Semilir angin merampas wajahku. kulihat bayangku tertutup daun kering di genang air sisa hujan tadi. Kulihat betapa menyedihkannya aku. Kita berjalan beriringan tapi tak saling menyentuh. Ada takdir yang tak bisa kita lawan. Yang Aku lawan pikirku !! Karena memang hanya aku yang ingin Melawati tembok itu.
"Menurutmu, Apa ada yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang paling kamu sayangi, zam?" Sahutku sembari berjalan mengikuti langkah kakinya.
"Tentu saja ada ais. Ada yang lebih sakit daripada itu." Sambutnya. Ia terus berjalan.
"Apa?" Tanyaku penasaran.
"Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang selalu bertumbuh itu tidak pernah menyentuh dan menjamah. " Jelasnya. "Mungkin, Seperti awan yang selalu bersama-sama dengan langit. Mereka selalu bersama tapi awan tidak pernah bisa menyentuh langit." Lanjutnya.
Aku berjalan sedikit lebih cepat. Mensejajarkan langkahku dengannya.
"Kamu benar zam. Mungkin Aku adalah awan itu dan kamu adalah Langit. Aku selalu melihatmu setiap hari, setiap saat. Tapi tetap saja aku tidak akan pernah bisa menyentuh kehidupanmu. begitu bukan ??" Ucapku dengan tegas.
Ia menatapku. Tajam sekali.
"Kita sudah membahas ini berulang kali Aisyah. Sudah 4 tahun dan kau masih bersikap seperti ini. Siapa yang mengajarimu untuk terus mengemis seperti ini." Jawabnya.
" Tidak ada yang mengemis disini zam. Tidak ada !! Aku tidak pernah mengemis apapun padamu. Aku tidak pernah mengemis kamu untuk membalas cintaku. Yang ku tahu, kau tak sejahat ini." Jawabku dengan nada tinggi.
"Berulang kali juga, kita bertemu dengan aku yang selalu datang dan kemudian berpisah dengan kamu yang pergi. Kini kupikir, memang seharusnya aku yang pergi." Lanjutku. Aku pergi meninggalkannya. Perkataannya cukup melukaiku. Dia tidak pernah sekasar ini.
"Aku sudah sepenuhnya pergi Ais. Aku sudah menikah. Harusnya kamu faham, kita tidak mungkin bersama, Sangat tidak mungkin lagi untuk aku memilihmu Aisyah." Sahutnya. Aku mengentikan langkahku.
"Lalu kenapa kamu masih ada disini zam? Dihadapanku? Kenapa kamu masih saja meminta kita untuk berbicara? Ini membuatku semakin bodoh zam." Ucapku.
Ia menghampiriku. Selepas dingin menyergap, kelopak mata sayu ikut menatapku dingin.
"Hidup itu seperti lingkaran Ais. Suatu hari kau akan menganggapku sebagai musim yang tidak dirindukan daun kering." Ia memelukku dengan dada yang hangat. Ada yang terasa sesak disana, dadaku nampaknya.
Karena aku sangat keras kepala dan tak cukup airmata untuk menangisi perpisahan ini. Maka kupilih tertawa dan bersikap baik baik saja.
" Yaa, kupikir betul hidup ini seperti lingkaran. Yang lahir, hadir dan pergi." Jawabku dengan sedikit tertawa dan melepas pelukannya.
" Yaa hidup ini memang lingkaran."
Ucapku membenarkan.
"Aku harap kamu bisa memulai semuanya dengan dia yang sudah memilihmu. Aku yakin dia bisa menjagamu dengan baik Aisyah. Biarkan kita tetap terikat dengan tali persaudaraan. Takdir memang tidak ada yang tau." Jelasnya. Ada bulir air mata dipelupuk matanya.
"Dan kuharap, semoga seseorang yang bersamamu sekarang bisa menjadi rumah yang nyaman untukmu zam. Tempat menunggumu pulang dari lelahnya perjalanan, tempatmu bercerita dan tempat ketika kamu mengeluh demam dan sakit kepala. Aku terlalu mencintaimu zam, hingga aku lupa diri ternyata selama ini aku hanya berperang dengan perasaanku sendiri. Namun sekarang aku sadar, sudah tidak ada yang bisa aku harapkan lagi." Ucapku.
"Semoga selalu bahagia. Terimakasih sudah mempertemukan aku dengan adikmu. Ini hadiah yang sangat indah." Ucapku lagi.
~~~~~~~~~~~
Kehidupan adalah menempatkan perasaan pada apa yang mudah dimengerti. Langit tidak pernah mengerti awan, perihal ia akan cerah atau hujan. Dan kini ada laut yang bersedia memberi dan menampung apa yang ingin dilakukan awan. Maka sudah sangat seharunya aku meninggalkanmu zam, dan memulai kisah baru dengan dia yang selalu mengerti dan mencintaiku.
~~~~~~~
"Oh ya, dalam jarak dekat aku akan menikah" bisikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar