Terimakasih untuk airmatanya ...
Terimakasih untuk rasa sakitnya.
Pagi yang cerah siap menemani hari baruku.
Kicauan burung yang terdengar menambah
semangatku untuk lebih terpacu. Hari ini hari
sabtu. Ya, ini dia yang selalu aku tunggu. Satu
hari yang selalu menjadi penantianku dalam
seminggu. Dia. Ya, laki-laki itu. Laki-laki dewasa
tampan yang memiliki umur jauh di atasku.
Aku hanya seorang pelajar SMA biasa yang jatuh
cinta pada guru pembimbingku. Aneh bukan?
Sangat! Aku sendiri sempat berpikir, kalau kisah
yang ku alami saat ini hanya terjadi
di dalam drama sinetron. Aku selalu
beranggapan, tidak mungkin
seorang siswa jatuh cinta pada guru mereka
sendiri. Itu terlalu aneh. Tapi rasanya aku harus
menelan bulat-bulat persepsiku. Aku tidak tahu
sejak kapan perasaan ini benar-benar muncul.
Yang jelas rasa yang menggelitik ini sekarang
sudah menjadi teman setiaku. Bahkan hampir di
setiap malam aku selalu membayangkan hal
konyol yang ku lakukan bersamanya. Aku sadar,
terpaut umur 10 tahun bukan hal yang mudah.
Aku hanya pelajar SMA yang masih dalam masa
transisi. Sedangkan Dia? 27
tahun bukan lagi waktunya untuk mencari pacar.
Ya, aku tahu, dia pasti akan mencari pasangan
hidup. Bukan hanya kekasih hati
layaknya remaja sepertiku. “Ah itu dia!” pekikku
tertahan saat mendengar bel rumahku berbunyi.
Tepat pukul 14.00. Batinku. Laki-laki itu memang
selalu datang pada hari sabtu untuk
memberikanku les privat. Satu tahun sudah aku
menjalani les privat ini. Dan satu tahun sudah aku
menyimpan rasaku rapat-rapat. Entah sampai
kapan.
Kakiku melangkah cepat mendekati pintu.
Jantungku selalu saja berdetak lebih cepat tiap
kali waktu-waktu seperti ini ku hadapi.
Membayangkan senyumnya saja sudah
membuatku tak terkendali. Tanganku meraih
handle pintu lalu menariknya. “Siang, Pak,”
sapaku ringan sambil mengulum senyum. Ah
benar kan! Jantungku kini pasti sedang berpesta
di dalam sana. Menyebabkan getaran aneh yang
samar. “Siang, Risa.” “Mari pak masuk,” ajakku.
Ku biarkannya mendahului langkahku. Pak Roby,
begitu biasa ku memanggilnya. “Gimana kabar
kamu siang ini, Risa? Sudah siap kan belajar lagi
dengan saya?” “Si… siap, Pak.” Ah sial! Kenapa
juga pak Roby harus menunjukkan senyum itu.
Senyuman maut yang lagi-lagi menambah
frekuensi detak
jantungku.
“Baiklah kita mulai dari…” Ah 3 jam ternyata
sudah berlalu. Aku sedikit mendengus, kenapa
waktu harus berlalu begitu cepat? Tak bisakah ia
mengulang setiap detik yang baru saja
dilewatinya? Saat pak Roby sedang membereskan
perlengkapannya, mataku tak terlepas dari setiap
detail gerak-geriknya. Aku tak ingin melewatkan
sedikit saja. Karena aku harus menunggu satu
minggu lagi hanya untuk melihat setiap lekukan
wajah itu. Waktu yang terlalu lama bagiku. Ya,
aku sadar terkadang jatuh cinta memang
membuat seseorang menjadi berlebihan. “Em,
sore ini ada acara?” Aku terkesiap. Apa tadi? Dia
menanyakanku
sesuatu. Mendadak aku merasa gugup. “Enggak
pak. Ada apa ya?” “Saya mau ajak kamu ke luar
sebentar, bisa?”
“Bisa pak bisa!” jawabku cepat. Aku mengerang
menyadari tingkah bodohku barusan. Tak bisakah
aku menahan sedikit saja
hasratku ini? Pikirku kesal. Ku dengar dia tertawa.
Ah tawa itu, selalu membuatku ingin tersenyum.
“Haha biasa aja kali. Ya udah yuk.” Aku
mengikutinya di belakang. Beberapa kali
aku menghela napas untuk dapat kembali
menormalkan detak jantungku. Ah laki-laki itu.
Pak Roby mengajakku pergi bersama. Satu
kemustahilan yang menjadi kenyataan. Ingin
rasanya saat ini juga aku memekik pada siapa
saja hanya untuk mengatakan, Aku Bahagia! Kini
aku berdiri di depan danau buatan yang terletak
di tengah taman kota. Tidak! tidak! Bukan
tempat ini yang ku pikirkan sekarang. Tapi
dengan siapa aku di sini. Pak Roby, guru
pembimbingku, laki-laki yang telah merebut
seluruh hatiku.
“Em kita ngapain di sini, Pak? Ada pelajaran
tambahan yang mau Bapak kasih?” tanyaku. Ku
dengar pak Roby tertawa. “Haha enggak kok.
Kamu tuh ya, memang kalau bersama. saya
harus tentang pelajaran?” Aku melengos. “Ya,
Bapak kan guru saya. Pasti menyangkut
pelajaran.” “Tapi apa seorang guru gak boleh
berkata menyangkut di luar pelajaran? Masalah
hati misalnya?”
Aku membeku. Kalimat terakhir yang kudengar
benar-benar membuat hatiku tak terkendali. Apa
maksudnya? Apa pak Roby
ingin menceritakan tentang ‘calon’ wanitanya?
Atau, atau Dia ingin berbicara sesuatu yang
selama ini aku rasakan? Jangan-jangan pak Roby
juga merasakannya? Ah! Apa-apaan aku
ini. Ku rasa aku terlalu banyak berharap. “Em ya
agak aneh sih. Tapi kalau ada yang mau Bapak
ceritain ke saya, saya siap dengerin kok, Pak.”
“Saya jatuh cinta sama kamu” Aku terlonjat.
Seluruh tubuhku membeku. Otakku berkeliaran
mencari makna jelas dari
kalimat yang baru saja melewati gendang
telingaku. Aku terkesiap. Tak ada yang bisa ku
lakukan saat ini selain menikmati debar
jantungku. “Maks…ud Bapak?” tanyaku
meyakinkan.
Mencoba mengulang untuk memastikan jika yang
kudengar tadi bukan hanya khayalanku belaka.
“Ya, saya tahu ini sangat buruk. Seorang guru
yang jatuh cinta pada muridnya sendiri. Hmmm
tapi ini kenyataannya. Saya jatuh cinta sama
kamu.”
“Ta… tapi kenapa? Saya cuma anak SMA biasa.
Dan… Bapak juga kan pasti cari calon istri, bukan
pacar.” “Saya akan tunggu kamu sampai kamu
siap berdiri di pelaminan bersama saya.”
Ah! Lagi-lagi aku harus meneguk ludahku. Entah
sudah keberapa kalinya, yang jelas lidahku benar-
benar terasa kelu. Aku ingin
meminta pada siapapun untuk
membangunkanku dari mimpi indahku saat ini!
Ah tolonglah, aku tidak mau bermimpi terlalu
jauh! “Hei, kok bengong? Kamu… malu ya kalau
harus pacaran sama saya?” Aku segera tersadar.
“Eh enggak pak. Saya,
saya mau, Pak. Saya juga jatuh cinta sama
Bapak,” ungkapku malu-malu.
Aku menunduk dalam menutupi rona wajah yang
terasa
menjalar di pipiku. Aku terperanjat saat
merasakan sebuah tangan
melingkari tubuhku. Apa lagi ini? Pak Roby
memelukku? Aaahh sungguh aku ingin berteriak
saat ini. Sekarang aku sadar, ini
bukan sekedar khayalan belaka. Penantianku
selama satu tahun ternyata tidak sia-sia. Kisah
aneh dalam sinetron itu ternyata memang benar-
benar ada.
—
Satu tahun sudah hubunganku berlanjut. Dan
sejak hari itu, aku selalu menghargai setiap detik
waktu yang ku lewati. Tak pernah sedikitpun ku
biarkan terbuang. Karena pada setiap detik itu
pun, Pak Roby selalu setia menemaniku. Berada
di sampingku setiap kali aku butuh. Dan hari ini,
adalah hari bersejarah
dalam hidupku. Tepat satu jam yang lalu, telah
diadakan pengumuman kelulusan SMA-ku. Dan
aku lulus. Aku sangat bahagia. Tak lama lagi gelar
Mahasiswa akan ku dapat. Ah
membayangkannya saja sudah membuatku tak
sabar. Aku ingin segera mengabarkannya pada
Roby. Ah iya, sejak hubungan kami berjalan, aku
tak lagi memanggilnya dengan sebutan Pak atau
Bapak. Tapi aku tak melihat tanda-tanda
kedatangan laki-laki itu. Padahal Ia berjanji akan
menjemputku. Ah mungkin itu, aku melihat mobil
porsce hitam yang tengah melaju ke arahku. Aku
memperhatikannya dalam diam. Ah benar saja,
laki-laki itu turun dari pintu pengemudi. Aku
mengembangkan senyum saat ia tengah berjalan
ke arahku.
“Hai.” Ah apa itu? Ia tak menjawab sapaanku?
Hanya
senyum tipis yang ia torehkan. Aku menghela
napas, merasakan sesuatu yang berbeda. “Kamu
kenapa?” tanyaku.
“Ada yang mau aku bicarakan. Sini duduk.” Aku
menurut. Menduduki kursi besi yang letaknya tak
jauh dari tempatku menunggu tadi.
“Kamu sama siapa kak?” tanyaku saat menyadari
Roby tak sendiri di dalam mobilnya. Dari luar kaca
pun aku sudah bisa melihat wanita berjilbab yang
tengah duduk tenang di dalam
sana. “Kamu udah tahu kan kalau Mamah aku
gak
pernah setuju sama hubungan kita?” Aku
terdiam. Perasaanku mendadak tak enak. Aku
takut sesuatu yang buruk akan terjadi.
Aku mengangguk lesu. “Perbedaan umur kita
memang gak pernah
memungkinkan untuk bersatu, Sa.” “Terus?”
desakku meminta penjelasan. “Aku akan segera
menikah dengan Dia.”
Ah benar saja! Aku memejamkan mataku rapat-
rapat. Menggenggam erat rok abu-abuku. Sesak
dan sakit. Dua kata yang saat ini bergemuruh di
hatiku. Sontak semua kebahagiaan yang tadi ku
rasakan menghilang begitu saja. Digantikan rasa
yang tak pernah ku bayangkan. Aku menangis.
Aku tak peduli
apa tanggapannya. Aku hanya ingin
menunjukkan kalau semuanya tak mudah bagiku.
“Kamu mau menikah sama Dia? Kenapa?” “Dia
cinta pertama aku. Wanita yang selalu aku
impikan saat aku duduk di bangku kuliah.” Aku
menarik napas dalam. Memaksa udara untuk
memasuki rongga dadaku yang semakin terasa
sesak.
“Sejak kapan?” parauku. “Tiga bulan yang lalu.
Tiga bulan sudah aku sama dia resmi tunangan.”
“Tanpa sepengetahuan aku?”
“Aku gak mau nyakitin kamu.” “Tapi sekarang
kamu jauh lebih nyakitin aku!!” sentakku keras.
Air mataku semakin deras
mengalir. Aku tak peduli dengan tatapan sinis
orang-orang yang lewat. “Maaf.” “Pergi dari
hadapan aku sekarang.”
“Aku mohon maafin ak…”
“PERGI DARI HADAPAN AKU SEKARANG!!” ucapku
berteriak.
Setelah memastikan laki-laki itu tak lagi
bersamaku, aku menunduk dalam. Membiarkan
air mata membanjiri wajahku.
Beruntung tak lama hujan turun membasahi
bumi. Menyamarkan air mata yang terus menerus
mengalir. Sakit rasanya. Orang yang
begitu ku perjuangkan, kini pergi meninggalkan
luka. Ku pikir hari ini akan menjadi hari yang
paling membahagiakan,
namun kenyataannya salah. Semua terasa
berbalik. Aku menyerah. Tak ingin lagi rasanya
aku menikmati indahnya cinta setelah
mengetahui perihnya rasa sakit hati.
Pagi yang cerah siap menemani hari baruku.
Kicauan burung yang terdengar menambah
semangatku untuk lebih terpacu. Hari ini hari
sabtu. Ya, ini dia yang selalu aku tunggu. Satu
hari yang selalu menjadi penantianku dalam
seminggu. Dia. Ya, laki-laki itu. Laki-laki dewasa
tampan yang memiliki umur jauh di atasku.
Aku hanya seorang pelajar SMA biasa yang jatuh
cinta pada guru pembimbingku. Aneh bukan?
Sangat! Aku sendiri sempat berpikir, kalau kisah
yang ku alami saat ini hanya terjadi
di dalam drama sinetron. Aku selalu
beranggapan, tidak mungkin
seorang siswa jatuh cinta pada guru mereka
sendiri. Itu terlalu aneh. Tapi rasanya aku harus
menelan bulat-bulat persepsiku. Aku tidak tahu
sejak kapan perasaan ini benar-benar muncul.
Yang jelas rasa yang menggelitik ini sekarang
sudah menjadi teman setiaku. Bahkan hampir di
setiap malam aku selalu membayangkan hal
konyol yang ku lakukan bersamanya. Aku sadar,
terpaut umur 10 tahun bukan hal yang mudah.
Aku hanya pelajar SMA yang masih dalam masa
transisi. Sedangkan Dia? 27
tahun bukan lagi waktunya untuk mencari pacar.
Ya, aku tahu, dia pasti akan mencari pasangan
hidup. Bukan hanya kekasih hati
layaknya remaja sepertiku. “Ah itu dia!” pekikku
tertahan saat mendengar bel rumahku berbunyi.
Tepat pukul 14.00. Batinku. Laki-laki itu memang
selalu datang pada hari sabtu untuk
memberikanku les privat. Satu tahun sudah aku
menjalani les privat ini. Dan satu tahun sudah aku
menyimpan rasaku rapat-rapat. Entah sampai
kapan.
Kakiku melangkah cepat mendekati pintu.
Jantungku selalu saja berdetak lebih cepat tiap
kali waktu-waktu seperti ini ku hadapi.
Membayangkan senyumnya saja sudah
membuatku tak terkendali. Tanganku meraih
handle pintu lalu menariknya. “Siang, Pak,”
sapaku ringan sambil mengulum senyum. Ah
benar kan! Jantungku kini pasti sedang berpesta
di dalam sana. Menyebabkan getaran aneh yang
samar. “Siang, Risa.” “Mari pak masuk,” ajakku.
Ku biarkannya mendahului langkahku. Pak Roby,
begitu biasa ku memanggilnya. “Gimana kabar
kamu siang ini, Risa? Sudah siap kan belajar lagi
dengan saya?” “Si… siap, Pak.” Ah sial! Kenapa
juga pak Roby harus menunjukkan senyum itu.
Senyuman maut yang lagi-lagi menambah
frekuensi detak
jantungku.
“Baiklah kita mulai dari…” Ah 3 jam ternyata
sudah berlalu. Aku sedikit mendengus, kenapa
waktu harus berlalu begitu cepat? Tak bisakah ia
mengulang setiap detik yang baru saja
dilewatinya? Saat pak Roby sedang membereskan
perlengkapannya, mataku tak terlepas dari setiap
detail gerak-geriknya. Aku tak ingin melewatkan
sedikit saja. Karena aku harus menunggu satu
minggu lagi hanya untuk melihat setiap lekukan
wajah itu. Waktu yang terlalu lama bagiku. Ya,
aku sadar terkadang jatuh cinta memang
membuat seseorang menjadi berlebihan. “Em,
sore ini ada acara?” Aku terkesiap. Apa tadi? Dia
menanyakanku
sesuatu. Mendadak aku merasa gugup. “Enggak
pak. Ada apa ya?” “Saya mau ajak kamu ke luar
sebentar, bisa?”
“Bisa pak bisa!” jawabku cepat. Aku mengerang
menyadari tingkah bodohku barusan. Tak bisakah
aku menahan sedikit saja
hasratku ini? Pikirku kesal. Ku dengar dia tertawa.
Ah tawa itu, selalu membuatku ingin tersenyum.
“Haha biasa aja kali. Ya udah yuk.” Aku
mengikutinya di belakang. Beberapa kali
aku menghela napas untuk dapat kembali
menormalkan detak jantungku. Ah laki-laki itu.
Pak Roby mengajakku pergi bersama. Satu
kemustahilan yang menjadi kenyataan. Ingin
rasanya saat ini juga aku memekik pada siapa
saja hanya untuk mengatakan, Aku Bahagia! Kini
aku berdiri di depan danau buatan yang terletak
di tengah taman kota. Tidak! tidak! Bukan
tempat ini yang ku pikirkan sekarang. Tapi
dengan siapa aku di sini. Pak Roby, guru
pembimbingku, laki-laki yang telah merebut
seluruh hatiku.
“Em kita ngapain di sini, Pak? Ada pelajaran
tambahan yang mau Bapak kasih?” tanyaku. Ku
dengar pak Roby tertawa. “Haha enggak kok.
Kamu tuh ya, memang kalau bersama. saya
harus tentang pelajaran?” Aku melengos. “Ya,
Bapak kan guru saya. Pasti menyangkut
pelajaran.” “Tapi apa seorang guru gak boleh
berkata menyangkut di luar pelajaran? Masalah
hati misalnya?”
Aku membeku. Kalimat terakhir yang kudengar
benar-benar membuat hatiku tak terkendali. Apa
maksudnya? Apa pak Roby
ingin menceritakan tentang ‘calon’ wanitanya?
Atau, atau Dia ingin berbicara sesuatu yang
selama ini aku rasakan? Jangan-jangan pak Roby
juga merasakannya? Ah! Apa-apaan aku
ini. Ku rasa aku terlalu banyak berharap. “Em ya
agak aneh sih. Tapi kalau ada yang mau Bapak
ceritain ke saya, saya siap dengerin kok, Pak.”
“Saya jatuh cinta sama kamu” Aku terlonjat.
Seluruh tubuhku membeku. Otakku berkeliaran
mencari makna jelas dari
kalimat yang baru saja melewati gendang
telingaku. Aku terkesiap. Tak ada yang bisa ku
lakukan saat ini selain menikmati debar
jantungku. “Maks…ud Bapak?” tanyaku
meyakinkan.
Mencoba mengulang untuk memastikan jika yang
kudengar tadi bukan hanya khayalanku belaka.
“Ya, saya tahu ini sangat buruk. Seorang guru
yang jatuh cinta pada muridnya sendiri. Hmmm
tapi ini kenyataannya. Saya jatuh cinta sama
kamu.”
“Ta… tapi kenapa? Saya cuma anak SMA biasa.
Dan… Bapak juga kan pasti cari calon istri, bukan
pacar.” “Saya akan tunggu kamu sampai kamu
siap berdiri di pelaminan bersama saya.”
Ah! Lagi-lagi aku harus meneguk ludahku. Entah
sudah keberapa kalinya, yang jelas lidahku benar-
benar terasa kelu. Aku ingin
meminta pada siapapun untuk
membangunkanku dari mimpi indahku saat ini!
Ah tolonglah, aku tidak mau bermimpi terlalu
jauh! “Hei, kok bengong? Kamu… malu ya kalau
harus pacaran sama saya?” Aku segera tersadar.
“Eh enggak pak. Saya,
saya mau, Pak. Saya juga jatuh cinta sama
Bapak,” ungkapku malu-malu.
Aku menunduk dalam menutupi rona wajah yang
terasa
menjalar di pipiku. Aku terperanjat saat
merasakan sebuah tangan
melingkari tubuhku. Apa lagi ini? Pak Roby
memelukku? Aaahh sungguh aku ingin berteriak
saat ini. Sekarang aku sadar, ini
bukan sekedar khayalan belaka. Penantianku
selama satu tahun ternyata tidak sia-sia. Kisah
aneh dalam sinetron itu ternyata memang benar-
benar ada.
—
Satu tahun sudah hubunganku berlanjut. Dan
sejak hari itu, aku selalu menghargai setiap detik
waktu yang ku lewati. Tak pernah sedikitpun ku
biarkan terbuang. Karena pada setiap detik itu
pun, Pak Roby selalu setia menemaniku. Berada
di sampingku setiap kali aku butuh. Dan hari ini,
adalah hari bersejarah
dalam hidupku. Tepat satu jam yang lalu, telah
diadakan pengumuman kelulusan SMA-ku. Dan
aku lulus. Aku sangat bahagia. Tak lama lagi gelar
Mahasiswa akan ku dapat. Ah
membayangkannya saja sudah membuatku tak
sabar. Aku ingin segera mengabarkannya pada
Roby. Ah iya, sejak hubungan kami berjalan, aku
tak lagi memanggilnya dengan sebutan Pak atau
Bapak. Tapi aku tak melihat tanda-tanda
kedatangan laki-laki itu. Padahal Ia berjanji akan
menjemputku. Ah mungkin itu, aku melihat mobil
porsce hitam yang tengah melaju ke arahku. Aku
memperhatikannya dalam diam. Ah benar saja,
laki-laki itu turun dari pintu pengemudi. Aku
mengembangkan senyum saat ia tengah berjalan
ke arahku.
“Hai.” Ah apa itu? Ia tak menjawab sapaanku?
Hanya
senyum tipis yang ia torehkan. Aku menghela
napas, merasakan sesuatu yang berbeda. “Kamu
kenapa?” tanyaku.
“Ada yang mau aku bicarakan. Sini duduk.” Aku
menurut. Menduduki kursi besi yang letaknya tak
jauh dari tempatku menunggu tadi.
“Kamu sama siapa kak?” tanyaku saat menyadari
Roby tak sendiri di dalam mobilnya. Dari luar kaca
pun aku sudah bisa melihat wanita berjilbab yang
tengah duduk tenang di dalam
sana. “Kamu udah tahu kan kalau Mamah aku
gak
pernah setuju sama hubungan kita?” Aku
terdiam. Perasaanku mendadak tak enak. Aku
takut sesuatu yang buruk akan terjadi.
Aku mengangguk lesu. “Perbedaan umur kita
memang gak pernah
memungkinkan untuk bersatu, Sa.” “Terus?”
desakku meminta penjelasan. “Aku akan segera
menikah dengan Dia.”
Ah benar saja! Aku memejamkan mataku rapat-
rapat. Menggenggam erat rok abu-abuku. Sesak
dan sakit. Dua kata yang saat ini bergemuruh di
hatiku. Sontak semua kebahagiaan yang tadi ku
rasakan menghilang begitu saja. Digantikan rasa
yang tak pernah ku bayangkan. Aku menangis.
Aku tak peduli
apa tanggapannya. Aku hanya ingin
menunjukkan kalau semuanya tak mudah bagiku.
“Kamu mau menikah sama Dia? Kenapa?” “Dia
cinta pertama aku. Wanita yang selalu aku
impikan saat aku duduk di bangku kuliah.” Aku
menarik napas dalam. Memaksa udara untuk
memasuki rongga dadaku yang semakin terasa
sesak.
“Sejak kapan?” parauku. “Tiga bulan yang lalu.
Tiga bulan sudah aku sama dia resmi tunangan.”
“Tanpa sepengetahuan aku?”
“Aku gak mau nyakitin kamu.” “Tapi sekarang
kamu jauh lebih nyakitin aku!!” sentakku keras.
Air mataku semakin deras
mengalir. Aku tak peduli dengan tatapan sinis
orang-orang yang lewat. “Maaf.” “Pergi dari
hadapan aku sekarang.”
“Aku mohon maafin ak…”
“PERGI DARI HADAPAN AKU SEKARANG!!” ucapku
berteriak.
Setelah memastikan laki-laki itu tak lagi
bersamaku, aku menunduk dalam. Membiarkan
air mata membanjiri wajahku.
Beruntung tak lama hujan turun membasahi
bumi. Menyamarkan air mata yang terus menerus
mengalir. Sakit rasanya. Orang yang
begitu ku perjuangkan, kini pergi meninggalkan
luka. Ku pikir hari ini akan menjadi hari yang
paling membahagiakan,
namun kenyataannya salah. Semua terasa
berbalik. Aku menyerah. Tak ingin lagi rasanya
aku menikmati indahnya cinta setelah
mengetahui perihnya rasa sakit hati.
Selamat malam dan selamat membaca para perasa.
Semoga tersampaikan
:)
Semoga tersampaikan
By
Siti khopipah aliskandar
Siti khopipah aliskandar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar