Sabtu, 29 Oktober 2016
pelukmu
ada jam yang hampir menyentuh sepuluh malam , tidak banyak yang bisa aku lakukan di sisa-sisa kekuatan aku mengerjakan novelku, selain
membaca ulang percakapan kita di Whatsapp. Percakapan terakhir kita terjalin seminggu lalu. Ini yang kubenci darimu, kamu selalu
memintaku untuk menghubungiku lebih dulu, sedangkan sebagai perempuan-- aku lebih ingin
dihubungi lebih dulu. Aku mencoba menguatkan diri, untuk pada akhirnya menghubungimu lebih dulu, betapa sulitnya untuk meredam gengsi
agar bisa menghubungi, namun setelah aku lakukan itu, kamu tidak membalas apapun, dan hilang lagi . Aku menyimpan
tanya, lalu apa maumu kali ini setelah segala gengsi telah kubunuh hanya demi tetap memelukmu lewat tulisan?
Kakak Sayang, Saat aku menanyakan
alasan, kamu selalu berkata, kamu ingin aku terlindungi dalam persembunyian kita. Aku hanya
mengangguk setuju, bukankah sebagai yang disembunyikan, aku tidak boleh menuntut banyak?
Percakapan itu berakhir dengan pelukmu yang semakin erat. Kamu menceritakan apapun yang
terjadi hari itu dan aku menceritakan bagaimana hari itu begitu menyenangkan karena aku berhasil menyelesaikan salah satu bab novelku.
Kita berpelukan lekat sambil menunggu hujan reda, tidak ada yang bicara, hanya suara rintik hujan yang menyentuh atap. Aku tertidur di
bahumu seakan tidak ada tempat yang lebih hangat selain bersandar di sana. Kamu punya daya dan upaya untuk membuat aku tenang. Kamu selalu tahu caranya mendiamkan iblis
dalam diriku, itulah mengapa aku begitu jatuh cinta pada malaikat sepertimu, si malaikat berwajah iblis yang memegangi buku cerita dan rokok dengan
senyuman yang membunuh. Ah, aku rindu kamu.
Koko, beberapa hari ini kamu pergi entah ke mana. Dan, sebagai yang tak kamu pedulikan aku hanya
mampu menunggu tanpa meminta. Sebagai yang tak berhak, aku hanya bisa menyebut namamu dalam doa panjangku. Sebagai perempuan yang tahu diri, aku cukup paham bahwa sikapmu ini tentu karena tidak ingin
diganggu. Bolehkah aku jujur, jika aku sangat rindu pelukmu dan hanya ingin mendengar suaramu yang hanya satu sentimeter dari telingaku? Kamu tahu betul, begitu mudah cara membahagiakan aku. Karena kamu paham, aku tidak akan bersungut memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk bertemu
dan makan enak. Kamu tentu mengerti, aku tidak akan menuntut segalanya hanya agar kamu bisa
membuatku bahagia, dengan memelukmu dan dan melihat senyummu -- itu jauh dari kata cukup.
Tidak sulit untuk membuat aku bahagia,
Kakak Sayang, tapi kamu menolak untuk melakukannya, seakan membuatku bahagia sesulit membuat seribu candi dalam satu malam.
Aku merindukanmu pelukmu dan merindukan suaramu, hanya itu yang aku tahu. Waktuku memang termakan untuk segala kewajiban, tapi kamu selalu hadir di sisa-sisa waktu yang aku
miliki. Bukan, bukan berarti kamu nomor sekian, aku hanya menempatkanmu di tempat yang
pantas untuk pria yang spesial, karena kamu pantas berada di sana. Tapi, mungkin, aku tidak pernah ada di mana-mana, pun di hatimu juga
otakmu, itupun juga aku maklumi, tidak pernah ada tempat untuk yang disembunyikan. Aku begitu percaya bahwa tidak pernah ada tempat
untukku, itupun aku percaya saat aku
memutuskan berpisah denganmu, tapi setiap aku menyerah-- kamu selalu memberiku kekuatan yang salah, kekuatan yang selalu merasa yang
kita lakukan ini benar, kekuatan yang membuat aku tidak menyalahkan siapapun juga tidak menyalahkan keadaan. Kamu selalu mampu
memberiku rasa percaya, bahwa ada bahagia di ujung jalan sana, meskipun yang aku rasakan;
kita hanya berjalan di tempat, tidak ke mana-mana.
Sayang, kamu tahu kita tidak berpindah ke mana-mana, yang kamu tahu aku hanya perempuan yang jelas tidak akan menuntut apa-apa selain pelukmu yang mampu menghangatkannya. Kaka , kamu begitu paham, bahwa tidak akan ada kebahagiaan di antara kita, hanya kesenangan sesaat lalu kamu akan pergi tanpa jejak. Mungkin, bagimu, aku begitu lumrah untuk disakiti, lalu aku akan segera terobati dengan novel yang segera aku tulis setelah patah
hati. Maaf, Sayang, kamu salah besar. Perempuan tidak bisa kamu samakan dengan logika yang kamu gunakan, logika laki-laki. Aku tidak pernah
menyesal telah menjadi perempuan yang menggunakan perasaan dalam banyak hal, aku tidak pernah menyesal telah memelukmu, aku tidak menyesal pernah tertidur di pundakmu, aku
tidak menyesal mendengar detak jantungmu yang memburu, aku tidak menyesal mengecupmu, aku tidak menyesal adanya cinta di antara kita. Tapi, ada satu hal yang aku sesali,
mengapa ketika aku sudah memberikan segalanya, namun kamu hanya memberiku seperlunya.
Aku mencintaimu. Kamupun tahu itu. Namun, aku tidak akan jadi siapa-siapa bagimu. Kamupun tahu itu. Sebelum semua berakhir lagi dalam kata
pisah, bisakah kita habiskan sisa waktu yang kita punya hanya untuk membuatku bahagia dengan pelukmu? Aku tidak tahu daya magis apa yang
terkandung dalam pelukmu, di sana aku bisa menangis sejadi-jadinya, ataupun tertawa segila- gilanya. Hanya itu yang kurindukan, karena
seperti yang aku bilang, aku tidak hendak memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk sebuah pertemuan nyata.
Aku mencintaimu bagaimanapun dirimu. Aku tetap mencintaimu, meskipun ada asap beracun ditanganmu. Aku tetap mencintaimu,
walaupun kencan termewah yang pernah kita lakukan hanyalah makan Rice Bowl di Cibinong City Mall. Aku masih mencintaimu, meskipun
berhari-hari kamu tidak menghubungiku lebih dulu. Aku sungguh mencintaimu, meskipun
kamu selalu membuatku menunggu.
Kamupun mencintaiku pasti karena penuh dasar. Kamu masih mencintaiku, mencintai kekuatan
yang aku miliki untuk bersabar, bahkan saat puluhan temanmu mencaci aku dan melumuri aku dengan segala fitnah yang menyedihkan. Kamu mencintaiku karena aku tidak menuntut banyak hal darimu. Kamu mencintaiku karena
suaraku selalu berhasil membuatmu tidur, terutama jika aku memperdayai kamu dengan lagu Somewhere Over The Rainbow atau lagu Raisa yang berjudul Kali Kedua. Kamu mencintaiku karena kita berbeda dalam segala,
namun perbedaanku sepenuhnya mampu melengkapimu. Kamu mencintaiku, tentu karena
aku hanya mampu menangis dalam pelukmu, ketika kamu berkata sudah punya kekasih. Kamu mungkin semakin mencintaiku di hari itu, saat
berjam-jam aku hanya mampu menangis hingga mataku bengkak. Hari itu, mungkin duniamu
menggelap, karena pada akhirnya kamu menyadari, ada orang yang sungguh mencintaimu, namun gadis itu datang di waktu
yang salah.
Aku adalah kesalahan yang ingin terus kamu ulang. Sementara kamu adalah kesalahan yang tidak ragu aku buat berkali-kali. Kita punya banyak kesamaan juga perbedaan, tapi perasaan yang memenuhi kita berdua mampu mengubah segala ledakan menjadi paduan suara termerdu
yang pernah kita dengar. Suaramu adalah nada sumbang kesukaanku, tetaplah begitu sampai Tuhan mengizinkan kita kembali bertemu.
Dan, di pukul delapan ini , sambil menunggu jam waktunya tidur, aku masih menyimpan harap-- bahwa kamu akan tiba-tiba muncul di
depan mataku, hanya untuk mengucapkan 'selamat Malam'; seperti seminggu yang lalu. Kamu selalu tahu cara membuatku bahagia dan
tersenyum, Aku mencintaimu. Hanya itu yang kutahu. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tetap ikut aturan mainmu. Tetap bahagia dalam rahasia
kita. Untuk pria bermata sendu,
yang menyediakan "tempat
persembunyian",
paling menyenangkan **********
Aku rindu kamu, meski sebatas tulisan kak...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar