalik pintu itu.
Dengan gagahnya dia mengetuk pintu , lalu berkata "assalamualikum..." sapanya.
"Walaikumsalamm..". Jawab anak anak.
Subhanallaaah... Dia tampan sekali.dengan kemeja merah ati, dengan celana hitam yang licin tanpa cela, dan dengan sepatu hitam yang mengkilap. Dan satu lagi, dia tampil beda kali ini. Nampaknya rambut dan kumis tipisnya baru saja dipotong. Mengagumkan.
Aku senang, karena dia selalu membersihkan diri. Aku menyukai penampilannya yang rapi seperti ini. Benar benar mempesona.
Dengan gagahnya dia mengetuk pintu , lalu berkata "assalamualikum..." sapanya.
"Walaikumsalamm..". Jawab anak anak.
Subhanallaaah... Dia tampan sekali.dengan kemeja merah ati, dengan celana hitam yang licin tanpa cela, dan dengan sepatu hitam yang mengkilap. Dan satu lagi, dia tampil beda kali ini. Nampaknya rambut dan kumis tipisnya baru saja dipotong. Mengagumkan.
Aku senang, karena dia selalu membersihkan diri. Aku menyukai penampilannya yang rapi seperti ini. Benar benar mempesona.
Pelajaranpun segera dimulai. Kebetulan minggu kemarin dia memberikan tugas kepada kami semua. Segera kami mengumpulkan tugasnya. Karena kami tak ingin memancing kemarahannya
. "Baiklah anak anak, sebelum pelajaran dimulai saya akan memeriksa tugas yang sudah saya kasih kepada anda semua". Perintahnya.
"Baik pak". Jawab mereka.
"Baik pak". Jawab mereka.
Kata (saya) dan (anda) . aku rasa kata itu jarang digunakan seorang guru ketika mengajar. Tapi diaaa.. Dia selalu menggunakannya. Entah karena apa?? Tapi aku suka. Dia lebih terlihat berwibawa ketika berbicara menggunkan bahasa yang formal. Dia sangat mengagumkan.
Sepanjang pelajaran, aku hanya memerhatikannya dengan seksama. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ya tuhaan. Apakah aku berdosa jika terus bersikap seperti ini ??
Sampai sampai aku tidak mendengarkan apa yang dia bicarakan.
Tiba tiba teman sebangkuku menepuk pundakku.
"Ais, ais itu pak fahri memanggilmu dari tadi". Sentaknya.
Aku kaget, aku keasyikan memandangnya. Oh ya, guru yang kusukai itu namanya FAHRI RAINALDY. Yang kutahu usianya sudah menginjak 29 tahun bulan januari ini. Usia yang sudah cukup tua. Tapi dia tetap terlihat muda.
Sepanjang pelajaran, aku hanya memerhatikannya dengan seksama. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ya tuhaan. Apakah aku berdosa jika terus bersikap seperti ini ??
Sampai sampai aku tidak mendengarkan apa yang dia bicarakan.
Tiba tiba teman sebangkuku menepuk pundakku.
"Ais, ais itu pak fahri memanggilmu dari tadi". Sentaknya.
Aku kaget, aku keasyikan memandangnya. Oh ya, guru yang kusukai itu namanya FAHRI RAINALDY. Yang kutahu usianya sudah menginjak 29 tahun bulan januari ini. Usia yang sudah cukup tua. Tapi dia tetap terlihat muda.
"Hey, kamu ini kenapa? Dipanggil daritadi diam saja." sahutnya.
"Ii... Iiyaa pak, ma...aaff!". Jawabku dengan gugup.
"Sudahlah, kamu sekertaris dikelas ini kan ?". Tanyanya.
"Iya pak, memangnya kenapa? A.. Ada yang bisa saya bantu?". Tawarku.
"Begini , tolong tuliskan tugas ini didepan. Saya mau keluar dulu, ada urusan sebentar. Oke". Suruhnya. Dengan senyum yang sungguh membuatku lemas.
"Baik pak". Jawabku dengan singkat. Namun hatiku bertanya tanya "(bapak mau kemana? Kenapa pergi? Saya masih ingin melihat bapak)"
Aku mulai menulis dipapan. Namun sampai pelajarannya berakhir pun dia tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Menyebalkan ,,,....
"Ii... Iiyaa pak, ma...aaff!". Jawabku dengan gugup.
"Sudahlah, kamu sekertaris dikelas ini kan ?". Tanyanya.
"Iya pak, memangnya kenapa? A.. Ada yang bisa saya bantu?". Tawarku.
"Begini , tolong tuliskan tugas ini didepan. Saya mau keluar dulu, ada urusan sebentar. Oke". Suruhnya. Dengan senyum yang sungguh membuatku lemas.
"Baik pak". Jawabku dengan singkat. Namun hatiku bertanya tanya "(bapak mau kemana? Kenapa pergi? Saya masih ingin melihat bapak)"
Aku mulai menulis dipapan. Namun sampai pelajarannya berakhir pun dia tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Menyebalkan ,,,....
Kring...kriing...kring.... Bel istirahatpun berbunyi. Aku bergegas keluar untuk mengembalikan buku pak fahri yang ketinggalan tadi. Namun pada saat aku hendak menemuinya, ia sedang asyik ngobrol dengan salah seorang guru perempuan disekolah ini juga. Ia masih muda, cantik pula. Namanya bu tari. Ia bekerja sebagai staf tata usaha. Dan yang kulihat selama ini, ia sangat dekat dengan gur pujaanku itu. Bahkan aku sering melihat mereka bercanda berduaan, seperti orang yang pacaran.
Dengan terkejut aku langsung tertegun. Hatiku menangis. Niatku untuk mengembalikan buku itu hilang. Aku kembali menuju kelas dengan wajah yang berkaca kaca. Aku meminta temanku saja untuk mengembalikan buku itu. Dikelas aku menutup wajahku dengan tas. Karena malu pada temanku. Jika mereka melihat mataku sembab karena menangis. Hatiku bertanya.
"(Apa mungkin pak fahri juga mrmpunyai perasaan lebih terhadap guru itu? Semoga saja tidak)". Jawabku menenangkan diri .
Dengan terkejut aku langsung tertegun. Hatiku menangis. Niatku untuk mengembalikan buku itu hilang. Aku kembali menuju kelas dengan wajah yang berkaca kaca. Aku meminta temanku saja untuk mengembalikan buku itu. Dikelas aku menutup wajahku dengan tas. Karena malu pada temanku. Jika mereka melihat mataku sembab karena menangis. Hatiku bertanya.
"(Apa mungkin pak fahri juga mrmpunyai perasaan lebih terhadap guru itu? Semoga saja tidak)". Jawabku menenangkan diri .
Aku pulang dengan wajah suyup. Tiba tiba temanku mila memanggiilku dari belakang
"Ais, tadi pak fahri menanyakanmu ketika aku mengembalikan buku itu". Katanya sambil jalan beriringan.
"Lalu apa katanya?".jawabku singkat, dengan sikap yang biasa biasa saja.
"Dia bertanya. Kenapa kamu yang mengembalikan? Kemana aisyah? Lalu aku menjawaab aisyah nya ada dikelAs pak , gak tau kenapa. Lalu dia berkata. "Oh ya tidak apa apa. Tolong sampaikan ucapan terimakasih saya kepada dia" . jawab mila menjelaskan.
"Oh, hanya itu?". Tanyaku.
"Iya, kamu kenqpa ais? Tidak biasanya bersikap seperti ini ?". Tanyaa mila penuh keheranan.
"Tidak. Aku baik baik saja".jawabku singkat.
Namun meskipun begitu, hatiku sangat senang sekali saat dia menanyakanku kepada mila. Meski aku masih kesal dengan kejadian tadi.
"Ais, tadi pak fahri menanyakanmu ketika aku mengembalikan buku itu". Katanya sambil jalan beriringan.
"Lalu apa katanya?".jawabku singkat, dengan sikap yang biasa biasa saja.
"Dia bertanya. Kenapa kamu yang mengembalikan? Kemana aisyah? Lalu aku menjawaab aisyah nya ada dikelAs pak , gak tau kenapa. Lalu dia berkata. "Oh ya tidak apa apa. Tolong sampaikan ucapan terimakasih saya kepada dia" . jawab mila menjelaskan.
"Oh, hanya itu?". Tanyaku.
"Iya, kamu kenqpa ais? Tidak biasanya bersikap seperti ini ?". Tanyaa mila penuh keheranan.
"Tidak. Aku baik baik saja".jawabku singkat.
Namun meskipun begitu, hatiku sangat senang sekali saat dia menanyakanku kepada mila. Meski aku masih kesal dengan kejadian tadi.
Keesokan harinya, aku berniat menemui guru pujaanku sekaligus walikelasku itu. Aku berniat untuk memberikan hasil rekapan absen yang telah kukerjakan semalaman. Aku mencari dia keruangannya. Namun tak ada. ku menuju keruang tata usaha tempat biasanya dia berduam diri. Namun nihil, tak ada juga.
"(Dia kemana? Apa dia tak masuk mengajar hari ini? Padahal aku ingin memberikan hasil pekerjaanku)". Hatiku bertanya.
Saat kebingungan. Tiba tiba saja seorang guru mengagetkanku. Dia pak dani.
"Ais, kau sedang mencari pak fahri bukan ?" tanyanya .
"Iya pak, saya ingin memberikan hasil rekapan absen ini. Baak tau gak pak fahri ada dimana ? Kok dia gak keliatan sih ?" . tanyaku berurutan.
"Ooh,, pak fahrinya lagi sakit ais. Dan dia berpesan ke bapak untuk meberi tahu kepada kamu masalah rekapan absen itu. Kata pak fahri kamu egang dulu aja rekapan absennya. Nanti kalau dia sudah masuk baru kamu kasih". Jelasnya.
"Hah?sakit? Kalau boleh tau beliau sakit apa pak?". Tanyaku cemas.
"Waaaaahh bapak juga kurang tau. Oh ya satu lagi, kata pak fahri kondisikan kelas dengan baik. Jangan sampai anak anak gaduh". Jelas nya lagi.
"Baiklah pak. Semoga saja beliau cept sembuh. Saya turut bersedih". Balasku.
"Iya, pak fahri sudah percayakan semuanya sama kamu ais. Dia juga sebenarnya mau ngasih tau kamu secara langsung. Tapi dia gak tau nomer hp kamu.". Jelasnya dengan nada santai.
"Oh iya, tidak apa apa."...
"(Dia kemana? Apa dia tak masuk mengajar hari ini? Padahal aku ingin memberikan hasil pekerjaanku)". Hatiku bertanya.
Saat kebingungan. Tiba tiba saja seorang guru mengagetkanku. Dia pak dani.
"Ais, kau sedang mencari pak fahri bukan ?" tanyanya .
"Iya pak, saya ingin memberikan hasil rekapan absen ini. Baak tau gak pak fahri ada dimana ? Kok dia gak keliatan sih ?" . tanyaku berurutan.
"Ooh,, pak fahrinya lagi sakit ais. Dan dia berpesan ke bapak untuk meberi tahu kepada kamu masalah rekapan absen itu. Kata pak fahri kamu egang dulu aja rekapan absennya. Nanti kalau dia sudah masuk baru kamu kasih". Jelasnya.
"Hah?sakit? Kalau boleh tau beliau sakit apa pak?". Tanyaku cemas.
"Waaaaahh bapak juga kurang tau. Oh ya satu lagi, kata pak fahri kondisikan kelas dengan baik. Jangan sampai anak anak gaduh". Jelas nya lagi.
"Baiklah pak. Semoga saja beliau cept sembuh. Saya turut bersedih". Balasku.
"Iya, pak fahri sudah percayakan semuanya sama kamu ais. Dia juga sebenarnya mau ngasih tau kamu secara langsung. Tapi dia gak tau nomer hp kamu.". Jelasnya dengan nada santai.
"Oh iya, tidak apa apa."...
Aku kembali kekelas dengan perasaan sedih dan khawatir. Namun disisi lain, rasa kagumku semakin membesar. Dalam keadaan sakitpun ia masih sempat menitipkan pesan untuk tak lupa memperhatikan kelas. Dan yang paling kusenang adalah dia menitipkan pesan itu untukku bahkan ia mempercayakan semuanya padaku. Luar biasa. Sungguh aku benar benar mengaguminya. Bahkan kala itu, aku bertekad untuk berkata bahwa aku mencintainya. Dan dia adalah pria yang pertama kali kucintai.
Ini aneh, murid macam apa aku ini? Mana ada seorang murid jatuh cinta kepada gurunya sendiri ? Dan walaupun ada, itu mungkin hanya akan menjadi angan angan saja. Ini bodoh. Aku yang bodoh . tapi,,, apa mungkin ini sudah rencana tuhan . tapi aku yakin, kedepannya hanya akan ada rasa sakit yang kurasakan. Tapi aku tak mempedulikannya.
Ini aneh, murid macam apa aku ini? Mana ada seorang murid jatuh cinta kepada gurunya sendiri ? Dan walaupun ada, itu mungkin hanya akan menjadi angan angan saja. Ini bodoh. Aku yang bodoh . tapi,,, apa mungkin ini sudah rencana tuhan . tapi aku yakin, kedepannya hanya akan ada rasa sakit yang kurasakan. Tapi aku tak mempedulikannya.
Setelah seminggu lebih lamanya dia tidak masuk mengajar. Seminggu itu pula semangat belajarku menurun. Hari hariku menjadi murung. Aku hanya berdiam diri dikelas tanpa ada kegairahan. Aku ingin tau kabarnya, aku ingin tau keadaannya, tapi aku tak tau harus kepada siapa aku bertanya.
Bingun memikirkan hal itu, aku berinisiatif mengajak teman sekelasku untuk menengok pak fahri kerumahnya. Dan akhirnya aku berhasil membujuk mereka. Ternyata tak disangka, mereke juga sangat mempedulikan guru pujaanku itu. Meski Mereka selalu beranggapan bahwa pak fahtri itu guru yang menakutkan.
Tapi aku yakin dan percaya, bahwa pak fahri sangatlah baik dan mengagumkan. Karena dapat dilihat, teman teman disekelilingku saja banyak yang menyukainya, meski dibarengi dengan rasa takut . kupikir itu cukup lucu....
Keesokan harinya, aku dan ke 5 orang temanku bersiap siap untuk pergi ke rumah pak fahri. Sayangnya sebagian besar temanku tidak ikut, mereka hanya ikut berpartisipasi saja. Mungkin karena mereka takut merepotkan disana. Yang ikut hanya aku, lisa, mila, dian , fadlu dan andi. Mereka bisa dikatakan teman terdekatku di sekolah.
Bingun memikirkan hal itu, aku berinisiatif mengajak teman sekelasku untuk menengok pak fahri kerumahnya. Dan akhirnya aku berhasil membujuk mereka. Ternyata tak disangka, mereke juga sangat mempedulikan guru pujaanku itu. Meski Mereka selalu beranggapan bahwa pak fahtri itu guru yang menakutkan.
Tapi aku yakin dan percaya, bahwa pak fahri sangatlah baik dan mengagumkan. Karena dapat dilihat, teman teman disekelilingku saja banyak yang menyukainya, meski dibarengi dengan rasa takut . kupikir itu cukup lucu....
Keesokan harinya, aku dan ke 5 orang temanku bersiap siap untuk pergi ke rumah pak fahri. Sayangnya sebagian besar temanku tidak ikut, mereka hanya ikut berpartisipasi saja. Mungkin karena mereka takut merepotkan disana. Yang ikut hanya aku, lisa, mila, dian , fadlu dan andi. Mereka bisa dikatakan teman terdekatku di sekolah.
Setibanya disana, pak fahri sedang duduk diteras. Entah apa. yang sedang dia lakukan . dari kejauhan aku sudah melihatnya. Ketika kami tepat didepan rumahnya, dia terlihat terkejut melihat anak didiknya datang kerumahnya..
"Assalamualaikum". Sapa kami semua.
"Walaikumsalam.. Silahkan masuk". Jawabnya dengan wajah yang kaget.
"Makasih pak". Jawab kami semua.
"Kalian ini kenapa tidak memberitahu bapak dulu kalau mau kesini?". Tanyanya.
"Kami bingung, habisnya bapak tidak memberi kabar sih. Jadi kami beriniaiatif saja langsung datang kesini. Terutama aisyah tuh, dia panik parah mendengar bapak lagi sakit". Jelasnya sambil memoojokanku.
"Emmm... Aisyah. Kok bisa ?" . tanyanya.
"Ya bisa dong pak, keliatan banget kalo si ais tuh suka sama bapak". Timpal dian.
Aku semakin terpojok.
"Hahaaa kamu ini ada ada saja". Jawabnya seakan tak percaya.
"Oh ya ais, maksih ya atas kepeduliannya". Sambungnya sambil mengarah menatapku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Lain kali kalo bapak gak masuk atau apa. Bapak beritahu kami . agar kami tidak khawatir.".
Sambung mila.
"Iya maaf, habisnya bapak bingung mau ngasih tau siapa. Waktu itu bapak mau minta nomor handphonenya aisyah, tapi lupa . hehee". Jawabnya.
"Cie cieeeeeeee....".
Ledek semua temanku.
Suasana kala itu semakin mencair. Tidak ada lagi rasa canggung diantara mereka . aku tak ikut bicara. Aku hnya tersenyum tersenyum dan tersenyum. Aku senang karena saat ini aku melihat wajahnya lagi. Namun disisi lain aku juga sedih melihat wajahnya yg pucat seperti itu. Aku ingin melihatnya sehat bugar lagi seperti biasa. Aku menyayanginya bahkan mencintainya.
Setelah lama duduk duduk dan mengobrol. Guru pujaanku itu tiba tiba saja beranjak dan duduk disebelahku. Ia menanyakan keadaanku dan hasil rekapan absensi yang telah kukerjakan.
"Ais, kamu apa kabar? Maaf ya seminggu ini bapak tidak masuk. Oh ya, mana rekapan absensinya ?". Tanyanya
"Alhamdulilah ais baik pak. Iya tidak apa apa. Ini rekapan absennya. Udah lengkaap kok. Jadi bapak gausah ribet lagi". Jelasku.
"Makasih ya ais ini sangat membantu". Katanya.
"Iya, sama sama pak. Bapak cepet sembuh ya. Sekolah sepi kalo gak ada bapak". Candaku.
"Aaahh kamu ini bisa saja".. Jawabnya.
"Assalamualaikum". Sapa kami semua.
"Walaikumsalam.. Silahkan masuk". Jawabnya dengan wajah yang kaget.
"Makasih pak". Jawab kami semua.
"Kalian ini kenapa tidak memberitahu bapak dulu kalau mau kesini?". Tanyanya.
"Kami bingung, habisnya bapak tidak memberi kabar sih. Jadi kami beriniaiatif saja langsung datang kesini. Terutama aisyah tuh, dia panik parah mendengar bapak lagi sakit". Jelasnya sambil memoojokanku.
"Emmm... Aisyah. Kok bisa ?" . tanyanya.
"Ya bisa dong pak, keliatan banget kalo si ais tuh suka sama bapak". Timpal dian.
Aku semakin terpojok.
"Hahaaa kamu ini ada ada saja". Jawabnya seakan tak percaya.
"Oh ya ais, maksih ya atas kepeduliannya". Sambungnya sambil mengarah menatapku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Lain kali kalo bapak gak masuk atau apa. Bapak beritahu kami . agar kami tidak khawatir.".
Sambung mila.
"Iya maaf, habisnya bapak bingung mau ngasih tau siapa. Waktu itu bapak mau minta nomor handphonenya aisyah, tapi lupa . hehee". Jawabnya.
"Cie cieeeeeeee....".
Ledek semua temanku.
Suasana kala itu semakin mencair. Tidak ada lagi rasa canggung diantara mereka . aku tak ikut bicara. Aku hnya tersenyum tersenyum dan tersenyum. Aku senang karena saat ini aku melihat wajahnya lagi. Namun disisi lain aku juga sedih melihat wajahnya yg pucat seperti itu. Aku ingin melihatnya sehat bugar lagi seperti biasa. Aku menyayanginya bahkan mencintainya.
Setelah lama duduk duduk dan mengobrol. Guru pujaanku itu tiba tiba saja beranjak dan duduk disebelahku. Ia menanyakan keadaanku dan hasil rekapan absensi yang telah kukerjakan.
"Ais, kamu apa kabar? Maaf ya seminggu ini bapak tidak masuk. Oh ya, mana rekapan absensinya ?". Tanyanya
"Alhamdulilah ais baik pak. Iya tidak apa apa. Ini rekapan absennya. Udah lengkaap kok. Jadi bapak gausah ribet lagi". Jelasku.
"Makasih ya ais ini sangat membantu". Katanya.
"Iya, sama sama pak. Bapak cepet sembuh ya. Sekolah sepi kalo gak ada bapak". Candaku.
"Aaahh kamu ini bisa saja".. Jawabnya.
Kala itu perasaanku benar benar mencair . aku sangat merasa nyaman berada didekatnya. Kala itu juga, aku merasa lebih akrab dan kamipun bertukar nomor handphone. Untuk memudahkan jika ada hal yang penting.
Hari itu aku sangat senang sekali. Banyak yang aku tau tentangnya, mulai dari pendidikannya, kuliahnya, pengalamannya, sampai mengenai hal pribadi tentang keluarganya.
Waktu itu, rasa takut yang selalu tersirat dibenak temanku hilang seketika. Mereka terlihat nyaman saat ngobrol dengan guru yang kugilai setengah mati..
"Ternyata pak fahri ini, tidak segalak yang saya bayangkan ya!" . kata fadli.
"Hehee.. Bapak itu orangnya asyik, bapak juga gak galak. Bapak cuma pura pura galak aja di depan anak yang bandel". Jawabnya..
"Hahaa tapi serius lhoo pak. Kalo liat bapak lagi marah tuh. Aku langsung gemeteran . takuttt". Kata dian.
"Hahaa,,, ya maaf. Bapak juga kalau sama anak yang rajin. Gak suka marah marah kan ?? Contohnya ke aiss , hehee".. Godanyaa.
"Cieeeee ". Ledek semua temanku lagi.
Hari itu aku sangat senang sekali. Banyak yang aku tau tentangnya, mulai dari pendidikannya, kuliahnya, pengalamannya, sampai mengenai hal pribadi tentang keluarganya.
Waktu itu, rasa takut yang selalu tersirat dibenak temanku hilang seketika. Mereka terlihat nyaman saat ngobrol dengan guru yang kugilai setengah mati..
"Ternyata pak fahri ini, tidak segalak yang saya bayangkan ya!" . kata fadli.
"Hehee.. Bapak itu orangnya asyik, bapak juga gak galak. Bapak cuma pura pura galak aja di depan anak yang bandel". Jawabnya..
"Hahaa tapi serius lhoo pak. Kalo liat bapak lagi marah tuh. Aku langsung gemeteran . takuttt". Kata dian.
"Hahaa,,, ya maaf. Bapak juga kalau sama anak yang rajin. Gak suka marah marah kan ?? Contohnya ke aiss , hehee".. Godanyaa.
"Cieeeee ". Ledek semua temanku lagi.
Mereka waktu itu sudah mulai tau sifat asli yang dimiliki pak fahri. Sifat yang baik dan asyik. Yang memang tak perlu untuk ditaakutkan.
Apalagi aku, aku semakin yakin bahwa memang dia pantas kukagumi dan kucintai. Tidak terasa waktu sudah sore. Waktunya untuk pulang. Kami pulang dengan berbekal pengalaman pak fahri yang patut untuk kami contoh..
Keesokan harinya, disekolah aku tak lagi murung. Keseharianku cerah kembali. Yaa... Guru pujaanku sudah beraktifitas kembali. Ini sangat menyenangkan. Seiring dengan berjalannya waktu. Aku dan dia semakin dekat dan akrab sekali. Layaknya sepasang kekasih yang selalu saling memperhatikan. Meski dia hanya menganggapku hanya sebagai adik saja. Tidak lebih. Ada rasa sakit yang diam diam menyelinap kedalam kotak rahasiaku.
Apalagi aku, aku semakin yakin bahwa memang dia pantas kukagumi dan kucintai. Tidak terasa waktu sudah sore. Waktunya untuk pulang. Kami pulang dengan berbekal pengalaman pak fahri yang patut untuk kami contoh..
Keesokan harinya, disekolah aku tak lagi murung. Keseharianku cerah kembali. Yaa... Guru pujaanku sudah beraktifitas kembali. Ini sangat menyenangkan. Seiring dengan berjalannya waktu. Aku dan dia semakin dekat dan akrab sekali. Layaknya sepasang kekasih yang selalu saling memperhatikan. Meski dia hanya menganggapku hanya sebagai adik saja. Tidak lebih. Ada rasa sakit yang diam diam menyelinap kedalam kotak rahasiaku.
Namun meskipun begitu, perasaan anehku terhadapnya semakin membesar. Sampai sampai berpikir bahwa aku tak sanggup. Jika sehari saja melewati hari tanpa dia. Ada keganjalan saat aku berada dekat dengannya. Dia memperlakukanku sangat manis. Manis sekali. Layaknya puteti sejagad. Seringkali aku memberontak.memberontak untuk menanyakan kejelasan. Namun aku tak pantas menanyakan hal seperti itu. Staatusku disini hanya seorang murid , sedangkan dia seorang pendidik yang mempunyai image terlalu tinggi. Ini sangat tidak mungkin.
Namun setiap malam, kami selalu bertukar pesan. Bahkan sampai larut malam. Tak lupa pagipun sama. Meski hanya sekedar bertegur sapa. Seperti "selamat pagi, selamat beraktifitas".
Meski hanya itu , sungguh membuat semangatku memburu lagi. Namun kedekatan kami tidak pernah dipublikasikan. Entah kenapa. Tapi aku terus mencoba memahaminya. Mungkin dia tak ingin image nya yang tinggi sebagai seorang guru jatuh ketika guru dan murid yang lain mengetahui kedekatan kami.
Atau mungkin dia malu berdekatan dengan gadis bodoh sepertiku.
Aaahhh.... Sudahlah aku tak ingin memikirkannya. Yang pasti aku ingin tetap seperti ini. Tetap seperti ini sampai seterusnya. Meski aku tau, mau smpai kaan ia selalu menganggapku adik. Sedangkan perasaan aneh ini semakin mencuak dan melebar. Yang terus menerus memaksan untuk dilontarkan..
Meski hanya itu , sungguh membuat semangatku memburu lagi. Namun kedekatan kami tidak pernah dipublikasikan. Entah kenapa. Tapi aku terus mencoba memahaminya. Mungkin dia tak ingin image nya yang tinggi sebagai seorang guru jatuh ketika guru dan murid yang lain mengetahui kedekatan kami.
Atau mungkin dia malu berdekatan dengan gadis bodoh sepertiku.
Aaahhh.... Sudahlah aku tak ingin memikirkannya. Yang pasti aku ingin tetap seperti ini. Tetap seperti ini sampai seterusnya. Meski aku tau, mau smpai kaan ia selalu menganggapku adik. Sedangkan perasaan aneh ini semakin mencuak dan melebar. Yang terus menerus memaksan untuk dilontarkan..
Selama satu tahun ini, kami berdua menyandang status sebagai ade kakak. Komunikasi setiap hari selalu ada. Sampai tiba pada saat kelulusanku pun masih begitu. Perasaan sedih, terharu, Ded degan, senang bercampur menjadi satu. Abbenar tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Jika aku sudah tak lagi melihatnya dikeseharianku. Apa aku bisa ? Apa aku mampu??..
Hari mrnuju pelepasan pun sudah dekat. Perasaanku sudah tak karuan lagi. Rasa takut terus menghantui.
("Aku tak ingin semua ini terjadi. Aku takut kehilangannya. Aku tak mau dia pergi saat aku sedang cinta cintanya").
Tetiakku merintih dalam hati.
4 hari lagi, 3 lagi , 2 hari lagi, satu hari lagi. Dan hari ini. Hariitu u telah tiba. Hari yang menakutkan. Aku tak bisa berbuat apa apa. Aku hanya tetus berkata berulang dalam hati
"(Apa ini benar yang terakhir. Apa ini sudah saatnya untuk tak lagi mempertahankannya. Ya tuhaaaaaan...)
("Aku tak ingin semua ini terjadi. Aku takut kehilangannya. Aku tak mau dia pergi saat aku sedang cinta cintanya").
Tetiakku merintih dalam hati.
4 hari lagi, 3 lagi , 2 hari lagi, satu hari lagi. Dan hari ini. Hariitu u telah tiba. Hari yang menakutkan. Aku tak bisa berbuat apa apa. Aku hanya tetus berkata berulang dalam hati
"(Apa ini benar yang terakhir. Apa ini sudah saatnya untuk tak lagi mempertahankannya. Ya tuhaaaaaan...)
Waktu saat aku ingin bersalaman ketika perpisahan itu. Air mataku tak bisa dibendung. Setelah saat beberapa bertahan dipelupuk mata. Aku mencoba menahannya, tapi tetap saja tak bisa. Aku hanya berkata padanya
"Pak terimakasih selama ini udah jadi guru sekaligus kakak terbaik buat ais. Maksih udah jadi inspirasi buat ais. Ais gak akan pernah lupain bapak. Bapak udah jadi segalanya..". Ucapku, sembari sesenggukan dipangkuannya. Karena disadari aku sudah memeluknya. Dia diam cukup lama. Dia tertegun mendengar apa yang kubicarakan. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Namun ia terlihat sangat sedih saat meleas kepergianku. Ia hanya berkata
"Iya, bapak juga terimakasih. Karena ais udah mau jadi murid sekaligus adik yang baik bapak. Yang selalu perhatian, yang selalu ngingetin bapak. Tetap semangat ya manis. Sukses terus". Bisikknya. Sembari mengusap kepalaku. Hanya itu yang dia lontarkan. Sungguh air mataku semakin banyak saja yang berjatuhan. Aku benar benar menangis dipelukannya. Aku tak ingin berakhir begitu saja. Aku tak sanggup melewati ini semua. Ini hari terakhirku berada disekolah ini. aku akan meninggalkan dia. Ya tuhaaannn... Apa yang harus kulakukan ? Aku harus berbuat apa ? Waktu ini cepat sekali berlalu ? Aku tak ingin meninggalkan dia yang saat ini benar benar sangat kucintai..
"Pak terimakasih selama ini udah jadi guru sekaligus kakak terbaik buat ais. Maksih udah jadi inspirasi buat ais. Ais gak akan pernah lupain bapak. Bapak udah jadi segalanya..". Ucapku, sembari sesenggukan dipangkuannya. Karena disadari aku sudah memeluknya. Dia diam cukup lama. Dia tertegun mendengar apa yang kubicarakan. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Namun ia terlihat sangat sedih saat meleas kepergianku. Ia hanya berkata
"Iya, bapak juga terimakasih. Karena ais udah mau jadi murid sekaligus adik yang baik bapak. Yang selalu perhatian, yang selalu ngingetin bapak. Tetap semangat ya manis. Sukses terus". Bisikknya. Sembari mengusap kepalaku. Hanya itu yang dia lontarkan. Sungguh air mataku semakin banyak saja yang berjatuhan. Aku benar benar menangis dipelukannya. Aku tak ingin berakhir begitu saja. Aku tak sanggup melewati ini semua. Ini hari terakhirku berada disekolah ini. aku akan meninggalkan dia. Ya tuhaaannn... Apa yang harus kulakukan ? Aku harus berbuat apa ? Waktu ini cepat sekali berlalu ? Aku tak ingin meninggalkan dia yang saat ini benar benar sangat kucintai..
Hari itu seharian aku bersamanya. Dan untuk yang terakhir kalinya aku memeluknya kembali.
Lalu berkata "jangan pernah menyesal karena udah pernah kenal dan dekat sama ais ya pakk. Ais sayang sama bapak".
Bisikku. Ia hanya terdiam. Merasakan betapa hebatnya aku bersikap benar benar tak ingin kehilangannya. Aku benar benar tak ingin beranjak. Aku mencintainya apapun itu. Aku ingin memilikinya bagaimanapun itu.
Namun ia berkata "percayalah ais, ini bukan hari terakhir kebersamaan kita. Kita pasti sering bertemu". Jawabnya menenangkan.
Jangan menghilang pak, ais percaya perkataan bapak. TUAN TAMPAN".kataku..
Lalu berkata "jangan pernah menyesal karena udah pernah kenal dan dekat sama ais ya pakk. Ais sayang sama bapak".
Bisikku. Ia hanya terdiam. Merasakan betapa hebatnya aku bersikap benar benar tak ingin kehilangannya. Aku benar benar tak ingin beranjak. Aku mencintainya apapun itu. Aku ingin memilikinya bagaimanapun itu.
Namun ia berkata "percayalah ais, ini bukan hari terakhir kebersamaan kita. Kita pasti sering bertemu". Jawabnya menenangkan.
Jangan menghilang pak, ais percaya perkataan bapak. TUAN TAMPAN".kataku..
Tuantampan . aku tak sadar bahwa nama itu telah aku ucapkan. Nama panggilan spesial yg selalu aku sembunyikan. Katak yang selalu aku rahasiakan . namun sekarang dia telah mengetahuinya.
Setelah perpisahan itu. Sehari, seminghu, sebulan, dua bukan , lima bulan dan sampai saat ini aku melewati hari tanpa dia.Komukasi selalu ada. Namun tak sesering dulu. Mungkin ada kesibukan masing masing. Sesekali aku menanyakan kabar Begitupun dengan dia.
Ditempat baru, sekolah baru, teman dan guru batu. Semuanya baru. Aku belum benar benar merasa nyamaan dengan iNi.
Namun seiring dengan berjalannnya waktu. Kenyamanan sudah mulai tertanam . meski tidak senyaman disekolah lamaku. Namun ini cukup menghibur. Dan sialnya disekolah baruku ini. Aku menemukan sosok pria yang sama dengan seseorang yang ku cintai yakni pak fahri, tuan tampanku.
Perasaan aneh mulai mencuak rasa ingin tau mulai menghantui. Dia seorang guru juga. Dia guru seni ku . namanya pak azar. Pertama melihatnya. Aku sudah punya feeling bahwa keadannya akan seperti ini. Aku takut, aku takut tuan tampanku akan tersingkirkan olehnya...
Ditempat baru, sekolah baru, teman dan guru batu. Semuanya baru. Aku belum benar benar merasa nyamaan dengan iNi.
Namun seiring dengan berjalannnya waktu. Kenyamanan sudah mulai tertanam . meski tidak senyaman disekolah lamaku. Namun ini cukup menghibur. Dan sialnya disekolah baruku ini. Aku menemukan sosok pria yang sama dengan seseorang yang ku cintai yakni pak fahri, tuan tampanku.
Perasaan aneh mulai mencuak rasa ingin tau mulai menghantui. Dia seorang guru juga. Dia guru seni ku . namanya pak azar. Pertama melihatnya. Aku sudah punya feeling bahwa keadannya akan seperti ini. Aku takut, aku takut tuan tampanku akan tersingkirkan olehnya...
Dan yang paling aku tak suka. Teman teman baruku mengira bahwa aku dengan pak azar ini dekat. Sedangkan aku menyapanya secara langsung saja belum pernah. Karena aku takut, hal yang tak kuinginkan terjadi begitu saja. Aku terus menahannya. Sekuat yang kubisa. Aku terus menghindarinya. Aku ingin mengenanlnya lebih jauh.
Pernah waktu itu menemuinya di ruangan tempat dia bekerja. Sungguh sebenarnya aku tak ingin. Tapi apa boleh buat. Ini demi sekolahku. Dengan rasa terpaksa, aku langsung menghampirinya untuk menanyakan masalah administrasi yang belum kuselesaikan. Pagi itu dengan rasa canggung aku menghampirinya . lalu berkata "selamat pagi pak". Dengan wajah melas..
"Walaikumsalam".jawabnyaa.
Aku rasa dia menyindirku. Ya tuhaaannn.... Ini memalukan. Saking gugupnya aku tak mengucapkan salam. Karena memang yang kutau dia benar benar islamic. Aku diam sembari menutupi rasa malu. Aku mencoba memperbaiki diri.
"Ma...af pak, saya tak mengucapkan salam". Kataku, dengan raut wajah yang sedikit malu. Masih terasa gugup.
"Iya tidak apa apa, lain kali kalau ketemu ucapa salam yaa. Oh ya ada perlu apa ?". Tanya nya dengan berseri.
"Iya sekali lagi maaf pak. Saya kesini mau melunasi baiaya adminiatrasi yang belum lunas pak". Jawabku tanpa melihatnya..
"Ooh, masalah itu. Kamunya kesini masuk". Perintahnya.
"Baiklah pak ". Jawabku singkat.
Ketika itu, aku benar benar melihat wajahnya begitu jelas. Jelas sekali.
"(Ya tuhaaaan dia mirip sekali dengan tuan tampanku)" . bisikku dalam hati.
Suasana kala itu sedikiit mencair. Kegugapanku sudah mulai mereda. Aku mulai bisa mengenalnya . tapi didepan teman temanku aku tetap bersikap seperti biasa.karena aku takut mereka semakin memojokanku dengan hal yang menyebalkan itu.
Pernah waktu itu menemuinya di ruangan tempat dia bekerja. Sungguh sebenarnya aku tak ingin. Tapi apa boleh buat. Ini demi sekolahku. Dengan rasa terpaksa, aku langsung menghampirinya untuk menanyakan masalah administrasi yang belum kuselesaikan. Pagi itu dengan rasa canggung aku menghampirinya . lalu berkata "selamat pagi pak". Dengan wajah melas..
"Walaikumsalam".jawabnyaa.
Aku rasa dia menyindirku. Ya tuhaaannn.... Ini memalukan. Saking gugupnya aku tak mengucapkan salam. Karena memang yang kutau dia benar benar islamic. Aku diam sembari menutupi rasa malu. Aku mencoba memperbaiki diri.
"Ma...af pak, saya tak mengucapkan salam". Kataku, dengan raut wajah yang sedikit malu. Masih terasa gugup.
"Iya tidak apa apa, lain kali kalau ketemu ucapa salam yaa. Oh ya ada perlu apa ?". Tanya nya dengan berseri.
"Iya sekali lagi maaf pak. Saya kesini mau melunasi baiaya adminiatrasi yang belum lunas pak". Jawabku tanpa melihatnya..
"Ooh, masalah itu. Kamunya kesini masuk". Perintahnya.
"Baiklah pak ". Jawabku singkat.
Ketika itu, aku benar benar melihat wajahnya begitu jelas. Jelas sekali.
"(Ya tuhaaaan dia mirip sekali dengan tuan tampanku)" . bisikku dalam hati.
Suasana kala itu sedikiit mencair. Kegugapanku sudah mulai mereda. Aku mulai bisa mengenalnya . tapi didepan teman temanku aku tetap bersikap seperti biasa.karena aku takut mereka semakin memojokanku dengan hal yang menyebalkan itu.
Aku semakin takut. Aku takut mengaguminya. Aku tak ingin menjatuhkan perasaanku kepada orang lain . apalag dia. Aku tak ingin membagi rasa sayanu lagi. Aku tak ingin tuan tampanku tersingkirkan. Aku ingin tuan tampanku tetap menjadi pria terindah yang akan terus mengisi kotak rahasiaku. Tidak orang lain dan bukan orang lain.
Setelah pikiranku berbolak kemari. Aku bertekad untuk tetap menjaga perasaanku hanya untuk dia ♥tuan tampanku♥ pak fahri.
Aku tetap konsisten. Aku akan menjaga perasaan ini sampai benar benar hilang. Aku percayakan semuanya pada tuhan. Aku akan mengatasnamakan perasaan ketika akan mengambil keputusan. Aku percaya bahwa tuhan yang maha cinta telah menyusun rencana indah dengan seksama. Terkadang awaalnya menyakitkan. Namun pada akhirnya akan membahagiakan.
Aku tetap konsisten. Aku akan menjaga perasaan ini sampai benar benar hilang. Aku percayakan semuanya pada tuhan. Aku akan mengatasnamakan perasaan ketika akan mengambil keputusan. Aku percaya bahwa tuhan yang maha cinta telah menyusun rencana indah dengan seksama. Terkadang awaalnya menyakitkan. Namun pada akhirnya akan membahagiakan.
by:siti khopipah aliskandar for tuan tampan
2 komentar:
mantap kak..kita samaaa😭😭😭, tapi aku ga ada chatannya,, sebatas liat aja tiap hariii
waaaah semangat yaa. dijadikan sebagai proses pendewasaan saja :)
Posting Komentar